REFERENSI KAJIAN ILMU NAHWU

May 8, 2017 at 2:39 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

REFERENSI KAJIAN ILMU NAHWU
Sebagaimana diketahui ilmu nahwu adalah salah satu cabang dari bahasa arab. Karenanya tentu kajiannya adalah terkait dengan budaya dan penggunaan bahasa yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Namun tentunya tidak semua penggunaan bahasa arab pada setiap zaman dapat dijadikan referensi dalam kajian ilmu nahwu, apalagi pada zaman-zaman sekarang dimana tingkat kefashihan penggunaan bahasa arab sudah menjadi sesuatu yang asing dan hanya beberapa persen masyarakat yang bahasa ibunya menggunakan bahasa arab, masih menjaga keontetikannya. 
Asy-Syaikh Muhammad ash-Shoghiir dalam kitabnya “Al-Hullal adz-Dzahabiyyah ‘alaa Tuhfatus Tsaniyyah” (hal. 19-20) menyebutkan bahwa yang dijadikan referensi dalam kajian nahwu ada dua jenis yaitu syair dan non syair. Kemudian beliau menyebutkan bahwa syair itu ada 4 tingkatan ditinjau dari zamannya :

1. Syair-Syair Jahiliyyah, sebelum islam datang. Seperti syairnya imroul qois. 

2. Syairnya al-Mukhodromuun, yakni orang-orang yang hidup pada zaman jahiliyyah dan islam, seperti syairnya Lubaid. 

3. Syairnya al-Mutaqodimun atau islamiyyun, yakni para penyair yang hidup pada saat islam tersebar oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, contoh penyairnya adalah Jariir. 

4. Syairnya al-Muwaladuun, yakni generasi penyair setelah al-Mutaqodimiin sampai zaman kita sekarang, misalnya syair-syairnya Abu Nawas. 
Kemudian kata asy-syaikh,  2 generasi pertama, syair-syairnya dijadikan acuan, berdasarkan kesepakatan ahli bahasa. Adapun generasi ketiga, maka yang rajih tetap dijadikan acuan, sedangkan generasi keempat, mereka sepakat tidak menjadikannya sebagai referensi. 
Adapun selain syair, maka yang dijadikan referensi adalah Firman Allah dalam Al Qur’an, baik yang qiro’ahnya mutawatir maupun yang syadz-nya. Kemudian hadits-hadits Nabi, sekalipun disana terjadi perselisihan dikalangan ulama, mengingat terkadang hadits nabi diriwayatkan secara makna, sehingga dikhawatirkan terjadi perubahan dari lafadz aslinya yang masih fasih. Namun asy-syaikh merajihkan hadits Nabi dapat dijadikan acuan, yang kalau seandainya diriwayatkan secara makna, maka perubahannya dilakukan oleh orang-orang generasi awal yang bahasa arabnya belum mengalami kerusakan. 
_catatan untuk kajian nahwu_

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: