VALIDASI RIWAYAT WASIAT ABDULLAH BIN UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHU AGAR DIBACAKAN AL QUR’AN KETIKA BELIAU DIKEBUMIKAN

December 3, 2016 at 3:10 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

VALIDASI RIWAYAT WASIAT ABDULLAH BIN UMAR RADHIYALLAHU ‘ANHU AGAR DIBACAKAN AL QUR’AN KETIKA BELIAU DIKEBUMIKAN

 

Imam Abu Bakar ibnu Al-Kholaal (w. 311 H) dalam kitabnya “Al-Qirooah ‘Inda Al-Qubuur” membawakan tiga sanad terkait riwayat wasiat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu agar dibacakan Al Qur’an ketika dikebumikan. Dengan izin Allah, kita akan bahas satu persatu ketiga riwayat tersebut :

  1. Imam Abu bakar bin Al-Kholaal berkata :

أَخْبَرَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُبَشِّرٌ الْحَلَبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ اللَّجْلَاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: ” إِنِّي إِذَا أَنَا مُتُّ، فَضَعْنِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَأَوَّلِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ ذَلِكَ قَالَ الدُّورِيُّ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ قُلْتُ: تَحْفَظُ فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الْقُبُورِ شَيْئًا، فَقَالَ: لَا. وَسَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، فَحَدَّثَنِي بِهَذَا الْحَدِيثِ

“telah mengabarkan kepada kami Al-‘Abbas bin Muhammad ad-Duuriy ia berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ma’in ia berkata, telah menceritakan kepada kami Mubasysyir Al-Halabiy ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdur Rokhman bin Al-‘Alaa` bin Al-Lajlaaj, dari Bapaknya beliau berkata : “jika aku meninggal dunia nanti, maka letakkanlah aku di Lahad dan engkau berkata, Demi nama Allah diatas sunnah Rasulullah, kemudian taburkan debu kepadaku. Bacakanlah disisi kepalaku surat Al Fatihah dan awal-awal surat Al Baqoroh serta akhir-akhir surat Al Baqoroh, karena aku mendengar Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata demikian”.

Ad-Duuriy berkata, aku bertanya kepada Ahmad bin Hanbal : ‘apakah engkau hapal sebuah hadits tentang membaca Al Qur’an di kuburan?’, beliau menjawab, tidak. Kemudian aku bertanya kepada Yahya bin Ma’in, kemudian beliau membawakan hadits ini.

Penilaian Para Perowinya :

Sanad hadits ini muttashil (bersambung) masing-masing meriwayatkan dari gurunya. Semua perowinya tsiqoh, kecuali Abdur Rokhman bin Al-‘Alaa, hanya dinilai tsiqoh oleh Imam Ibnu Hibban. Ibnu Al-‘Alaa` tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Mubasysyir dan dia hanya punya satu syaikh yakni bapaknya yang bernama Al-‘Alaa bin Al-Lajlaaj, bapaknya ini adalah anak dari Al-Lajlaaj radhiyallahu ‘anhu salah seorang sahabat Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam. Al-‘Alaa` meriwayatkan hadits dari bapaknya (Al-Lajlaaj) dan juga dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhumaa.

Berdasarkan uraian kondisi perowinya, maka atsar ini memiliki kelemahan pada diri Abdur Rokhman bin Al-‘Alaa`, seorang perowi majhul yang hanya mendapatkan pen-tausiq-kan dari Imam Ibnu Hibban, dimana sudah ma’ruf bagi yang mendalami ilmu hadits, nilai pen-tautsiq-kan Imam Ibnu Hibban adalah yang terendah, karena beliau gampang sekali memberikan penilaian tsiqoh kepada para perowi majhul. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Taqriib memberikan penilaian untuk Abdur Rokhman ini sebagai perowi maqbul, artinya haditsnya lunak dan bisa dikuatkan jika ada riwayat semakna yang mendukungnya.

  1. Imam Abu Bakar bin Al-Kholaal berkata :

وَأَخْبَرَنِي الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الْكَرِيمِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو شُعَيْبٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ شُعَيْبٍ الْحَرَّانِيُّ مِنْ كِتَابِهِ قَالَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الضَّحَّاكُ الْبَابُلُتِّيُّ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ نَهِيكٍ الْحَلَبِيُّ الزُّهْرِيُّ، مَوْلَى آلِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ الْمَكِّيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلَا تَجْلِسُوا، وَأَسْرِعُوا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ، وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ، وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَتِهَا فِي قَبْرِهِ»

 

“telah mengabarkan kepada kami Al-‘Abbas bin Muhammad bin Ahmad bin Abdul Kariim ia berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Syu’aib Abdullah bin Al-Husain bin Ahmad bin Syu’aib Al-Harooniy dari bukunya ia berkata, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abdullah Adh-Dhohhaak Al-Baabultiy, telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Nuhaik Al-Halabiy Az-Zuhriy –Maulaa Alu Sa’ad bin Abi Waqqoosh ia berkata, aku mendengar Athoo’ bin Abi Robaah Al-Makkiy berkata, aku mendengar Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Jika kalian meninggal dunia, maka janganlah ia didiamkan (lama), segera kuburkan, dan bacakan disisi kepalanya surat Al Fatihah dan Al Baqoroh, dan disisi kakinya akhir surat Al Baqoroh di kuburnya”.

Penilaian Para Perowinya :

Saya belum berhasil menemukan biografi Al-‘Abbas bin Muhammad dan Abu Syu’aib Abdullah bin Al-Husain. Adapun Yahya Al-Baabulitiy, Imam Ad-Daruquthni telah melemahkan haditsnya dalam kitab beliau “Ta’liqoot Ad-Daruquthni ‘alaa Al-Majruhiin li ibni Hibban”. Kemudian Ayyub bin Nuhaik, Imam Abu Hatim telah mendhoifkannya sebagaimana dinukil Imam Adz-Dzahabi dalam “Taarikh Al-Islamiy”. Sedangkan Athoo`, adalah salah seorang Aimah Tabi’in yang masyhur.

Berdasarkan uraian sanad ini, maka riwayat marfu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ini, tanpa diragukan lagi adalah dhoif.

 

  1. Imam Abu Bakar berkata :

وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَرَّاقُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الْحَدَّادُ، وَكَانَ صَدُوقًا، وَكَانَ ابْنُ حَمَّادٍ الْمُقْرِئُ يُرْشِدُ إِلَيْهِ، فَأَخْبَرَنِي قَالَ: ” كُنْتُ مَعَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِيِّ فِي جِنَازَةٍ، فَلَمَّا دُفِنَ الْمَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ الْقَبْرِ، فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: يَا هَذَا، ” إِنَّ الْقِرَاءَةَ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ الْمَقَابِرِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ لِأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، مَا تَقُولُ فِي مُبَشِّرٍ الْحَلَبِيِّ؟ قَالَ: ثِقَةٌ، قَالَ: كَتَبْتَ عَنْهُ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْعَلَاءِ بْنِ اللَّجْلَاجِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا، وَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ. فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: فَارْجِعْ، فَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأْ “

“telah mengabarkan kami Al-Hasan bin Ahmad Al-Warooq ia berkata, telah menceritakan kepadaku Ali bin Musa Al-Haddaad –beliau shoduq-, Ibnu Hammad al-Muqriy telah menunjukinya lalu memberitahukan kepadaku ia berkata : “aku bersama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhariy ketiak mengantar jenazah, setelah mayit dikuburkan, duduklah seorang buta membacakan Al Qur’an didekat kuburannya, maka Ahmad berkata kepadanya : “apaan ini, sesungguhnya membaca Al Qur’an di kuburan adalah bid’ah”. Tatkala kami keluar dari pekuburan, Muhammad bin Qudaamah berkata kepada Ahmad bin Hanbal : “wahai Abu Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir Al-Halabiy?”, beliau menjawab, “tsiqoh”, apakah engkau pernah menulis hadits darinya?, jawabnya, “betul”. Lanjutnya, telah mengabarkan kepadaku Mubasysyir dari Abdur Rokhman bin Al-‘Alaa` bin Al-Lajlaaj dari bapaknya bahwa ia berwasiat kalau nanti dikebumikan, minta dibacakan Al Fatihah, Al Baqoroh dan akhir surat Al Baqoroh disisi kepalanya, lalu ia berkata, aku mencengar Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berwasiat demikian”. Maka Ahmad berkata, “kembalilah, lalu katakan kepada laki-laki tadi untuk melanjutkan bacaan Al Qur’annya”.

Penilaian Para Perowinya :

Imam Al Albani dalam Ahkamul Janaiz belum berhasil menemukan biografi Al-Hasan Al-Warooq, apalagi saya. Oleh karenanya Imam Al Albani mendhoifkan riwayat ini, ditambah kedhoifan yang ada pada Abdur Rokhman bin Al-‘Alaa`, sebagaimana telah kita sebutkan pada nomor 1.

Namun Imam Abu Bakar bin Kholaal menyebutkan sanad lain yang menjadi Mutabaah bagi Al-Hasan Al-Warooq ini, kata beliau :

وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ صَدَقَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيَّ، قَالَ: كَانَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي جِنَازَةٍ وَمَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِيُّ، قَالَ: فَلَمَّا قُبِرَ الْمَيِّتُ، جَعَلَ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ عِنْدَهُ، فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ لِرَجُلٍ: تَمُرُّ إِلَى ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي يَقْرَأُ، فَقُلْ لَهُ: لَا يَفْعَلْ، فَلَمَّا مَضَى، قَالَ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ: مُبَشِّرٌ الْحَلَبِيُّ، كَيْفَ هُوَ؟ فَذَكَرَ الْقِصَّةَ بِعَيْنِهَا

Penilaian Para Perowinya :

Abu Bakar bin Shodaqoh, dinilai oleh Imam Daruquthni dengan tsiqoh tsiqoh. Adapun Utsman bin Ahmad Al-Maushuuliy saya belum berhasil mendapatkan biografinya. Seandainya di-adjust bahwa sanadnya shahih sampai kepada Imam Ahmad, maka masih tersisa kelemahannya sampai kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, dengan sebab kelemahan Abdur Rokhman sebagaimana yang telah lewat, seandainya pun di-adjuts lagi shahih sampai kepada Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu maka ini adalah riwayat mauquf yang digolongkan sebagai mazhab shahabi yang tidak secara otomatis menjadi hujjah menurut sebagian ulama ushuliyyun. Demikian kurang lebih keterangan Imam Al Albani dalam Ahkamul Janaiz.

 

Kesimpulan dalam pembahasan kita adalah atsar Ibnu Umar masih diragukan validasinya. Lebih hati-hati untuk memberikan penilaian bahwa atsar ini lemah baik yang mauquf apalagi yang marfu’nya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: