MENGENAL IRADAH ALLAH

April 9, 2017 at 9:17 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGENAL IRADAH ALLAH

¥¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, pada hari Ahad, 9 April 2017
Para ulama membagi iradah menjadi 2 macam, yakni iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Dalam menjelaskan masalah ini, kami akan menyadur dari perkataan Al-Alamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin dan juga dari beberapa ulama selainnya. 
Pembagian iradah yang pertama adalah “إِراَدَة كَوْنِيَّة” (iradah kauniyyah), ini sinonim dengan “المَشِيْئَة” (Al-Masyi`ah) maka iradah disini bermakna “شاَءَ” (kehendak). Inti dari iradah ini mencakup :

A.  Terkait hal-hal yang Allah sukai dan yang tidak disukai-Nya

B.  Melazimkan apa yang Allah kehendaki, pasti terjadi, tidak mungkin ada yang mampu menghalanginya. 

Contoh iradah ini dalam Al Qur’an, Firman-Nya :

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِسْلَامِ ۚ  وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ  كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Juga dalam Firman-Nya yang lain :

اِنَّمَاۤ  اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَادَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ya Sin 36: Ayat 82)
Pembagian yang kedua adalah “إِراَدَة شَرْعِيَّة” (Iradah Syar’iyyah), ini sinonim dengan “المُحَبَّة” (kecintaan) maka kehendak disini bermakna kecintaan, dan ia mencakup :

A.  Khusus hal-hal yang Allah cintai. Kekafiran dan kefasikan bukan masuk dalam kehendak Allah yang Syar’iyyah. 

B. Tidak mesti kehendak ini terjadi pada hamba-Nya. 

Contohnya, Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56).

Namun pada kenyataan sebagian hamba-Nya mau beribadah kepada-Nya dan sebagian lagi tidak mau beribadah kepada-Nya. 
Sehingga jika ada pertanyaan apakah Allah menghendaki kebaikan dan kejelekan secara syar’i atau secara kauni? 

*Jawabannya* : kebaikan jika itu terjadi, maka berarti itu adalah iradah syar’i dan kauni, namun jika itu tidak terjadi, maka itu masuk iradah syar’i saja.  Adapun kejelekan jika itu terjadi, maka ini adalah iradah kauni, namun jika tidak terjadi, maka bukan iradah kauni maupun syar’i. 
*Kesimpulan perbedaan antara Iradah Kauniyyah dan Syar’iyyah adalah :*

1. Iradah kauniyyah mesti terjadi, sedangkan Syar’iyyah tidak mesti terjadi. 

2. Iradah Syar’iyyah khusus hanya terhadap apa yang dicintai Allah, sedangkan iradah kauniyyah mencakup hal yang dicintai dan yang tidak dicintai. 
Tujuan utama dari pembagian Iradah diatas adalah untuk mengcounter orang-orang yang mengatakan bahwa manusia ketika melakukan kejelakan itu adalah diluar kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. Maka kita katakan kepadanya, bahwa hal tersebut masih dibawah kehendak Allah, namun kehendak yang kauni, karena tidak ada di alam semesta sesuatu yang terjadi diluar kehendak Allah subhanahu wa ta’ala. 

Dan juga untuk mengcounter orang-orang yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak, semua gerakan manusia digerakkan Allah subhanahu wa ta’ala.  Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ  فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan katakanlah (Muhammad), Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir… (QS. Al-Kahf 18: Ayat 29).

Dan Firman-Nya :

وَهَدَيْنٰهُ  النَّجْدَيْنِ 

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).” (QS. Al-Balad 90: Ayat 10)
Referensi :

Syarah Aqidah Al Washitiyyah dan Al-Qouli Mufiid, keduanya karya Al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin rahimahullah. 
_catatan atas pelajaran Fathul Majid_

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: