KODIFIKASI AL HADITS PADA ABAD PERTAMA HIJRIYYAH

December 7, 2016 at 2:47 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

KODIFIKASI AL HADITS PADA ABAD PERTAMA HIJRIYYAH

 

Tersebar dikalangan awam dan kemudian dieksploitasi oleh orientalis bahwa ilmu hadits pada 100-an tahun pertama hijriyyah tersebar melalui hapalan dari satu ulama ke ulama berikutnya, belum ada upaya penulisan hadits pada waktu itu, menurut klaim mereka. Praduga ini berlanjut hampir lima abad lamanya hingga bertambah meluas dan menguat. Sebab terjadinya dugaan yang keliru ini adalah kesalahan dalam menakwil perkataan ulama hadits bahwa orang yang pertama kali melakukan kodifikasi hadits adalah Imam Ibnu Syihaab Az-Zuhri (w.124 H atau 125 H) atas perintah kholifah Umar bin Abdul Aziz pada waktu. Kekeliruan ini terus berlanjut sampai datanglah Imam Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit yang dikenal dengan nama Al-Khothiib Al-Baghdadi (w. 463 H). beliau melakukan klarifikasi terhadap isu yang kita bahas ini dan menuangkannya dalam sebuah kitab yang berjudul “Taqyiid Al-‘Ilmi. Imam Al-Khothiib Al-Baghdadi adalah ulama yang memiliki karya-karya yang memiliki jaminan mutu yang tinggi dalam bidang Uluumul Hadits, beliau memiliki tulisan yang berjudul “Al-Kifaayah fii ‘Ilmi Riwayah” dalam bidang Uluumul Hadits secara umum dan banyak sekali karya tulis beliau dalam cabang-cabang dari Uluumul Hadits, sampai-sampai dikatakan bahwa ulama hadits yang hidup setelah beliau sangat butuh kepada kitab-kitabnya untuk dijadikan referensi.

Kembali kepada kitab Taqyiid Al-‘Ilmi, Imam Al-Khothiib Al-Baghdadi menetapkan bahwa kodifikasi hadits telah ada pada masa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam, berangkat dari hal inilah beliau melakukan penelitian yang lebih mendalam lagi terhadap hadits-hadits dan atsar para sahabat yang membicarakan tema ini, sampai akhirnya beliau berkesimpulan bahwa terdapat dua kelompok yang saling bertentangan, satu kelompok membolehkan penulisan hadits, sedangkan satunya lagi melarangnya. Kesimpulan ini sebenarnya telah disampaikan juga oleh para pendahulu beliau, hanya saja Imam Al-Khothiib menemukan fakta baru bahwa dalam nash-nash yang berisi larangan menulis hadits terdapat sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya pelarangan tersebut, berangkat dari sinilah beliau melakukan klarifikasi yang memuaskan dalam mendudukan permasalahan yang kita bahas ini.

Berikut point-point penting dari buku tersebut berdasarkan resensi yang ditulis oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Mathar Az-Zahrani :

  1. Sesungguhnya hadits yang menjelaskan larangan menuliskan hadits itu tidak ada yang shahih kecuali hadits Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dalam riwayat Muslim, disertai dengan perbedaan pendapat antara Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam derajat Marfu’ dan mauquf dari hadits tersebut.
  2. Sesungguhnya kebolehan penulisan hadits telah ada sejak zaman Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa Salam, beberapa dalil telah diungkapkan oleh penulis, termasuk dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang menganjurkan penulisan hadits.
  3. Kodifikasi dalam makna luas –yaitu pengumpulan-telah dimulai pada zaman Nabi sholallahu ‘alaihi wa Salam.
  4. Para ulama yang melarang penulisan sunnah tidak berdalil dengan hadits Abu Said Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu, akan tetapi dengan dalil-dalil lain, diantaranya :
  5. Kekhawatiran akan disibukkannya manusia dengan tulisan sehingga melalaikannya dari Al Qur’an. Al-Khathiib telah mengungkapkan beberapa penjelasan ulama salaf tentang hal tersebut.
  6. Kekhawatiran (hilangnya) penjagaan kemampuan menghafal yang dimiliki kaum muslimin, karena bersandarnya umat Islam kepada tulisan akan melemahkan hafalan mereka. Oleh karena itu, sebagian mereka menulisnya kemudian menghapusnya. Kalau seandainya larangan menulis itu berlaku tetap, niscaya mereka tidak menulisnya pada mulanya.

(Sumber : Ensiklopedia buku-buku rujukan hadits, hal. 75-84 cetakan Darul Haq).

 

Dan penjelasan ulama kontemporer yang lebih komplit dan memuaskan terkait tema kita ini, telah dibukukan dengan baik oleh Prof. DR. Muhammad Musthofa Azami dalam karyanya yang berjudul Studies in Early Hadith Literature. Karya beliau ini diganjar penghargaan Internasional oleh Raja Faisal pada tahun 1400 H. memang layak beliau mendapatkannya karena berhasil menampilkan metode ilmiah terkait  pembelaan  terhadap hadits Nabawi, dimana beliau menyanggah pendapat-pendapat orientalis dengan mendiskusikannya secara ilmiah.

Semoga Allah membalas upaya ulama kita dalam berkhidmat kepada Islam dengan balasan yang sebaik-baiknya. Amiin.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: