APAKAH PARA SAHABAT MELAKUKAN TAKWIL TERHADAP AYAT-AYAT SIFAT ALLAH TABAAROKA WA TA’AALAA

September 15, 2016 at 3:24 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

APAKAH PARA SAHABAT MELAKUKAN TAKWIL TERHADAP AYAT-AYAT SIFAT ALLAH TABAAROKA WA TA’AALAA

 

Apabila pertanyaan ini diajukan, maka kita butuh jawaban kepada seorang ulama yang telah melakukan penelitian yang jeli dan telaten terhadap atsar-atsar dari para sahabat rodhiyallahu ‘anhum terkait ayat-ayat sifat. Apakah ada riwayat dari salah seorang sahabat yang mentakwil atau tidak?, karena pendapat mereka adalah pendapat yang sangat berbobot mengingat talaqi mereka yang langsung duduk di majelis manusia terbaik sepanjang zaman, Rasul kita Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salam.

Pilihan saya jatuhkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, yang dengan kemapanan ilmunya beliau berkata :

وَأَمَّا الَّذِي أَقُولُهُ الْآنَ وَأَكْتُبُهُ – وَإِنْ كُنْت لَمْ أَكْتُبْهُ فِيمَا تَقَدَّمَ مِنْ أَجْوِبَتِي وَإِنَّمَا أَقُولُهُ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْمَجَالِسِ – أَنَّ جَمِيعَ مَا فِي الْقُرْآنِ مِنْ آيَاتِ الصِّفَات فَلَيْسَ عَنْ الصَّحَابَةِ اخْتِلَافٌ فِي تَأْوِيلِهَا. وَقَدْ طَالَعْت التَّفَاسِيرَ الْمَنْقُولَةَ عَنْ الصَّحَابَةِ وَمَا رَوَوْهُ مِنْ الْحَدِيثِ وَوَقَفْت مِنْ ذَلِكَ عَلَى مَا شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ الْكُتُبِ الْكِبَارِ وَالصِّغَارِ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ تَفْسِيرٍ فَلَمْ أَجِدْ – إلَى سَاعَتِي هَذِهِ – عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُ تَأَوَّلَ شَيْئًا مِنْ آيَاتِ الصِّفَاتِ أَوْ أَحَادِيثِ الصِّفَاتِ بِخِلَافِ مُقْتَضَاهَا الْمَفْهُومِ الْمَعْرُوفِ؛ بَلْ عَنْهُمْ مِنْ تَقْرِيرِ ذَلِكَ وَتَثْبِيتِهِ وَبَيَانِ أَنَّ ذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ مَا يُخَالِفُ كَلَامَ الْمُتَأَوِّلِينَ مَا لَا يُحْصِيهِ إلَّا اللَّهُ. وَكَذَلِكَ فِيمَا يَذْكُرُونَهُ آثِرِينَ وَذَاكِرِينَ عَنْهُمْ شَيْئًا كَثِيرًا. وَتَمَامُ هَذَا أَنِّي لَمْ أَجِدْهُمْ تَنَازَعُوا إلَّا فِي مِثْلِ قَوْله تَعَالَى {يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ} فَرُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَطَائِفَة أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الشِّدَّةُ أَنَّ اللَّهَ يَكْشِفُ عَنْ الشِّدَّةِ فِي الْآخِرَةِ وَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَطَائِفَةٍ أَنَّهُمْ عَدُّوهَا فِي الصِّفَات؛ لِلْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ أَبُو سَعِيدٍ فِي الصَّحِيحَيْنِ. وَلَا رَيْبَ أَنَّ ظَاهِرَ الْقُرْآنِ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَذِهِ مِنْ الصِّفَات فَإِنَّهُ قَالَ: {يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ} نَكِرَةٌ فِي الْإِثْبَاتِ لَمْ يُضِفْهَا إلَى اللَّهِ وَلَمْ يَقُلْ عَنْ سَاقِهِ فَمَعَ عَدَمِ التَّعْرِيفِ بِالْإِضَافَةِ لَا يَظْهَرُ أَنَّهُ مِنْ الصِّفَاتِ إلَّا بِدَلِيلِ آخَرَ وَمِثْلُ هَذَا لَيْسَ بِتَأْوِيلِ إنَّمَا التَّأْوِيلُ صَرْفُ الْآيَةِ عَنْ مَدْلُولِهَا وَمَفْهُومِهَا وَمَعْنَاهَا الْمَعْرُوفِ؛ وَلَكِنْ كَثِيرٌ مِنْ هَؤُلَاءِ يَجْعَلُونَ اللَّفْظَ عَلَى مَا لَيْسَ مَدْلُولًا لَهُ ثُمَّ يُرِيدُونَ صَرْفَهُ عَنْهُ وَيَجْعَلُونَ هَذَا تَأْوِيلًا، وَهَذَا خَطَأٌ مِنْ وَجْهَيْنِ كَمَا قَدَّمْنَاهُ غَيْرَ مَرَّةٍ.

“apa yang aku katakan dan aku tulis sekarang –seandainya tidak aku tulis pun, telah aku katakan pada jawaban sebelumnya, dan sering aku katakan di majelis-majelisku- bahwa seluruh yang terdapat dalam Al Qur’an berupa ayat-ayat sifat, tidak ada sedikit pun dari kalangan sahabat yang berbeda pendapat didalam menafsirkannya. Aku telah meneliti kitab-kitab tafsir yang menukil dari para sahabat dan apa yang mereka riwayatkan hadits-haditsnya, aku meneliti hal tersebut sesuai dengan apa yang Allah kehendaki dari kitab-kitab yang tebal sampai yang tipis lebih dari seratus kitab tafsir, aku tidak menemukan –sampai saat ini- salah seorang pun dari sahabat yang mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits sifat yang menyelisihi konsekuensi dari yang sudah ma’ruf dipahami, bahkan aku menemukan mereka menyetujui dan menetapkan serta menjelaskan bahwa itu adalah sifat-sifat Allah, yang berbeda dengan pendapatnya orang-orang yang mentakwil, yang jumlah mereka tidak diketahui kecuali oleh Allah. Demikianlah apa yang telah disebutkan dari atsar-atsar para sahabat yang jumlahnya sangat banyak. Kesimpulannya, aku tidak mendapatkan mereka berselisih pendapat (tentang ayat-ayat sifat), kecuali semisal Firman Allah Ta’aalaa : {Pada hari betis disingkapkan} [QS. Al Qolam (68) : 42].

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan sekelompok ulama bahwa yang dimaksud adalah asy-Syiddah (keras), yakni bahwa Allah akan menyingkap kerasnya (siksaan) pada hari kiamat. sedangkan Abi Sa’id radhiyallahu ‘anhu dan sekelompok ulama lainnya, mereka menganggapnya itu adalah ayat Sifat.

Firman Allah : {Pada hari betis disingkapkan} adalah nakiroh dalam itsbat, tidak disandarkan kepada Allah, tidak dikatakan “Saaqihi” (betis-Nya (Allah)), sehingga dengan tidak ma’rifatnya kata “Saaq” tidaklah jelas bahwa itu adalah sifat, kecuali dengan dalil yang lain, dan contoh seperti ini bukanlah takwil (yang tercela), ini hanyalah takwil memalingkan ayat dari penunjukkan yang terpahami dan maknanya ma’ruf.

Namun kebanyakan mereka menjadikan lafadz yang tidak ada penunjukkan padanya, kemudian ingin memalingkan dari dhohirnya, dan menganggapnya sebagai takwil (yang benar). Ini adalah keliru dari 2 sisi, sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya lebih dari satu kali”… (dinukil dari Majmu al-Fatawaa (jil. 6 / hal. 394-395, cet. Majma’ Malik al-Fahd).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: