PRESISI TINGKAT TINGGI

December 17, 2016 at 3:32 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

PRESISI TINGKAT TINGGI

 

Diantara salah satu pembahasan dalam ilmu hadits yang memiliki tingkat kesulitan dan butuh ketelatenan yang tinggi adalah pembahasan illalul hadits (cacat-cacat hadits), boleh jadi bagi orang yang kurang perhatian terhadap penelitian hadits, ketika dia melihat sanad dan matannya, maka dia langsung menghukumi hadits tersebut shahih, padahal ulama hadits lainnya telah melakukan kajian yang lebih teliti dan komprehensif dengan mengumpulkan semua jalan-jalan hadits, kemudian ternyata menemukan bahwa hadits tersebut memiliki cacat yang bisa merusak keshahihan hadits. Tugas-tugas tersebut dilakukan oleh para ulama mutaqodimin yang memang mereka punya skill dan kompetensi yang tinggi untuk bisa melakukan penelitian-penelitian yang butuh kesabaran dan keuletan sendiri.

 

Diantara ulama kontemporer yang berusaha mengikuti jejak mereka adalah Al-‘Alamah Al-Muhaddits Muqbil bin Haadiy Al-Waadi’iy. Beliau menulis sebuah kitab yang berjudul “Ahaadits Mu’allah Dhoohiruhaa Ash-Shihaah” (hadits-hadits yang memiliki cacat, sekalipun penampakkannya shahih). Ketika kita membaca hadits-hadits yang dinilai seperti itu oleh Asy-Syaikh Muqbil, maka banyak didapatkan hadits-hadits yang telah masyhur ditengah-tengah kita yang dinilai shahih atau hasan, ternyata memiliki cacat yang tersembunyi, yang beliau singkapkan kepada kita. Tapi saya menganggap bahwa penghukuman dan penilaian sebuah hadits adalah perkara ijtihadiyyah, masing-masing pihak telah berusaha memberikan status penghukuman sesuai dengan kaedah-kaedah ilmiah dalam ilmu hadits dan sesuai dengan evidences / bukti-bukti yang memperkuat argumen penilaian mereka terhadap status sebuah hadits. Asalkan tidak ada kesepakatan ahli hadits dalam memberikan penilaian hukum status sebuah hadits, maka seseorang dapat mengambil pendapat yang sekirannya dia memandang lebih dekat kepada kebenaran atau dari ulama hadits yang dia sudah menaruh kepercayaan terkait kompetensi dalam menghukumi sebuah hadits.

Namun Asy-Syaikh Muqbil mengingatkan kepada tholibul ilmi bahwa tidak mesti juga ketika sebuah hadits dibahas oleh ulama ahli illal hadits dalam kitab-kitab illal mereka, menunjukkan bahwa hadits tersebut langsung divonis sebagai hadits dhoif, beliau berkata dalam mukadimah kitabnya diatas :

فعلى لا يجوز لطالب علم أن يحكم على الحديث بالضعف بمجرد أن يراه في كتب العلل، فربما يكون صحيحاً من طريق أخرى، أو صحيحاً عن صحابي آخر، بل ربما يكون الحديث في “مجمع الزوائد” بسند ضعيف وهو في “الصحيحين” عن صحابي آخر.

ولا يحكم على الحديث بالضعف المطلق إلا حافظ كبير كالإمام أحمد وعلي بن المديني، والبخاري، ومسلم، وأبي زرعة، وأبي حاتم الرازيين، ومن كان في مضمارهم كالدارقطني وبقية حفاظ الحديث المتبحرين في هذا الفن، ومن العلماء المبرزين في هذا الفن الحافظ ابن حجر رحمه الله فإني وجدت في كتابه “النكت على كتاب ابن الصلاح ” في المعلِّ وفي المضطرب تعقبات له تشد لها الرحال، فجزاه الله عن الإسلام وعن علم الحديث بخصوصه خيراً.

“berdasarkan hal ini, tidak boleh bagi thoolibul ilmu untuk menghukumi hadits dengan kedhoifan hanya sekedar melihatnya tercantum dalam kitab-kitab illal, karena terkadang hadits tersebut shahih melalui jalan lain, atau shahih melalui sahabat lain. Bahkan terkadang sebuah hadits disebutkan dalam “Majma’u Az-Zawaaid” dengan sanad dhoif, padahal hadits tersebut terdapat dalam “Shahihain” melalui jalan sahabat lainnya.

Tidak boleh dihukumi hadits dengan dhoif secara mutlak kecuali oleh Hafiidz besar, seperti Imam Ahmad, Ali ibnul Madiiniy, Bukhori, Muslim, Abu Zur’ah, Abu Hatiim –keduanya penduduk Raziy- dan ulama-ulama yang selevel dengannnya, seperti Daruquthni dan para hufadz hadits yang sangat luas ilmunya. Diantara ulama yang berkompeten dalam masalah ini adalah Al Hafidz ibnu Hajar, karena aku dapatkan dalam kitabnya “An-Nukat ‘alaa Kitaab Ibni Ash-Sholaah” dalam masalah illal dan Mudhthorib memiliki kritikan-kritikan yang menunjukkan kesungguhan beliau dalam mengarungi ilmu hadits. Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan atas khidmatnya kepada Islam dan khususnya terhadap ilmu hadits”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: