PERJANJIAN DENGAN ALLAH

April 9, 2017 at 2:56 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SUDAH TEKEN “MOU”

¥¥¥¥¥¥

Diketik oleh Neno Triyono, pada hari Ahad, 9 April 2017
Al-Imam Al-Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahab dalam “Kitabut Tauhid” langsung ‘menggebrak’ di awal-awal pembahasan dengan menampilkan Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ  اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56).

Asy-Syaikh seolah-olah ingin mengingatkan kita semua bahwa visi dan misi dalam menjalani kehidupan ini adalah senantiasa beribadah kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya. 
Kemudian cucu beliau, yakni Al-‘Alamah Abdur Rokhman bin Hasan Alu syaikh menukil penjelasan dari beberapa ulama dalam kitabnya “Fathul Majiid”, bahwa memang kita diciptakan untuk menerima pembebanan syariat, berupa hal-hal yang Allah perintahkan yang harus kita kerjakan dan hal-hal yang diharamkan yang harus ditinggalkan. 
Saya juga ingin menambahkan bahwa sebagai seorang manusia, mau tidak mau, sukarela maupun terpaksa, kita semuanya sudah meneken ‘MOU’ dengan Allah Subhanahu wa ta’ala yang diwakili oleh Bapak kita Nabi Adam alaihissalam, untuk menerima amanat yang dulu Allah tawarkan pada mahkluk yang secara fisik lebih kuat dari kita, namun semuanya menolak kecuali Bapak kita. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِنْسَانُ ۗ  اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا  

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72).

Imam ibnu Jarir ath-thabari dalam ‘Tafsirnya’ menukil salah satu penafsiran dari para Aimah tafsir bahwa yang dimaksud dari ayat diatas adalah Allah dulu menawarkan ketaatan dan kewajiban-kewajiban kepada langit, bumi dan gunung, dimana kalau mereka berhasil mengemban amanat ini akan diberikan ganjaran, namun jika menyia-nyiakannya, maka akan disiksa. Mereka semua yang ditawarkan itu enggan menerimanya, karena khawatir tidak mampu mengemban amanat, namun Bapak kita Adam alaihissalam menerimanya( yang konsekuensinya mengenai juga anak keturunannya). 
Mungkin ada yang merasa keberatan bahwa itu adalah apa yang disetujui oleh Nabi Adam alaihissalam, sedangkan saya tidak pernah merasa menyetujuinya. Okelah kalau begitu silakan baca surat Al A’raf ayat 172 :

وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ  ۚ  اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ  ۗ  قَالُوْا بَلٰى    ۛ   شَهِدْنَا     ۛ   اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ  

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 172)

Imam ath-thabari dalam tafsirnya mengatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk memperingatkan umatnya bahwa dulu ketika Allah mengeluarkan anak Adam dari tulang sulbi bapaknya, mereka semuanya sudah mengakui / menetapkan untuk senantiasa mentauhidkan Allah, dan sebagian mereka menjadi saksi atas sebagian lainnya terhadap ikrar (untuk bertauhid) ini. 
So, dalam bahasa saya, kita semuanya sebagai insan manusia telah meneken ‘MOU’ dengan Rabb kita Azza wa Jalla untuk hidup dalam kondisi senantiasa beribadah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala. Anda sebagai manusia sudah tidak ada jalan mundur lagi, tidak ada pintu ajaib yang mengembalikan anda atau memenuhi keinginan anda untuk misalnya menjadi binatang atau pohon atau membatalkan MOU diatas. Yang ada didepan anda sekarang adalah dua jalan yang satu menuju keridhoaan Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjadi hamba-Nya, atau anda malah memilih jalan sesat menjadi hamba thaghut, menyekutukan Allah. Selama nyawa belum sampai kerongkongan jalan keridhoaan masih terbuka lebar. 
Boleh saja anda sekarang mengingkari tidak pernah membuat MOU seperti diatas, namun kami kaum Mukminin mengimani Firman Allah azza wa jalla bahwa kelak anda tidak akan bisa buka suara mengingkari kesepakatan yang telah anda setujui. Asy-Syaikh Abdur rahman bin  Hasan Alu Syaikh juga mengatakan bahwa terdapat hadits-hadits mutawatir yang memperkuat bahwa Allah akan mengungkit MOU yang dulu anda secara sukarela ‘tandatangani’. Diantaranya hadits Shahih Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu secara marfu’ :

ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻟِﺄَﻫْﻮَﻥِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻋَﺬَﺍﺑًﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻟَﻮْ ﺃَﻥَّ ﻟَﻚَ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﺃَﻛُﻨْﺖَ ﺗَﻔْﺘَﺪِﻱ ﺑِﻪِ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﻧَﻌَﻢْ ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺃَﺭَﺩْﺕُ ﻣِﻨْﻚَ ﺃَﻫْﻮَﻥَ ﻣِﻦْ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻓِﻲ ﺻُﻠْﺐِ ﺁﺩَﻡَ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺗُﺸْﺮِﻙَ ﺑِﻲ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻓَﺄَﺑَﻴْﺖَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﺗُﺸْﺮِﻙَ ﺑِﻲ

Pada hari kiamat, Allah bertanya kepada penghuni neraka yg paling ringan siksanya; ‘kalaulah kamu mempunyai semua yg ada di bumi, akankah kau jadikan untuk menebus dirimu?

‘ ‘Tentu’ Jawabnya. Maka Allah berfirman: ‘Dahulu aku hanya ingin sesuatu yg lebih sepele daripada ini ketika kamu masih dalam sulbi Adam, yaitu agar kamu tak menyekutukan-KU dgn sesuatu apapun, namun engkau enggan bahkan menyekutukan-KU dengann sesuatu. 
Alhasil, tiada guna lagi mempertanyakan kapan saya merasa mengakui perjanjian diatas, yang sudah harus dilakukan bagaimana yang tadinya bergelimang dalam kesyrikan supaya cepat berhijrah kepada tauhid, dan yang merasa diatas tauhid supaya tetap meningkatkan kesempurnaan tauhidnya dan memaintain terus aqidahnya yang shahihah sampai ajal menjemput kita, bi idznillah. Amiin ya Robbal ‘Alamiin. 

Maka mempelajari aqidah shahihah adalah suatu kemestian dan tentunya diwujudkan dalam amalan sehari-hari. 
_catatan untuk pelajaran Fathul Majiid_

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: