MENGENAL TAFSIR BIL MA’TSUR

October 4, 2016 at 11:19 pm | Posted in ULUUMUL QUR'AN | Leave a comment

MENGENAL TAFSIR BIL MA’TSUR

 

Asy-Syaikh Muhammad Abdul ‘Adzhim az-Zurqooniy (w. 1367 H) dalam kitabnya “Manaahil ‘Urfaan”  menukil pembagian sebagian ulama ulumul qur’an terhadap macam-macam tafsir menjadi 3 jenis yaitu : tafsir bil Ma’tsur, tafsir bir Ra’yi, dan tafsir bil Isyaroh (2/11). Kemudian beliau mendefinisikan tafsir bil Ma’tsur dengan :

هو ما جاء في القرآن أو السنة أو كلام الصحابة بيانا لمراد الله تعالى من كتابه

“(Jenis tafsir) yang menampilkan ayat Al Qur’an, hadis Nabi, atau pendapat sahabat sebagai penjelasan terhadap apa yang dikehendaki oleh Allah Ta’aalaa dalam Kitab-Nya”.

Adapun DR. Muhammad as-Sayyid Husain adz-Dzahabi (w. 1398 H) menambahkan dengan tafsir dari Tabi’in, dalam kitabnya “at-Tafsiir wal Mufasiruun” (1/112). Hal senada juga disampaikan oleh asy-Syaikh Mannaa’ bin Kholiil al-Qoththoon (w. 1420 H) dalam kitabnya yang cukup laris “Mabaahits fii ‘Uluumil Qur’an” (hal. 358).

 

Tafsir jenis inilah yang diunggulkan oleh Imam Ibnu Katsir ketika menjawab pertanyaan yang mungkin biasa diajukan menyangkut metode terbaik dalam menafsirkan Al Qur’an. Beliau mendokumentasikannya dalam mukadimah kitab tafsirnya, dimana beliau menulis :

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ: فَمَا أَحْسَنُ طُرُقِ التَّفْسِيرِ؟ فَالْجَوَابُ: إِنَّ أَصَحَّ الطُّرُقِ فِي ذَلِكَ أَنْ يُفَسَّر الْقُرْآنُ بِالْقُرْآنِ

“jika ada yang bertanya, apa cara terbaik dalam menafsirkan Al Qur’an?, maka jawabannya adalah cara yang paling benar adalah menafsirkan Al Qur’an itu dengan (ayat lainnya dalam) Al Qur’an…”

Kemudian beliau menjelaskan urutan berikutnya berpegang dengan hadits Nabawi, sampai kepada perkataan beliau :

إِذَا لَمْ تَجِدِ التَّفْسِيرَ فِي الْقُرْآنِ وَلَا فِي السُّنَّةِ وَلَا وَجَدْتَهُ عَنِ الصَّحَابَةِ، فَقَدْ رَجَعَ كَثِيرٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ إِلَى أَقْوَالِ التَّابِعِينَ

“Jika engkau tidak mendapatkan penafsirannya dalam (ayat Al Qur’an), tidak juga dalam hadits, begitu pun pendapat sahabat, maka kebanyakan Aimah merujuk kepada perkataan para Tabi’in”.

 

Singkat kata, tafsir bil Ma’tsur adalah tafsir berdasarkan rujukan riwayat, entah berstatus langsung dari Rabbunaa Azza wa Jalla, hadits marfu’, mauquf, mursal, maupun maqthu’. Maka tentu saja tafsir ini adalah jenis penafsiran yang terbaik karena langsung berpegang kepada Sang Maha Pencipta, atau kepada Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam sebagai otoritas tervalid didalam menafsirkan Al Qur’an, atau kepada generasi terbaik dari kalangan Sahabat dan Tabi’in.

Kemudian beberapa ulama memberikan contoh kitab tafsir yang menggunakan metode diatas, yang paling terkenal adalah : Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Baghowi, Tafsir Ibnu Katsiir dan lain-lain.

 

Namun perlu dijadikan catatan, karena tafsir bil Ma’tsur mengandalkan riwayat, maka tentu saja untuk menguji keontetikannya tersebut perlu diimplementasikan kaedah-kaedah penelitian riwayat yang telah dibakukan dalam ilmu hadits, sehingga kita hanya mengambil riwayat-riwayat yang berstatus makbul (diterima), dan meninggalkan riwayat-riwayat yang marduud (tertolak). Dan perlu diperhatikan juga bahwa ada beberapa sahabat dan Tabi’in yang memperkaya tafsirnya dengan menukil dari Ahlu Kitab, berupa perincian-perincian yang mendukung kisah atau detail kejadian yang telah disinggung dalam Al Qur’an, yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk disebutkan, namun itu semua sekedar pelengkap kisah. Maka terhadap riwayat-riwayat seperti ini perlu diterapkan kaedah yang telah dijelaskan oleh para ulama dalam menerima berita dari ahlu kitab, yang jika jelas bertentangan dengan dalil shahih, maka harus ditolak, dan jika tidak ditetapkan maupun ditolak dalil shahih, hanya disikapi dengan abstain. Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Suwailim berkata :

وأما تفاسير الصحابة والتابعين، وهي أكثر من أن تحصى: ففيها الصحيح، والحسن، والضعيف، والموضوع، والإسرائيليات، التي تشتمل على خرافات بني إسرائيل، وأكاذيبهم

“adapun tafsir dari sahabat dan Tabi’in itu sangat banyak tak terhingga, ada yang shahih, hasan, dhoif, palsu, dan Isroiliyat yang mengandung khurofatnya bani Isroil dan kedustaan-kedustaan mereka” (al-Isroiliyyat wal Ma’udhuu’aat fii Kutub at-Tafsir (hal. 85)).

 

Metode penafsiran seperti ini adalah metode yang paling aman, karena tafsir adalah mengungkap apa yang dikehendaki Allah dalam Al Qur’an, sehingga dengan kita menyerahkannya kepada pihak-pihak yang berkompeten, tentu ini lebih selamat di dunia dan akhirat, karena Allah Ta’aalaa berfirman :

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al A’raf : 33).

 

Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim al-Jauziyyah memiliki ucapan yang sangat indah dalam kitabnya I’laamul Muqi’iin (1/31) :

وَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ الْقَوْلَ عَلَيْهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فِي الْفُتْيَا وَالْقَضَاءِ، وَجَعَلَهُ مِنْ أَعْظَمِ الْمُحَرَّمَاتِ، بَلْ جَعَلَهُ فِي الْمَرْتَبَةِ الْعُلْيَا مِنْهَا، فَقَالَ تَعَالَى: {قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ} [الأعراف: 33] فَرَتَّبَ الْمُحَرَّمَاتِ أَرْبَعَ مَرَاتِبَ، وَبَدَأَ بِأَسْهَلِهَا وَهُوَ الْفَوَاحِشُ، ثُمَّ ثَنَّى بِمَا هُوَ أَشَدُّ تَحْرِيمًا مِنْهُ وَهُوَ الْإِثْمُ وَالظُّلْمُ، ثُمَّ ثَلَّثَ بِمَا هُوَ أَعْظَمُ تَحْرِيمًا مِنْهُمَا وَهُوَ الشِّرْكُ بِهِ سُبْحَانَهُ، ثُمَّ رَبَّعَ بِمَا هُوَ أَشَدُّ تَحْرِيمًا مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ وَهُوَ الْقَوْلُ عَلَيْهِ بِلَا عِلْمٍ

“Allah Ta’aalaa telah mengharamkan berucap tanpa ilmu didalam berfatwa dan membuat keputusan, dan menjadikannya sebagai hal yang sangat diharamkan, bahkan itu adalah tingkatan keharaman yang paling tinggi, Allah Ta’aalaa berfirman dalam Al A’raf ayat 33…

Maka disini tingkatan yang haram ada 4 tingkatan, dimulai dari yang paling rendah yaitu, perbuatan keji, lalu yang kedua dengan kadar lebih haram dari yang pertama yakni perbuatan dosa dan kezholiman, kemudian yang ketiga lebih haram lagi yaitu menyekutukan Allah Ta’aalaa dan yang paling dahsyat keharamannya dari itu semua adalah berucap tanpa ilmu”.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: