PERTENGAHAN

March 31, 2017 at 9:50 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

YANG PERTENGAHAN SAJA

¥¥¥¥¥

diketik oleh Neno Triyono, Sabtu Dini hari, 01 April 2017
Telah masyhur dikalangan ahli hikmah sebuah hadits :

ﺧَﻴْﺮ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﺃَﻭْﺳَﺎﻃُﻬَﺎ

“Sebaik-baiknya urusan adalah yang paling pertengahan”.

Imam Al Albani telah mencurahkan kemampuannya dalam mentakhrij hadits diatas, dan kesimpulan beliau hadits diatas tidak shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, namun yang shahih adalah mauquf kepada sahabat Muthorif bin Abdullah  radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman. 
Hadits diatas juga mendapatkan penguat dari Firman Allah subhanahu wa ta’ala, seperti :

 قَالَ اِنَّهٗ يَقُوْلُ اِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَّلَا بِكْرٌ ۗ  عَوَانٌۢ بَيْنَ ذٰلِكَ ۗ  

“Dia (Allah) berfirman bahwa sapi betina itu tidak tua dan tidak muda, (tetapi) pertengahan antara itu. (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 68)
Namun bukan berarti hadits diatas -seandainya kita hukumi shahih marfu’- menunjukkan suatu kaedah baku bahwa dalam pilihan-pilihan fiqih kita, senantiasa yang benar adalah yang pertengahan, namun harus dilihat 2 sisi pertimbangannya, apakah kedua sisi tersebut sama-sama berakibat kerusakan atau kesalahan fatal, sehingga ketika itu pendapat yang pertengahanlah yang terbaik untuk diambil. Sebagaimana Firman Allah terkait infak :

وَالَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ  يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,” (QS. Al-Furqan 25: Ayat 67)
Dalam ayat diatas Allah memuji yang pertengahan tidak terlalu omber dalam berinfak sehingga membahayakan orang-orang yang ditanggungnya dalam masalah nafkah dan juga tidak terlalu medit bin kikir, yang juga akan membinasakannya sebagai seorang yang bakhil. 
#don’t be extreme

TAFSIR ALIF LAM MIM

March 28, 2017 at 4:23 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAFSIR HURUF MUQOTHO’AH

¥¥¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, pada Selasa Malam, 28 Maret 2017
Huruf Muqotho’ah adalah huruf-huruf hijaiyyah yang terdapat pada beberapa surat Al Qur’an, seperti الم pada awal surat Al Baqoroh, Ali Imron dan surat lainnya, kemudian طه Dan lain-lain. 
Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan huruf muqotho’ah.  Imam ibnu Katsir dalam tafsirnya membaginya dalam 2 pendapat, sebagian ulama berpendapat tidak menafsirkannya, namun diserahkan kepada Allah terkait maksudnya, sedangkan sebagian lainnya menafsirkan huruf muqotho’ah. 
Kemudian pihak Yang menafsirkan berbeda pendapat juga dalam menafsirkannya, Ada Yang mengatakan itu adalah nama Surat, pendapat lain mengatakan itu adalah pembuka Surat Dan yang lain lagi menafsirkan bahwa itu adalah nama dari Nama-Nama Allah atau selain dari itu. 
Sementara itu Al-‘Alamah Muhammad bin Sholih Al Utsaimin merincinya menjadi 4 pendapat terkait penafsiran huruf muqotho’ah :

1. Mereka menafsirkannya sebagaimana pendapat kedua yang dinukil oleh Imam ibnu Katsir. 

2. Itu adalah huruf hijaiyyah yang tidak memiliki makna secara mutlak. 

3. Ia memiliki makna, tapi maknanya diserahkan kepada Allah. 

4. Tawaquf, apakah dia memiliki makna atau tidak memiliki makna, wallahul A’lam. 
Kemudian Asy-Syaikh ibnu Utsaimin merajihkan pendapat kedua, bahwa huruf muqothoah tersebut tidak memiliki makna secara mutlak, alasannya orang Arab tidak pernah mengenal huruf-huruf dengan susunan tersebut memiliki makna, ini sebagaimana seorang mengatakan alif, ba, ta, tsa dan seterusnya. 
Namun Asy-Syaikh mengatakan bahwa adanya huruf muqotho’ah yang Allah jadikan di awal beberapa surat ini memiliki hikmah, dan beliau merajihkan hikmahnya adalah untuk menyindir orang Arab yang mereka tidak mampu membuat satu surat saja semisal Al Qur’an, padahal Al Qur’an ini berisi bahasa arab yang tidak keluar dari huruf-huruf hijaiyyah yang biasa mereka gunakan, dengan kata lain Al Qur’an menjadi mukjizat sepanjang zaman. 
Sementara itu Asy-Syaikh Abdur Rokhman As-Sa’di dalam kitab tafsirnya memilih pendapat untuk menyerahkannya kepada Allah saja, begitu juga Asy-Syaikh Nawawi Al-Bantani, ulama nusantara yang memiliki reputasi internasional, beliau berkata dalam kitab tafsirnya “Maroohi Labiid” :

وهي سر القرآن فنحن نؤمن بظاهرها ونفوّض العلم فيها إلى الله تعالى

“Itu adalah rahasia Al Qur’an, kami beriman dengan dhohirnya, namun kami menyerahkan ilmu (penafsirannya) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. 
Na’am, tidak hadits yang marfu’ dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang bisa dijadikan sandaran dalam menafsirkan huruf muqotho’ah tersebut. Asy-Syaikh as-Sa’diy dalam tafsirnya berkata :

ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﺤﺮﻭﻑ ﺍﻟﻤﻘﻄﻌﺔ ﻓﻲ ﺃﻭﺍﺋﻞ ﺍﻟﺴﻮﺭ، ﻓﺎﻷﺳﻠﻢ ﻓﻴﻬﺎ، ﺍﻟﺴﻜﻮﺕ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻤﻌﻨﺎﻫﺎ ‏[ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺘﻨﺪ ﺷﺮﻋﻲ ‏] ، ﻣﻊ ﺍﻟﺠﺰﻡ ﺑﺄﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻟﻢ ﻳﻨﺰﻟﻬﺎ ﻋﺒﺜﺎ ﺑﻞ ﻟﺤﻜﻤﺔ ﻻ ﻧﻌﻠﻤﻬﺎ .

Adapun huruf-huruf yang terputus diawal beberapa surat, maka yang lebih selamat padanya adalah diam dari menafsirkan maknanya tanpa landasan syar’i, bersama keyakinan bahwa Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa tidak menurunkannya secara sia-sia, namun untuk suatu hikmah yang kami tidak mengetahuinya.
Referensi :

-Tafsir Ibnu Katsir

– Tafsir Al Fatihah dan Al Baqoroh ibnu Utsaimin

– Marooh Al-Labiid

– Taisir Kariimi Ar-Rahman

TAKHRIJ HADITS MENIKAH SETENGAH AGAMA

March 24, 2017 at 5:51 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS MENIKAH SETENGAH AGAMA

 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدْ كَمُلَ نِصْفُ الدِّينِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

“Jika seorang menikah, maka telah memenuhi setengah agamanya, sehingga bertakwalah pada separuh lagi sisanya”.

 

Takhrij Hadits :

 

Berdasarkan penelusuran kami, hadits diatas hanya diriwayatkan oleh satu orang sahabat, yakni berasal dari riwayat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu. Berdasarkan data takhrij hadits yang kami dapatkan bahwa yang meriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu ada 3 jalan :

  1. Yazid Ar-Ruqosy dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu.

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam “Syu’abul Iman (no. 5100, cet. Maktabah Ar-Rusyd)”, dan Imam Ath-Thabrani dalam “Mu’jam Al-Ausath (no. 7647 & 8794).

Yaziid bin Abaan Ar-Ruqosy (w. Sebelum 120 H), didhoifkan oleh mayoritas ulama, Al Hafidz dalam “At-Taqriib” menilainya, (perowi) dhoif tapi ahli zuhud.

  1. Abdur Rokhman bin Zaid dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu.

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam “Al-Mustadrok (no. 2681)”, dan  Imam Baihaqi dalam “Syu’abul Iman (no. 5101)”. Dengan lafadz :

مَنْ رَزَقَهُ اللَّهُ امْرَأَةً صَالِحَةً، فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي الشَّطْرِ الثَّانِي

“Barangsiapa yang Allah berikan rizki berupa wanita sholehah, maka Allah telah menolong separuh agamanya, sehingga hendaknya ia bertakwa pada separuh yang kedua”.

Kedua Imam diatas meriwayatkan dengan jalannya sampai kepada ‘Amr bin Abi Salamah At-Tunisiy, dari Zuhair bin Muhammad, dari Abdur Rokhman bin Zaid, dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu.

Amr bin Abi Salamah ditsiqohkan oleh sekelompok ulama menurut Imam Adz-Dzahabi; Zuhair bin Muhammad dinilai oleh Imam Adz-Dzahabi “tsiqoh (membawakan) hadits ghorib, terkadang datang dengan riwayat hadits yang diingkari”; sedangkan Abdur Rokman bin Zaid, belum jelas siapa yang dimaksud, jika itu Abdur Rokhman bin Zaid bin Aslam, sebagai dicantumkan oleh Imam Al-Mizzi, diantara deretan gurunya Zuhair, maka ia adalah perowi yang dhoif dan seorang Tabi’it Tabi’in pertengahan, yang otomatis menunjukkan sanad ini terputus, namun jika itu bukan beliau, maka kami belum mendapatkan siapa Abdur Rokhman bin Zaid ini. Berdasarkan hal ini maka sanad hadits ini adalah dhoif. Continue Reading TAKHRIJ HADITS MENIKAH SETENGAH AGAMA…

TAHDZIR TERHADAP DAI PENYERU KESESATAN

March 24, 2017 at 1:02 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BENTUK KASIH SAYANG KEPADA DAI PENYERU KESESATAN
Diantara bentuk Kasih sayang kepada dai penyeru kesesatan adalah memperingatkan dirinya dan umat dari kesesatan yang diusungnya. Barangkali Allah belum bukakan pintu hidayah kepada dai penyeru kesesatan setelah berbagai macam tahdzir disampaikan kepadanya, maka untuk meminimalisir dosa si dai sesat ini, maka umat perlu diingatkan agar tidak mengikuti dan tertipu dengan penyimpangannya. 

rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﻫُﺪًﻯ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺟْﺮِ ﻣِﺜْﻞُ ﺃُﺟُﻮﺭِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺃُﺟُﻮﺭِﻫِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﻋَﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻹِﺛْﻢِ ﻣِﺜْﻞُ ﺁﺛَﺎﻡِ ﻣَﻦْ ﺗَﺒِﻌَﻪُ ﻻَ ﻳَﻨْﻘُﺺُ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺁﺛَﺎﻣِﻬِﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ

Artinya: “Barangsiapa yang menyeru kepada sebuah petunjuk maka baginya pahal seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi akan pahala-pahala mereka sedikitpun dan barangsiapa yang menyeru kepada sebuah kesesatan maka atasnya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Muslim). 
Ini adalah bentuk Kasih sayang syariat bukan hanya kepada umat yang akan jadi korban propaganda sesatnya, tapi juga kepada si dai nya sendiri, dimana kalau semakin banyak pengikutnya, ia akan menanggung dosa juga dari para pengikutnya. 
Oleh karena itu, orang yang dianggap tokoh agama yang membela kafirin penista agama, semacam Ahok dan sejenisnya, harus diberi peringatan keras, setidak-tidaknya kalau si tokoh ngeyel diatas kesesatannya, biarkan dia saja yang sesat, umat jangan sampai terbawa kesesatannya dan ini juga demi kebaikan si tokoh yang rusak tersebut. Nas’alullaha salamatan wal afiyyah.

AMIIN

March 22, 2017 at 7:55 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Kalau antum mendengar atau melihat orang sedang berdoa dengan doa yang baik, antum ikut aminkan juga, apalagi jika yang berdoa adalah ahli ilmu dan orang-orang shalih, siapa tahu Allah kabulkan doa tersebut, dan termasuk juga yang mengaminkannya. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَقالَ مُوسى رَبَّنا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوالًا فِي الْحَياةِ الدُّنْيا رَبَّنا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلى أَمْوالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلى قُلُوبِهِمْ فَلا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذابَ الْأَلِيمَ. قالَ قَدْ أُجِيبَتْ دَعْوَتُكُما فَاسْتَقِيما وَلا تَتَّبِعانِّ سَبِيلَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Musa berkata, “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia. Wahai Tuhan kami. akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Wahai Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” Allah berfirman, “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui’ (Yunus: 88-89)
Dalam ayat diatas, kata para ulama tafsir bahwa yang berdoa/berkata adalah Nabiyullah Musa alaihissalam, namun ketika Allah memperkenankan doanya, Allah mengatakan sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua… 
Para ulama tafsir mengatakan, satu orang lagi tersebut adalah Nabiyullah Harun alaihissalam dan inilah point yang ingin saya angkat seperti dalam mukadimah, bahwa Nabi Harun, beliau hanya sekedar mengaminkan doa Nabi Musa saja, tapi ternyata Allah menganggap keduanya yang berdoa dan kedua-duanya dikabulkan -Masya Allah-. 

Ternyata cuma mengucapkan kata yang pendek dan mudah saja yaitu  Amiin, Allah anggap dia juga berdoa seperti doanya orang yang diaminkan, bahkan Allah kabulkan permintaan kedua pihak tersebut. Subhanallah, Maha luas Rahmat Allah bagi para hambanya. 
#faedah from tafsir ibnu katsir

Benci Mati

March 22, 2017 at 6:33 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BENCI MATI DAN HARTANYA SEDIKIT

¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, pada hari Rabu, 22 Maret 2017
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺍﺛﻨﺘﺎﻥ ﻳﻜﺮﻫﻬﻤﺎ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ : ﻳﻜﺮﻩ ﺍﻟﻤﻮﺕ ، ﻭﺍﻟﻤﻮﺕ ﺧﻴﺮ ﻟﻠﻤﺆﻣﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ، ﻭﻳﻜﺮﻩ ﻗﻠﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﻗﻠﺔ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﺃﻗﻞ ﻟﻠﺤﺴﺎﺏ

“Dua hal yang dibenci oleh 

anak Adam yaitu : benci kepada kematian, padahal kematian bagi kaum mukminin itu lebih baik daripada fitnah dan benci jika hartanya sedikit, padahal Harta yang sedikit itu, sedikit pula hisabnya” (HR. Ahmad dan selainnya, dishahihkan oleh Al Albani). 
*FAWAID :*

1. Fitnah yang kematian menjadi lebih baik darinya, adalah fitnah terkait agamanya, seperti terjerumus kedalam kesyirikan atau bahkan sampai murtad. 

2. Berjumpa dengan Allah dalam keadaan bertauhid, penuh dengan keimanan tentu jauh lebih baik daripada menghadapi serangan godaan fitnah dunia. 

3. Sedikit hisabnya adalah dijauhkan dari adzab menyia-nyiakan Harta. 

4. Tentu selama hayat masih dikandung badan, dan rezeki mengalir lancar, itu semua bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk bekal akhirat, jika tidak akan menjadi penyesalan pada hari kemudian. 
Semoga kita semua dijauhkan dari sifat-sifat yang jelek, yang telah disinggung oleh hadits diatas. Amiin.

MAKMUM MENGERASKAN AMIN PADA SHOLAT JAHRIYYAH? 

March 21, 2017 at 6:23 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MAKMUM MENGERASKAN AMIN PADA SHOLAT JAHRIYYAH? 

¥¥¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, pada Selasa Siang, 21 Maret 2017
Imam ibnu katsir dalam tafsirnya menyebutkan terkait perselisihan pendapat di kalangan madzhab Syafi’i, apakah makmum dianjurkan mengeraskan bacaan Amin setelah sang Imam selesai membaca Al Fatihah :

1. Jika Imam sudah mengeraskan bacaan Amin, maka makmum tidak perlu mengeraskannya. Ini adalah qoul Jadid Imam Syafi’i, dan madzhabnya abu hanifah serta satu riwayat dari Imam malik. Alasannya bahwa Amin adalah bacaan dzikir dalam sholat, dan ia dibaca lirih sebagaimana dzikir sholat lainnya. 

2. Makmum tetap mengeraskan bacaan Amin, sekalipun sang Imam sudah membacanya dengan keras, ini adalah qoul qodim Imam Syafi’i,  mahdzabnya imam Ahmad dan satu riwayat dari Imam Malik. 

Alasannya dalam hadits disebutkan :

“Hingga masjid bergetar (karena bacaan amin).”
Kemudian Imam ibnu Katsir memberikan alternatif pendapat yang ketiga :

3. Jika masjidnya kecil dan Imam sudah membaca Amin dengan suara keras, maka makmum tidak perlu lagi mengeraskannya, namun jika masjidnya besar, maka makmum mengeraskannya agar didengar seluruh jamaah. 
Pendapat yang kami anggap rajih adalah pendapat kedua, alasannya adalah hadits alasan pendapat yang kedua dan sejumlah atsar sahabat yang menunjukkan bahwa makmum membacanya jahr. Tadinya Imam Al Albani merajihkan pendapat yang pertama, namun setelah beliau mendapatkan atsar Abu hurairah dan ibnu zubair terkait masalah ini, beliau sekarang ganti merajihkan pendapat bahwa makmum dianjurkan menjaharkan aminnya dalam sholat Jahriyyah. 

Wallahul a’lam. 

PERUBAHAN DHOMIR PADA DOA

March 21, 2017 at 12:38 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PERUBAHAN DHOMIR/KATA GANTI PADA DOA

¥¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, pada Senin Malam, 20 Maret 2017
Dulu waktu ustadz kami mengadakan dauroh full syarah kitab al-Janaiz min Bulughul Marom, maka pada saat pembahasan terkait doa yang masyhur ketika sholat jenazah :

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻪُ ﻭَﻋَﺎﻓِﻪِ ﻭَﺍﻋْﻒُ ﻋَﻨْﻪُ ….
Yang masyhur ditengah-tengah masyarakat jika sang mayyit perempuan, maka dhomirnya akan diganti dengan kata ganti perempuan :

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻬﺎ…

Kalau mayyitnya dua orang, diganti dengan :

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﻏﻔﺮ ﻟﻬﻤﺎ …

Dan seterusnya. 
Maka pada kesempatan tersebut ustadz kami menyampaikan bahwa doa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak perlu dirubah dhomirnya, jika mayitnya wanita atau dua orang atau lebih dari dua orang. Doanya tetap dibaca “Allahummagh firlahu”. Kata beliau,  dhomirnya bukan kembali kepada jenis mayyit, baik laki-laki, wanita, 2 orang atau jamak. Tapi dhomirnya kembali ke mayyit yang merupakan mufrod mudzakar, sehingga tetap pake dhomir hu, apapun jenis mayyitnya. 

=========
Melalui artikel ini, saya akan meluaskan sedikit pembahasan diatas. Apa yang disampaikan ustadz kami, juga disampaikan terlebih dahulu oleh para ulama, diantaranya oleh Imam Syaukani, beliau berkata :

ﻭﺍﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻧﻪ ﻳﺪﻋﻮ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻷﻟﻔﺎﻅ ﺍﻟﻮﺍﺭﺩﺓ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺫﻛﺮﺍ ﺃﻭ ﺃﻧﺜﻰ ﻭﻻ ﻳﺤﻮﻝ ﺍﻟﻀﻤﺎﺋﺮ ﺍﻟﻤﺬﻛﻮﺭﺓ ﺇﻟﻰ ﺻﻴﻐﺔ ﺍﻟﺘﺄﻧﻴﺚ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﺃﻧﺜﻰ ﻷﻥ ﻣﺮﺟﻌﻬﺎ ﺍﻟﻤﻴﺖ ﻭﻫﻮ ﻳﻘﺎﻝ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﻭﺍﻷﻧﺜﻰ . ﺍ ﻧﺘﻬﻰ

“Yang nampak bahwa dia cukup berdoa dengan lafadz-lafadz yang ada di hadits-hadits nabawi sama saja mayyitnya laki-laki atau perempuan. Tidak perlu mengganti kata gantinya menjadi bentuk ta’nits (perempuan), jika mayyitnya perempuan, karena kata ganti (dalam doa diatas) merujuk kepada mayyit, dan ia mencakup laki-laki dan perempuan”.
Adapun ulama lain, misalnya Al-‘Alamah ibnu Utsaimin merajihkan bahwa dhomirnya tetap diganti ketika mayyitnya wanita, dua orang, jamak laki-laki, dan jamak perempuan. Alasannya doa yang diajarkan Nabi diatas dengan bentuk kata ganti laki-laki tunggal, karena memang pada waktu itu mayyit yang dihadapan Nabi adalah satu orang laki-laki, besar kemungkinan Nabi akan menggantinya dengan dhomir perempuan, jika mayyit dihadapan Beliau pada waktu itu perempuan dan seterusnya. 
Yang menguatkan hal ini, misalnya Nabi pernah mengajarkan doa :

ﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺘَّﺎﻣَّﺎﺕِ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ

Hadits riwayat Imam Muslim. 

Namun ketika Nabi mendoakan kedua cucunya, Hasan dan Husain :

ﺃﻋﻴﺬﻛﻤﺎ ﺑﻜﻠﻤﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﺎﻣﺔ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻴﻄﺎﻥ ….

HR. Bukhori

Disini Beliau menggunakan dhomir Kumaa, yang merupakan kata ganti orang kedua untuk menunjukkan dua orang laki-laki/perempuan. 

So, Kata ganti disini disesuaikan dengan kondisi obyek atau subyeknya. 
Kesimpulannya, tentu ini keluasan fiqih yang para ulama telah melapangkannya bagi kita. Walhamdulillah. 
Referensi :

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=128749

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=193035

http://awqaf.ae/Fatwa.aspx?SectionID=9&RefID=10940

IMAM MENGERASKAN BACAAN AMIN

March 16, 2017 at 1:07 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH IMAM MENGERASKAN AMIN JUGA DALAM SHOLAT JAHRIYYAH? 

¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, Kamis Pagi, 16 Maret 2017
Kita akan memulai ahkam seputar bacaan amin. Terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, apakah sang Imam disyariatkan juga mengeraskan bacaan Amin setelah membaca Al Fatihah pada saat memimpin sholat-sholat Jahriyyah :

1. Imam disyariatkan mengeraskan bacaan Amin. Ini adalah pendapatnya Syafi’iyyah, Hanabilah, Dhohiriyyah, dan madzhabnya ahlu hadits. Diantara dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam :

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا 

“Jika Imam membaca Amin, maka kalian para makmum juga bacalah Amin” (Muttafaqun ‘Alaih). 

2. Imam Malik dan yang sepaham dengannya mengatakan bahwa Imam tidak disyariatkan membaca Amin. Dalilnya adalah hadits :

وَإِذَا قَالَ- يَعْنِي الْإِمَامَ- وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ

“Jika Imam berkata, wa laa adh-dzhoolliin, maka kalian para makmum mengucapkan Amin” (HR.  Malik). 

Kata mereka hadits diatas menunjukkan Imam tidak ikut membaca Amin. 
Pendapat yang rajih adalah pendapat yang pertama bahwa Imam tetap menjahrkan amin, karena dalilnya sangat jelas, adapun hadits yang dibawakan ashab Malik, maka perkataan. Quuluu, bisa saja kita katakan tercakup didalamnya juga Imam, bahkan dalam riwayat An Nasa’i ada tambahan  lafadznya :

ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﻳﻘﻮﻝ ﺁﻣﻴﻦ

“….Dan imam mengucapkan Amin… “.
Wallahul A’lam. 
Referensi :

– Tafsir Ibnu Katsir

http://www.shankeety.net/Alfajr01Beta/index.php?module=Publisher&section=Topics&action=ViewTopic&topicId=226

MENGENAL TAISIR AL-AZIIZ AL-HAMIID

March 15, 2017 at 10:10 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAISIR AL-‘AZIIZI AL-HAMIID

¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, Rabu Sore, 15 Maret 2017
Sekitar 7 tahun yang lalu, waktu saya mendatangi ustadz kami, guna belajar ilmu tentang tauhid, saya berharap agar guru kami ini mau mengajari saya kitab “Fathul Majiid, lisyarhi Kitaabit Tauhid”. Namun guru kami ini malah menawarkan untuk dars kitab “Taisirul Azizil Hamiid Syarah Kitaabit Tauhid”. Maka saya bertanya apa isi dari kitab tersebut, karena judulnya masih asing ditelinga saya. Beliau menjelaskan bahwa ini juga adalah syarah kitabit tauhidnya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, kitab ini lebih besar dan panjang syarahnya dibandingkan Fathul Majid, bahkan kitab Fathul Majid pun sebenarnya resume dari kitab TAISIR dengan meringkas pembahasannya yang panjang dan diulang-ulang, kemudian menyempurnakan syarahnya, karena al-‘Alamah Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, penulis kitab Taisir belum kelar didalam mensyarah Kitabut Tauhid, buah karya kakeknya. 
Bahkan ustadz kami pun menginformasikan bahwa kitab Taisirul Aziizil Hamiid menjadi tema kajian salah satu tokoh nasional yang pernah mengetuai ormas Islam besar di tanah air, karena kebetulan ayahnda beliau adalah salah satu yang aktif dalam ormas tersebut dan informasi diatas didapat dari ayah beliau. 
Namun karena masih asing dengan kitab tersebut, ditambah pembahasannya yang panjang, dan saya tidak punya kitab tersebut pada waktu itu, maka saya menyatakan keberatannya dan memohon kepada beliau agar buka dars kitab Fathul Majid saja, kemudian akhirnya dars pun dimulai dengan pembahasan kitab Fathul Majid. 
Ternyata saya dapatkan keterangan bahwa kitab Taisirul Azizil Hamiid adalah kitab yang pertama ditulis untuk syarah kitabut tauhid, yang garis besarnya berisi tentang penjelasan tauhid beserta dalil-dalilnya dari Kitabullah dan sunah Rasulullah, penjelasan lawannya yaitu syirik Akbar, kemudian yang bisa mengurangi kesempurnaan tauhid, seperti syirik kecil dan yang terkait dengannya. 
Kitab Fathul Majid sendiri juga ditulis oleh cucu Imam Muhammad bin Abdul Wahab, yakni Al-‘Alamah Abdur Rohman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab. Bahkan asy-syaikh Abdur Rohman sendiri langsung bertalaqi mempelajari kitabut tauhid kepada kakeknya, walaupun tidak sampai kelar. Dan beliau juga punya manuskrip kitabut tauhid dari tulisan tangan kakeknya langsung. 
Semoga Allah merahmati Al-Imam al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab, keturuannanya yang sholih dan sholihah, serta kaum Muslimin seluruhnya dengan Rahmat-Nya yang luas dan kita semuanya dikumpulkan di Janah-Nya, karena saling mencintai di jalan Allah. Amiin ya Robbal ‘Alamiin. 
Donwload kitab : http://ia801407.us.archive.org/2/items/dnatdnat/tahskt.pdf

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: