KEHUJJAHAN PENDAPAT SAHABAT MENURUT IMAM ASY-SYAAFI’I

September 17, 2016 at 2:46 pm | Posted in Ushul Fiqih | Leave a comment

KEHUJJAHAN PENDAPAT SAHABAT MENURUT IMAM ASY-SYAAFI’I

 

Imam Abu Ma’aaliy al-Juwainy (w. 478 H) dalam kitab Ushul Fiqihnya yang berjudul “al-Waroqoot” men-sounding untuk kita bagaimana madzhab Imam Syafi’I (w. 204 H) terhadap Qoul salah seorang sahabat, kata beliau :

وَقَول الْوَاحِد من الصَّحَابَة لَيْسَ بِحجَّة على غَيره على القَوْل الْجَدِيد

“ucapan salah seorang sahabat bukanlah hujjah atas orang lain, menurut pendapat (Imam asy-Syaafi’i) yang jadiid”.

Dalam naskah lain yaitu naskah syarah al-Waroqoot yang ditulis oleh al-‘Alamah Syamsuddin Muhammad bin Utsman al-Maaridiiny (w. 871 H), cetakan Maktabah ar-Rusydi, Riyadh (hal. 207), dan juga naskah syarah al-Warooqot yang saya punya karya asy-Syaikh Abdullah bin Shoolih al-Fauzaan cetakan Daar as-Salafiyyah, Nigeria (hal. 152). Ada tambahan ucapan Imam al-Juwainiy, yakni lengkapnya :

وَقَول الْوَاحِد من الصَّحَابَة لَيْسَ بِحجَّة على الْجَدِيد، وَفِي الْقَدِيم حجَّة

“ucapan salah seorang sahabat bukanlah hujjah atas orang lain, menurut pendapat (Imam asy-Syaafi’i) yang jadiid (pendapat baru), sedangkan dalam qoul Qodiim (pendapat lama Imam asy-Syaafi’i) adalah hujjah”.

Asy-Syaikh Abdullah al-Fauzaan menyebutkan scope dari qoul sahabat yang di-sounding oleh Imam al-Juwainiy ini, yakni atsar dari salah seorang sahabat Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam baik berupa ucapan, perbuatan, atau persetujuannya dalam urusan yang berkaitan dengan agama.

 

Kemudian asy-Syaikh meng-clearkan lagi bahwa apabila qoul sahabat ini termasuk yang diistilahkan oleh ulama hadits dan ushul dengan marfu’ hukmaan (memiliki hukum marfu’) seperti ucapan sahabat yang berbicara masalah berita-berita ghoib yang tidak mungkin berasal dari kantong mereka sendiri, atau sesuatu yang telah menjadi kesepakatan diantara mereka dengan jelas, atau sesuatu hal yang tidak diketahui ada sahabat yang menyelisihi, seperti masalah pembagian warisan seperenam bagi nenek, maka itu semua diluar tema yang sedang dibahas ini.

 

Terjadinya perselisihan pendapat dikalangan ushuliyyun adalah terkait pendapat sahabat diluar criteria yang telah disebutkan diatas, maka dalam hal ini ada 2 pendapat baik dari Imam asy-Syafi’I, maupun Aimah lainnya. Asy-Syaikh Abdullah al-Fauzan –Hafizhahullah- menjelaskan :

  1. Pendapat pertama, bahwa qoul sahabat tersebut adalah hujjah, ini adalah qoul qodiim asy-Syaafi’I sebagaimana yang tertera pada sebagian naskah al-Waroqoot, dan juga madzhabnya Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad.
  2. Pendapat kedua, bahwa qoul sahabat bukan hujjah, ini adalah qoul Jadiid Imam asy-Syaafi’I, salah satu riwayat Imam Ahmad, dan dirajihkan oleh Imam al-Ghozali, Imam al-Aamidiy, Imam Ibnul Hajib, dan penulis kitab al-Waroqoot sendiri.

Asy-Syaikh Abdullah al-Fauzaan dalam catatan kakinya menukil penafian Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah terhadap pendapat asy-Syafi’I yang kedua, begitu juga az-Zarkasy meng-adjust bahwa qoul Jadiid asy-Syafi’I berpendapat qoul sahabat adalah hujjah, sehingga pendapat Imam asy-Syafi’I cuma satu, baik yang qodiim maupun yang jadiid. Asy-Syaikh DR. Hisaamuddin ‘Afaanah dalam tahqiqnya terhadap syarah al-Waroqoot yang ditulis oleh Imam Jalaluddin al-Mahalliy (w. 864 H) pun menukilkan penafian Ibnul Qoyyim dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’iin (4/120-122) sebagaimana yang disampaikan oleh asy-Syaikh Abdullah al-Fauzan.

 

Asy-Syaikh Abdullah al-Fauzan menyampaikan hujjah pendapat pertama adalah intinya bahwa kita diperintahkan untuk mengikuti cara beragama para sahabat, karena mereka Allah Ta’aalaa telah memuji mereka dan juga orang-orang yang mengikuti mereka. Adapun hujjah pendapat kedua berkisar pada kenyataan bahwa individu per sahabat adalah tidak maksum, sehingga pendapat yang berasal dari orang yang tidak maksum masih mengandung kemungkinan kesalahan.

 

Kemudian asy-Syaikh merajihkan bahwa boleh mengambil pendapatnya sahabat ketika tidak ada nash baik dalam kitab, as-sunah, maupun ijma, karena ada kemungkinan mereka mendengar hal tersebut dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam dan mereka adalah orang yang paling alim terhadap Kitabullah dan sunah Nabi-Nya, dimana mereka berinteraksi langsung dengan wahyu ilahiyyah. Lalu asy-Syaikh membuat suatu kaedah yang bagus untuk kita amalkan, bahwa hukum mengambil ucapan sahabat harus memenuhi 2 syarat :

  1. Tidak menyelisihi nash.
  2. Tidak menyelisihi ucapan para sahabat lainnya, jika terjadi perselisihan diantara mereka, maka diambil pendapat yang paling rajih.

 

Maka dalam kesempatan ini, saya ingin mengatakan, jikalau qoul sahabat yangmana mereka adalah kaum yang menduduki peringkat pertama dalam prestasi agama dikalangan umat Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wa Salam, tidak lantas menjadi hujjah. Bagaimana lagi dengan mereka yang peringkatnya dibawah para sahabat, tentunya ucapannya lebih tidak memiliki hujjah jika dibandingkan dengan para sahabat. Wallahul A’lam.

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: