HUKUM MEMBUKA KAJIAN PADA HARI JUM’AT SEBELUM SHOLAT JUM’AT

December 12, 2016 at 3:48 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MEMBUKA KAJIAN PADA HARI JUM’AT SEBELUM SHOLAT JUM’AT

 

Terdapat sebuah hadits yang berbicara tentang larangan berhalaqoh sebelum sholat Jum’at. Dengan jalannya Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya beliau berkata :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ فِي الْمَسْجِدِ، وَأَنْ تُنْشَدَ فِيهِ الْأَشْعَارُ، وَأَنْ تُنْشَدَ فِيهِ الضَّالَّةُ، وَعَنِ الْحِلَقِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam melarang jual beli di masjid, menasyidkan syair di masjid, mengumumkan barang hilang di masjid dan membuat halaqoh pada hari Jum’at sebelum sholat” (diriwayatkan oleh 5 ahli hadits dan selainnya).

Hadits ini dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Al-‘Alamah Ahmad Syakir dan selainnya, sementara itu Imam Tirmidzi, Imam Al Albani, Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth dan selainnya menghasankannya.

Mata rantai Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya, para ulama berbeda pendapat tentang kualitasnya, barangkali pendapat yang pertengahan adalah kualitas sanadnya hasan.

Dalam pembahasan ini kita hanya menyebutkan fiqih hadits pada penggalan akhir matan hadits yakni larangan berhalaqoh sebelum sholat Jum’at. Kita akan melihat bagaimana komentar ulama dalam mengambil hukum dari hadits diatas.

  1. Ada sebagian ulama yang membaca hadits tersebut yaitu kata Al-Khilaq dibaca Al-Halq, yang maknanya adalah memotong rambut. Informasi ini saya dapatkan dari Al-‘Alamah Ahmad Syakir yang menukil perkataan Imam Al-Khothobiy dalam kitabnya Syarah Sunan Abu Dawud, yang mana beliau berkata :

وكان بعض مشايخنا يرويه أنه نهى عن الحَلْق، بسكون اللام [يعني مع فتح الحاء]!، وأخبرني أنه بقي أربعين سنة لا يحلق رأسه قبل الصلاة يوم الجمعة!، فقلت له: إنما هو الحلق، جمع الحلقة

“sebagian guru kami meriwayatkan bahwasanya itu adalah larangan dari Al-Khalqu –dengan memfathah huruf kha nya dan mensukun huruf laam nya-. Telah mengabarkan kepadaku bahwa guruku tersebut selama 40 tahun tidak pernah memotong rambutnya sebelum sholat pada hari Jum’at. Maka aku berkata padanya bahwa yang benar adalah Al-Khilaqu, jamak dari Halaqoh”. (lihat Musnad Ahmad tahqiqan Ahmad Syakir).

  1. Sebagian ulama berpendapat larangan membuat halaqoh (pertemuan) baik itu berupa pengajian di masjid sebelum sholat Jum’at secara mutlak. Asy-Syaikh Muhammad Ali Firkuus berpendapat larangan tersebut dimulai pada waktu pertama pada hari Jum’at secara mutlak –yakni setelah sholat Subuh hari Jum’at –pent.-. (sumber : http://ferkous.com/home/?q=fatwa-400). Adapun Imam Al Albani mengkritik kebiasaan yang terjadi di negeri-negeri Arab bahwa satu sampai setengah jam sebelum azan biasanya diselenggarakan nasehat atau taklim oleh pengajar pada jamaah sholat Jum’at. Beliau menilainya itu bukan kebiasaan salafus sholih dan lagi pula mengganggu orang yang sudah pagi-pagi datang ke masjid pada hari Jum’at untuk banyak bersholawat, berdzikir, membaca surat Al-Kahfi, sholat Sunnah mutlak dan semacamnya, sebagaimana telah datang perintah tersebut dari hadits-hadits Nabi yang shahihah. Kemudian ketika beliau ditanya bagaimana hukum pengajar atau penceramah yang memberikan pengajian tersebut, beliau mengatakan :

معلوم هذا (أي:إثمه) من حديث: “لا يجهر بعضكم على بعض في القراءة” أو كما جاء في الحديث بزيادة مهمة جداً: “لا يجهر بعضكم على بعض في القراءة فتؤذوا المؤمنين”. والإيذاء بلا شك محرم بنص القرآن، والإيذاء هنا بسبب التشويش فلا يصح التدريس.

“telah diketahui hal tersebut –yakni dosanya- berdasarkan hadits : “janganlah kalian mengeraskan bacaan Al Qur’an kalian satu sama lainnya” atau sebagaimana terdapat hadits dengan tambahan yang penting : : “janganlah kalian mengeraskan bacaan Al Qur’an kalian satu sama lainnya, karena hal itu menyakiti kaum Mukminin”. Menyakiti tanpa diragukan lagi adalah perbuatan haram dengan nash Al Qur’an, dan menyakiti disini karena gangguan yang ditimbulkannya, sehingga tidak boleh membuka pelajaran (sebelum sholat Jum’at)”. (sumber : http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=1342).

  1. Sebagian ulama memandang buka kajian sebelum sholat Jum’at adalah makruh, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Khothobiy dalam nukilan diatas :

وإنما كره الاجتماع قبل الصلاة للعلم والمذاكرة، وأمر أن يشتغل بالصلاة وينصت للخطبة والذكر، فإذا فرغ منها كان الاجتماع والتحلق بعد ذلك

“hanyalah hal tersebut dimakruhkan berkumpul sebelum sholat untuk mengadakan kajian ilmu dan ceramah, karena pada waktu itu diperintahkan untuk menyibukan dengan sholat (sunnah mutlak), diam untuk mendengarkan khutbah dan berdzikir. Baru ketika selesai sholat boleh berkumpul untuk membuka halaqoh”.

Al-‘Alamah Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh –mufti ‘Aam pertama KSA- pernah berfatwa :

اما قبل صلاة الجمعة فقد صرح العلماء بكراهة التحلق

“adapun sebelum sholat Jum’at, maka para ulama telah menegaskan kemakruhan mengadakan halaqoh (ilmu)”. (sumber : http://alifta.net/Fatawa/FatawaDetails.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=10730&PageNo=1&BookID=2)

  1. Tim fatwa Islam web berpendapat bolehnya membuka pelajaran sebelum adzan berdasarkan atsar yang diriwayatkan dari jalan Muhammad bin ‘Aashim dari bapaknya beliau berkata :

رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَخْرُجُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَيَقْبِضُ عَلَى رُمَّانَتَيِ الْمِنْبَرِ قَائِمًا وَيَقُولُ: حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ رَسُولُ اللَّهِ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَلَا يَزَالُ يُحَدِّثُ حَتَّى إِذَا سَمِعَ فَتْحَ بَابِ الْمَقْصُورَةِ لِخُرُوجِ الْإِمَامِ لِلصَّلَاةِ جَلَسَ»

“aku melihat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu keluar pada hari Jum’at, lalu beliau berpegangan di kedua ujung mimbar sambil berdiri, kemudian berkata, telah menceritakan kepada kami Abul Qoosim Rasulullah yang benar lagi dibenarkan Sholallahu ‘alaihi wa Salaam…, beliau terus menerus menyampaikan hadits, hingga ketika mendengar pintu  masjid terbuka karena datangnya Imam sholat, beliau pun duduk”.

Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrok dan dinilai shahih oleh beliau lalu disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Atsar ini terjadi pada masa salaf dan mereka tidak mengingkari beliau, hal ini menunjukkan bahwa taklim sebelum sholat Jum’at tidak ada masalah.

Kemudian markaz fatwa Islam web mencoba mengkompromikan atsar ini dengan hadits larangan diatas, bahwa yang diperbolehkan adalah jika jamaah sudah berkumpul, duduk di shofnya masing-masing untuk mengikuti rangkai sholat Jum’at, adapun jika dalam masjid banyak halaqoh yang berbeda-beda maka ini dimakruhkan karena dapat memutus shof-shof sholat. (sumber : http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=42620).

 

Imam Syaukani dalam kitabnya “Nailul Author” menyebutkan bahwa mayoritas ulama memahami larangan diatas sebagai makruh saja, alasannya karena dapat memutus shof, dimana sejak waktu pertama hari Jum’at, Rasulullah menganjurkan kepada umatnya agar datang berpagi-pagi merapatkan shofnya pada barisan pertama dan terus menerus sampai shof berikutnya, dan dijanjikan pahala yang besar bagi yang berpagi-pagi datang serta berada di shof pertama. Wallahul A’lam.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: