KITAB AS-SUNNAH BAB 1 SERIE 1

April 8, 2017 at 1:39 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

By Neno Triyono
١- ذِكْرُ الأَهْوَاءِ الْمَذْمُومَةِ

نَسْتَعْصِمُ اللَّهَ تعالى منها ونعوذ به من كل ما يوجب سخطه

Bab 1 penyebutan hawa nafsu yang tercela

Kita mohon agar dijaga oleh Allah Ta’ala dari kejelekan hawa nafsu dan kita mohon perlindungan agar dijauhkan dari semua hal yang menyebabkan kemurkaan-Nya 
١- أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارِ بْنِ نُصَيْرٍ أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ صَفْوَانِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ الأزهر ابن عبد الله الْحَرَازِيِّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عبد الله بْنِ لُحَيٍّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

“يَكُونُ أَقْوَامٌ تَتَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ فَلا يَبْقَى مِنْهُ مَفْصِلٌ إِلا دخله”.

“Kelak akan ada suatu kaum yang terjangkiti hawa nafsu sebagaimana orang yang terjangkiti virus rabies, tidak ada tulang rusuk yang tersisa kecuali ia akan menjangkitinya” [Shahih] 

٢- أَخْبَرَنَا ابْنُ مُصَفَّى ثنا بَقِيَّةُ عَنْ صَفْوَانِ بْنِ عَمْرٍو عَنِ الأزهر بن عبد الله عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ أَنَّهُ حَجَّ مَعَ مُعَاوِيَةَ فَسَمِعَهُ يَقُولُ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَذَكَرَ:

“أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ قَبْلَكُمْ تَفَرَّقُوا عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فِي الأَهْوَاءِ أَلا وَإِنَّ هَذِهِ الأُمَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فِي الأَهْوَاءِ كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلا وَاحِدَةً وَهِيَ الْجَمَاعَةُ أَلا وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي أُمَّتِي قَوْمٌ يَهْوُونَ هَوًى يَتَجَارَى بِهِمْ ذَلِكَ الْهَوَى كَمَا يَتَجَارَى الْكَلْبُ بِصَاحِبِهِ لا يَدَعُ مِنْهُ عِرْقًا وَلا مفصلا إلا دخله”.

“Akan keluar dari umatku suatu kaum yang memperturutkan hawa nafsunya sehingga ia terjangkiti hawa nafsu, sebagaimana seorang yang terjangkiti virus rabies, tidak ada urat dan persendian yang tersisa kecuali akan terjangkiti”  [Shahih] 
*Penjelasan :*

1. Hawa adalah suatu kecenderungan yang mendorong seseorang melakukan suatu hal karena kecondongan padanya. Jadi pada awalnya hawa itu netral, apabila condong kepada kebaikan maka menjadi baik dan begitu juga sebaliknya. Oleh karenanya mualif disini mengkaitkan hawa dengan hawa yang madzmumah (tercela) yang dapat merusak agama dan kehidupan seseorang jika diperturutkan. 

Hawa nafsu jika disebutkan secara mutlak, biasanya adalah untuk sesuatu yang jelek, sebagaimana Firman-Nya :

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ  اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوْٓءِ اِلَّا  مَا رَحِمَ رَبِّيْ  ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf 12: Ayat 53)

2. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui nubuwah kenabiannya sudah menunjukkan bahwa akan muncul dari umat beliau baik umat dakwah atau umat ijabah orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan akhirnya dia sudah menjadi virus ganas yang menjangkiti dirinya, sehingga statusnya menjadi budak hawa nafsunya. 

3. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits ini membuat perumpamaan untuk orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya seperti orang yang terjangkiti virus anjing gila alias rabies. Dalam ilmu balaghoh ini disebut dengan tasybih mursal dilihat dari adanya adawatut tasybih yang digunakan, dan dikategorikan tasybih mufashshal dari adanya wajh tasybihnya yaitu “seperti terkena penyakit anjing gila”. 

4. Virus rabies adalah salah satu penyakit mematikan yang bisa menggerogoti anggota tubuh dan juga menyerang bagian dalam tubuh, sehingga jika sudah menyerang ke otak maka akan mematikan. Pun halnya dengan hawa nafsu jika dibiarkan merambat dalam sanubarinya, maka ia akan membuat mati hatinya, sehingga sulit dalam menerima hidayah. 

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةً  ۗ  فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ   ۗ  اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 23)
Catatan atas pelajaran kitab As-Sunah Imam ibnu Abi Ashim

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: