WARISAN DIBAGI RATA

May 21, 2017 at 12:02 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

WARISAN DIBAGI RATA
Ada pertanyaan yang masuk, bagaimana ketika anggota keluarga alias ahli waris ingin pembagiannya dilakukan sama rata, tanpa memandang laki-laki atau perempuan? 
Tentunya yang perlu diketahui bahwa syariat islam telah mengatur pembagian warisan dengan seadil-adilnya. Ketika mendapatkan kasus seperti ini maka perlu dilakukan edukasi kepada anggota keluarga yang menolak pembagian misalnya laki-laki berbanding 2 orang perempuan. Edukasi bisa dengan mengundang ahli ilmu yang paham tentang hukum warisan dan pembagiannya. 
Jika cara ini sudah ditempuh, namun masih belum menghasilkan kepuasan dari pihak yang menolak, maka kasusnya bisa diajukan kepada pengadilan agama. Namun tentunya cara-cara kekeluargaan itu layak diutamakan terlebih dahulu, jangan sampai ada keributan yang menyebabkan putus tali silaturahmi gara-gara masalah warisan. 
Nah yang unik, dalam kompilasi hukum islam ditawarkan sebuah solusi yang aplikatif untuk mengatasi problem diatas. Ketentuan ini terletak pada pasal 183 KHI yang berbunyi :

*Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagian harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya.*
Dasar pemikiran dari pasal 183 adalah kemaslahatan yang hendak diraih sebagaimana penjelasan kami diawal tadi. Konsep ini adalah buah pikiran dari ulama hanafiyyah yang mereka melahirkan sebuah ide yang disebut dengan takhoruj, yakni salah satu atau masing-masing ahli waris keluar dari pembagian warisan sesuai dengan jatah yang seharusnya diterima. Konsep ini untuk menjawab sebuah kebutuhan dimana misalnya ada salah satu ahli waris yang kebetulan ia adalah pihak yang sangat membutuhkan. Misalnya dalam sebuah keluarga ada seorang anak yang belum punya rumah dan kebetulan sang bapak hanya mewariskan satu unit rumah, sedangkan saudara-saudaranya yang lain sudah diberikan kelebihan ekonomi sehingga sudah memiliki rumah dari hasil rizkinya. Maka dalam hal ini saudaranya yang sudah berkecukupan tadi merelakan bagiannya untuk saudaranya yang belum punya rumah. 
Oleh karena itu pasal 183 diatas dapat menjawab kebutuhan akan hal itu. Jika ingin “soft” dalam mengaplikasikan pasal 183, dapat ditempuh dengan cara Harta warisan dibagikan sesuai ketentuan syariat, baru setelah itu  pihak ahli waris lainnya melepaskan haknya kepada ahli waris yang membutuhkan. 

Sekalipun memang dalam pasal 183 ini tidak ada larangan juga untuk menyepakati bagian warisan masing-masing diluar ketentuan syariah atas dasar keridhoan satu sama lainnya. Yang ditekankan disini masing-masing ahli waris sudah mengetahui bagiannya masing-masing sesuai ketentuan syariah, namun kemudian konsep takhoruj dipakai demi sebuah kemasalahatan yang disepakati bersama.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: