IMAM SYAFI’I SALAH MENULIS AYAT?

January 28, 2017 at 8:57 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

IMAM SYAFI’I SALAH MENULIS AYAT?

 

Al-‘Alamah Ahmad Syaakir –Rahimahulah- telah menghasilkan banyak karya didalam berkhidmat men-tahqiq kitab-kitab yang bisa dianggap sebagai ­At-Turats Islami (warisan Islam). Diantara kerja keras beliau adalah mempersembahkan tahqiq terhadap kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafi’i (w. 204 H), yang dianggap sebagai kitab pertama yang membicarakan tema seputar ushul Fiqih. Diantara point yang ingin saya tampilkan, bahwa asy-Syaikh Ahmad Syakir menemukan kesalahan Imam Asy-Syafi’i, dalam berdalil dengan Kitabullah di kitab Ar-Risalah tersebut. Kemudian beliau sangat bersemangat sekali didalam menjelaskan masalah ini.

 

Koreksi Asy-Syaikh Ahmad Syakir tersebut, bisa kita lihat di kitab Ar-Risaalah (hal. 73-75 pada catatan kaki, cetakan Matba’ah Musthofa Al-Baabi Al-Halabiy, edisi pertama tahun 1357 H). Pada pembahasan bab “Fardhullahi fii Kitaabihi Ittibaa’a Sunatiy Nabiyihi”. Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan surat An Nisa` ayat 171, ketika beliau berkata :

وأبان من فضيلته، بما قَرَن من الإيمان برسوله مع الإيمان به.

فقال تبارك وتعالى: ” فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا: ثَلَاثَةٌ انتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ. إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ

“Allah juga telah menjelaskan keutamaan Beliau dengan cara menjadikan keimanan kepada-Nya dan keimanan kepada Rasul-Nya sebagai satu kesatuan. Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : {Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak} (QS. An Nisaa` : 171)”.

 

Al-‘Alamah Ahmad Syakir mengkritisi pendalilan Imam Asy-Syafi’i dengan ayat ini, dimana Asy-Syaikh berkata (langsung saya nukil terjemahannya dari buku terjemahan Ar-Risalah, terbitan Pustaka Azzam, hal. 183-184, cetakan ketiga September 2011) :

“yang absah untuk dijadikan sandaran adalah Allah, Kitab-Nya, dan para Nabi-Nya. Allah telah menganulir sandaran kepada suatu kitab selain Kitab-Nya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian Imam Salaf. Asy-Syafi’i menyebutkan ayat ini sebagai argumen bahwa Allah menyandingkan Iman kepada-Nya dengan Iman Rasul-Nya. Hal ini telah dijelaskan dalam banyak ayat Al Qur’an, diantaranya :

{Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya } (QS. An Nisaa` : 136)

{maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk } (QS. Al A’raaf : 158)

{Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (Al-Quran) yang telah Kami turunkan } (QS. At Taghaabun : 8)

Tetapi, ayat yang disebutkan Asy-Syafi’i disini (yakni QS. An Nisaa` : 171 –tambahan dari saya) tidak tepat untuk dijadikan dalil yang dimaksudkannya, karena perintah didalamnya adalah perintah iman kepada Allah dan semua Rasul. Letak kesalahannya adalah ia menyebut kalimat “maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Rasul-Nya” (Imam Asy-Syafi’i menyebutnya–dari saya) dengan bentuk tunggal pada kata Rasul. Ini juga tertulis dalam naskah Rabi’ dan tiga terbitan kitab Ar-Risalah. Pada mulanya saya berpikir ada bentuk qira’ah yang membacanya dalam bentuk tunggal. Walaupun ada, ayat ini tidak dapat dijadikan argumen disini, karena konteks ayat ini berbicara tentang Isa alaihi salam. Seandainya lafazhnya adalah “dan Rasul-Nya” maka yang dimaksud adalah Isa. Namun saya tidak menemukan satu macam qira’ah yang membaca lafazh ini dalam bentuk tunggal, baik dalam qira’ah sepuluh maupun dalam empat qira’ah lainnya, dan tidak pula dalam qira’ah-qira’ah lainnya yang mereka sebut qira’ah syadz (janggal).

Herannya, kesalahan ini tetap ada dalam kitab Ar-Risalah, padahal usia tulisan ini lebih dari 1150 tahun, dan berada di tangan para ulama selama berabad-abad. Ini bukan kekeliruan tulisan dari pencatatan naskah, melainkan sebuah kesalahan ilmiah. Tampaknya pikiran Imam melompat dari satu ayat ke ayat lain ketika menulis kitab ini, lalu tidak seorang pun mengingatkannya atau menyadarinya. Padahal, naskah asli Rabi’ ini berada di tangan puluhan ulama besar dan para Imam hafizh selama kurang lebih empat abad hingga tahun 650 H. Mereka bergantian membaca, membacakan, menyalin, dan membandingkan, sebagaimana yang tertera dalam kitab berbagai penyimakan yang tercatat pada naskah asli. Diantara penyimakan itu dihadiri oleh para Imam besar, namun seluruhnya tidak menyadari kesalahan ini, tidak menelitinya dan mengoreksinya. Alasan semua itu –menurut kami- adalah kepercayaan berlebihan, yang disusul dengan taklid. Tidak terdetik daam pikiran seorang pun dari mereka bahwa Asy-Syafi’i, seorang Imamnya para Imam dan hujjatul ummah, keliru dalam membaca ayat Al Qur’an, dan keliru dalam menjadikannya sebagai dalil. Oleh karena itu, tidak seorang pun dari mereka yang mau susah payah menelitinya dan tidak memikirkan sumber ayat yang dijadikan Asy-Syafi’i sebagai argumen, sebagai bentuk taklid dan kepercayaan terhadapnya, meskipun ia sadar bahwa tema pembicaraannya adalah Nabi kita Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, atau tentang Rasul-Rasul lain alaihumus Salam.

Dengan ini kami sampaikan perkataan Imam Asy-Syafi’i tadi, “dengan taklid, banyak diantara mereka yang lupa”. Semoga Allah mengampuni dosa kami dan mereka”.

 

Demikian kritikan Asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam masalah diatas, beliau seolah-olah ingin berpesan bahwa sikap taklid terkadang membuat para ulama –apalagi awamnya- terlena dari melakukan penelitian kembali terhadap apa yang disampaikan oleh tokoh yang ditaklidi atau dipercayainya. Namun saya menemukan protes dari salah seorang yang meng-upload kitab yang berjudul “Tafsir Al-Imam Asy-Syafi’i” di maktabah Syamilah. Kitab ini adalah sebuah risalah disertasi doktoral yang ditulis oleh DR Ahmad bin Musthofa. Kitab tersebut sudah dicetak oleh Daar At-Tadmuriyyah, KSA. Sang Ikhwan tadi dalam kitab yang diupload di maktabah Syamilah (hal. 182) keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Al-‘Alamah Ahmad Syakir yang diamini juga oleh DR. Ahmad bin Musthofa –penulis disertasi diatas-, kata Al-Ikhwan :

أقول: اتهام الإمام الشَّافِعِي – رحمه الله – بالخطأ في آية قرآنية ومتابعة فقهاء الشَّافِعِية له فيه قروناً عديدة في غاية البعد البعيد، وهذا قد يرد في حقِّنا وحقِّ أشباهنا أما الشَّافِعِي فهيهات ثم هيهات؟؟!!! إنه الشَّافِعِي.

ويكفي في رد هذا الوهْم قول الربيع بن سليمان – رحمه الله –

قرأت: (كتاب الرسالة المصرية) على الشَّافِعِي نيفاً وثلاثين مرة، فما من مرة إلا كان يصححه.

ثم قال الشَّافِعِي في آخره: أبى الله أن يكون كتاب صحيح غير كتابه، يدل

على ذلك قول الله تبارك وتعالى: (وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا) الآية. انتهى كلام الربيع.

وكان الأليق بالمحقق أن لا يجزم بتخطئة الإمام – رحمه الله – وفقهاء مذهبه والاكتفاء بردِّ هذا الخطأ إلى الناسخ كما هو حال أكثر المخطوطات.

والإمام الشَّافِعِي – رحمه الله – لم يفسر القرآن، والآيات التي جمعها المحقق – جزاه الله خيراً – ذكرها الإمام مختصرة وغير مرتبة على ترتيب المصحف الشريف حتى يصح هذا الاتهام.

ولعل الآية التي تكلم فيها إمامُنا الشَّافِعِي – رحمه الله – هي قوله تعالى (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ) .

والله أعلم وأحكم.

“tuduhan bahwa Imam Asy-Syafi’i keliru daam ayat Al Qur’an yang diikuti juga oleh para ahli fiqih Syafi’iyyah berabad-abad lamanya, maka sungguh ini berat menurut kami dan juga bagi orang-orang semisal kami, adapun Asy-Syafi’i, maka sangat jauh sekali (dari tuduhan keliru tersebut –pent.)!!! dia itu Syafi’i.

Cukuplah bantahan terhadap kekeliruan ini adalah ucapan Ar-Rabii’ bin Sulaimaan –Rahimahullah- yang berkata, “aku telah membaca kitab Ar-Risalah Al-Mishriyyah dihadapan Asy-Syafi’i lebih dari 30 kali, dan lebih dari sekali pula, dilakukan revisi padanya, kemudian Asy-Syafi’i berkata pada akhir kitabnya, “Allah enggan ada kitab yang shahih, selain Kitab-Nya”. Hal ini berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : {Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya } (QS. An Nisaa` : 82). –selesai ucapan Ar-Rabii’-.

Oleh karena itu, yang pantas bagi pentahqiq untuk tidak memastikan kekeliruan kepada Imam Syafi’i dan kepada para ulama madzhab Syafi’i, cukuplah dia menimpakan kesalahan kepada naskah, sebagaimana ini umum yang terjadi pada kebanyakan naskah-naskah manuskrip. Imam Syafi’i tidak menafsirkan ayat, dan ayat-ayat yang dikumpulkan oleh pentahqiq –Jazahullah khoiron- disebutkan oleh Imam Syafi’i secara ringkas dan tidak berurutan seperti dalam mushaf, sehingga benarlah tuduhan tersebut. Dan kemungkinan ayat yang disampaikan oleh Imam Asy-Syafi’i adalah Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : {Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya }. Wallahul A’lam –selesai kutipan-.

 

Mungkin maksud si Ikhwan bahwa janganlah gampang menuduh kesalahan ada di pihak Imam Syafi’i dan para ulama Syafi’iyyah, tapi yang benar kesalahan ada pada naskah kitab tersebut, dimana kemungkinannya Imam Syafi’i telah berdalil dengan ayat yang benar, sebagaimana ayatnya telah disampaikan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir diatas. Seandainya memang ini kesalahan dari imam Asy-Syafi’i, tentu sangat wajar, karena beliau adalah manusia biasa, bukan pribadi yang maksum.

Semoga Allah mengampuni kesalah beliau dan kesalahan kita semuanya, Amiin ya Robbal ‘Alamin.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: