MADZHAB FIQIH AHLI HADITS

December 21, 2016 at 1:37 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MADZHAB FIQIH AHLI HADITS

 

Metode fiqih yang banyak saya pelajari dari sebagian guru-guru kami selama ini adalah bukan metode fiqih madzhabi, saya pernah menanyakan metode apa yang kita pelajari ini, maka dijawab oleh salah seorang guru kami, bahwa metode yang digunakan adalah madzhab ahli hadits. Maka untuk mendeskripsikan bagaimana bentuk dari madzhab ahli hadits ini, saya akan menulis artikel sederhana ini dari sisi pandang diri saya sendiri yang tentunya masih terbatas referensinya.

 

Ingatan saya langsung menuju kepada kitab-kitab karya Imam Al Albani, seperti sifat sholat Nabi, Ahkamul Janaiz dan selainnya, dan kebetulan kedua kitab tersebut adalah yang diajarkan oleh sebagian guru kami, kemudian juga kitab yang memang disusun secara ringkas tidak banyak pembahasan yang rumit dan detail, seperti kitab Al-Wajiiz, karya Asy-Syaikh Abdul Adzhim bin Badawi, ini pun umum diajarkan di pengajian-pengajian yang ada, begitu juga kitab Fiqhus Sunah karya Asy-Syaikh Sayyid Sabiq, yang kami dengarkan di pelajaran Fiqih oleh sebagian guru kami lainnya. Ketiga kitab inilah yang akan saya jadikan referensi didalam mendeskripsikan madzhab ahli hadits diatas.

Imam Al Albani dalam mukadimah kitab “Sifat Sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam” sudah menyinggung tentang madzhab ahli hadits, kata beliau :

“ketika tema dalam kitab (sifat sholat) ini berkaitan dengan petunjuk Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tentang sholat, maka yang segera terbayang dalam benakku adalah aku tidak terikat dengan madzhab (fiqih) tertentu berdasarkan sebab yang telah disebutkan sebelumnya. aku hanya akan mendatangkan pembahasan yang telah tsabit (shahih) dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, sebagaimana ini adalah madzhab ahli hadits baik dari kalangan ulama mutaqodimin (terdahulu), maupun ulama kontemporer”.

 

Sementara itu Asy-Syaikh Abdul Azhim bin Badawi dalam Kitabnya Al Wajiz menerangkan sebab yang memotivasi beliau menulis masalah fiqih menggunakan metode ahli hadits, kata beliau :

“menurut hemat penulis mengingat seluruh syariat Islamiyyah kembalinya kepada qaul wahid (pendapat yang satu) dalam masalah furu’, sekalipun banyak perbedaan pendapat, begitu juga dalam masalah ushul, maka penulis termotivasi menulis kitab fiqih yang dicukupkan hanya dengan memuat qoul wahid rajih (satu pendapat yang kuat) yang didukung dengan dalil-dalil yang shahih lagi kokoh, mengikuti jejak para mujtahid dan ahli tahqiq (para peneliti) serta analisa yang mendalam, dimana mereka sudah menguraikan berbagai kejadian dan telah menerangkan berbagai peristiwa penting yang bertalian dengan fiqih serta telah menghimpun segala dalil untuk berbagai persoalan tersebut, yang bersumber dari Misykatun Nubuwwah (pelita kenabian). Mereka berjalan seiring dengan sunah-sunah Rasulullah yang direalisir oleh para sahabatnya. Mereka mengikuti jejak sunah-sunah Beliau kemana ia menuju. Kemudian setelah mereka melalui perjalanan panjang dan penelitian yang mendalam merekapun menyuguhkan kepada umat manusia ilmu yang melimpah ruah, dan paradigma yang kokoh yang berpijak pada kaedah-kaedah yang sudah mapan lagi tertata rapi” (terjemahan Al Wajiz hal. 24, Pustaka As-Sunah).

 

Sementara itu Asy-Syaikh Sayyid Sabiq dalam mukadimah kitabnya Fiqhus Sunnah menyoroti fenomena taklid dan fanatik madzhab yang menyebabkan umat kehilangan petunjuk dari Al Qur’an dan Hadits dan munculah slogan-slogan bahwa pintu ijtihad telah tertutup, kemudian muncul anggapan bahwa syariat adalah ucapan para ahli fiqih atau ucapan ahli fiqih adalah syariat, sehingga orang-orang yang keluar dari pendapat ahli fiqih dicap sebagai ahli bid’ah, tidak dipercaya omongannya dan tidak dihitung fatwanya. Karena slogan-slogan diatas begitu kuat di masyarakat kaum muslimin, menyebabkan beberapa ulama yang sebenarnya memiliki kapasitas untuk berijtihad menjadi minder, sehingga dengan terpaksa menerima pandangan untuk terikat dengan madzhab tertentu dalam karya tulis dan pelajaran-pelajaran fiqihnya.

 

Asy-Syaikh Al Albani sudah mengetahui resiko ini ketika beliau menerapkan metode ahlu hadits dalam pandangan fiqihnya, sehingga beliau pun mengatakan lebih lanjut dalam mukadimah sifat sholat nabi :

“lalu ketika aku menerapkan metede ini untuk diriku sendiri –yakni berpegang dengan sunah yang shahih- di kitabku ini dan juga kitab-kitabku lainnya –kelak jika kitab-kitab tersebut tersebar dikalangan manusia, insya Allah-, saya paham bahwa nanti akan ada sekelompok orang dari kalangan madzhabi yang tidak ridho dengan hal ini, bahkan kelak akan banyak muncul celaan dari lisan-lisan mereka, hal ini bagiku tidak ada masalah, karena aku sadar bahwa mengharapkan keridhoan manusia itu tidak mungkin akan tercapai”.

 

Berdasarkan pemaparan diatas, saya mencoba menyimpulkan ciri khas metode madzhab ahli hadits didalam permasalahan fiqih dibandingkan madzhab fiqih yang sudah jamak dianut kaum muslimin, sebagai berikut :

  1. Berpegang kuat dengan nash wahyu yakni Al Kitab dan hadits yang shahihah atau maqbulah yang layak dijadikan hujjah. Berarti untuk menerapkan metode ini dibutuhkan kemampuan didalam menyeleksi hadits-hadits ahkam dan disortir yang memiliki kekuatan hujjah saja yang bisa digunakan.
  2. Tidak terikat dengan perkataan salah seorang ulama fiqih yang senantiasa dijadikan rujukan, tapi perkataannya ditimbang dengan dalil-dalil yang ia bawakan atau yang memiliki kekuatan hujjah.
  3. Menonjolkan aspek satu pendapat saja yang dianggap oleh penyusun kitab fiqih yang menggunakan metode ini sebagai pendapat yang rajih, dari sekian perbedaan pendapat yang ada.
  4. Kebanyakan kitab fiqih yang menggunakan metode madzhab ahli hadits, lebih sederhana pembahasannya karena langsung menyebutkan point utama dari kandungan hadits sesuai dengan tema atau sub tema dari pembahasannya.
  5. Banyak berpegang kepada dhohir hadits, terutama ketika melakukan justifikasi terkait hukum taklifi terhadap masalah tersebut. Hukum taklifi ada 5 yaitu : wajib, mustahab, mubah, makruh, dan haram.
  6. Jarang sekali membahas permasalahan fiqih dengan retorika yang bertele-tele, karena memang langsung beristimbat (mengambil kesimpulan hukum) dari nash shahihah yang ada.
  7. Tidak merasa sungkan untuk menyatakan pendapat hukum atas suatu permasalahan fiqih, sekalipun pendapat tersebut tidak populer dikalangan ulama fiqih lainnya, selagi ada nash shahihah yang menunjukkan akan hal tersebut.

 

Tentunya masih banyak point-point lainnya yang terluput dari pengamatan saya, sebagian guru kami memberikan nama lain untuk madzhab ahli hadits dengan madzhab muhaqiqiin (para peneliti). Wallahul A’lam bish Showab.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: