KESUCIAN TULANG, BULU DAN SEMISALNYA DARI BANGKAI BINATANG

September 29, 2016 at 12:43 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

KESUCIAN TULANG, BULU DAN SEMISALNYA DARI BANGKAI BINATANG

 

Pertama saya akan nukilkan pendapat dari madzhab kita, yakni Syafi’iyyah. Telah ternashkan dari Imam asy-Syaafi’I bahwa beliau berkata :

وَلَا يَتَوَضَّأُ وَلَا يَشْرَبُ فِي عَظْمِ مَيْتَةٍ وَلَا عَظْمِ ذَكِيٍّ لَا يُؤْكَلُ لَحْمُهُ مِثْلِ عَظْمِ الْفِيلِ وَالْأَسَدِ وَمَا أَشْبَهَهُ؛ لِأَنَّ الدِّبَاغَ وَالْغُسْلَ لَا يُطَهِّرَانِ الْعَظْمَ رَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ يَكْرَهُ أَنْ يُدَهَّنَ فِي مُدْهُنٍ مِنْ عِظَامِ الْفِيلِ؛ لِأَنَّهُ مَيْتَةٌ.

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : فَمَنْ تَوَضَّأَ فِي شَيْءٍ مِنْهُ أَعَادَ الْوُضُوءَ وَغَسَلَ مَا مَسَّهُ مِنْ الْمَاءِ الَّذِي كَانَ فِيهِ.

“tidak boleh berwudhu dan minum dari (bejana yang terdiri) dari tulang bangkai, begitu juga dari tulang binatang yang haram dimakan, seperti tulang Gajah, Singa dan semisalnya. Dikarenakan menyamak dan mencucinya tidak bisa membuat tulang tersebut menjadi suci. Abdullah bin Diinar meriwayatkan bahwa beliau mendengar Ibnu Umar memakruhkan memakai minyak dengan minyak yang terbuat dari tulang Gajah, dikarenakan itu adalah bangkai”.

Beliau juga berkata : “barangsiapa yang berwudhu menggunakan bejana tersebut, maka dia harus mengulangi wudhunya dan mencuci anggota tubuh bekas terkena air yang ada didalam bejana yang najis tersebut”.

(lihat al-Umm, juz 1 hal. 23, cet. Daar al-Ma’rifah, Beirut).

Continue Reading KESUCIAN TULANG, BULU DAN SEMISALNYA DARI BANGKAI BINATANG…

Advertisements

STATUS ASBABUN NUZUL YANG DINUKIL OLEH TABI’IN

September 27, 2016 at 10:42 pm | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment

STATUS ASBABUN NUZUL YANG DINUKIL OLEH TABI’IN

 

Imam Suyuthi dalam kitabnya “al-Itqoon fii ‘Uluumil Qur’an”  membuat suatu kaedah yang kemudian kaedah tersebut digunakan oleh para ulama setelahnya yang berkepentingan didalam Uluumul Qur’an. Yakni terkait status diterima atau tidaknya asbabun nuzul dari perkataan seorang Tabi’iin yang secara lugas mengatakan bahwa hal tersebut adalah sebab turunnya suatu ayat. Imam Suyuthi berkata :

إِذَا وَقَعَ مِنْ تَابِعِيٍّ فَهُوَ مَرْفُوعٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ مُرْسَلٌ فَقَدْ يُقْبَلُ إِذَا صَحَّ السَّنَدُ إِلَيْهِ وَكَانَ مِنْ أَئِمَّةِ التَّفْسِيرِ الْآخِذِينَ عَنِ الصَّحَابَةِ كَمُجَاهِدٍ وَعِكْرِمَةَ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَوِ اعْتَضَدَ بِمُرْسَلٍ آخَرَ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“jika hal tersebut berasal dari Tabi’I, maka itu marfu’ juga, namun hukumnya mursal. Statusnya diterima jika Tabi’I tersebut adalah salah seorang dari Aimah tafsir yang berguru kepada sahabat, seperti Imam Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair (dan selainnya) atau dikuatkan dengan riwayat mursal lain atau yang semisalnya” (al-Itqoon juz 1 hal 209, cet. KSA).

  Continue Reading STATUS ASBABUN NUZUL YANG DINUKIL OLEH TABI’IN…

HUKUM MELAFAZKAN NIAT MENURUT SYAFI’IYYAH

September 26, 2016 at 1:24 pm | Posted in fiqih | 2 Comments

HUKUM MELAFAZKAN NIAT MENURUT SYAFI’IYYAH

 

Kelihatannya ada 3 pendapat dalam madzhab Syafi’iyyah tentang hukum melafazkan niat, dalam hal ini khusus niat mengerjakan sholat.

  1. Pendapat pertama mengatakan hukumnya wajib, tidak sah sholat tanpa melafazkan niat. Pendapat ini dinukil dari asy-Syaikh Abu Abdillah az-Zubairiy. Imam Nawawi menyebutkan hal ini dalam kitabnya “al-Majmu Syarah al-Muhadzab” (3/277) :

وَقَالَ صَاحِبُ الْحَاوِي هُوَ قَوْلُ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيِّ أَنَّهُ لَا يُجْزِئُهُ حَتَّى يُجْمِعَ بَيْنَ نِيَّةِ الْقَلْبِ وَتَلَفُّظِ اللِّسَانِ لِأَنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ فِي الْحَجِّ إذَا نَوَى حَجًّا أَوْ عمرة أجزأ وَإِنْ لَمْ يَتَلَفَّظْ وَلَيْسَ كَالصَّلَاةِ لَا تَصِحُّ إلَّا بِالنُّطْقِ

“penulis kitab al-Haawiy berkata : “ini adalah pendapatnya Abi Abdillah az-Zubairiy yang mengatakan tidak sah sholat, hingga ia membarengkan niat yang ada di hatinya dengan melafazkannya dalam lisannya, karena Imam Syafi’I berkata dalam Haji, jika seseorang meniatkan haji dan umroh, sah baginya tanpa mengucapkannya, tidak sebagaimana sholat, maka tidak sah, kecuali jika dia mengucapkan niatnya”. Continue Reading HUKUM MELAFAZKAN NIAT MENURUT SYAFI’IYYAH…

DHOHIRNYA NASH TIDAK MESTI MENJADI HUJJAH

September 25, 2016 at 4:14 am | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment

DHOHIRNYA NASH TIDAK MESTI MENJADI HUJJAH

 

Ketika saya lagi nderes kitabnya Imam Suyuthi dalam bidang Ulumul Qur’an yang sangat terkenal dan menjadi referensi utama dalam bidang ilmu ini, yang berjudul “al-Iqoon fii ‘Uluumil Qur’an”, saya mendapatkan faedah dari beliau –rahimahullah ta’aalaa- bahwa terkadang terjadi kesalahan pada sebagian ulama yang mulia, ketika mereka mengambil istidlal dengan dhohirnya nash. Kesalahan tersebut terjadi salah satunya karena tidak mengetahui “asbaabun nuzul” ayat yang dijadikan dalil olehnya.

 

Imam Suyuthi mencontohkannya dengan ayat ke-158 dalam surat Al Baqoroh yang berbunyi :

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Continue Reading DHOHIRNYA NASH TIDAK MESTI MENJADI HUJJAH…

IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-

September 19, 2016 at 3:38 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment
IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL
BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-
 
Telah masyhur ayat kursi yang berbunyi :
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255).
 

Continue Reading IBNU ABBAS RADHIYALLAHU ANHU DIDUGA MELAKUKAN TAKWIL BAGIAN 1 -KURSIY ADALAH ILMU-…

SEORANG WANITA MENIKAH LEBIH DARI SEKALI DI DUNIA, MAKA SIAPAKAH SUAMINYA KELAK YANG MENEMANINYA DI SURGA?

September 18, 2016 at 2:07 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

SEORANG WANITA MENIKAH LEBIH DARI SEKALI DI DUNIA, MAKA SIAPAKAH SUAMINYA KELAK YANG MENEMANINYA DI SURGA?

 

Mungkin ada seorang wanita Muslimah yang menikah dengan seorang pria, kemudian ditinggal mati suaminya, ia menikah lagi dengan pria kedua, dan seterusnya bisa jadi lebih dari satu kali. Qodarullah jika si wanita Muslimah dan suaminya yang lebih dari satu pada waktu di dunia , ternyata mereka semuanya masuk surga-Nya Allah Ta’aalaa, maka siapakah yang nantinya akan menemaninya di surga?, al-jawab para ulama terbagi menjadi 3 kelompok dalam mengutarakan pendapatnya :

  1. Pendapat pertama mengatakan bahwa sang istri akan mendapatkan siapa diantara suaminya yang paling baik akhlaknya. Dalilnya adalah sebuah hadits dari Anas dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhumaa, beliau berkata :

يَا رَسولَ اللهِ الْمَرْأَةُ يَكُونُ لَهَا الزَّوْجَانِ فِي الدُّنْيَا، يَعْنِي يَكُونُ زَوْجًا بَعْدَ زَوْجٍ فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَلِأَيِّهِمَا تَكُونُ؟ قَالَ: لأَحْسَنِهِمَا خُلُقًا

“Wahai Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam, seorang wanita jika ia memiliki 2 orang suami, yakni ia menikah lagi setelah menikah dengan suaminya yang pertama, lalu mereka semuanya masuk surga, siapakah diantara mereka berdua yang akan menemaninya (disurga)?. Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam menjawab : “yang paling bagus akhlaknya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bazaar dalam “al-Musnad” (no. 6631) dan selainnya. Didalam sanadnya ada perowi yang bernama Ubaid bin Ishaq, didhoifkan oleh para ulama, bahkan Imam Bukhori mengatakan bahwa dia memiliki hadits-hadits yang mungkar. Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih al-Munajid menilainya sebagai hadits dhoif jiddan (sangat lemah). Continue Reading SEORANG WANITA MENIKAH LEBIH DARI SEKALI DI DUNIA, MAKA SIAPAKAH SUAMINYA KELAK YANG MENEMANINYA DI SURGA?…

MASALAH MAKMUM BERDIRI LEBIH MAJU DARIPADA IMAM SHOLAT DI MASJIDIL HARAM

September 18, 2016 at 8:41 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MASALAH MAKMUM BERDIRI LEBIH MAJU DARIPADA IMAM SHOLAT DI MASJIDIL HARAM

 

Para ulama telah sepakat haramnya seorang makmum berdiri lebih maju daripada imam didalam sholat di seluruh masjid yang ada di muka bumi, tanpa ada unsur darurat. Namun ada yang special di masjidil haram, Mekkah al-Mukaromah. Para fuqoha telah memberikan catatan khusus terkait masalah makmum yang berdiri lebih maju dibandingkan imam.

 

Sebagaimana kita tahu bahwa ka’bah terletak ditengah-tengah masjidil haram, dan kaum Muslimin diperintahkan sholat menghadap kearah kiblat dimana ka’bah berada. Khusus didalam masjidil haram, karena mereka menyaksikan ka’bah langsung didepan mata, maka sholat disitu menghadapnya dari semua mata arah angin, jadi ada yang menghadap ke barat, timur, selatan dan utara, sesuai dengan posisi seorang Muslim dibelakang ka’bah.

Continue Reading MASALAH MAKMUM BERDIRI LEBIH MAJU DARIPADA IMAM SHOLAT DI MASJIDIL HARAM…

HUKUM BERDIRINYA SEORANG MAKMUM BERSENDIRIAN TEPAT DIBELAKANG IMAM

September 18, 2016 at 6:37 am | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM BERDIRINYA SEORANG MAKMUM BERSENDIRIAN TEPAT DIBELAKANG IMAM

 

Jika qodarulah sholat berjamaah dilaksanakan oleh 2 orang, maka bagaimana posisi berdirinya imam dan makmum?, para ulama telah menjelaskan posisi tersebut, yakni makmum berdiri disamping kanan imam, hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي الْيُمْنَى يَفْتِلُهَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ

 “Lalu aku bangun dan berbuat seperti yang beliau perbuat. Kemudian aku pergi dan tegak di sampingnya, lalu beliau menempatkan tangan kanannya di kepalaku dan mengambilnya, dan menarik telinga kananku, lalu shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian witir”. [Muttafaqun ‘alaihi]

Continue Reading HUKUM BERDIRINYA SEORANG MAKMUM BERSENDIRIAN TEPAT DIBELAKANG IMAM…

KEHUJJAHAN PENDAPAT SAHABAT MENURUT IMAM ASY-SYAAFI’I

September 17, 2016 at 2:46 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

KEHUJJAHAN PENDAPAT SAHABAT MENURUT IMAM ASY-SYAAFI’I

 

Imam Abu Ma’aaliy al-Juwainy (w. 478 H) dalam kitab Ushul Fiqihnya yang berjudul “al-Waroqoot” men-sounding untuk kita bagaimana madzhab Imam Syafi’I (w. 204 H) terhadap Qoul salah seorang sahabat, kata beliau :

وَقَول الْوَاحِد من الصَّحَابَة لَيْسَ بِحجَّة على غَيره على القَوْل الْجَدِيد

“ucapan salah seorang sahabat bukanlah hujjah atas orang lain, menurut pendapat (Imam asy-Syaafi’i) yang jadiid”.

Dalam naskah lain yaitu naskah syarah al-Waroqoot yang ditulis oleh al-‘Alamah Syamsuddin Muhammad bin Utsman al-Maaridiiny (w. 871 H), cetakan Maktabah ar-Rusydi, Riyadh (hal. 207), dan juga naskah syarah al-Warooqot yang saya punya karya asy-Syaikh Abdullah bin Shoolih al-Fauzaan cetakan Daar as-Salafiyyah, Nigeria (hal. 152). Ada tambahan ucapan Imam al-Juwainiy, yakni lengkapnya :

وَقَول الْوَاحِد من الصَّحَابَة لَيْسَ بِحجَّة على الْجَدِيد، وَفِي الْقَدِيم حجَّة

“ucapan salah seorang sahabat bukanlah hujjah atas orang lain, menurut pendapat (Imam asy-Syaafi’i) yang jadiid (pendapat baru), sedangkan dalam qoul Qodiim (pendapat lama Imam asy-Syaafi’i) adalah hujjah”.

Continue Reading KEHUJJAHAN PENDAPAT SAHABAT MENURUT IMAM ASY-SYAAFI’I…

HUKUM SHOLATNYA ORANG YANG BARU TAHU ADA NAJIS DI PAKAIANNYA SETELAH SELESAI SHOLAT

September 17, 2016 at 6:36 am | Posted in fiqih | Leave a comment
HUKUM SHOLATNYA ORANG YANG BARU TAHU ADA NAJIS DI PAKAIANNYA SETELAH SELESAI SHOLAT
 
Barangkali antum pernah mengalami ketika selesai sholat, beberapa lama kemudian ternyata ia mendapati di pakaiannya ada najis, apa yang harus ia lakukan? Apakah perlu baginya mengulangi sholat yang diduga menggunakan pakaian yang ada najisnya tadi? Atau tidak perlu mengulangi sholatnya?
 
Kita cari jawabannya dari ulama pakarnya, dan saya akan tampilkan jawaban dari 2 ulama kibar hadzal ashr, yakni al-‘Alamah Muhammad bin Shoolih al-Utsaimin dan al-‘Alamah Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz –rahimahumaallah-.
 
Al-‘Alamah Ibnu Utsaimin menjawab, bahwa sholatnya tidak perlu diulangi, kemudian beliau memberikan kaedah yang sangat berharga bagi kita semua, yakni ada hal yang kita diperintahkan untuk memenuhinya pada sholat, misalnya berwudhu atau bersuci, maka terhadap perkara ini jika ditinggalkan dan kita baru ingat setelah selesai sholat, maka sholatnya wajib diulangi. Misal setelah selesai sholat kita baru ingat bahwa tadi waktu melaksanakan sholat belum berwudhu, maka kita berwudhu dan mengulangi sholat yang lupa berwudhu tadi.
Yang kedua ada hal yang harus kita jauhi atau kita harus hilangkan ketika sholat, misalnya badan dan pakaian harus suci dari najis. Maka terhadap perkara ini, jika kita tidak tahu atau lupa dan baru menemukan ternyata ada najis setelah selesai sholat, maka sholatnya tetap sah. Alasannya bahwa najis memang sesuatu yang tidak boleh ada ketika sholat, sehingga ketika kita lupa atau tidak tahu adanya najis ketika sedang mengerjakan sholat, hal tersebut bisa dianggap memang itu tidak ada.
 
Al-‘Alamah bin Baz juga memberikan jawaban yang senada, dan terdapat tambahan penjelasan dari beliau bahwa seandainya seseorang sedang sholat dan ia ragu apakah pakaiannya ada najisnya atau tidak, maka kata beliau hendaknya ia tetap menyempurnakan sholatnya baik sebagai imam maupun makmum, tidak perlu untuk membatalkan sholatnya di tengah jalan.
Lihat selengkapnya : https://islamqa.info/ar/12720
Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: