MENGENAL QIROAH IBNU KATSIR

May 23, 2017 at 11:24 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGENAL QIROAH IBNU KATSIR
Imam ibnu Katsir nama lengkapnya Abu Ma’bad Abdullah bin Katsir al-Makkiy ad-Daariy. Beliau dilahirkan di Mekkah pada tahun 45 H dan wafat pada tahun 120 H, dalam usia 75 tahun. 
Beliau mengambil sanad qiroahnya kepada Abdullah bin as-Saib yang bertalaqi dalam qiroahnya kepada Ubay bin Ka’ab dan Umar bin Khothob radhiyallahu anhuma. 

Beliau juga belajar qiroah kepada Mujahid yang mengambil qiroahnya dari Abdullah bin as-Said dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhuma. 

Lalu beliau bertalaqi juga dihadapan Darbaas yang bertalaqi kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu, kemudian Abdullah bin Abbas mengambil qiroahnya dari Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhuma. 
Adapun perowi yang masyhur ada dua yaitu :

1. Qunbul, nama lengkapnya adalah Abu Umar Muhammad bin Abdur rahman bin Kholid al-Makkiy al-Makhzuumiy. Beliau dilahirkan pada tahun 195 H dan wafat pada tahun 291 H dalam usia 96 tahun. Dari sini diketahui bahwa Imam Qunbul tidak langsung bertemu Imam ibnu Katsir, sanad beliau sampai kepada Ibnu Katsir melalui beberapa perantara yakni beliau mengambil qiroah dari Al-Qowaas dari Wahab bin Waadhih dari Syabal dan al-Qisht,  keduanya dari Imam Ibnu Katsir. Qunbul juga mengambil riwayat qiroah dari Imam al-Bizziy perowi qiroah Imam ibnu Katsir berikutnya. 
2. Al-Bizziy, nama lengkapnya Abul Hasan Ahmad bin Muhammad bin Abdullah. Beliau dilahirkan pada tahun 170 H di Mekkah, dan wafat pada tahun 250 H dalam usia 80 tahun. Maka beliau juga bukan perowi yang bertalaqi langsung kepada Imam ibnu Katsir, tapi sanadnya melalui perantara yaitu dari Ikrimah bin Sulaiman dari Syabal dan al-Qisht, keduanya baru mengambil dari Imam Ibnu Katsir. Maka secara sanad al-Bizziy lebih aliy dari Qunbul. 
Sebagian ulama menyebutkan dalam biografi Imam Syafi’i bahwa beliau qiroahnya adalah qiroah Imam ibnu Katsir, sanadnya mengambil kepada Abdullah bin Qonstantiin dan Syabal, yang keduanya adalah murid Imam ibnu Katsir. Maka dalam hal ini imam Syafi’i sanadnya lebih aliy dibandingkan al-Bizziy dan Qunbul. 
Bagi yang ingin memiliki versi mushaf qiroah Ibnu Katsir dengan riwayat Qunbul dan al-Bizziy bisa didownload disini :

https://ar.islamway.net/book/25513/-10-برواية-البزي-عن-ابن-كثير-وبالهامش-رواية-قنبل

QIROAH SURAT AL BAQOROH AYAT KE-14

May 23, 2017 at 2:27 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

QIROAT SAB’AH AYAT KE-14 SURAT AL BAQOROH
By. Neno Triyono
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
1. Variasi cara baca “آمَنُوا” dan “آمَنَّا” (aamanuu dan aamannaa), dalam ilmu tajwid ini dinamakan dengan mad badal. Qiro’ah sab’ah membacanya dengan panjang 2 harakat.

Namun qiro’ah Naafi’ melalui riwayat Warsy memanjangkannya 2 / 4 / 6 harakat, Jadi bisa dibaca aamanuu / aaaamanuu / aaaaaamanuu menurut madzhab riwayat Warsy dari qiroah Naafi’.

2. Variasi cara baca “خَلَوْا إِلَى” (Kholau ilaa). Qiroah sab’ah membacanya seperti itu “kholau ilaa”.

Akan tetapi qiroah Naafi’ dalam riwayat Warsy membacanya dengan “خَلَوِا اِلَى” (kholawi ilaa).

Dan juga qiroah Hamzah dalam riwayat Kholaf membacanya dengan saktah “kholau” berhenti sebentar untuk saktah baru dilanjutkan “ilaa”. 

3. Variasi cara baca “شَيَاطِينِهِمْ” (Syayaathiinihim), demikian cara baca qiroah sab’ah. Namun dalam qiroah Ibnu Katsiir baik dalam riwayat al-Biziy, maupun Qunbul, huruf mim terakhirnya didhomah sehingga dibaca “شَيَاطِينِهِمُ”  (Syayaathiinihimu).

4. Variasi cara baca “إِنَّا مَعَكُمْ” (innaa ma’akum), demikian cara baca qiro’ah Sab’ah. Namun dalam qiroah Naafi’ dalam riwayat Warsy huruf “mim” pada “ma’akum” didhomah dan dibaca panjang sehingga membacanya menjadi “innaa ma’akumuuuu innmaa..). kemudian dalam qiroah Hamzah dalam riwayat Kholaf membacanya dengan saktah “ma’akum” berhenti sebentar untuk saktah baru dilanjutkan “innamaa..”, dan satu variasi lagi dalam qiroah Ibnu Katsir baik dalam riwayat al-Bizziy maupun Qunbul mendhomahkan hurum “mim”nya sehingga dibaca “innaa maa’kumu innamaa..”.

5. Variasi cara baca “مُسْتَهْزِئُونَ” (mustahziuun), demikian cara baca qiroah sab’ah.

Namun dalam qiroah Hamzah riwayat Kholaf, dibaca dengan menghilangkan hamzahnya, jadi dibaca “مُسْتَهْزُوْنَ” (mustahzuun).
Tanbiih : Al-Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya tidak menyebutkan perbedaan ragam variasi diatas, kemungkin karena memang perbedaannya minor, tidak sampai berpengaruh kepada makna ayat. Wallahul a’lam.
Catatan untuk pelajaran tafsir Ibnu Katsir

ONANI MEMBATALKAN PUASA

May 21, 2017 at 4:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ONANI MEMBATALKAN PUASA
Imam ibnu Hazm dengan tegas dalam kitabnya al-Muhalla mengatakan bahwa onani tidak membatalkan puasa, alasanya tidak ada dalil dari nash al qur’an dan sunah yang mengatakan bahwa onani membatalkan puasa. 
Pendapat Imam ibnu hazm ini bertabrakan dengan pendapat mainstream ulama 4 imam madzhab, yang sepakat bahwa onani bila sampai keluar maninya, maka hal tersebut membatalkan puasanya. Hal ini disebutkan oleh al-‘Alamah Muhammad bin Sholih al-utsaimin dalam kitabnya Asy-Syarah al-Mumti’. Kemudian beliau menyanggah ibnu hazm dengan menyampaikan bahwa terdapat dalil yang menunjukkan onani membatalkan puasa. Menurut penjelasan beliau onani sampai keluar mani membatalkan puasa dari 2 sisi :

1. Terdapat nash yang lafadznya bahwa syahwat itu membatalkan puasa. Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits qudsi dimana Allah berfirman :

ﻳَﺘْﺮُﻙُ ﻃَﻌَﺎﻣَﻪُ ﻭَﺷَﺮَﺍﺑَﻪُ ﻭَﺷَﻬْﻮَﺗَﻪُ ﻣِﻦْ ﺃﺟْﻠِﻲْ

“Dia meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku” (muttafaqun alaih). 

Istidlalnya bahwa onani itu syahwat dan keluar mani juga syahwat. Dalil yang menunjukkan bahwa keluarnya mani dimutlakan sebagai syahwat karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda :

ﻭَﻓِـﻲْ ﺑُﻀْﻊِ ﺃَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ‏» . ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ : ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠّٰـﻪِ ! ﺃَﻳَﺄْﺗِـﻲْ ﺃَﺣَﺪُﻧَﺎ ﺷَﻬْﻮَﺗَﻪُ ﻭَﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻟَﻪُ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﺃَﺟْﺮٌ ؟ ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﺃَﺭَﻳْﺘُﻢْ ﻟَﻮْ ﻭَﺿَﻌَﻬَﺎ ﻓِـﻲ ﺣَﺮَﺍﻡٍ، ﺃَﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭِﺯْﺭٌ ؟ ﻓَﻜَﺬٰﻟِﻚَ ﺇِﺫَﺍ ﻭَﺿَﻌَﻬَﺎ ﻓِـﻲ ﺍﻟْـﺤَﻼَﻝِ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮًﺍ

dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?” Beliau menjawab : “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” [HR. Muslim].

Dan yang dimaksud wadho’a dalam hadits diatas adalah mengeluarkan maninya. 

2. Diqiaskan dengan batalnya puasa karena muntah dan berbekam -menurut sebagian pendapat ulama-. Hikmah batalnya puasa karena muntah dan berbekam adalah dua hal tersebut dapat melemahkan badan yakni ketika keluar makanan akibat muntah atau keluar darah ketika dibekam, maka untuk merecovery tubuh agar kembali kuat, diperlukan asupan makanan. Pun dengan keluar mani, hal tersebut dapat melemahkan badan. 
Yang menarik ibnu hazm memiliki pendapat bahwa perbuatan maksiat yang dilakukan secara sadar pada saat seorang tengah berpuasa itu beliau anggap dapat membatalkan puasa, maka dari sinilah kita tahu bahwa Imam ibnu Hazm berpendapat onani bukan sebuah perbuatan maksiat dan memang beliau berpendapat seperti itu dalam kitabnya al-Muhalla, beliau hanya sampai derajat memakruhkannya saja.

BATAL PUASANYA ORANG YANG SENGAJA BERMAKSIAT PADA SAAT BERPUASA

May 21, 2017 at 4:20 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BATAL PUASANYA ORANG YANG SENGAJA BERBUAT MAKSIAT PADA SAAT BERPUASA
Imam ibnu Hazm memiliki pandangan yang cukup “unik” tatkala beliau menyatakan bahwa batal puasanya bagi orang yang melakukan kemaksiatan dalam kondisi ia sengaja berbuat maksiat dan ia sadar sedang dalam kondisi berpuasa. diantara perbuatan maksiat yang beliau sebutkan sebagai pembatal puasa adalah berdusta, ghibah, adu domba dan selainnya.

beliau berdalil diantaranya dengan hadits Abu Huroiroh radhiyallahu anhu dimana Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersabda :

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ، وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

“’Puasa adalah perisai. Apabila seseorang di antara kamu berpuasa, janganlah berkata kotor/keji (cabul) dan berteriak-teriak. Apabila ada orang yang mencaci makinya atau mengajak bertengkar, katakanlah, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa” (Muttafaqun alaih).

juga hadits Abu Huroiroh radhiyallahu anhu secara marfu’ :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengerjakannya, maka Allâh tidak butuh kepada (puasanya) yang hanya meninggalkan makan dan minumnya” (HR. Bukhori).

dan dalil-dalil sejenisnya.
logika berpikir Imam Ibnu Hazm, sebagaimana yang beliau sebutkan dalam kitabnya al-Muhalla yaitu :

فَصَحَّ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَرْضَى صَوْمَهُ ذَلِكَ وَلَا يَتَقَبَّلُهُ، وَإِذَا لَمْ يَرْضَهُ وَلَا قَبِلَهُ فَهُوَ بَاطِلٌ سَاقِطٌ

“maka telah shahih bahwa Allah Ta’aalaa tidak ridho dan tidak menerima puasa (yang terkontaminasi maksiat), sehingga ketika puasa tersebut tidak diridhoi dan tidak diterima, hal ini menunjukkan bahwa puasanya batal dan telah berguguran”.
Sumber : Al-Muhalla. masalah sengaja bermaksiat pada saat berpuasa

WANITA HAIDH MANDI HAIDH PADA WAKTU SUBUH

May 21, 2017 at 4:19 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WANITA HAIDH TELAH SUCI SEBELUM TERBIT FAJAR SUBUH
Imam ibnu Hazm mengangkat tema pembahasan terkait seorang wanita yang haidh atau nifas yang kemudian ia telah melihat dirinya suci sebelum terbit Fajar subuh. Maka tentu saja wanita tersebut wajib berpuasa pada hari itu. 
Yang unik, imam ibnu hazm sounding kepada kita dalam kitabnya al-Muhalla, bagaimana jika sang wanita tersebut menunda mandi haidhnya sampai waktu terbit Fajar subuh telah tiba. Untuk hal ini selama dia mandi dan kemudian sholat Subuh sebelum waktu subuhnya habis alias sebelum matahari terbit, maka puasanya sempurna, sekalipun tadi sang wanita mandi bersucinya setalah terbit Fajar subuh. 

Namun jika sang wanita sengaja menunda-nunda mandinya sehingga matahari sudah terbit alias waktu sholat subuh telah habis, maka puasanya tidak sah. Alasannya imam ibnu hazm, karena sang wanita telah berbuat maksiat dengan meninggalkan sholat subuh secara sengaja.

ORANG KAFIR MASUK ISLAM PADA PERTENGAHAN RAMADHAN

May 21, 2017 at 4:17 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ORANG KAFIR MASUK ISLAM PADA PERTENGAHAN BULAN RAMADHAN
Para ulama berbeda pendapat terkait hukum mengqodho puasa yang tidak dilakukan oleh seorang mualaf ketika ia masuk islam pada pertengahan Bulan romadhon. Misal ada orang kafir masuk islam pada tanggal 10 romadhon, maka otomatis mulai tanggal 11 romadhon dan seterusnya sang mualaf ini berkewajiban puasa.  Permasalahan yang dibahas para ulama adalah bagaimana dengan status puasanya dari tanggal 1 sampai 10 romadhon, apakah dia wajib menqodhonya? 
Mayoritas ulama mengatakan sang mualaf tidak perlu mengqodho puasa pada tanggal 1-10 romadhon tersebut. Sekalipun memang ada beberapa ulama salaf, seperti Imam Hasan al-bashri dan atho’ yang berpendapat sang mualaf wajib mengqodhonya. 

Namun yang rajih adalah pendapat jumhur ulama, karena memang dari tanggal 1-10 romadhon dalam kasus kita ini, sang mualaf masih kafir yang seandainya ia puasa pada tanggal tersebut, tidak sah puasanya, artinya dia tidak cakap hukum ketika itu untuk berpuasa. 
Kemudian terjadi pembahasan lagi, bagaimana jika si kafir masuk islamnya pada pertengahan siang hari Bulan romadhon. Misalnya ada orang kafir masuk islam pada tanggal 10 romadhon jam 12 siang. Pembahasan para ulama adalah apakah dia wajib berpuasa setelah jam 12 siang sampai menjelang maghrib? 

Sebagian ulama mengatakan dia wajib berpuasa, lalu mengqodho puasa pada tanggal tersebut (karena dari mulai subuh sampai jam 12 siang dalam kasus kita ini, dia tidak berpuasa). Sebagian ulama lain berpendapat dia hanya wajib berpuasa saja, setelah jam 12 siang, tanpa perlu mengqodho. Sebagian lain lagi berpendapat tidak ada kewajiban apapun pada tanggal tersebut, tidak perlu berpuasa, apalagi mengqodhonya. 
Pendapat terakhir dirajihkan oleh Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Muhalla, alasannya karena pada tanggal tersebut, sang mualaf belum memiliki kecakapan hukum untuk berpuasa, mengingat dirinya masih kafir. 
Sumber : maushu’ah masailul jumhuur fiil fiqhil islamiy dan al-Muhalla.

SYARAT I’TIKAF ADALAH DI MASJID JAAMI’

May 21, 2017 at 4:16 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

I’TIKAF DI MASJID JAAMI’
Asy-Syaikh Abdullah alu basam berkata :

“Bahwa syarat i’tikaf adalah di masjid yang diselenggarakan sholat jamaah, berdasarkan Firman Allah : {dan kalian sedang beri’tiaf di masjid-masjid} [QS. al-baqarah ayat 187]. Hal ini bertujuan agar pada waktu beri’tikaf tidak meninggalkan sholat berjamaah atau berulang kali keluar dari tempat i’tikaf (untuk sholat berjamaah, jika tempat i’tikafnya bukan di masjid jaami’ -pent.)”.
Taisir al-‘Alaam (syarah hadits no.  203).

ANAK MEMBAYARKAN HUTANG PUASA ORANG TUANYA YANG SUDAH WAFAT

May 21, 2017 at 4:15 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ANAK MEMBAYARKAN HUTANG PUASA ORANG TUANYA YANG KEBURU WAFAT
madzhab Ahli hadits berpendapat seorang wali dalam hal ini ahli warisnya disyariatkan membayar hutang puasa orang tuanya misalnya, yangmana orang tuanya belum sempat menunaikan puasa tersebut karena keburu meninggal dunia. Ahli hadits tidak membedakan apakah hutang puasa tersebut adalah puasa nadzar atau puasa yang diwajibkan syariat (puasa Ramadhan).

Dalilnya adalah hadits Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang meningal dunia dan ia masih punya tanggungan puasa, maka walinya membayarkan puasa atas namanya” (Muttafaqun alaih). 
Asy-Syaikh Alu Basam menyebutkan tiga pendapat ulama dalam menyikapi hadits diatas dan beliau condong kepada madzhab ahli hadits sebagaimana diatas. 

(Taisir al-‘Alaam, syarah hadits no. 187).

SUBUH MASIH JUNUB PADA BULAN RAMADHAN

May 21, 2017 at 4:14 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SUBUH MASIH JUNUB PADA BULAN ROMADHON
Madzhab fiqih mayoritas ulama jika anda berhubungan badan dan ternyata sudah masuk waktu Fajar (subuh) belum sempat mandi junub, maka segera mandi untuk sholat Subuh dan puasanya tetap sah tidak perlu diqodho. 

Dalilnya hadits Aisyah dan Ummu Salamah radhiyallahu anhuma :

“Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah masih dalam kondisi junub pada saat waktu subuh sudah tiba, kemudian Beliau mandi dan tetap berpuasa” (muttafaqun alaih) 
Quote min Taisir al-‘Alaam, Kitab ash-Shaum (hadits no.  178)

HUKUM KHITAN BAGI WANITA

May 21, 2017 at 4:12 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM KHITAN BAGI WANITA
Asy-Syaikh Abdullah Alu basam berkata :

“…para ulama berselisih pendapat terkait masalah khitan, apakah hukumnya sekedar sunnah atau wajib? Kemudian pada umur berapa seseorang wajib berkhitan? Dan apakah wajib juga bagi laki-laki dan wanita? Atau hanya wajb bagi laki-laki saja?

Pendapat yang rajih dari perselisihan diatas adalah khitan hukumnya wajib, namun yang wajib hanya kepada laki-laki saja, tidak kepada para wanita. Adapun waktu yang wajib untuk melaksanakannya adalah (maksimal) ketika sudah baligh, yang mana ia sudah wajib untuk bersuci dan sholat.. “.
Quote min Taisir al-‘Alaam Syarah ‘Umadat al-Ahkaam, Kitab ath-Thoharoh, bab bayaan Ahkaam al-Khitaan.. (Hadits no. 27)

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: