MASALAH MAKMUM BERDIRI LEBIH MAJU DARIPADA IMAM SHOLAT DI MASJIDIL HARAM

September 18, 2016 at 8:41 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MASALAH MAKMUM BERDIRI LEBIH MAJU DARIPADA IMAM SHOLAT DI MASJIDIL HARAM

 

Para ulama telah sepakat haramnya seorang makmum berdiri lebih maju daripada imam didalam sholat di seluruh masjid yang ada di muka bumi, tanpa ada unsur darurat. Namun ada yang special di masjidil haram, Mekkah al-Mukaromah. Para fuqoha telah memberikan catatan khusus terkait masalah makmum yang berdiri lebih maju dibandingkan imam.

 

Sebagaimana kita tahu bahwa ka’bah terletak ditengah-tengah masjidil haram, dan kaum Muslimin diperintahkan sholat menghadap kearah kiblat dimana ka’bah berada. Khusus didalam masjidil haram, karena mereka menyaksikan ka’bah langsung didepan mata, maka sholat disitu menghadapnya dari semua mata arah angin, jadi ada yang menghadap ke barat, timur, selatan dan utara, sesuai dengan posisi seorang Muslim dibelakang ka’bah.

Kemudian ternyata ada kondisi dimana tempat imam sholat tidak persis mendekat ke arah ka’bah, terutama pada saat musim haji yang ramai, tempat Imam berjarak beberapa meter dari Ka’bah. Permasalahannya dimanakah posisi makmum yang sholat berjamaah bersama imam?, al-jawab bagi makmum yang arah menghadapnya searah dengan Imam, misalnya imam menghadap ke arah barat, maka makmum yang sama-sama menghadap ke barat, harus berdiri dibelakang imam. Adapun makmum yang menghadapnya tidak sama dengan arah imam, misalnya menghadap ke timur, selatan dan utara, maka boleh baginya berdiri mendekat ke ka’bah. Seandainya makmum ini berjarak 5 meter dari ka’bah, sedangkan sang imam berjarak 10 meter dari ka’bah, tentunya makmum tadi secara metematis berdiri mendahului imam. Untuk case seperti inilah para fuqoha membolehkannya.

 

Imam Nawawi berkata :

أما إذا صلوا في المسجد الحرام، فالمستحب أن يقف الإمام خلف المقام، ويقفوا مستديرين بالكعبة، بحيث يكون الإمام أقرب إلى الكعبة منهم، فإن كان بعضهم أقرب إليها منه وهو في جهة الإمام، ففي صحة صلاته القولان الجديد: بطلانها، والقديم صحتها، وإن كان في غير جهته فطريقان: المذهب: القطع بصحتها، وهو نصه في الأم، وبه قطع الجمهور.

 “adapun jika mereka sholat di masjidil haram, maka yang dianjurkan imam berdiri dibelakang Maqom (tempat berdirinya Nabi Ibrohim), lalu para makmum berdiri mengelilingi ka’bah, kemudian Imam posisinya lebih dekat ke ka’bah dibandingkan dengan makmumnya. Jika ada sebagian makmum yang lebih dekat ke ka’bah dibandingkan imam, sedangkan ia berada searah menghadapnya ke ka’bah bersama imam, maka terhadap sholatnya ada 2 pendapat : pendapat jadid batal sholatnya, pendapat qodim, tetap sah sholatnya.

Jika makmum tidak searah menghadapnya bersama imam, maka ada 2 pendapat : madzhab Syafi’I memastikah sah sholatnya dan ini ternashkan didalm Al Umm (karya Imam Syafi’i) dan juga ditegaskan oleh mayoritas ulama”.

Lihat qoul ulama lainnya dalam link berikut :

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=42884

 

apabila ingin membaca ilustrasi penjelasan ulama, maka salah satunya adalah apa yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Muhammad Mukhtaar asy-Syinqithi berikut :

فأما من كان في جهة الإمام فإنه لا يجوز له أن يتقدم على الإمام، وهذا هو الأصل الذي ذكرناه وقررناه. توضيح ذلك: لو صلى الإمام في الجهة التي تلي باب الكعبة وكان بينه وبين الكعبة ثلاثة أذرع، فلا يجوز لأحد أن يتقدم على هذا القدر، وإنما يكون وراء الإمام. وأما بالنسبة للجهات الأُخَر فإنه يجوز له أن يكون على بعد ذراع من الكعبة، ولا حرج عليه في ذلك، وهذا قول جماهير العلماء، وأفتى به طائفة من السلف رحمة الله عليهم، وكان معروفاً في مكة في أزمنة الأئمة رحمة الله عليهم، ونقله الإمام الشافعي

“adapun makmum yang searah dengan imam, maka tidak boleh baginya mendahului imam, ini adalah hukum asal yang telah kami sebutkan dan kami tegaskan. Penjelasannya adalah : misalnya sang Imam sholat menghadap ke pintu ka’bah dan jaraknya dengan ka’bah 3 hasta, maka tidak boleh bagi seorang makmum pun melebihi ukuran ini, khusus bagi yang berada dibelakang Imam. Adapun makmum yang menghadap arah lain, maka boleh baginya berdiri mendekati ka’bah sampai jarak 1 hasta, hal tidak masalah, ini adalah pendapatnya mayoritas ulama, serta difatwakan oleh sekelompok ulama salaf. Hal ini sudah ma’ruf di Mekkah pada zamannya para Aimah –Rahimahullah-, dan dinukil juga oleh Imam asy-Syaafi’I”.

Lihat selengkapnya di : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-107019.html

 

Kemudian sebagai tambahan dalam permasalahan ini, manakah yang dianggap sebagai shof yang pertama yang mendapatkan keutamaan sebagaimana tsabit dalam hadits-hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam. Adapun shof dibelakang imam langsung, maka ini adalah perkara yang jelas bahwa itu shof pertama, namun yang menjadi bahan perdebatan adalah shof yang berbeda arahnya dengan sang Imam, apakah shof pertamanya dihitung dari yang paling dekat dengan ka’bah atau yang menyambung dengan shof pertama dibelakang imam –in case, tempat sholat Imam berjarak jauh dari ka’bah-?. Asy-Syaikh Muhammad Mukhtaar asy-Syinqithi merajihkan shof pertama adalah shof yang paling dekat dengan ka’bah. Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: