HUKUM MENDOAKAN KEJELEKAN KEPADA PEMERINTAH YANG DHOLIM

January 11, 2017 at 1:02 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

HUKUM MENDOAKAN KEJELEKAN KEPADA PEMERINTAH YANG DHOLIM

 

Seorang pemimpin yang dholim baik kepemimpinannya bersifat skala kecil, seperti pemimpin rumah tangga, sampai kepada skala yang lebih luas yakni pemimpin negara, maka ketika berbuat dholim kepada yang dipimpinnya masuk kedalam keumuman larangan perbuatan dholim. Dan Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam Kitab-Nya melaknat orang-orang yang dholim, Firman-Nya :

أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

“Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim” (QS. Huud : 18).

 

Kemudian orang-orang yang merasa didholimi, syariat memberikan keringanan untuk mendoakan kejelakan kepada orang-orang yang berbuat dholim kepadanya. Hal ini diisyaratkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam Firman-Nya :

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa` : 148).

 

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya menukil penafsiran Aimah tafsir dari kalangan sahabat, yakni Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu ‘anhu yang berkata :

لَا يُحِبُّ اللَّهُ أَنْ يَدْعُوَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَظْلُومًا، فَإِنَّهُ قَدْ أُرْخِصَ لَهُ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى مَنْ ظَلَمَهُ، وَذَلِكَ قَوْلُهُ: {إِلا مَنْ ظُلِمَ} وَإِنْ صَبَرَ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ.

“Allah tidak menyukai seseorang mendoakan (kejelekan) kepada orang lain, kecuali jika orang tersebut adalah korban kedzholiman, maka ia diberi keringanan untuk mendoakan (kejelakan) kepada orang yang mendholiminya, oleh karena itu Allah Berfirman { kecuali oleh orang yang dianiaya}. Namun jika ia bersabad, maka itu lebih baik baginya”.

Bahkan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam telah menyelipkan secara khusus dalam doanya kepada pemimpin yang membuat sulit kehidupan bawahannya, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya. Beliau membuat judul bab dalam kitab Shahihnya dengan judul :

بَابُ فَضِيلَةِ الْإِمَامِ الْعَادِلِ، وَعُقُوبَةِ الْجَائِرِ، وَالْحَثِّ عَلَى الرِّفْقِ بِالرَّعِيَّةِ، وَالنَّهْيِ عَنْ إِدْخَالِ الْمَشَقَّةِ عَلَيْهِمْ

“bab keutamaan Imam yang adil, dan hukuman bagi Imam yang jahat, anjuran untuk berlaku lemah lembut kepada rakyatnya dan larangan membuat kesulitan kepada rakyatnya”.

Kemudian Imam Muslim membawakan hadits Aisyah Rodhiyallahu ‘anha (no. 1828) yang terdapat doa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam :

اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah barangsiapa yang mengurusi sesuatu dari perkara umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka persulitlah ia dan barangsiapa yang mengurusi sesuatu dari perkara umatku, lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya”.

Imam Abu ‘Awaanah dalam Mustakhrojnya (no. 7464) meriwayatkan tambahan lafadz doa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam diatas :

فعليه بَهْلة الله، قالوا: يا رسول الله وما بهلة الله؟ قال: لعنة الله”

“serta wajib atas (pemimpin dholim tersebut) Bahlatullah. Para sahabat bertanya, “wahai Rasulullah, apa itu Bahlatullah?”, Beliau menjawab : “laknat Allah”.

 

Al-‘Alamah Ibnu Utsaimin berkata dalam Syarah Riyadhus Sholihin terkait hadits diatas yang ditulis juga oleh Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Sholihin :

وهذا دعاء من النبي صلى الله عليه وسلم على من تولى أمور المسلمين الخاصة والعامة؛ حتى الإنسان يتولى أمر بيته، وحتى مدير المدرسة يتولى أمر المدرسة، وحتى المدرس يتولى أمر الفصل، وحتى الإمام يتولى أمر المسجد.

“ini adalah doa dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam kepada orang yang mengurusi perkara kaum Muslimin baik secara khusus maupun umum, hingga termasuk orang yang mengurusi rumah tangganya, kepala sekolah yang mengurusi sekolahannya, guru yang mengurusi kelasnya dan ketua DKM yang mengurusi masjidnya” –selesai-.

Demikian juga asy-Syaikh Faishol bin Abdul Aziz (w. 1376 H) berkata dalam kitabnya “Tahhriiz Riyaadhus Sholihin” :

في هذا الحديث: التنبيه لولاة الأُمور على السعي في مصالح الرعية، والجهد في دفع ضررهم، وما يشق عليهم من قولٍ أو فعل، وعدم الغفلة عن أحوالهم.

“dalam hadits diatas ada peringatan kepada pemimpin agar bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya, bersungguh-sungguh menghilangkan kemudhorotan rakyatnya, dan apa-apa yang membuat sulit rakyanya baik berupa ucapan atau tindakannya (kebijakan-kebijakannya), serta tidak lalai untuk memperhatikan kondisi mereka”.

 

Allahumma, maka sikap seorang yang didholimi oleh pemimpinnya dikembalikan kepada dirinya yang merasakan kedholiman tersebut, jika dia bersabar, maka kata Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu hal itu adalah baik baginya. Namun jika ia menengadahkan tangannya dan secara terang-terangan mendoakan kejelakan kepada yang mendholiminya, maka diberikan rukhsoh oleh syariat. Maka dalam hal ini tentunya tidak ada paksaan untuk memilih salah satu sikap diatas.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: