KAJIAN ISIM ISYARAH PADA AYAT KE-2 SURAT AL BAQOROH

December 17, 2016 at 2:45 pm | Posted in AL QUR'AN | Leave a comment

KAJIAN ISIM ISYARAH PADA AYAT KE-2 SURAT AL BAQOROH

 

Allah Ta’aalaa berfirman dalam surat Al Baqoroh ayat ke-2 :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

 Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”.

 

Dalam ayat diatas terdapat kata “dzaalika”, dimana ini adalah masuk kedalam pembahasan Isim Isyaroh (kata tunjuk) dalam bahasa arab. “ذَلِكَ” (Dzaalika / itu) untuk menunjukkan sesuatu yang jauh pada obyek Mudzakar (laki-laki / dihukumi laki-laki), yang mufrod (dalam bentuk tunggal). Adapun jika ingin menggunakan isim isyarah untuk menunjukkan sesuatu yang dekat pada obyek Mudzakar yang mufrod, maka digunakan kata “هَذَا” (Hadzaa / artinya ini).

Saya akan mengumpulkan pendapat para ulama tafsir dalam menafsirkan Firman Allah diatas “Dzaalika Al-Kitaabu”. Dan sementara ini saya baru mendapatkan 3 pendapat terkait tafsiran untuk kata “Dzaalika”  sebagai berikut :

  1. Dzaalika bermakna Hadza, pendapat ini dinisbatkan kepada mayoritas ulama tafsir sebagaimana dikatakan Imam Ath-Thabari dalam kitab tafsirnya, kata beliau :

قال عامّة المفسرين: تأويل قول الله تعالى (ذلك الكتاب) : هذا الكتاب

“mayoritas ulama tafsir menafsirkan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa “Dzaalika Al-Kitaabu” dengan “Hadza Al-Kitaabu””.

Kemudian beliau menyebutkan dengan sanadnya siapa Aimah Mufassiriin baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang berpendapat seperti itu. Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya sudah me-list nama-nama Aimah tafsir tersebut sebagai berikut :

قَالَ ابْنُ جُرَيج: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: “ذَلِكَ الْكِتَابُ”: هَذَا الْكِتَابُ. وَكَذَا قَالَ مُجَاهِدٌ، وَعِكْرِمَةُ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ، وَالسُّدِّيُّ وَمُقَاتِلُ بْنُ حَيَّانَ، وَزَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، وَابْنُ جُرَيْجٍ

“Ibnu Juraij berkata, Ibnu Abbas berkata “Dzaalika Al-Kitaabu” maknanya “Hadzaa Al-Kitaabu”. Demikian juga yang dikatakan oleh Mujaahid, Ikrimah, Sa’id bin Jubair, As-Sudiy, Muqootil bin Hayyaan, Zaid bin Aslam dan Ibnu Juraij”.

Jika ada yang bertanya apa alasannya bahwa Dzaalika (itu) bermakna Hadzaa (ini), padahal Dzaalika itu untuk menunjukkan sesuatu yang belum terdeskripsi (ghoiru Mu’ayyan) dan tidak hadir pada saat dibicarakan, sedangkan Hadzaa untuk menunjukkan sesuatu yang terdeskripsi (Mu’ayyan) dan hadir pada saat pembicaraan?, maka Imam Ath-Thabari telah menjawabnya bahwa keduanya bisa dipakai jika dirasakan memiliki makna kedekatan, sehingga seolah-olah hadir bagi obyek yang diajak bicara. Kemudian Imam Ath-Thabari mencontohkan ayat ke-48 & 49 dalam surat Shod :

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِنَ الْأَخْيَارِ (48) هَذَا ذِكْرٌ وَإِنَّ لِلْمُتَّقِينَ لَحُسْنَ مَآبٍ (49)

“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. Penyebutan Ini (adalah kehormatan bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik”.

Dalam ayat diatas tentang kisah Nabi Ismail, Ilyasa’ dan Zulkifli adalah menunjukkan isyarat yang jauh, karena mereka tidak hadir, namun karena kisahnya seolah-olah dekat, maka kemudian digunakan kalimat “hadzaa dzikrun”.

Sedangkan Imam Ibnu Katsir menyebutkan alasan yang simple, yaitu orang-orang arab biasa menukar-nukar penggunaan Hadzaa dan Dzaalika dalam pembicaraan dan tulisan mereka sehari-hari.

  1. Imam Ibnu Utsaimin dalam kitab tafsirnya yang berjudul Tafsir Al Fatihah dan Al Baqoroh”, ketika menafsirkan Dzaalika, beliau menyebutkan bahwa “Dzaa” menunjukan isim isyaroh, “laam” untuk menunjukkan jauh, makanya ada yang menyebutnya dengan Laamul Ba’id, sedangkan “Kaaf” untuk menunjukan kepada siapa obyek pembicaraannya. Imam Ibnu Utsaimin menyebutkan 3 pendapat terkait penggunaan / perubahan “Kaaf” sesuai dengan obyek yang diajak bicara, salah satu pendapat mengatakan apapun obyeknya baik laki-laki, maupun wanita, baik 1 orang, 2 orang atau jamak (lebih dari 2 orang) tetap menggunakan “Dzaalika”. Sehingga makna untuk penafsiran ayat diatas, kata beliau adalah :

والخطاب في قوله تعالى: {ذلك} لكل مخاطب يصح أن يوجه إليه الخطاب؛ والمعنى: ذلك أيها الإنسان المخاطَب

“Al-Khithoob (obyek yang diajak bicara) pada Firman-Nya “Dzaalika” adalah untuk semua orang yang bisa diajak bicara, sehingga maknanya “itu wahai manusia yang bisa diajak bicara..”.

  1. Al-‘Alamah Jaabir bin Musa yang dikenal dengan nama Abu Bakar Al-Jazairiy dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Aisaru At-Tafaasiir lil Kalaami Al-‘Aliyyi Al-Kabiir” mempunyai pendapat lain kata beliau :

{ذَلِكَ} : هذا، وإنما عُدل عن لفظ هذا إلى ذلك. لما تفيده الإشارة بلام البعد من علو المنزلة وارتفاع القدر والشأن

“Dzaalika” adalah “Hadzaa” (ini), alasan digantinya kata hadzaa menjadi Dzaalika, karena faedah isyarat pada laam ba’idnya untuk menunukkan ketinggian kedudukan dan kadar permasalah ini (yakni Kitabullah)”.

 

Menurut saya, kita tidak perlu merajihkan salah satu pendapat diatas, karena ketiganya menguatkan satu sama lainnya, karena Al Qur’an adalah kitab yang tidak asing lagi bagi kaum mukminin sehingga dekat dan bahkan sudah menjadi bagian rutinitas hariannya baik dengan membacanya maupun mempelajari dan berusaha mengamalkan isi kandunganya. Oleh karenanya salah satu nama Al Qur’an adalah Adz-Dzikir dan bagi orang yang beriman jika disebutkan ayat Al Qur’an maka akan bergetar hatinya.

Al Qur’an juga diperuntukkan Allah sebagai guidance / pedoman dan petunjuk bagi manusia seluruhnya, sebagaimana Firman-Nya :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)” (QS. Al Baqoroh : 185).

Bahkan tidak hanya bagi manusia, tapi Al Qur’an juga menjadi petunjuk bagi bangsa jin, sebagaimana Firman-Nya :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا (1) يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا (2)

Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami” (QS. Al Jinn : 1-2).

 

Kemudian Al Qur’an juga memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama Islam, bahwa Allah telah menurunkan Al Qur’an secara utuh pada awalnya di baitul ‘Izzah di langit dunia, kemudian baru diturunkan kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam secara bertahap melalui malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun, berdasarkan hadits mauquf dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu dimana beliau berkata :

أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، وَكَانَ بِمَوْقِعِ النُّجُومِ، وَكَانَ اللَّهُ يُنَزِّلُهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَهُ فِي أَثَرِ بَعْضٍ

“Al Qur’an diturunkan secara utuh pada malam lailatul qodar ke langit dunia –langit yang terdapat bintang gemintang-, kemudian Allah menurunkannya kepada Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sedikit demi sedikit” (HR. Al Hakim dan selainnya, beliau menilainya shahih atas syarat Bukhori & Muslim, dan ini disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi).

Dalam riwayat lain turunnya di Baitul Izzah langit dunia, lalu Jibril alaihis Salam menurunkannya secara bertahap kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Bahkan Al Qur’an ini , disimpan dalam Lauhul Mahfuudz sebagaimana dalam Firman-Nya :

بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (QS. Al Buruuj : 21-22).

Berkata Imam As-Sa’di dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Taisiir Al-Karriim Ar-Rahmaan fii Tafsiir Kalaami Al-Manaan” tentang ayat diatas :

{فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ} من التغيير والزيادة والنقص، ومحفوظ من الشياطين، وهو: اللوح المحفوظ الذي قد أثبت الله فيه كل شيء.

وهذا يدل على جلالة القرآن وجزالته، ورفعة قدره عند الله تعالى، والله أعلم.

“dalam lauhul mahfuudz” yakni terjaga dari perubahan baik penambahan maupun pengurangan dan terjaga dari syaithon, dialah lauhul mahfuudz yang telah Allah kokohkan segala sesuatu padanya. Ini menujukkan atas keagungan dan kemulian serta ketinggian Al Qur’an disisi Allah Subhanahu wa Ta’alaa”. Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: