HADITS YANG DIDIAMKAN IMAM ABU DAWUD DALAM SUNANNYA

May 7, 2017 at 4:51 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

STATUS HADITS YANG DIDIAMKAN OLEH IMAM ABU DAWUD 

DALAM KITAB SUNANNYA
By. Neno Triyono
Telah masyhur perkataan Imam Abu Dawud dalam sebuah surat yang beliau tulis untuk ulama penduduk Mekkah, ketika mereka meminta penjelasan terkait Kitab as-Sunan yang beliau susun, terkait dengan masalah status hadits-hadits yang beliau tampilkan dalam kitabnya, beliau berkata :

وَمَا كَانَ فِي كتابي من حَدِيث فِيهِ وَهن شَدِيد فقد بَينته وَمِنْه مَالا يَصح سَنَده مَا لم أذكر فِيهِ شَيْئا فَهُوَ صَالح وَبَعضهَا أصح من بعض

“apa yang terdapat dalam kitabku ini hadits yang sangat lemah, maka aku akan menjelaskannya, diantaranya ada hadits yang tidak shahih sanadnya, *sedangkan apa yang tidak aku sebutkan (penilaian) apapun, maka hadits tersebut sholih*, sebagiannya lebih kuat dari sebagian lainnya” (Ar-Risalah hal.27).
Imam al-Albani dalam kitabnya “Tamaamul Minnah”, beliau memberikan mukadimah ilmiyyah dengan menyebutkan beberapa kaedah yang berkaitan dengan ilmu hadits dan fiqih hadits, ada 15 buah kaedah, dan pada kaedah yang ketujuh (ke-7) yang akan menjadi pembahasan kita, beliau berkata :

عدم الاعتماد على سكوت أبي داود

“tidak bersandar (dalam menentukan status hadits-pent.) kepada diamnya Imam Abu Dawud”.
Yang dimaksud oleh Imam Al Albani adalah penjelasan Imam Abu Dawud dalam risalahnya diatas, tatkala beliau menyampaikan bahwa hadits-hadits yang aku tidak memberinya komentar apapun, alias beliau diamkan, maka statusnya adalah *sholih*. Yang menjadi perbincangan dikalangan ulama ahli hadits adalah apakah yang dimaksud dengan hadits sholih tersebut?
Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan di kitab-kitab ilmu hadits, saya mendapatkan kesimpulan sebagai berikut :

1. Yang dimaksud adalah shahih, karena madzabnya Imam Abu Dawud masih seperti madzhab ulama hadits sebelumnya, yang hanya membagi hadits dari sisi diterima tidaknya menjadi Shahih dan dhoif. Hanya saja hadits yang *Sholih* tersebut tingkat keshahihannya berbeda satu sama lainnya. Yang menunjukkan makna ini adalah perkataan Imam Abu Dawud setelah menyebutkan bahwa “itu adalah hadits Sholih, sebagiannya lebih (shahih) dibandingkan lainnya”, ini yang disampaikan oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Roosyid, sebagaimana dinukil oleh al-‘Alamah Ibrohim bin Musa al-Qoohiriy dalam kitabnya “Asy-Syadzaa al-Fiyaah” (1/116).

2. Yang dimaksud adalah hadits hasan, ini adalah pendapatnya Imam Ibnu Sholah dalam “Mukadimah Ibnu Sholah” (hal. 36). Beliau berpendapat jika hadits yang didiamkan tersebut tidak terdapat dalam Shahihain, dan juga tidak ada penilaian ulama terhadap keshahihan hadits yang didiamkan ini, maka berarti haditsnya Hasan menurut Imam Abu Dawud. Imam Nawawi dalam “at-Taqriib wa at-Taisiir” (hal. 30) juga sependapat dengan Imam Ibnu Sholah, namun beliau menambahkan jika tidak ada ulama pakar hadits yang mendhoifkan hadits yang didiamkan tersebut. Bahkan Imam Ibnu Katsir dalam “al-Baa’itsu al-Hatsiits” (hal. 41) mengatakan ada riwayat bahwa Imam Abu Dawud berkata :

وما سكت عنه هو حسن

“hadits yang aku diamkan, maka itu adalah hasan”.

3. Sholih (layak) lil ihtijaaj (digunakan untuk berhujjah), jadi seolah-olah Imam Abu Dawud berisyarat bahwa derajat haditsnya tidak bisa dikatakan shahih, karena perowinya tidak sampai derajat shahih, namun juga bukan hadits yang dhoif. Oleh karena itu pendapat ini sebenarnya mirip dengan pendapat yang kedua, bahwa itu adalah hadits hasan, namun karena madzhab Imam Abu Dawud membagi hadits hanya shahih dan dhoif, sedangkan yang hadits yang sholih tersebut derajatnya ada di pertengahan, maka dalam rangka kehati-hatian, beliau menilai hadits tersebut adalah sholih bukan shohih. Ini yang saya tangkap dari penjelasan Al-Hafidz al-‘Irooqiy dalam kitabnya “at-Taqyiid wa al-Iidhooh” (hal. 53).

4. Itu adalah lebih umum mencakup juga didalamnya hadits yang shohih, hasan lidzatihi, hasan lighoirihi dan hadits dhoif yang belum disepakati untuk ditinggalkan oleh para ulama, karena madzhabnya Imam Abu Dawud, seperti madzhab gurunya, yakni Imam Ahmad yang lebih mendahulukan hadits dhoif dibandingkan dengan pendapat seseorang. Ini adalah penjelasannya al-Qoodhi ‘Iyaadh, yang dinukil oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “an-Nukaat ‘alaa Kitaab ibni Shoolaah” (1/146).
Pendapat yang keempat inilah yang rajih, dirajihkan oleh al-Qoodhi ‘Iyaad dan disetujui oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar. Kemudian berdasarkan pendapat yang rajih inilah, Imam Al-Albani mengangkat sebuah kaedah ilmiyyah yang sangat bagus untuk tidak pasrah dalam menentukan status hadits dengan diamnya Imam Abu Dawud dalam kitabnya, dengan langsung menganggapnya sebagai hadits yang sholih, yang dapat segera dipahami bahwa itu adalah layak untuk dijadikan hujjah. Al-Qodhi ‘Iyaadh dan Imam Al-Albani telah melakukan penelitian terhadap hadits-hadits yang didiamkan oleh Imam Abu Dawud dan kesimpulannya ternyata ada hadits-hadits yang faktanya diriwayatkan oleh sejumlah perowi dhoif, mudallis, majhul, mubham, sanadnya terputus, bahkan ada beberapa perowi yang dinilai matruk, yang kesemuanya ini sangat jelas bagi ulama pengkaji hadits, bahwa hadits tersebut tidak mungkin dinilai hasan, apalagi shahih.
Kemudian dari sini timbul pertanyaan, jika ada beberapa hadits yang didiamkan oleh Imam Abu Dawud, ternyata haditsnya dhoif, mengapa Imam Abu Dawud tidak menjelaskannya?, maka Imam Nawawi telah mewakili Imam Abu Dawud untuk menjawabnya, kata beliau :

بِأَنَّهُ ترك التَّنْصِيص على ضعف ذَلِك لظُهُوره

“bahwasanya Imam Abu Dawud tidak mengomentari (beberapa hadits yang didiamkan tersebut –pent.) sebagai hadits dhoif, karena sudah sangat jelas” (dinukil dalam kitab “al-Muqni’ fii ‘Uluumil Hadits, li ibni Mulaaqoon (1/99)).
Maksud Imam Nawawi, hadits tersebut sudah jelas kedhoifannya bagi para pengkaji hadits, sehingga Imam Abu Dawud tidak perlu lagi mengomentarinya.
*Kesimpulannya : tetap saja kita perlu meneliti hadits-hadits yang didiamkan oleh Imam Abu Dawud dalam sunannya, jangan langsung tergesa-gesa menghukumi hadits tersebut shahih atau hasan, hanya karena berpegang dengan ucapan Imam Abu Dawud, bahwa jika dirinya diam, berarti haditsnya layak dijadikan hujjah.*
Jazakumullah khoir atas usaha para ulama hadits dalam memberikan penjelasan kepada kita status-status hadits yang terdapat dalam kitab-kitab hadits, khususnya Sunan Abu Dawud yang menjadi tema artikel ini. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang luas kepada kita dan para ulama kita serta kaum Muslimin seluruhnya. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: