HIBAH ORANG TUA SEBAGAI WARISAN

May 21, 2017 at 12:01 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HIBAH ORANG TUA KEPADA ANAK SEWAKTU MASIH HIDUP DAPAT DIANGGAP SEBAGAI WARISAN
Hibah adalah memberikan Harta benda yang dimilikinya kepada orang lain yang dikehendakinya. Terkadang orang tua semasa hidupnya menghibahkan sebagian Harta bendanya kepada anak-anaknya. Ketika orang tua ingin menghibahkan hartanya kepada anaknya, maka yang terbaik tentunya harus dibagi adil kepada anak-anaknya baik yang laki-laki maupun perempuan. 
Para ulama berbeda pendapat apakah pembagian adil ini menjadi syarat sahnya hibah atau tidak? Imam Ahmad, imam bukhori, ishaq bin rohawaih dan sejumlah ulama mewajibkan sang orang tua harus membagi adil hibahnya kepada semua anak-anaknya, sedangkan jumhur ulama hanya sekedar mengaburkan saja. Namun dengan pertimbangan kemaslahatan dan keadilan, maka pendapat pertama lebih sesuai. Mereka mengatakan hibah yang tidak adil, tidak sah dan ketika orang tuanya wafat, maka diperhitungkan sebagai Harta peninggalan yang diwariskan. 
Kompilasi hukum islam yang dijadikan pedoman dalam hukum acara pengadilan agama, agaknya mendukung pendapat yang kami rajihkan. Dalam pasal 211 KHI berbunyi :

“*Hibah dari orang tua kepada anaknya dapat diperhitungkan sebagai warisan.*”

Unsur keadilan dan menghindari kemudhorotan antar sesama keluarga, kelihatannya menjadi dasar dari semangat pasal 211 ini, sehingga para anak tidak meributkan pembagian warisan, setelah orang tuanya wafat. 
Yang menjadi dasar bahwa hibah harus adil, diantaranya hadits muttafaqun alaih, ketika Nu’man bin Basyiir menghibahkan sebagian hartanya kepada sebagian anaknya, ketika Rasulullah diminta menjadi saksi atas pembagian itu, Beliau bertanya kepada Nu’man radhiyallahu anhu : “apakah engkau berhibah kepada seluruh anakmu?”, dijawab oleh Nu’man : “tidak (semua kuberi)”, maka Nabi bersabda : “bertakwalah kepada Allah, berlaku adillah kepada seluruh anakmu”.

Dalam riwayat Muslim, terdapat perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam untuk membatalkan hibah tersebut, sehingga Nu’man pun mengambil kembali hibahnya. Berdasarkan hal inilah sebagaian ulama mengatakan hibah yang tidak adil hukumnya batal dan dianggap sebagai Harta peninggalan warisan setelah orang tuanya wafat. Pasal 212 KHI pun sudah mengisyaratkan akan hal ini :

“Hibah tidak dapat ditarik kembali, kecuali hibah orang tua kepada anaknya.”
KHI kelihatannya sangat konsen dalam masalah hibah ini terkait dengan warisan, sehingga KHI hanya memperbolehkan seseorang menghibahkan hartanya kepada orang lain maksimal sepertiga dari hartanya (pasal 210), bahkan ketika seseorang ingin menghibahkan hartanya pada saat dalam kondisi sakit keras, yang dikhawatirkan membawa kepada ajalnya, maka hibah yang diberikan harus sepertujuan ahli waris (pasal 213).
Masih ada beberapa hal dalam KHI yang tidak lazim dalam pembahasan fiqih yang perlu kita ketahui, insya Allah pada kesempatan mendatang penjelasannya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: