DHOHIRNYA NASH TIDAK MESTI MENJADI HUJJAH

September 25, 2016 at 4:14 am | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment

DHOHIRNYA NASH TIDAK MESTI MENJADI HUJJAH

 

Ketika saya lagi nderes kitabnya Imam Suyuthi dalam bidang Ulumul Qur’an yang sangat terkenal dan menjadi referensi utama dalam bidang ilmu ini, yang berjudul “al-Iqoon fii ‘Uluumil Qur’an”, saya mendapatkan faedah dari beliau –rahimahullah ta’aalaa- bahwa terkadang terjadi kesalahan pada sebagian ulama yang mulia, ketika mereka mengambil istidlal dengan dhohirnya nash. Kesalahan tersebut terjadi salah satunya karena tidak mengetahui “asbaabun nuzul” ayat yang dijadikan dalil olehnya.

 

Imam Suyuthi mencontohkannya dengan ayat ke-158 dalam surat Al Baqoroh yang berbunyi :

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Imam Suyuthi berkata :

فَإِنَّ ظَاهِرَ لَفْظِهَا لَا يَقْتَضِي أَنَّ السَّعْيَ فَرْضٌ وَقَدْ ذَهَبَ بَعْضُهُمْ إِلَى عَدَمِ فَرْضِيَّتِهِ تَمَسُّكًا بِذَلِكَ وَقَدْ رَدَّتْ عَائِشَةُ عَلَى عُرْوَةَ فِي فَهْمِهِ ذَلِكَ بِسَبَبِ نُزُولِهَا وَهُوَ أَنَّ الصَّحَابَةَ تَأَثَّمُوا مِنَ السَّعْيِ بَيْنَهُمَا لِأَنَّهُ مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ. فَنَزَلَتْ.

“sesungguhnya dhohir lafadznya tidak mengharuskan sa’I itu wajib, sebagian ulama berpendapat tidak wajibnya sa’I karena berpegang dengan dhohir ayat tersebut. Aisyah radhiyallahu ‘anha telah membantah pemahaman Urwah bin az-Zubair (yang seperti itu), hal ini karena sebab turunnya ayat adalah para sahabat merasa berdosa jika mereka harus sa’I dari shofaa ke marwaa, mengingat ini adalah tradisi jahiliyyah pada zaman dulu, lalu Allah Ta’aalaa pun menurunkan ayat tersebut.

 

Shuf! Sebagian ulama menurut Imam Suyuthi melakukan kesalahan didalam memberikan kesimpulan hukum terkait ritual sa’I, kesalahan mereka karena berpegang dengan dhohir nash, yakni dalam nash diatas ter-state “tidak ada dosa bagi yang mengerjakan sa’I antara keduanya”, maka perkataan “falaa junaaha ‘alaih” memberikan pengertian bahwa amalan sa’I tidak wajib.

 

Dan antum akan bertambah waspada ketika mengikuti atau beristidlal dengan dhohirnya nash, tanpa meneliti hal-hal terkait lainnya, ketika tahu bahwa yang melakukan kesalah tersebut adalah pembesar ulama, bahkan sebagian mereka tadi adalah ulamanya sahabat. DR. Fuaad bin Yahya al-Haasyimiy dalam sebuah artikelnya ketika menyebutkan beberapa pendapat tentang hukum sa’I dalam haji dan umroh, kemudian beliau menyebutkan pendapat yang ketiga adalah sunah, siapa saja yang berpendapat sunahnya Sa’I?, kata beliau :

وبه قال جماعة من الصحابة والتابعين كابن مسعود وابن عباس ابن الزبير وأبي بن كعب وأنس، وابن سيرين، وعطاء في الرواية الأخرى عنه.

“ini adalah pendapatnya sejumlah sahabat dan Tabi’in, seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ubay bin Ka’ab, Anas, Ibnu Siriin, dan ‘Athoo’ dalam salah satu riwayat darinya –semoga Allah meridhoi mereka semuanya-.”

Lalu DR. Fuad menyebutkan istidlal mereka :

{إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا}

وقد كان ابن مسعود وأنس وابن عباس وأبي يقرؤون (أن لا يطوف بهما) وهو ما في مصحف ابن مسعود، وهو وإن لم يكن قرآناً فلا ينحط عن رتبة الخبر .

وعلى القراءة الأخرى يكون المعنى: نفي الحرج عن فاعله دليل على عدم وجوبه، فإن هذا رتبة المباح، وإنما ثبت سنيته بقوله: {من شعائر الله}

“{Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya } Ibnu Mas’ud, Anas, Ibnu Abbas –rodhiyallahu ‘anhum- membacanya dengan “an laa yathowwafa bihimaa” (untuk tidak bersa’I antara keduanya) ini terdapat dalam mushafnya Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, maka sekalipun itu bukan dianggap sebagai Al Qur’an, namun minimalnya tidak turun dari tingkat pengabaran.

Adapun bacaan lainnya, maknanya adalan menafikan dosa dari pelakunya, maka ini adalah dalil tidak wajibnya sa’i dan ia hanya sampai ke tingkat mubah, kemudian sa’i dianggap hukumnya sunnah, karena Firman-Nya “min Sya’aairillah” (diantara syiar-syiar Allah)”.

Lebih lengkapnya dapat dilihat di : //www.feqhweb.com/vb/t4242.html#ixzz4LEfZ2GlH

 

Adapun terkait Urwah bin az-Zubair yang juga memahami seperti itu, sebagaimana disinggung oleh Imam Suyuthi, maka itu adalah Urwah ketika masih kecil dan tentunya setelah beliau mendapatkan ilmu dari bibinya yang merupakan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, teranglah baginya bahwa ayat diatas tidak bisa dipahami dengan dhohirnya, karena ada sababun nuzul yang menyertai ayat tersebut. Imam Bukhori dan Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kedua kitab shahihnya dengan sanadnya sampai kepada Urwah, beliau berkata :

قَالَ عُرْوَةُ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقُلْتُ لَهَا: أَرَأَيْتِ قَوْلَ اللَّهِ تَعَالَى: {إِنَّ الصَّفَا وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا} [البقرة: 158]، فَوَاللَّهِ مَا عَلَى أَحَدٍ جُنَاحٌ أَنْ لاَ يَطُوفَ بِالصَّفَا وَالمَرْوَةِ، قَالَتْ: بِئْسَ مَا قُلْتَ يَا ابْنَ أُخْتِي، إِنَّ هَذِهِ لَوْ كَانَتْ كَمَا أَوَّلْتَهَا عَلَيْهِ، كَانَتْ: لاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ لاَ يَتَطَوَّفَ بِهِمَا، وَلَكِنَّهَا أُنْزِلَتْ فِي الأَنْصَارِ، كَانُوا قَبْلَ أَنْ يُسْلِمُوا يُهِلُّونَ لِمَنَاةَ الطَّاغِيَةِ، الَّتِي كَانُوا يَعْبُدُونَهَا عِنْدَ المُشَلَّلِ، فَكَانَ مَنْ أَهَلَّ يَتَحَرَّجُ أَنْ يَطُوفَ بِالصَّفَا وَالمَرْوَةِ، فَلَمَّا أَسْلَمُوا، سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا نَتَحَرَّجُ أَنْ نَطُوفَ بَيْنَ الصَّفَا وَالمَرْوَةِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى: {إِنَّ الصَّفَا وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ} [البقرة: 158]

“aku pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha : “bagaimana pendapat bibi tentang firman Allah {Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya }, demi Allah tidak ada dosa bagi seorang pun untuk tidak melakukan sa’I antara Shofaa dan Marwah?. Aisyah menjawab : “keliru sekali apa yang engkau katakan wahai keponakanku, sesungguhnya jika seperti apa yang engkau takwilkan, maka jadilah tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakukan sa’I diantara keduanya, akan tetapi yang benar, ayat ini turun kepada kaum Anshor, mereka dulunya sebelum masuk islam bertalbiyyah kepada manat, thoghut mereka yangmana mereka biasa beribadah kepadanya, mereka bertalbiyyah sambil melakukan sa’I antara shofaa dan marwah. Kemudian ketika mereka masuk islam,  mereka bertanya kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam tentang hukum amalan tersebut, kata mereka : “wahai Rasulullah, dulu kami biasa melakukan sa’I antara Shofaa dan Marwah?, lalu turunlah ayat ini”.

 

Adapun yang menunjukkan bahwa Urwah pada waktu itu masih belia adalah tambahan dalam riwayat Imam Malik dalam “al-Muwathoo” dimana Urwah berkata :

وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَدِيثُ السِّنِّ

“saya pada waktu itu masih kecil”.

 

Dari kisah ini dapat kita ambil faedah, tidak selamanya dhohir nash dapat dijadikan istidlal atau hujjah, jika belum mengetahui sebab munculnya nash atau adanya indikasi-indikasi lainnya yang memalingkan dari berhujjah dengan dhohirnya nash tersebut. Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: