AKIDAH SALAF MENURUT IMAM QURTHUBI

September 4, 2016 at 2:56 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

AKIDAH SALAF MENURUT IMAM QURTHUBI

 

Bagi kalangan pencinta ilmu tafsir, tentu tidak asing lagi dengan kitab yang berjudul “al-Jaami’u li Ahkaamil Qur’an” karya monumental Imam al-Qurthubi (w. 671 H). kebanyakan ulama sering mengatakan kitab tafsir dengan nama penulisnya yaitu Tafsir Qurthubi. Ketika beliau menafsirkan Firman Allah subhanahu wa ta’aalaa :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al A’raf : 54)

Pada saat penjelasan Firman-Nya : { lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy} maka beliau menyebutkan ucapan para ulama tentangnya. Beliau berkata :

هَذِهِ مَسْأَلَةُ الِاسْتِوَاءِ، وَلِلْعُلَمَاءِ فِيهَا كَلَامٌ وَإِجْرَاءٌ. وَقَدْ بَيَّنَّا أَقْوَالَ الْعُلَمَاءِ فِيهَا فِي الْكِتَابِ (الْأَسْنَى فِي شَرْحِ أَسْمَاءِ اللَّهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى) وَذَكَرْنَا فِيهَا هُنَاكَ أَرْبَعَةَ عَشَرَ قَوْلًا. وَالْأَكْثَرُ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ وَالْمُتَأَخِّرِينَ أَنَّهُ إِذَا وَجَبَ تَنْزِيهُ الْبَارِي سُبْحَانَهُ عَنِ الْجِهَةِ وَالتَّحَيُّزِ فَمِنْ ضَرُورَةِ ذَلِكَ وَلَوَاحِقِهِ اللَّازِمَةِ عَلَيْهِ عِنْدَ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ الْمُتَقَدِّمِينَ وَقَادَتِهِمْ مِنَ الْمُتَأَخِّرِينَ تَنْزِيهُهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَنِ الْجِهَةِ، فَلَيْسَ بِجِهَةِ فَوْقٍ عِنْدَهُمْ، لِأَنَّهُ يَلْزَمُ مِنْ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ مَتَى اخْتَصَّ بِجِهَةٍ أَنْ يَكُونَ فِي مَكَانٍ أَوْ حَيِّزٍ، وَيَلْزَمُ عَلَى الْمَكَانِ وَالْحَيِّزِ الْحَرَكَةُ وَالسُّكُونُ لِلْمُتَحَيِّزِ، وَالتَّغَيُّرُ وَالْحُدُوثُ. هَذَا قَوْلُ الْمُتَكَلِّمِينَ. وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الْأَوَّلُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَا يَقُولُونَ بِنَفْيِ الْجِهَةِ وَلَا يَنْطِقُونَ بِذَلِكَ، بَلْ نَطَقُوا هُمْ وَالْكَافَّةُ بِإِثْبَاتِهَا لِلَّهِ تَعَالَى كَمَا نَطَقَ كِتَابُهُ وَأَخْبَرَتْ رُسُلُهُ. وَلَمْ يُنْكِرْ أَحَدٌ مِنَ السَّلَفِ الصَّالِحِ أَنَّهُ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ حَقِيقَةً. وَخُصَّ الْعَرْشُ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ أَعْظَمُ مَخْلُوقَاتِهِ، وَإِنَّمَا جَهِلُوا كَيْفِيَّةَ الِاسْتِوَاءِ فَإِنَّهُ لَا تُعْلَمُ حَقِيقَتُهُ. قَالَ مَالِكٌ رَحِمَهُ اللَّهُ: الِاسْتِوَاءُ مَعْلُومٌ- يَعْنِي في اللغة- والكيف مَجْهُولٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْ هَذَا بِدْعَةٌ. وَكَذَا قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا

“masalah istiwaa ini, para ulama memiliki pendapat dan aplikasi terhadapnya. Kami telah menjelaskan pendapat-pendapat para ulama tersebut didalam kitab yang berjudul “al-Asnaa fii Syarh Asmaaillah al-Husnaa wa Shifaatihi al-‘Ulaa”. Kami sebutkan disana 14 pendapat.

Kebanyakan ulama mutaqodimin dan mutaakhirin mengharuskan mensucikan Allah dari al-Jihah (arah) dan at-Tahayyuz (bertempat), yakni termasuk perkara yang darurat untuk melakukan hal tersebut menurut kebanyakan ulama mutaqodimin dan diikuti oleh mutaakhirin, yaitu mensucikan Allah dari arah, dan menurut mereka tidak ada arah atas bagi-Nya, karena ini melazimkan menurut mereka kapan ada pengkhususan arah maka itu sama saja menetapkan tempat (bagi Allah) dan ketika menetapkan tempat melazimkan juga adanya pergerakan dan diam ketika bertempat, lalu adanya perubahan dan sesuatu yang baru (huduts). Ini semua adalah pendapatnya mutakalimin (ahli filsafat).

Para salaf yang pertama (para sahabat) rodhiyallahu ‘anhum mereka tidak mengatakan untuk menafikan arah dan mereka juga tidak mengucapkan hal tersebut, namun mereka mencukupkan diri dengan menetapkan bagi Allah Ta’aalaa sebagaimana yang ditetapkan dalam Kitab-Nya dan apa yang dikabarkan oleh para Rasul-Nya. Tidak ada satu orang pun dari Salafus Sholeh yang mengingkari bahwa Allah bersemayam diatas arsy secara hakiki, dikhususkan arsy disini karena dia adalah makhuk yang paling agung. Mereka hanyalah tidak mengetahui “kaifiyyah” (tatacara) istiwaa tersebut, yakni tidak mengetahui hakekatnya.

Imam Malik –Rahimahullah- berkata : “istiwa itu sudah diketahui (yakni dari segi bahasa), tatacaranya tidak diketahui, bertanya tentang ini adalah bid’ah”.

Demikian juga ucapan yang senada dari Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anhaa”.

 

Ta’liqiy :

  1. Aqidah yang mentakwil shifat-shifat Allah subhanahu wa ta’aalaa adalah bersumber dari kaum filsafat.
  2. Tidak dipungkiri bahwa keyakinan takwil dianut oleh sebagian ulama kaum Muslimin atas niat baik mereka mensucikan Allah –menurut persangkaan mereka- dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.
  3. Namun bagaimana pun juga akidah salafus sholeh adalah yang unggul, karena mereka terdiri dari para sahabat rodhiyallahu ‘anhum yang berguru langsung kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salam.
  4. Pembelaan Imam Qurthubi terhadap akidah salafus sholeh, sekalipun beliau mengetahui banyak ulama yang tidak berpegang dengan akidah ini.
Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: