MAKRUHNYA BERSIWAK BAGI ORANG YANG BERPUASA SETELAH WAKTU DHUHUR

October 3, 2016 at 11:28 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MAKRUHNYA BERSIWAK BAGI ORANG YANG BERPUASA SETELAH WAKTU DHUHUR

 

Imam asy-Syafi’I dalam kitabnya al-Umm (1/39) telah menegaskan kesunahan bersiwak terutama pada 3 kondisi berikut, kata beliau :

وَاسْتُحِبَّ السِّوَاكُ عِنْدَ كُلِّ حَالٍ يَتَغَيَّرُ فِيهِ الْفَمُ وَعِنْدَ الِاسْتِيقَاظِ مِنْ النَّوْمِ وَالْأَزْمِ وَأَكْلِ كُلِّ مَا يُغَيِّرُ الْفَمَ وَشُرْبِهِ وَعِنْدَ الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا

“disunahkan bersiwak pada semua kondisi ketika berubah bau mulutnya, ketika bangun dari tidur, ketika mulut diam lama, atau makan dan minum yang merubah bau mulut dan ketika hendak mengerjakan sholat apapun”.

 

Kemudian Imam Syafi’I (2/111) mengatakan makruhnya bagi orang yang berpuasa untuk bersiwak setelah tengah hari, kata beliau :

وَلَا أَكْرَهُ السِّوَاكَ بِالْعُودِ الرُّطَبِ وَالْيَابِسِ وَغَيْرِهِ: بُكْرَةً وَأَكْرَهُهُ بِالْعَشِيِّ لِمَا أُحِبُّ مِنْ خُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ، وَإِنْ فَعَلَ لَمْ يُفَطِّرْهُ

“aku tidak memakruhkan bersiwak dengan batang basah maupun kering atau semisalnya, pada waktu pagi hari. Aku memakruhkannya ketika sore karena dicintainya bau mulut orang yang berpuasa. Jika dia bersiwak pada waktu tersebut, puasanya tidak batal”.

 

Kontan saja karena ini ternashkan dari Imam Syafi’I tentang kemakruhan bersiwak bagi orang yang berpuasa lewat tengah hari, maka pendapat ini adalah mu’tamad dalam madzhab Syafi’i. Imam Abu Ishaq asy-Syairooziy (w. 476 H) dalam kitabnya “al-Muhadzab fii Fiqh al-Imam asy-Syafi’I” (1/33, cet.DKI) menyebutkan alasan kemakruhannya berdalil dengan hadits Abu Huroiroh radhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori-Muslim, bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah pada hari kiamat, dibandingkan dengan bau minyak Misik” (ini adalah lafadz Muslim).

Dan perubahan bau ini umumnya terjadi lewat tengah hari, kemudian jika seseorang bersiwak, maka akan merubah bau “yang tidak sedap” ini padahal Allah menyukai, sehingga disinilah letak kemakruhannya.

 

Al-‘Alamah Abu Bakar al-Husainiy dalam kitabnya “Kifaayatul Akhyar (1/21) menukil pendapat Imam Nawawi yang merajihkan bahwa bersiwak bagi orang berpuasa tidak makruh secara mutlak, kata beliau :

لَا يكره الاستياك مُطلقًا وَبِه قَالَ الْأَئِمَّة الثَّلَاثَة وَرجحه النَّوَوِيّ فِي شرح الْمُهَذّب وَقَالَ القَاضِي حُسَيْن يكره فِي الْفَرْض دون النَّفْل خوفًا من الرِّيَاء

“tidak dimakruhkan secara mutlak, ini adalah pendapat Imam 3 mazhab dan dirajihkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah al-Muhadzab.Qodhi Husain berkata, dimakruhkan ketika puasa wajib, namun tidak makruh untuk puasa sunah, demi menghindari riya”.

 

Pentahqiq kitab al-Majmu juga berkata :

المختار أنه لا يكره بعد الزوال كما اختاره شيخنا رحمه الله في اول المسألة وعمدتهم في الكراهة حديث الخوف ولا حجة لان الخلوف من خلو المعدة والسواك لا يزيله انما يزيل وسخ الاسنان

“pendapat yang terpilih adalah tidak dimakruhkannya bersiwak sehabis Dhuhur, sebagaimana ini adalah pilihan guru kami pada awal pembahasan. Referensi utama mereka yang memakruhkannya adalah hadits tentang bau mulut orang yang berpuasa, dan tidak ada hujjah pada hadits tersebut, dikarenakan bau itu berasal dari lambung dan siwak tidak bisa menghilangkannya, siwak hanya bisa menghilangkan kotoran yang ada di gigi”.

 

Pendapat tidak makruhnya bersiwak bagi orang yang berpuasa juga berdasarkan hadits ‘Aamir bin Robi’ah radhiyallahu anhu beliau berkata :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَسْتَاكُ وَهُوَ صَائِمٌ»،

“aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersiwak dalam kondisi Beliau sedang berpuasa” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan selainnya).

Namun para ulama hadits mendhoifkan hadits ini, seperti : Ibnu Hajar, Al Albani, Syu’aib Arnauth, M.M al-Azhami, dll.

 

Akan tetapi Imam Tirmidzi melakukan dissenting opinion sebagaimana dinukil oleh Syu’aib Arnauth dalam “Tahqiq Sunan Abu Dawud” :

وقال الترمذي: حديث عامر بن ربيعة حديث حسن، والعمل على هذا عند أهل العلم لا يرون بالسواك للصائم بأساً إلا أن بعض أهل العلم كرهوا السواك بالعود الرطب، وكرهوا له السواك آخر النهار، ولم ير الشافعي بالسواك بأساً أول النهار وآخره، وكره أحمد وإسحاق السواك آخر النهار

“Imam Tirmidzi berkata : “hadits ‘Aamir bin Robii’ah radhiyallahu anhu adalah hadits hasan. Dijadikan pegangan oleh para ulama yang memandang tidak mengapa orang yang berpuasa untuk bersiwak, namun sebagian ulama memakruhkannya jika dalam bersiwak menggunakan dahan yang basah, ada juga yang memakruhkannya jika bersiwaknya pada akhir siang. Imam Syafi’I memandang tidak mengapa orang yang berpuasa bersiwak pada awal siang dan akhir siang, sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq memakruhkannya jika dia bersiwak pada akhir siang”.

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: