HUKUM JUAL BELI KUCING

December 5, 2016 at 10:10 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM JUAL BELI KUCING

 

Sebagian ulama seperti Imam Ibnu Hazm berpendapat jual beli kucing adalah haram alias tidak boleh. Alasannya mereka berpegang dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 1569) beliau berkata :

حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ أَعْيَنَ، حَدَّثَنَا مَعْقِلٌ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، قَالَ: سَأَلْتُ جَابِرًا، عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَالسِّنَّوْرِ؟ قَالَ: «زَجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ»

“telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin A’yan, telah menceritakan kepada kami Ma’qil, dari Abi Az-Zubair ia berkata, aku pernah bertanya kepada Jaabir rodhiyallahu ‘anhu tentang harga (penjualan) Anjing dan Kucing?, beliau menjawab, Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam melarang hal tersebut”.

Diantara ulama muta’akhirin yang berpendapat seperti ini adalah Asy-Syaikh Abu Maalik Kaamal dalam kitabnya Shahih Fiqhus Sunah.

 

Adapun jumhur ulama dari kalangan 4 mazhab, mereka semuanya membolehkan jual beli kucing. Diantara kalangan ulama kontemporer yang berpendapat seperti ini adalah Asy-Syaikh Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Fiqhus Sunnah”.

 

Adapun mereka yang berpendapat bolehnya jual beli, maka terhadap hadits diatas ada 2 jawaban secara umum, yang pertama mereka menilai hadits dhoif atau melakukan takwil terhadap kandungan hadits diatas.

 

Imam Ahmad menilai hadits diatas bermasalah, sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Hafidz Ibnu Rajab dalam Jaami’ul Uluum wal Hikaam :

وَهَذَا مِمَّا يُعْرَفُ عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ. وَقَدِ اسْتَنْكَرَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ رِوَايَاتِ مَعْقِلٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، وَقَالَ: هِيَ تُشْبِهُ أَحَادِيثَ ابْنِ لَهِيعَةَ، وَقَدْ تَتَبَّعَ ذَلِكَ، فَوَجَدَ كَمَا قَالَهُ أَحْمَدُ رَحِمَهُ اللَّهُ

“ini adalah riwayat yang diketahui dari jalan Ibnu Luhaiah dari Abi Az-Zubair. Imam Ahmad telah mengingkari riwayat-riwayat Ma’qil dari Abi Az-Zubair, dengan berkomentar, “si Ma’qil haditsnya mirip dengan Ibnu Luhaiah”. Aku telah melakukan penelitian atas hal ini , kemudian aku mendapatkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad tersebut”.

Begitu juga penilaian pendhoifannya datang dari Imam Ibnu Abdil Bar, namun pendhoifan beliau dibantah oleh Imam Nawawi dalam kitabnya “Syarah Shahih Muslim”.

 

Jawaban kedua adalah mentakwil hadits tersebut diantara takwilan yang dilakukan yaitu :

  • Larangan tersebut dibawa kepada Nahyu lit Tanziih, jadi jika diketahui bahwa Kucing adalah binatang suci, maka tidak ada lagi alasan untuk mengharamkan jual belinya.
  • Larangan tersebut jika penjualan kucing tersebut tidak ada manfaatnya, adapun jika bermanfaat, seperti untuk memburu tikus dan yang semisalnya, maka tidak mengapa.
  • Larangan tersebut berlaku bagi Kucing liar, adapun Kucing yang sudah jinak maka tidak mengapa.
  • Larangan tersebut berlaku jika kebiasan masyarakat tidak melakukan transaksi jual beli Kucing, adapun jika masyarakat sudah terbiasa melakukannya, hal tersebut diperbolehkan.

 

Yang rajih –Wallahul A’lam- pendapat jumhur ulama dengan jalan takwilan sebagaimana diatas, karena Kucing bisa dimanfaatkan dan diakui kepemilikannya, sehingga merupakan harta yang bisa dipindahtangankan, baik melalui jalan jual beli atau melalui hibah alias pemberian, sebagaimana yang berlaku dalam masyarakat kita. Wallahul A’lam bish-Showab.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: