AS SUNNAH BAB 1 (BAG. 3)

April 10, 2017 at 5:46 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

By Neno Triyono
Hadits no. 5
Imam ibnu Abi ‘Ashim berkata :

٥- ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ثنا عَفَّانُ ثنا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مليكة حدثني القاسم ابن مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلا هَذِهِ الآيَةَ: {هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ…..} حَتَّى فَرَغَ مِنْهَا قَالَ:

“قَدْ سَمَّاهُمُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَإِذَا رأيتموهم فاحذروهم”.

“Rasulullah membaca ayat ini : [Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. 

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 7)].

Lalu Beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Allah telah menandai mereka, jika engkau melihat orang-orang seperti mereka, maka waspadalah darinya” *[Shahih]*.
*Penjelasan :*

1. Ahlu hawa kebiasaan mereka adalah mencari nash-nash yang masih samar, kemudian ditafsiri sesuai dengan hawa nafsunya. Imam Suyuthi dalam kitabnya “Tadribut Taqriib” ketika menyebutkan sebab terjadinya pemalsuan hadits salah satunya adalah trik dikalangan ahlu bid’ah jika kagum dengan akal pikirannya, maka akan membuat hadits palsu untuk melegitimasi buah pikirannya yang menyimpang. 

2. Ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat yang belum jelas maknanya. Atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Ahlu ahwa akan menyimpulkan ayat yang masih multi tafsir dibawa kepada pemikirannya yang menyimpang. 

3. Kewaspadaan yang tinggi perlu diterapkan ketika melihat orang-orang yang condong ‘bermain’ dengan nash-nash yang mutasyabihat. 

4. Senantiasa mendekat dan mencari bimbingan dari ulama yang mendalam ilmunya agar terang bagi kita makna yang benar dari nash-nash mutasyabibat, dengan penjelasan mereka yang didasari ketakwaan kepada Allah dan bashiroh yang kuat. 
_Catatan untuk pelajaran Kitab As-Sunah Li Imam Ibnu Abi Ashim_

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: