TETAP MENDAPATKAN PAHALA ATAS NIATNYA

April 30, 2017 at 12:50 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SESEORANG TETAP MENDAPATKAN PAHALA ATAS NIAT BAIKNYA, SEKALIPUN REALISASINYA TERNYATA BERBEDA DENGAN NIATNYA SEMULA
By. Neno Triyono
Kaedah diatas diucapkan oleh al-‘Alamah ibu Utsaimin dalam syarah Riyadhus Shalihin :

وأن الإنسان يكتب له أجر ما نوي؛ وإن وقع الأمر على خلاف ما نوي

“Seseorang akan ditulis pahala atas apa yang dia niatkan, sekalipun realisasinya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diniatkan semula”.
Contoh dari kaedah ini :

Seorang yang wajib zakat menyerahkan zakatnya kepada fulan yang dia sangka fulan tersebut adalah mustahiq / orang yang berhak menerima zakat. Di kemudian hari diketahui bahwa ternyata si fulan adalah orang kaya, yang sesungguhnya fulan ini tidak berhak menerima zakat. Maka berdasarkan kaedah diatas, zakat orang tersebut tetap sah, telah dianggap melepaskannya dari beban zakat yang diwajibkan kepadanya. 
Dalil dari kaedah ini adalah hadits no. 5 dalam kitab Riyadhus Shalihin :

وعن أبي يزيد معن بن يزيد بن الأخنس رضي الله عنهم، وهو وأبوه وجده صحابيون، قال‏:‏ كان أبي يزيد أخرج دنانير يتصدق بها فوضعها عند رجل في المسجد فجئت فأخذتها فأتيته بها، فقال‏:‏ والله ما إياك أردت، فخاصمته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال‏:‏ ‏”‏ لك ما نويت يا يزيد، ولك ما أخذت يامعن‏”‏ ‏(‏‏(‏رواه البخاري‏)‏‏)‏‏.‏

“Dari Abu Yazid yaitu Ma’an bin Yazid bin Akhnas radhiallahu ‘anhum. Ia, ayahnya dan kakeknya adalah termasuk golongan sahabat semua. Kata saya: “Ayahku, yaitu Yazid mengeluarkan beberapa dinar yang dengannya ia bersedekah, lalu dinar-dinar tersebut diserahkan kepada seseorang di dalam masjid (agar dia membagikannya kepada fuqoro -pensy). Saya – yakni Ma’an anak Yazid – datang untuk mengambilnya, kemudian saya menemui ayahku dengan dinar-dinar tadi. Ayah berkata: “Demi Allah, bukan engkau yang kukehendaki – untuk diberi sedekah itu.”

Selanjutnya hal itu saya adukan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam., lalu beliau bersabda:

“Bagimu adalah apa yang engkau niatkan hai Yazid, sedang bagimu adalah apa yang engkau ambil, hai Ma’an”. (Riwayat Bukhari)
*Ta’liqiy :*

Namun ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku dalam menerapkan kaedah tersebut, yakni amalan yang ternyata berbeda dengan niat awalnya adalah amalan yang tidak menyelisihi syari’at Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Artinya sekedar niat baik saja, tidak cukup seseorang layak mendapatkan pahala, tapi harus memenuhi syarat satunya lagi yaitu mutaba’ah (mengikuti)  syariat Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karenanya telah masyhur sebuah perkataan yang sangat menarik dari Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Darimi dengan sanad hasan :

ﻭَﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﻣُﺮِﻳﺪٍ ﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻟَﻦْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻪُ

“Berapa banyak orang yang berniat baik, tapi tidak mendapatkan kebaikan”.
Terkait contoh yang diberikan yakni seorang yang keliru memberi zakat yang semula dia menduga yang diberinya adalah orang miskin, namun di kemudian hari ternyata dia orang yang kaya, apakah diterima zakatnya? 

Al-‘Alamah ibnu Utsaimin berpendapat itu diterima, begitu juga ini menjadi pandangan dalam madzhab hambali. 

Namun sebagian ulama, seperti sebagian kalangan Syafi’iyah sebagaimana yang saya baca dalam Al-Majmu Syarah Al-Muhadzab, berpendapat zakatya tidak sah, wajib diulang lagi. Pendapat ini dirajihkan oleh asy-syaikh DR. Muhammad bin Muhammad al-Mukhtar asy-Syinqithiy. 
Tambahan referensi :

http://www.shankeety.net/Alfajr01Beta/index.php?module=Publisher&section=Topics&action=ViewTopic&topicId=103

https://islamqa.info/ar/179635
_Catatan untuk pelajaran Syarah Riyadhus Shalihin_

AS-SUNAH BAB 7

April 28, 2017 at 12:48 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

By Neno Triyono
٧- “بَابٌ: فِي لُزُومِ السُّنَّةِ”

*Bab 7 Tentang Komitmen dengan Sunnah*
*Hadits No. 23*

٢٣- ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَيْمُونٍ ثنا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ ثنا مُوسَى بْنُ أَعْيَنَ عَنْ صَالِحِ بْنِ رَاشِدٍ عَنْ أَبِي عَتِيكٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

“إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَسْتَحْيِي مِنْ ذِي الشَّيْبَةِ لُزُومًا لِلسُّنَّةِ أَنْ يَسْأَلَهُ شَيْئًا فَلا يعطيه”.

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala malu kepada orang yang sudah beruban yang senantiasa komitmen dengan sunnah, ketika ia minta, tapi tidak diberi” *[Hasan]*.
*Fawaid :*

1. Istbat sifat Malu bagi Allah subhanahu wa ta’ala sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, yang tidak sama dengan sifat malu makhluk-Nya. 

2. Komitmen terhadap sunnah sampai ajal menjemput, sekalipun sudah memasuki usia senja, merupakan anugerah dari Allah subhanahu wa ta’ala, karena tidak ada yang bisa memberikan taufik agar seseorang tetap istiqomah kecuali semuanya atas berkat rahma Allah. 

3. Makbulnya doa-doa orang yang sudah memutih rambutnya diatas sunnah. 

4. Isyarat kepada kita semua agar mengambil faedah dan bermusyawarah dengan orang-orang besar dari segi usia, yang senantiasa komitmen dengan sunah. 
_Catatan untuk pelajaran kitab as-Sunah li Imam Ibnu Abi Ashim_

PAHAM MU’TAZILAH DALAM TAFSIR AL KASYAAF

April 27, 2017 at 1:09 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Rasa Mu’tazilah dalam Tafsir az-Zamakhsyari
By. Neno Triyono
Banyak ulama sudah mengingatkan kaum muslimin bahwa tafsir karya abul Qosim Mahmuud bin Umar Az-Zamakhsyari (w. 538 H) yang judul aslinya “Al-Kasyaaf fi haqoiq ghowaamidh at-tanziil wa ‘Uyuun al-Aqoowil fii wujuuh at-Ta’wiil”, mengandung sisipan akidah mu’tazilah dalam tafsirnya. 
Az-Zamakhsyari memang imam fii lughoh baik dari sisi i’robul qur’an,  maupun balaghoh dan ilmu bahasa arab lainnya dalam mengungkap Al Qur’an dari sisi kebahasaannya. Sehingga banyak ulama mengambil faedah dari tafsir beliau untuk berhujjah dari sisi bahasa arab ketika menafsirkan Al Qur’an. 
Namun sebagai seorang mu’taziliy, beliau tetap menyisipkan pahamnya dalam menafsirkan Al Qur’an, tapi dengan bahasa yang halus. Para ulama ahlus sunnah yang pakar dalam ushul aqidah ahlus sunnah,  tentu tidak kesulitan mendeteksi racun mu’tazilah yang hendak disisipkan oleh Az-Zamakhsyari dalam tafsirnya. 
Ambil contoh Imam ibnu katsir ketika menukil penafsiran Az-Zamakhsyari untuk ayat ke-7 surat Al Baqoroh :

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Az-Zamakhsyari tidak setuju kalau ditafsirkan bahwa Allah benar-benar mengunci mati hati mereka, lalu beliau menyebutkan 5 penakwilan yang semuanya kata Imam Ibnu Katsir sangat lemah. Kata ibnu Katsir :

“Menurut kami, tiada yang mendorongnya berbuat demikian melainkan hanya aliran *mu’tazilah* yang dianutnya”.
Asy-Syaikh Mannaa’ al-Qoththoon dalam bukunya “Mabaahits fii uluumil Qur’an” menginformasikan kepada kita bahwa syarofuddin ath-Thiibiy telah meneliti kitab tafsir ini, dan telah menyingkap paham-paham mu’tazilah yang ada padanya. 
Jazakumullah khoiron.

BERBAKTI KEPADA ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT

April 24, 2017 at 4:53 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

CARA BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA SETELAH MEREKA WAFAT
By Neno Triyono,  Senin Malam, 24 April 2017
Berbuat baik kepada kedua orang tua pada saat mereka hidup adalah perkara yang sudah maklum dan lumrah diketahui yakni seluruh perbuatan baik yang bisa secara langsung atau tidak langsung diberikan kepada kedua orang tua pada saat mereka hidup. 
Pembahasan kali ini adalah cara untuk tetap berbuat baik kepada orang tua, setelah mereka wafat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memberikan tuntunan dalam masalah ini. Seorang dari Bani Salamah pernah bertanya kepada Beliau :

 ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ , ﻫَﻞْ ﺑَﻘِﻲَ ﻣِﻦْ ﺑِﺮِّ ﺃَﺑَﻮَﻱَّ ﺷَﻲْﺀٌ ﺃَﺑَﺮُّﻫُﻤَﺎ ﺑِﻪِ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬِﻤَﺎ؟ ﻓﻘَﺎﻝَ : ﻧَﻌَﻢْ، ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻤَﺎ، ﻭَﺍﻟِﺎﺳْﺘِﻐْﻔَﺎﺭُ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﻭﺇﻧﻔﺎﺫ ﻋﻬﺪﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻤﺎ , ﻭَﺻِﻠَﺔُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻢِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻟَﺎ ﺗُﻮﺻَﻞُ ﺇِﻟَّﺎ ﺑِﻬِﻤَﺎ، ﻭَﺇِﻛْﺮَﺍﻡُ ﺻَﺪِﻳﻘِﻬِﻤَﺎ

“Wahai Rasulullah, apakah aku masih bisa tetap berbuat baik kepada kedua orang tuaku setelah mereka wafat?”.

Nabi menjawab   : “ya bisa, doakanlah mereka berdua, mintakan ampun untuknya, tunaikan janji yang pernah dibuatnya, setelah wafatnya mereka, menyambung tali silaturahmi yang dulu biasa mereka sambung, dan muliakanlah teman akrab kedua orang tuamu”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya, namun sanadnya didhoifkan oleh Imam Al Albani. 
Namun sekalipun dhoif, makna hadits diatas dapat diterima, karena didukung oleh nash-nash lain yang shahihah. Berdasarkan ini, maka ada beberapa tips yang dikatakan diberikan oleh Nabi dalam rangka berbuat baik kepada orang tua setelah mereka wafat. 

1. Mendoakan kedua orang tua. Banyak sekali nash-nash yang berisi perintah bagi seorang anak untuk mendoakan kedua orang tuanya. Misalnya Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا  

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 24)

2. Memohonkan ampunan untuk keduanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻟَﺘُﺮْﻓَﻊُ ﺩَﺭَﺟَﺘُﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺃَﻧَّﻰ ﻟِﻲْ ﻫَﺬَﺍ ﻓَﻴُﻘَﺎﻝُ ﺑِﺎﺳْﺘِﻐْﻔَﺎﺭِ ﻭَﻟَﺪِﻙَ ﻟَﻚَ

Ada seorang lelaki yang kedudukannya terangkat di syurga kelak.” Ia pun bertanya,”Bagaimana ini?” Maka dijawab: “Lantaran istighfar anakmu. (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani). 

3. Menunaikan janji orang tua, misalnya bapak/ibu kita berjanji memberikan sesuatu kepada orang lain, namun mereka belum sempat merealisasikannya sudah keburu meninggal dunia. Maka sebagai seorang anak, sekalipun Harta orang tua kita sudah menjadi haknya ahli waris, si anak sangat mulia jika mau merealisasikan janji orang tuanya tersebut. 

4. Menjalin silaturahmi yang dulu disambung oleh mereka berdua. Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

ﺇِﻥَّ ﺃَﺑَﺮَّ ﺍﻟْﺒِﺮِّ ﺻِﻠَﺔُ ﺍﻟْﻮَﻟَﺪِ ﺃَﻫْﻞَ ﻭُﺩِّ ﺃَﺑِﻴﻪِ

“Sesungguhnya berbakti kepada kedua orang tua yang paling tinggi adalah seorang anak menyambung tali silaturahmi kerabat bapaknya yang paling dicintainya” (HR. Muslim). 

5. Memuliakan kawan dekat orang tua kita. Dikisahkan dalam shahih Muslim, ibnu Umar radhiyallahu anhuma pernah memperlakukan seorang badui dengan baik, maka ketika ditanya alasannya, beliau menjawab bahwa orang badui tadi dulu adalah kawan akrab bapaknya Umar bin Khothob radhiyallahu anhu pada saat masih hidup. 
Demikian diantara bentuk-bentuk berbakti kepada orang tua setelah mereka wafat. Dan pahala besar menanti para anak yang bisa merealisasikan hal tersebut, karena Allah sebutkan perintah berbakti ini, setelah perintah untuk mentauhidkan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا  ۗ  اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23).
*So, idealnya para pengusung bendera tauhid adalah mereka anak-anak yang senantiasa berbakti kepada orang tuanya*.

AL-KULIYAAT

April 24, 2017 at 11:18 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

الكُلِياَت dalam Ulumul Qur’an
Pada saat saya membaca metode Imam Adh-Dhohaak dalam menafsirkan Al Qur’an, maka ada point pembahasan terkait perhatian beliau terhadap ulumul qur’an. Salah satu tema yang dibahas adalah beliau dalam menafsirkan Al Qur’an juga menukil apa yang dikenal dalam istilah ulumul qur’an sebagai “al-Kuliyaat”, yakni lafadz-lafadz atau uslub yang terdapat dalam Al Qur’an untuk menunjukkan kesimpulan makna tertentu. 
Al-Kuliyaat ini disampaikan oleh para ulama setelah mereka melakukan penelitian seksama pada Al Qur’an dari Al Fatihah sampai An Naas, kemudian hadirlah kesimpulan yang bisa kita manfaatkan dalam mentadaburi Al Qur’an. Dalam mengungkapkan al-Kuliyaat ini ada 2 metode yang digunakan oleh para ulama :

1. Secara mutlak. Misalnya mereka mengatakan : “كُلُّ (semua) lafadz ظاَنَّ (menyangka) jika disandarkan kepada kaum mukminin, maka artinya meyakini. Namun jika disandarkan kepada Kafirin, maka maknanya keraguan”. 

2. Secara mutlak, tapi dibarengi dengan pengecualian. Misalnya mereka mengatakan : “كل (semua) lafadz البَعْلُ dalam Al Qur’an maknanya adalah suami, seperti dalam Firman-Nya :

ﻭَﺑُﻌُﻮﻟَﺘُﻬُﻦَّ ﺃَﺣَﻖُّ ﺑِﺮَﺩِّﻫِﻦّ

“Dan para suami lebih berhak rujuk kepada istrinya pada masa iddah” (QS. Al Baqoroh : 228).

Namun ada satu pengecualian pada surat Ash-Shofaat ayat 125 :

ﺃَﺗَﺪْﻋُﻮﻥَ ﺑَﻌْﻼً

“Patutkah kamu menyembah ba’al”.

Ba’al disini maknanya adalah berhala. 
Kita ucapkan jazakumullah khoir kepada para ulama kita khususnya para mufasirin yang telah mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk berkhidmat terhadap Kitabullah, sehingga membantu kaum muslimin dalam mentadaburi kitab sucinya.

HUKUM ASAL PERINTAH DALAM MASALAH ADAB ADALAH SUNNAH

April 24, 2017 at 10:41 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

*Hukum Asal Perintah dalam Masalah Adab adalah Sunah*
Kaedah ini ditetapkan oleh banyak ulama kita ketika membahas pelajaran ushul fiqih dalam tulisan atau kajian yang diampunya. Diantara mereka adalah :

1. Al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin,  merajihkan kaedah ini. 

2. Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud

3. Asy-Syaikh Shoolih alu Syaikh menyebutkan hal in ketika mensyarah kitabut Thoharoh min bulughil marom. 
Dinukil bahwa Imam ibnu Hazm tetap pada pendiriannya bahwa hukum asal perintah adalah wajib, baik itu dalam masalah ibadah maupun dalam masalah adab. Dan kebiasaan beliau diikuti oleh Imam Syaukani, imam Shon’ani dan beberapa ulama kontemporer. 
*Catatan :* ada faedah yang mungkin bisa kita jadikan point dalam pembahasan ini sebagaimana yang disampaikan oleh asy-syaikh Abdullah al-Ubailaan, yaitu jika perintah tersebut diiringi oleh nash dalil yang menunjukkan celaan kepada orang yang melakukan ini atau meninggalkan itu, atau ada pemahaman sahabat bahwa itu adalah wajib, maka perkara tersebut menjadi wajib, jika tidak ada itu semua, maka hukumnya hanya sekedar sunah. 

Adab yang dimaksud disini adalah perkara penyempurna saja, yang ini menjadi kebiasaannya as-Sabiqun bil khoir. 
Referensi :

http://majles.alukah.net/t27856/

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=74279

AS-SUNAH BAB 6 (BAG. 2 AKHR) 

April 24, 2017 at 10:01 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

By Neno Triyono
*Hadits no. 20 :*

٢٠- ثنا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ ثنا أَبُو قُتَيْبَةَ مُسْلِمُ بْنُ قُتَيْبَةَ ثنا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي حَزْمٍ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” {إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا} قَالَ: قَدْ قَالَهَا النَّاسُ ثُمَّ كَفَرُوا فَمَنْ مَاتَ عَلَيْهَا فَهُوَ ممن استقام”.

““Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah.. (QS Al Ahqaf : 13).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Manusia telah mengatakan (bahwa dirinya istiqomah), namun kemudian kenyataanya (kebanyakan) mereka kafir.  Barangsiapa wafat diatas keyakinan (bahwa Rabbnya adalah Allah), maka dia termasuk orang-orang yang istiqomah” *[Dhoif]*.
*Hadits no. 21*

٢١- ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شيبة ثنا عبد الله بْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُفْيَانَ ابن عبد الله الثَّقَفِيِّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: قُلْ لِي فِي الإِسْلامِ قَوْلا لا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ قَالَ: “قُلْ رَبِّيَ اللَّهُ ثم استقم”.

“Abdullah ats-Tsaqofiy radhiyallahu anhu berkata : wahai Rasulullah, beritahukan aku suatu ucapan tentang Islam yang aku tidak akan menanyakannya lagi kepada seorang pun setelahmu?”. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “katakanlah, tuhanku Allah, lalu dia istiqmah” *[Shahih]*.
Hadits no. 22

٢٢- ثنا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدٍ ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَاعِزٍ عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عبد الله قَالَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ نحوه.

Idem. 
*Fawaid :*

1. Imam ibnu Abi Ashim pada hadits sebelumnya membawakan bahwa dalam kehidupan ini seorang hamba ditunjukkan dengan jalan yang lurus, yang mana ada para dai ilallah yang senantiasa mengajaknya menempuh jalan yang lurus. 

2. Kemudian pada hadits ini, mualif ingin mengingatkan bahwa sikap istiqomah diperlukan dalam menempuh jalan yang lurus, karena di sepanjang kanan dan kiri jalan banyak, jalan-jalan lain yang juga ada dai nya yang selalu menyeru dari kalangan setan manusia dan jin untuk membelokan arah perjalanan hamba dari jalannya yang lurus. 

3. Nasehat untuk beristiqmah adalah sebuah nasehat yang pendek, namun sangat mendalam. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam sampai beruban ketika menerima nasehat dari Rabb-nya untuk beristiqomah. Allâh Ta’ala berfirman:

ﻓَﺎﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﺃُﻣِﺮْﺕَ ﻭَﻣَﻦْ ﺗَﺎﺏَ ﻣَﻌَﻚَ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻄْﻐَﻮْﺍ ﺇِﻧَّﻪُ ﺑِﻤَﺎ ﺗَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ﺑَﺼِﻴﺮٌ

Maka istiqomahlah (tetaplah kamu pada jalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan. [Hûd/11:112].

4. Alangkah beruntungnya orang yang tetap istiqomah sampai ajal menjemputnya, karena surga Allah menantinya dengan diantarkan oleh para Malaikat-Nya. 

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺭَﺑُّﻨَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻘَﺎﻣُﻮﺍ ﺗَﺘَﻨَﺰَّﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟْﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﺨَﺎﻓُﻮﺍ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺤْﺰَﻧُﻮﺍ ﻭَﺃَﺑْﺸِﺮُﻭﺍ ﺑِﺎﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﻮﻋَﺪُﻭﻥَ

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allâh” kemudian mereka istiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan Allâh kepadamu”. [Fush-shilat/41:30].
_Catatan pelajaran untuk As-Sunnah li Imam Ibnu Abi Ashim_

PAHALA NIAT ATAU PAHALA AMAL BAGI ORANG YANG UDZUR

April 23, 2017 at 10:30 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

DAPAT PAHALA NIAT ATAU PAHALA AMAL LENGKAP KETIKA PUNYA UDZUR
Salah satu anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa ta’ala yang sangat besar kepada para hamba-Nya adalah tetap memberikan pahala kepada orang-orang yang akan melakukan amal sholih saja, hanya saja karena ada udzur yang sifatnya diluar kendalinya, sehingga mengakibatkan dia tidak dapat melakukan amal sholih tersebut. 

Namun pembahasannya adalah apakah dia mendapatkan pahala atas niat baiknya atau pahala amal sholih tersebut secara sempurna? 
Al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin menyebutkan dalam Syarah Riyadhus Shalihih satu kaedah, yaitu :

1. Jika amal sholih yang tidak jadi dilakukannya tadi, bukan merupakan amal yang biasa lakukan sebelumnya, maka dia hanya mendapatkan pahala niat saja. 

Dalilnya adalah kisah para sahabat yang miskin, ketika mengadu kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam agar dapat menyaingi kawannya yang kaya dalam beramal, dimana orang yang kaya dapat menginfakkan hartanya di jalan Allah, sedangkan para fuqoro ini tidak dapat beramal seperti mereka. Lalu Nabi pun mengajari mereka agar bertasbih, bertahmid, dan bertakbir 33 kali setiap selesai sholat. Tidak ada yang mampu menyamai pahala amalan ini kecuali orang yang melakukan amalan seperti mereka juga. Dan ternyata para aghniya mendengar hal ini, lalu mereka pun beramal seperti fuqoro. Diakhir kisah Nabi bersabda :

ذلك فضل الله يؤتيه من يشاء

“Yang demikian itu keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendakinya”.

Dalam kisah ini, Rasulullah tidak mengatakan kepada para fuqoro, engkau mendapatkan pahala amalan para aghniya, namun tidak ragu lagi bahwa mereka mendapatkan pahala niat”.

2. Adapun jika amalan tersebut adalah kebiasaannya sebelum adanya udzur, maka pahalanya full komplit dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Dalilnya sabda Nabi dalam riwayat Bukhori :

إذا مرض العبد أو سافر كتب له مثل ما كان يعمل مقيماً صحيحاً

“Jika seorang hamba sakit atau sedang bersafar,  maka akan ditulis pahala amalannya seperti ketika ia mukim atau sehat”.
_Catatan atas pelajaran syarah Riyadhus Shalihin_

SEMBELIHANNYA ORANG MABUK

April 23, 2017 at 10:29 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SEMBELIHANNYA ORANG MABUK
Ada 2 riwayat yang dinukil dari Imam Syafi’i terkait status daging yang disembelih oleh orang yang sedang mabuk. Riwayat pertama memastikan bahwa Imam Syafi’i menghalalkan dagingnya. Sedangkan riwayat yang kedua, ada 2 pendapat dari beliau yang mengatakan haram dan halal, dan yang paling valid adalah beliau menghalalkannya.
Namun Imamul Haromain dan Imam Ghozali melakukan disenting opinion dengan pendapat Imamnya, keduanya mengharamkan daging sembelihan orang yang lagi mabuk.
Pendapat haramnya hal diatas juga di-apply oleh 3 Imam madzhab lainnya, Imam Ibnul Mundzir, dan Imam Dawud adh-Dhohiri.
Alasan jumhur, karena si pemabuk tadi, ia bisa saja tidak ada tujuan untuk menyembelih binatang tersebut. Hal ini dikiaskan dengan orang yang lagi tidur, kemudian ia “ngelindur” membawa pisau dan menyembelih binatang, maka dagingnya tidak halal.
Imam Syafi’i beralasan bahwa niat adalah syarat secara global saja, sedangkan orang yang mabuk dan semisalnya pasti memiliki bagian niat ketika menyembelih, sehingga halal dagingnya.
Namun karena potensi resiko yang tinggi terjadinya kesalahan pada orang yang sedang mabuk, atau orang gila dan yang semisalnya, maka mengikuti pendapat mayoritas ulama lebih utama.
(Badai’us Shonaai’u pada bagian ta’liqnya (6/224))

MENYEMBELIH UNTA

April 23, 2017 at 10:28 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENYEMBELIH UNTA
Yang sunnah menurut para ulama bahwa Unta disembelih dengan cara Nahr, yaitu menusuk pangkal dada Unta tersebut dalam kondisi berdiri.
Namun sebagian ulama memandang tidak mengapa untuk menyembelihnya dengan cara digorok, sebagaimana menyembelih sapi atau kambing. Alasannya karena inti dari penyembelihan adalah untuk mengalirkan darahnya.
Namun Imam Malik berpendapat jika Unta tidak disembelih dengan cara Nahr, maka dagingnya tidak boleh dimakan. Alasannya kerena meninggalkan perintah Allah Azza wa Jalla dalam surat Al Kautsar ayat ke-2: {Sholatlah untuk Rabbmu dan Nahr (sembelih lah)}.
Badai’us Shonaai’u (6/204)

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: