GURU DAN MURID DALAM NAUNGAN AMPUNAN ALLAH

December 11, 2016 at 3:32 am | Posted in Hadits | Leave a comment

GURU DAN MURID DALAM NAUNGAN AMPUNAN ALLAH

 

Diantara banyaknya keutamaan menuntut ilmu adalah Allah menggerakkan hamba-hamba-Nya baik yang berada di langit maupun di bumi untuk memintakan ampunan kepada para pengajar, masyaikh, dan guru, pun demikian kepada para murid, tholib dan siswa. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ

“Sesungguhnya makhluk yang ada dilangit dan bumi akan memohonkan ampunan kepada orang-orang alim, sampai-sampai plankton (ikan-ikan kecil) di lautan turut memohonkan ampunan juga” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah dan selainnya, ini lafadz Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

dalam lafadz lain :

مُعَلِّمُ الْخَيْرِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ شَيْءٍ  حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْبِحَارِ

“Para pengajar kebaikan akan dimohonkan ampunan oleh semua makhluk hingga ikan-ikan kecil di lautan” (HR. Thabrani dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Dalam lafadz lain, para penuntut ilmu juga mendapatkan perlakukan yang sama, dimana Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

وَإِنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْمَاءِ

“sesungguhnya penuntut ilmu akan dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan bumi, sampai-sampai ikan-ikan kecil di lautan (juga memohonkan ampunan untuknya-pent.)” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

 

Syarah :

  1. makna hadits diatas bahwa Allah memerintahkan kepada makhluk-Nya yang ada di langit dan bumi untuk memohonkan ampun kepada para hambanya yang menjadi pengajar dan para pencari ilmu, yang mana permohonan istighfar mereka adalah permohonan yang mustajabah, karena mereka tidak pernah bermaksiat kepada Rabb-nya. Bisa juga yang dimaksud adalah bahwa Allah akan memberikan ampunan sejumlah bilangan makhluk-Nya yang ada di langit dan bumi.
  2. yang dimaksud dengan ilmu diatas adalah ilmu syar’i yang mana pemiliknya atau para pencarinya meluruskan niatnya hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa semata.
  3. Disebutkannya Al-Khiitaan dalam hadits diatas yang dimaksud adalah binatang laut, yakni sebagai perwakilan binatang yang ada di bumi, karena binatang laut jenisnya lebih banyak daripada jenis binatang daratan, menurut perhitungan para ulama kita.
  4. Bagaimana bentuk permohonan ampunan yang dilakukan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi, Wallahu Ta’aalaa A’lam, tapi yang harus menjadi keyakinan kita mereka bisa jadi benar-benar memohonkan ampunan bagi kita para penuntut ilmu dengan bentuk yang diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Sebagaimana mereka juga senantiasa bertasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. Al Israa’ : 44).

5. Bisa saja para makhluk yang di langit yakni para Malaikat Allah dan binatang yang ada di bumi mendoakan ampunan kepada para pengajar dan penuntut ilmu syar’i, karena bentuk simbiosis mutualisme, dimana dengan kehadiran para penuntul ilmu yang berada diatas kebenaran, mereka dapat menjelaskan kepada manusia yang berani-beraninya mengatakan bahwa Allah tidak punya Malaikat, atau Malaikat adalah anak perempuan Allah dan semacamnya dari perkara-perkara yang menyakiti para Malaikat, dan para penuntut ilmu berada di garda terdepan didalam membela kehormatan para Malaikat. Begitu juga binatang-binatang dengan kehadiran para penuntut ilmu dapat menjadi penolongnya didalam menjelaskan perburuan terhadap binatang dan perlakuan yang baik terhadap mereka, dimana seandainya manusia ingin memelihara para binatang, maka penuntut ilmu mampu menjelaskan bagaimana cara memelihara binatang yang baik dan jikalau mau membunuhnya untuk dimanfaatkan dagingnya maka membunuhnya pun dengan cara yang terbaik.

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ، فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ، وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ، وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ، فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik terhadap segala sesuatu, jika kalian membunuh hendaknya perbaguslah dalam membunuh, jika kalian menyembelih, maka perbaguslah dalam menyembelij, hendaknya tajamkan pisau kalian, dan gembirakanlah sesembelihan kalian” (HR. Muslim).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: