STATUS ASBABUN NUZUL YANG DINUKIL OLEH TABI’IN

September 27, 2016 at 10:42 pm | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment

STATUS ASBABUN NUZUL YANG DINUKIL OLEH TABI’IN

 

Imam Suyuthi dalam kitabnya “al-Itqoon fii ‘Uluumil Qur’an”  membuat suatu kaedah yang kemudian kaedah tersebut digunakan oleh para ulama setelahnya yang berkepentingan didalam Uluumul Qur’an. Yakni terkait status diterima atau tidaknya asbabun nuzul dari perkataan seorang Tabi’iin yang secara lugas mengatakan bahwa hal tersebut adalah sebab turunnya suatu ayat. Imam Suyuthi berkata :

إِذَا وَقَعَ مِنْ تَابِعِيٍّ فَهُوَ مَرْفُوعٌ أَيْضًا لَكِنَّهُ مُرْسَلٌ فَقَدْ يُقْبَلُ إِذَا صَحَّ السَّنَدُ إِلَيْهِ وَكَانَ مِنْ أَئِمَّةِ التَّفْسِيرِ الْآخِذِينَ عَنِ الصَّحَابَةِ كَمُجَاهِدٍ وَعِكْرِمَةَ وَسَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ أَوِ اعْتَضَدَ بِمُرْسَلٍ آخَرَ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“jika hal tersebut berasal dari Tabi’I, maka itu marfu’ juga, namun hukumnya mursal. Statusnya diterima jika Tabi’I tersebut adalah salah seorang dari Aimah tafsir yang berguru kepada sahabat, seperti Imam Mujahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair (dan selainnya) atau dikuatkan dengan riwayat mursal lain atau yang semisalnya” (al-Itqoon juz 1 hal 209, cet. KSA).

 

Dari perkataan Imam Suyuthi bisa disimpulkan bahwa jika Tabi’I secara jelas mengatakan ayat ini turun berkaitan dengan sebuah peristiwa, maka hal tersebut dihukumi sebagai riwayat mursal, karena ada yang dihilangkan dalam sanadnya setelah tabi’I tersebut. Adapun diterimanya riwayat mursal asbabun nuzul tersebut maka ada 2 kriteria yaitu :

  1. Tabi’I tersebut adalah Imam ahli tafsir yang berguru kepada sahabat.
  2. Atau jika tabi’I tersebut bukan seorang Imam ahli tafsir, maka harus ada riwayat mursal lainnya atau yang sejenisnya yang menguatkannya.

 

Demikian syarah dari ucapan Imam Suyuthi yang disebutkan oleh DR. ‘Imaduddin Muhammad ar-Rasyiid dalam disertasi doktoralnya yang berjudul “Asbaabun Nuzul wa Atsaaruhaa fii Bayaani an-Nushuush (hal. 100 – 101)”

 

Adapun 2 murid Imam al-Albani yang cukup masyhur, yakni fadhilatus Syaikh Saliim bin ‘Ied al-Hilaali dan asy-Syaikh Muhammad bin Musa alu Nashr telah melakukan kolaborasi dengan menghasilkan sebuah kitab yang sangat lengkap dalam bidang Asbaabun Nuzul yang berjudul “al-Istii’aab fii Bayaani al-Asbaab”. Dalam kitab tersebut mereka sama sekali tidak berpegang dengan riwayat mursalnya tabi’I terkait asbaabun nuzul, mereka memberikan penilaian dhoif / lemah untuk setiap asbaabun nuzul yang dinukil dari Tabi’iin dengan menjadikannya sebagai cacat yakni karena Irsalnya, disamping juga cacat lainnya jika ada.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: