INTROPEKSI DIRI

December 25, 2016 at 6:52 am | Posted in Hadits | Leave a comment

INTROPEKSI DIRI

 

Diriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya (lalu mengkoreksi dirinya-pent) dan beramal (untuk bekal) setelah kematian, sedangkan orang yang kurang (kecerdasannya) adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah”.

Hadits diatas ditulis oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad dan selainnya, semuanya melalui jalan Abu Bakar bin bin Abi Maryam dan Dhomroh bin Habiib dari Syaddaad bin ‘Aus rodhiyallahu ‘anhu, secara marfu. Imam Al Hakim menilai shahih hadits ini, sedangkan Imam Tirmidzi menghasankannya. Namun penilaian ini dibantah oleh Imam Adz-Dzahabi yang mengatakan bahwa Abu Bakar bin Abi Maryam perowi yang waahin (sangat lemah), kemudian ulama muta’akhirin seperti Al Hafidz Ibnu Hajar mendhoifkannya, begitu juga ulama kontemporer seperti Imam Al Albani dan Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth pun melemahkan hadits ini.

Namun bisa jadi makna hadits ini shahih, bahwa diantara kecerdasan seseorang adalah kemampuannya dalam melakukan muhasabah (intropeksi diri) terhadap apa saja dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya, kemudian berusaha melakukan counter measure, berupa tindakan perbaikan dan pencegahan sehingga amal perbuatannya pada masa akan datang lebih baik dan lebih berkualitas. Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menyebutkan bahwa Muhasabah adalah salah satu obat yang sangat manjur didalam mengobati penyakit hati.

 

Kemudian diantara tanda kelemahan kecerdasan seseorang adalah senantiasa mengikuti hawa nafsunya, kemudian dia meremehkan perkara intropeksi diri, sehingga tidak ada minat dalam dirinya untuk melakukan tindakan perbaikan diri dan menyiapkan amalan-amalan terbaik untuk bekal pada hari kiamat nanti, salah satu hal yang menyebabkan dia terlena dalam kesesatan ini adalah rasa angan-angannya bahwa Allah yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa-dosannya, semua itu akan menjadi benar dan tepat ketika dia dalam kondisi sadar terhadap dosa-dosanya, sehingga bersegera memohon ampunan kepada Allah dan berjanji mengadakan perbaikan, namun orang-orang yang tertipu dengan angan-angannya sendiri akan mengulur-ulur taubatnya, hingga tiba waktunya pintu taubat tertutup baginya, yakni ketika nyawanya sudah sampai di kerongkongannya.

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hamba, selama nyawanya belum sampai kerongkongannya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah, Imam Ahmad dan selainnya, dihasankan oleh Imam Al Albani dan Asy-Syaikh Syu’aib Arnauth.

 

Kemudian masalah muhasabah juga datang penukilan yang masyhur dari Umar bin Khothob rodhiyallahu ‘anhu, dimana beliau berkata :

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“koreksilah diri kalian, sebelum kalian dihisab nanti pada hari kiamat”.

Atsar ini juga tidak tsabit alias dhoif penetapannya sampai kepada Umar, sebagaimana didhoifkan oleh Imam Al Albani dan Asy-Syaikh Musthofa Al-‘Adawiy.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: