PENEGAKKAN DAULAH ISLAM TIDAK HARUS MENUNGGU KELUARNYA IMAM MAHDI

June 29, 2017 at 2:05 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AL-ALBANI : PENEGAKKAN DAULAH ISLAM TIDAK HARUS MENUNGGU KELUARNYA IMAM MAHDI
Dalam kitabnya “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (juz 4 hal. 42-43) asy-syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -Rahimahullah- berkata :

“Ketahuilah wahai saudaraku yang mulia, kebanyakan kaum muslimin pada hari ini telah melenceng dari kebenaran, terkait tema ini (penegakkan daulah islamiyah). Diantara mereka ada yang berkeyakinan dalam dirinya bahwa daulah islamiyyah tidak akan tegak, kecuali dengan keluarnya Imam Mahdi. Ini adalah khurafat dan kesesatan yang dilemparkan oleh setan di hati orang-orang awam, khususnya orang-orang sufi. Akan tetapi yang sebenarnya tidak ada didalam hadits-hadits tentang Imam Mahdi yang mengisyaratkan hal ini secara mutlak. Semua hadits hanyalah memberitakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada kaum Muslimin bahwa nanti akan datang seorang laki-laki dari ahli baitnya lalu mensifatinya dengan sifat yang sangat jelas, point pentingnya adalah menegakkan syariat Islam dan menyebarkan keadilan di tengah-tengah masyarakat. 
Akan tetapi pada hakikatnya Imam Mahdi ini adalah termasuk mujadid (pembaharu) yang Allah utus tiap penghujung seratus tahun,  sebagaimana telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sehingga berdasarkan hal tersebut tidak selayaknya meninggalkan berjalan dibelakang para penuntut ilmu untuk memperbaharui agama. Demikian juga keluarnya Imam Mahdi, tidak berkonsekuensi untuk pasrah kepadanya dan meninggalkan persiapan menegakkan hukum Islam dimuka bumi. Bahkan dengan melakukan kebalikannya (yakni mempersiapkan penegakkan syariat Islam-pent.) itulah yang benar….”.

Advertisements

LAFADZ SAYYIDINAA DALAM SHOLAWAT

June 28, 2017 at 1:07 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LAFADZ SAYYIDINA DALAM SHOLAWAT
Asy-Syaikh Al-Albani punya informasi yang langka dalam kitabnya “Sifat Sholat Nabi” (hal. 172-175, cet. Maktabah al-Ma’arif cetakan kedua tahun 1417 H) terkait jawaban al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani yang didokumentasikan oleh salah seorang muridnya yang bernama al-Hafidz Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghoroobiily (790 – 835 H). Informasi ini dibilang langka, karena dokumentasinya masih dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip) yang Imam Al-Albani dapat di Perpustakaan adh-Dhohiriyyah. 
Berikut terjemahan (saya ringkas) dari teks yang terdapat di buku sifat sholat nabi :

(Al-Hafidz al-Ghoroibiiliy berkata), “al-Hafidz Ibnu Hajar ditanya tentang sifat sholawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam baik ketika sholat maupun diluar sholat, baik dikatakan wajib atau sunah. Apakah dipersyaratkan padanya untuk mensifatinya dengan syiyaadah, yakni misalnya membaca sholawat : “Allahumma sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad atau….?  Atau cukup dengan mengucapkan : “Allahumma sholli ‘alaa Muhammad”. Mana diantara keduanya yang lebih afdhol? Apakah menambahkan lafadz-lafadz “sayyidinaa”, karena memang sifat yang tetap bagi Beliau atau tidak menambahkannya karena tidak didapati tambahan tersebut dalam hadits-hadits (yang shahih)?
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjawab : 

“Mengikuti lafadz-lafadz yang datang dalam riwayat adalah lebih utama. Tidak tepat dikatakan, barangkali Beliau sengaja meninggalkannya karena tawadhu’, sebagaimana Beliau tidak mengucapkan sholawat, tatkala namanya disebut. Kami katakan, seandainya tambahan tersebut benar, niscaya akan datang dari sahabat dan juga Tabi’in, akan tetapi kami tidak mendapatkan satupun atsar dari salah seorang sahabat maupun tabi’in yang mengatakan demikian. Padahal banyak atsar yang dinukil dari mereka dalam masalah lafadz sholawat. Imam Syafi’i -beliau termasuk orang yang paling mengagungkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam – berkata dalam khutbah (mukadimah) kitabnya, dimana kitab tersebut adalah rujukan dalam madzhabnya : Allahumma sholli ‘alaa Muhammad… ” (tanpa tambahan Sayyidinaa)….”
Kemudian Al-Hafidz menukil apa yang dilakukan al-Qodhi ‘Iyaadh yang telah membuat kitab khusus tentang sholawat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berjudul “asy-Syifa'”, dimana beliau menulis didalamnya atsar dari sejumlah sahabat dan tabi’in tentang berbagai macam lafadz sholawat, namun tidak ada sama sekali penyebutan tambahan “Sayyidinaa”. Kemudian Al-Hafidz menyebutkan beberapa contoh atsar tersebut dari beberapa sahabat. 
Kemudian asy-syaikh Al-Albani mengomentari fatwa Al-Hafidz Ibnu Hajar dengan mengatakan :

“Pendapat yang dipegangi Al-Hafidz yakni tidak disyariatkannya menambahkan lafadz “Sayyidinaa” dalam sholawat atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah dalam rangka ittiba kepada Rasulullah. Hal ini adalah pilihan madzhab Hanafiyyah… “.

LUPA SUJUD SAHWI

June 28, 2017 at 1:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LUPA SUJUD SAHWI
Tulisan ini kelanjutan dari permasalahan terkait hukum sujud sahwi. Bagi yang mengambil pendapat sujud sahwi hukumnya sunnah, maka tidak ada masalah bagi orang yang lupa untuk sujud sahwi, sekalipun jika ingatnya dalam waktu dekat, para ulama sepakat agar dia segera sujud sahwi. 
Adapun jika baru ingatnya setelah waktu yang lama, maka para ulama berselisih pendapat, ada yang mengatakan batal sholatnya, sehingga harus direstart kembali sholatnya, ada juga yang membagi apakah sujudnya sebelum salam atau setelahnya. Kalau sebelum maka wajib segera sujud sahwi, sekalipun selang waktunya lama. Ada juga yang mengatakan jika selang waktunya lama, maka gugur sujud sahwinya. 
Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu dianggap lama, sebagian ulama mengatakan batasannya adalah setelah dia keluar dari masjid, sedangkan ulama lainnya lagi mengatakan dikembalikan kepada urf (kebiasaan).
Namun kalau kita mau mengambil madzhab ikhtiyath (hati-hati), maka segeralah ia sujud sahwi, sekalipun baru ingat setelah sampai di rumah atau dalam waktu lama. Al-‘Alamah bin Baz dalam fatwanya menjawab :

ﻓﺈﻥ ﻧﺴﻲ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻓﺼﻼﺗﻪ ﺻﺤﻴﺤﺔ، ﻷﻧﻪ ﻧﺴﻲ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺴﻬﻮ، ﻓﺼﻼﺗﻪ ﺻﺤﻴﺤﺔ، ﻟﻜﻦ ﻣﺘﻰ ﺫﻛﺮ، ﺳﺠﺪ ﺳﺠﺪﺗﻲ ﺍﻟﺴﻬﻮ،ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ، ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﻃﺎﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺳﻘﻄﺖ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﺣﻮﻁ ﻭﺍﻷﻭﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻣﺘﻰ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﻭﻟﻮ ﻃﺎﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺳﺠﺪ ﺳﺠﺪﺗﻴﻦ ﺑﻨﻴﺔ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ 

“…Jika ia lupa sujud sahwi, maka sholatnya tetap sah, karena yang lupa cuma sujud sahwinya saja, namun kapan saja ia ingat, segera ia sujud sahwi, baik ingatnya masih didalam masjid, maupun di rumah. Sebagian ulama mengatakan kalau selang waktunya sudah lama, maka gugurlah sujud sahwinya. Namun *yang lebih hati-hati, dan lebih utama adalah kapan saja ia ingat, sekalipun waktunya lama, ia segera sujud dua kali dengan niat sahwi, baik masih didalam masjid atau di rumah*. (http://www.binbaz.org.sa/noor/6452).
Pendapat asy-syaikh bin Baz adalah pilihannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “al-Ikhtiyaaroot” (hal.94). 

Lihat : https://islamqa.info/ar/257

SYARAT-SYARAT MUFTI

June 28, 2017 at 1:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SYARAT-SYARAT SEORANG MUFTI
Imam Utsman bin Abdur Rahman atau yang lebih dikenal dengan Imam ibnu Sholaah telah menulis sebuah buku khusus tentang masalah mufti dan orang yang minta fatwa. Pembahasan tentang fatwa, mufti dan hal terkait lainnya sudah ditulis oleh para ulama dalam buku-buku ushul fiqih. 
Imam ibnu Sholah dalam bukunya yang berjudul “أدب المفتي والمستفتي” membagi mufti menjadi dua, mufti mustaqil (independen) dan mufti ghoiru mustaqil. Pertama kali beliau menyebutkan syarat-syarat mufti secara umum, sebagai berikut :

1. muslim; 

2. Mukallaf (sudah baligh); 

3. Terpecaya dan amanah; 

4. Bersih dari kefasikan dan hal-hal yang menjatuhkan kehormatannya; 

5. Seorang yang Faqih, bersih pemahamannya dan ahli dalam mengambil istimbat hukum. 
Kemudian beliau menyebutkan syarat khusus untuk mufti mustaqil, sebagai berikut :

1. Pakar dalam hukum-hukum syariah dari Kitab, Sunah, Ijma, dan qiyas. 

2. Pakar dalam persyaratan mengambil dalil-dalil syariah, bagaimana menyimpulkan hukumnya yang semua itu dengan memanfaatkan buku-buku ushul fiqih; 

3. Pakar dalam ilmu al-qur’an, ilmu hadits, ilmu nasikh Wal mansukh, ilmu nahwu dan bahasa, serta mengetahui perbedaan ulama dan kesepakatan mereka; 

4. Pakar dalam fiqih dan kaedahnya. 
Yang bisa memenuhi persyaratan tersebut adalah seorang mujtahid mutlak.

HUKUM SUJUD SAHWI

June 27, 2017 at 4:46 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM SUJUD SAHWI
Para ulama bersepakat bahwa sujud sahwi itu disyariatkan, namun mereka berbeda pendapat dalam masalah hukum taklifinya menjadi dua madzhab :

1. Wajib, ini adalah pendapat resminya Hanafiyyin, sekalipun sebagian ulama mereka ada yang mengatakan hukumnya sekedar sunnah. Asy-Syaikh Muhammad bin Firoomuriz atau yang lebih masyhur dengan sebutan Mulaa Khusruu (w. 885 H) dalam kitabnya “درر الحكام شرح غرر الأحكام” (1/150) berkata :

(بَابُ سُجُودِ السَّهْوِ وَالشَّكِّ) (يَجِبُ) أَيْ سُجُودُ السَّهْوِ، وَقِيلَ يُسَنُّ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ

“Sujud Sahwi itu hukumnya wajib. Ada yang mengatakan hukumnya sunnah. Namun yang benar adalah pendapat pertama (yaitu wajib).

Kemudian asy-Syaikh Hasan bin ‘Aamar asy-Syurunbulaaliy (w. 1069 H) memberikan hasyiyah (catatan kaki, yang dicetak bersama denan kitab diatas) bahwa ulama Hanafi yang mengatakan hukumnya sunnah adalah Imam Abul Husain al-Quduuriy (w. 428 H). sedangkan pembesar ulama hanafiyyah lainnya memilih pendapat yang mewajibkannya.
Adapun madzhab Maliki, maka terjadi khilaf dikalangan mereka, ada yang mengatakan bahwa sujud sahwi sebelum salam wajib hukumnya, adapun setelah salam, maka tidak ada perselisihan pendapat dikalangan mereka bahwa hukumnya tidak wajib alias sunnah. Asy-Syaikh al-Khithoob ar-Ru’ainiy al-Malikiy (w. 954 H)dalam kitabnya “مواهب الجليل في شرح مختصر خليل” (2/14) berkata : 

وَفِي وُجُوبِهِمَا قَوْلَانِ قَالَ فِي التَّوْضِيحِ أَطْلَقَ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – الْخِلَافَ فِي وُجُوبِهِمَا وَالْخِلَافُ إنَّمَا هُوَ فِي الْقَبْلِيِّ وَأَمَّا الْبَعْدِيُّ فَلَا خِلَافَ فِي عَدَمِ وُجُوبِهِ

“terkait wajibnya ada dua pendapat. Penulis at-Taudhiih memutlakkan perselisihan tentang kewajibannya hanya pada sujud sahwi sebelum salam, adapun sesudah salam, maka tidak ada perselisihan bahwa hukumnya tidak wajib”.
Adapun madzhab Hanbali mereka merinci hukumnya menjadi tiga. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad as-Salmaan (w. 1422 H) dalam kitab fiqih yang disusun dengan bentuk tanya jawab “الأسئلة والأجوبة الفقهية” (1/139 – 140) menjelaskan perinciannya tersebut :

يسن إذا أتى بقول مشروع في غير محله، لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: «إذا نسي أحدكم فليسجد سجدتين» رواه مسلم. ويباح إذا ترك مسنونًا سهوًا كان من عزمه أن يأتي به ولا يسن؛ لأنه لا يمكن التحرز منه، ويجب إذا زاد ركوعًا أو سجودًا أو قيامًا أو قعودًا، 

“disunahkan jika ia berdzikir bukan pada tempat yang seharusnya, karena keumuman sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam : “jika kalian lupa, maka sujudlah dengan dua kali sujud” (HR. Muslim).

Hukumnya mubah, jika lupa meninggalkan sunah-sunah sholat yang sebelumnya ia sudah bertekad untuk mengerjakannya, karena tidak mungkin untuk dihindari.

Dan menjadi wajib jika ia menambahi ruku’, sujud, berdiri atau duduk..” –selesai-.

Dalam hal ini, hanabilah mendatangkan hukum yang ketiga yaitu mubah.
Adapun Imam ibnu Hazm (w. 456 H) dalam kitabnya “المحلى بالآثار” (3/76) merinci amalan sholat menjadi dua terkait masalah sujud sahwi, sebagai berikut :

قَالَ عَلِيٌّ: وَبُرْهَانُ صِحَّةِ قَوْلِنَا هُوَ أَنَّ أَعْمَالَ الصَّلَاةِ قِسْمَانِ – بِيَقِينٍ لَا شَكَّ فِيهِ – لَا ثَالِثَ لَهُمَا -: إمَّا فَرْضٌ، يَعْصِي مَنْ تَرَكَهُ، وَإِمَّا غَيْرُ فَرْضٍ، فَلَا يَعْصِي مَنْ تَرَكَهُ فَمَا كَانَ غَيْرَ فَرْضٍ فَهُوَ مُبَاحٌ فِعْلُهُ، وَمُبَاحٌ تَرْكُهُ وَإِنْ كَانَ بَعْضُهُ مَنْدُوبًا إلَيْهِ مَكْرُوهًا تَرْكُهُ.

فَمَا كَانَ مُبَاحًا تَرْكُهُ فَلَا يَجُوزُ أَنْ يَلْزَمَ حُكْمًا فِي تَرْكِ أَمْرٍ أَبَاحَ اللَّهُ تَعَالَى تَرْكَهُ، فَيَكُونَ فَاعِلُ ذَلِكَ شَارِعًا مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ تَعَالَى؟ وَأَمَّا الْفَرْضُ – وَهُوَ الْقِسْمُ الثَّانِي – وَهُوَ الَّذِي تَبْطُلُ الصَّلَاةُ بِتَعَمُّدِ تَرْكِهِ وَلَا تَبْطُلُ بِالسَّهْوِ فِيهِ، لِقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ وَلَكِنْ مَا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ} [الأحزاب: 5] .

فَإِذْ الصَّلَاةُ لَا تَبْطُلُ بِالسَّهْوِ فِيهِ وَكَانَ سَهْوًا، فَفِيهِ سُجُودُ السَّهْوِ، إذْ لَمْ يَبْقَ غَيْرُهُ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُخَصَّ بَعْضُهُ بِالسُّجُودِ دُونَ بَعْضٍ – وَبِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ.

“Ali berkata, dalil sahihnya pendapat kami adalah amalan sholat itu ada dua jenis –tidak ragu lagi, dan tidak ada jenis yang ketiga-, yaitu : (pertama) amalan wajib dimana orang yang meninggalkannya berarti berbuat maksiat, dan (yang kedua) tidak wajib, dimana orang yang meninggalkannya dianggap tidak bermaksiat . maka amalan yang tidak wajib boleh dikerjakan dan boleh ditinggalkan, sekalipun sebagian amalan tersebut ada yang disunahkan, dimana makruh untuk meninggalkannya. Maka amalan yang boleh ditinggalkan, tidak boleh untuk mewajibkan hukumnya karena Allah telah memperbolehkan meninggalkannya, sehingga orang yang mengharuskan hal tersebut, berarti ia membuat syariat tanpa seijin Allah subhanahu wa ta’aalaa.

Adapun amalan wajib –ini adalah jenis kedua- yangmana batal sholatnya bagi yang meninggalkannya dengan sengaja, dan tidak batal jika karena lupa, sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’aalaa : { Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. } (QS. Al Ahzaab : 5).

Sehingga sholat yang tidak batal karena lupa, dalam kondisi dia lupa, maka wajib padanya sujud sahwi. Jika tidak tersisa amalan selainnya, maka tidak boleh mengkhususkan sebagian sujud pada satu tempat, tanpa di tempat lainnya” –selesai-.
Jadi dalam madzhab Dhohiri mereka memandang wajibnya sujud sahwi pada amalan-amalan sholat yang jika ditinggalkan dengan sengaja, batal sholatnya. Jika ia meninggalkannya karena lupa (sahwu), maka wajib sujud sahwi padanya.
2. Hukumnya Sunnah. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki, selain ada sebagian ulama mereka yang mewajibkannya, sebagaimana keterangan diatas. Asy-Syaikh ad-Dasuuqiy al-Malikiy (w. 1230 H) dalam kitabnya “حاشية الدسوقي على الشرح الكبير” (1/273) berkata :

ثُمَّ إنَّ مَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مِنْ سُنِّيَّةِ السُّجُودِ لِلسَّهْوِ سَوَاءٌ كَانَ قَبْلِيًّا أَوْ بَعْدِيًّا هُوَ الْمَشْهُورُ مِنْ الْمَذْهَبِ وَقِيلَ بِوُجُوبِ الْقَبْلِيِّ قَالَ فِي الشَّامِلِ وَهُوَ مُقْتَضَى الْمَذْهَبِ.

“kemudian apa yang disebutkan oleh penulis tentang sunahnya sujud sahwi sama saja apakah sebelum atau sesudah salam ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab (Maliki). Ada yang berpendapat wajibnya sujud sahwi sebelum salam, penulis kitab “asy-Syaamil” berkata, (wajibnya sujud sahwi sebelum salam) adalah konsekuensi dari madzhab (Maliki).
Kemudian Syafi’iyyah juga berpendapat hukumnya sunnah. Al-‘Alamah Zakariya al-Anshoriy (w. 926 H) dalam kitabnya “فتح الوهاب بشرح منهج الطلاب” (1/62) berkata :

” سُجُودُ السَّهْوِ ” فِي الصَّلَاةِ فَرْضًا أَوْ نَفْلًا ” سُنَّةٌ ”

“Sujud Sahwi dalam sholat baik sholat wajib maupun sholat nafilah, hukumnya adalah sunnah”.
Dalil sunahnya sujud sahwi menurut madzhab Syafi’iyyah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari jalannya sampai kepada Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu secara marfu’ :

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُلْقِ الشَّكَّ، وَلْيَبْنِ عَلَى الْيَقِينِ، فَإِذَا اسْتَيْقَنَ التَّمَامَ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، فَإِنْ كَانَتْ صَلَاتُهُ تَامَّةً كَانَتِ الرَّكْعَةُ نَافِلَةً وَالسَّجْدَتَانِ وَإِنْ كَانَتْ نَاقِصَةً كَانَتِ الرَّكْعَةُ تَمَامًا لِصَلَاتِهِ، وَكَانَتِ السَّجْدَتَانِ مُرْغِمَتَيِ الشَّيْطَانِ

“jika kalian ragu dalam sholatnya, maka buanglah keraguan dan bersandarlah kepada hal yang yakin. Jika telah selesai sholatnya, lalu sujud dengan dua kali sujud. Jika sholatnya ternyata telah sempurna, maka rokaat (tambahannya –pent.) adalah sebagai nafilah dan (begitu juga) dua sujudnya, namun jika memang jumlah rokaat sholatnya kurang, maka rokaatnya tambahannya tadi sebagai penyempurna dan dua sujud sahwinya, membuat setan kecewa”. (dinilai hasan shahih oleh Al Albani).
Adapun pendapat yang kami pandang rajih adalah pendapat yang mengatakan sujud sahwi hukumnya wajib pada amalan-amalan sholat yang jika seorang meninggalkannya karena sengaja, maka batal sholatnya. Karena sujud sahwi ini, seperti pengganti dari batalnya sholat (jika bukan karena lupa). Begitu juga beberapa dalil dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam yang memerintahkan untuk melaksanakan sujud sahwi, ketika terjadi kelupaan dalam sholat. Misalnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu secara marfu’ :

ثم لِيَسْجُدْ سَجْدَتَيْن

“kemudian sujudlah dengan dua sujud sahwi”.
Adapun dalil yang digunakan Syafi’iyyah yang menunjukkan bahwa sujud sahwi adalah nafilah, maka konteksnya bukan untuk menjelaskan hukumnya, namun sujud sahwi dan tambahan rokaatnya, misalnya ia sholat Isya, lalu ragu-ragu apakah sudah 3 rokaat atau baru dua rokaat, kemudian ia memilih pendapat yang pasti yakin, bahwa sudah dua rokaat, sehingga kemudian dia menyelesaikan dua rokaat sisanya, setelah itu ia sujud sahwi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam mengatakan, jika kenyataan sholatnya yang benar tadi sudah 3 rokaat, maka tambahan satu rokaat dan dua sujud sahwi (sebab ia berarti telah sholat 5 rokaat) adalah sebagai naafilah (tambahan) pahala baginya, bukan sebuah kemaksiatan. Namun jika ternyata yang benar adalah 2 rokaat, dimana berarti ia sudah bertindak hal yang benar, dengan menyempurnakan 2 rokaat sisanya (sholatnya berarti genap 4 rokaat), maka sujud sahwinya membuat setan kecewa, was-was yang ditimbulkannya tidak mempenaruhi sholatnya. Wallahul A’lam.
Asy-Syaikh DR. Wahbah az-Zuhailiy dalam kitabnya “الفِقْهُ الإسلاميُّ وأدلَّتُهُ” (2/1106) mempunyai suatu catatan yang bisa kita pertimbangkan, kata beliau :

والأولى ترك سجود السهو في الجمعة والعيدين إذا حضر فيهما جمع كبير، لئلا يشتبه الأمر على المصلين

“yang utama adalah meninggalkan sujud sahwi bagi sang Imam pada sholat Jum’at dan sholat hari raya, ketika makmum yang menghadirinya dalam jumlah besar, agar tidak menimbulkan kesamaran dikalangan jamaah sholatnya”.

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

June 26, 2017 at 11:01 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN

 

Dalam sebuah ungkapan yang masyhur bahwa pahala sholat Jama’ah berkali lipat dibandingkan jika mengerjakan sholat sendirian. Disebutkan 25 atau 27 derajat sesuai dengan perbedaan riwayat yang datang. Namun ada sebuah hadits riwayat Abu Huroiroh -Rodhiyallahu ‘anhu- yang cukup menarik minat saya untuk dijadikan catatan, yang lafadznya :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي الجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ، وَفِي سُوقِهِ، خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا، وَذَلِكَ أَنَّهُ: إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى المَسْجِدِ، لاَ يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلاَةُ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، فَإِذَا صَلَّى، لَمْ تَزَلِ المَلاَئِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ، مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ “

Rasulullah -Sholallahu ‘alaihi wa Salam- bersabda : “sholat seorang laki-laki secara berjamaah (pahalanya) berkali lipat dibandingkan sholat (sendirian) di rumahnya dan pasarnya sebanyak 25 derajat. Yang demikian itu jika ia berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu keluar ke masjid, tidaklah ia keluar, kecuali karena sekedar bertujuan untuk sholat, tidaklah satu langkah yang dilakukannya, kecuali akan diangkat derajatnya dan akan dihapus kesalahannya. Jika ia sholat, maka Malaikat senantiasa mendoakannya selama ia berada di tempat sholatnya, mereka berkata : “Ya Allah berikan sholawat kepadanya, Ya Allah rahmatilah ia… kalian senantiasa (dianggap) sedang sholat selama menunggu waktu ditunaikannya sholat”.  (Muttafaqun ‘alaih).

Continue Reading MENGURAI PENJELASAN TERHADAP KEUTAMAAN SHOLAT BERJAMAH 25 DERAJAT DIBANDINGKAN DENGAN SHOLAT SENDIRIAN…

AQIDAH IMAM ABDUL QODIR JAILANIY

June 24, 2017 at 10:09 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AQIDAH IMAM ABDUL QODIR JAILAANIY
Syaikh Abdul Qodir Jailani (w. 561 H) adalah nama yang tidak asing bagi mayoritas masyarakat Indonesia, karena kalau ada yang mengirimkan bacaan Al Fatihah, hampir dipastikan nama beliau akan disebut. 
Namun kemungkinan besar mayoritas masyarakat tidak mengetahui akidah yang diyakini oleh Imamnya. Untuk menjelaskan akidahnya, beliau menulis beberapa kitab, salah satunya adalah kitab yang berjudul “ﺍﻟﻐﻨﻴﺔ ﻟﻄﺎﻟﺒﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺤﻖ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ”, kitab ini menjadi bahan kajian ulama untuk memberikan informasi kepada masyarakat akidah beliau yang lurus. Sebelum kita meng-highlight beberapa pernyataan beliau terkait akidahnya yang bersesuai dengan madzhab salaf, maka perlu dijelaskan dulu bahwa banyak pembesar ulama yang memastikan kitab diatas adalah benar-benar karya Imam Abdul Qodir Jailani. Ada sekitar belasan Aimah kita yang menetapkannya, diantaranya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Sakhowi, Imam Ibnu Katsir, Haji Kholifah, dll. Untuk melihat cuplikan qoul mereka terkait hal tersebut dapat layari link berikut : http://www.alsoufia.org/vb/archive/index.php/t-8883.html
Mari kita lihat cuplikan pernyataan beliau terkait Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala dari kitabnya diatas yang  dicetak oleh Darul Kutub ‘Ilmiyyah, Beirut (http://waqfeya.com/book.php?bid=10984).
Beliau berkata di juz 1 hal. 124 :

“Dia (Allah Azza wa Jalla) terpisah dari makhluk-Nya, tidak satu tempat pun yang terluput dari Ilmu-Nya,  tidak boleh mensifati Allah ada di semua tempat,  tapi katakan Dia di langit diatas Arsy… Kemudian Al-Imam menyebutkan dalil-dalilnya dari Kitab dan Sunah (sila lihat ss-nya)”.
Kemudian masih di juz 1 hal. 125 :

“Al-Istiwa adalah sifat dzat sesuai dengan yang kami kabarkan dan ternashkan atasnya.  Hal tersebut dikuatkan dalam 7 ayat di Kitabullah dan sunah yang ma’tsuroh. Ini adalah sifat lazimah, sesuai dengan yang layak bagi Allah, sebagaimana juga sifat Tangan,  Wajah, Kedua Mata, mendengar, melihat, hidup, qudroh, dan Dia Maha menciptakan, memberi Rizki, serta menghidupkan dan mematikan, (begitu juga) semua yang disifatkan kepada-Nya. Kami tidak akan menyempal dari Kitab dan Sunah, kami membaca Kitabullah dan Hadits, lalu kami mengimani keduanya, kami menyerahkan kaifiyyah sifat kepada Ilmu-Nya Allah Subhanahu wa ta’ala… “.
Kita lihat penjelasan beliau begitu gamblang dalam masalah sifat yang merupakan madzhab salaf. Point yang penting dari pernyataan beliau bahwa yang di-tafwidh (diserahkan) kepada Allah adalah kaifiyyah Sifat-Sifat itu, bukan maknanya, sehingga tidak meng-istabat Sifat Allah. Karena sebagaimana artikel saya yang dulu terkait pernyataan Imamul Haromain yang menyerahkan maknanya kepada Allah, maka perlu diklarifikasi. Jika tafwidh secara mutlak, maka ini bukannya jalan Salaf, seperti ketika seorang ditanya : apakah Allah beristiwa diatas Arsy?, dia menjawab : wallahul a’lam, saya serahkan kepada Allah. Maka ini yang disebut dengan aliran “Muwafidhoh”.
Beliau juga berapa kali melakukan perbandingan keyakinan ahlus sunah dengan keyakinannya asya’iroh, misalnya dalam masalah Kalamullah adalah suara yang tentunya tidak seperti suara makhluk-Nya, ini adalah pernyataan Imam Ahmad, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para muridnya, berbeda dengan Asya’iroh yang mengatakan Kalam Allah adalah makna qoiumun binafsihi (yang ada pada diri Allah, bukan berupa suara) (juz 1 hal. 131). Begitu juga dalam masalah Iman, dimana keyakinan ahlus sunnah adalah Imam bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sedangkan Asya’iroh mengingkari bertambah dan berkurangnya Iman (juz 1 hal. 135).
Kitab “al-Ghunyan” karya Imam Abdul Qodir Jailani, tidak hanya berisi masalah akidah saja, namun juga tercantum masalah-masalah fiqih. Namun ada beberapa point yang perlu dilakukan validasi lagi, yaitu masalah keutamaan sebagian ibadah. Misalnya di juz 2 hal 241-244, beliau mengangkat tema seputar keutamaan sholat harian, dimulai dari keutamaan sholat malam Ahad sampai malam Sabtu, dalil-dalil yang beliau ajukan kebanyakan dari hadits-hadits palsu. 
Namun yang terpenting akidah beliau adalah akidah Salaf, mengikuti akidah Imamnya dalam fiqih yaitu Imam Ahmad bin Hanbal.

DOA DALAM ISTILAH NAHWU 

June 24, 2017 at 10:08 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

DO’A DALAM ISTILAH NAHWU
didalam kitab al-Jurumiyyah ketika disebut bab tentang “Jawaazim al-Mudhoori'”, yangmana Imam ibnu Ajurruum menghitungnya ada 18 buah. Diantara al-Adawaatu (alat) yang menjazmkan fi’il Mudhori’ adalah laam al-Amr dan Ad-Du’aa` serta Laa fii an-Nahyi dan ad-Du’aa`.
Kemudian pensyarah kitab al-Jurumiyyah, yakni asy-syaikh Muhyiddin Abdul Hamid dalam kitabnya “at-Tuhfah as-Saniyyah” menerangkan bahwa laam al-Amr dan laam ad-Du’aa` secara makna adalah sama yaitu meminta untuk mengerjakan suatu pekerjaan dengan permintaan yang pasti. Hanya saja bedanya al-Amr adalah perintah dari pihak yang lebih tinggi kepada yang rendah. Sedangkan ad-Du’aa` adalah perintah dari yang rendah kepada yang tinggi. 
Kemudian laa an-Nahiy dan laa ad-Du’aa` juga sama, yaitu meminta untuk tidak mengerjakan sesuatu dan meninggalkannya, bedanya dari sisi siapa yang memerintahkan sebagaimana dalam penjelasan laam al-Amri. 
Dari sinilah kita bisa memahami mengapa para ulama tidak absen dari menuliskan adab-adab dalam berdoa, karena urusannya sangat besar yaitu kita “memerintah” Sang pencipta agar menunaikan hajat yang kita inginkan. Namun bukan berarti karena segan dengan kondisi ini, lantas kita meninggalkan berdoa kepada Allah, karena Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang memerintahkan agar kita senantiasa berdoa kepada-Nya. 

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟَﻚَ ﻋِﺒَﺎﺩِﻱ ﻋَﻨِّﻲ ﻓَﺈِﻧِّﻲ ﻗَﺮِﻳﺐٌۖ ﺃُﺟِﻴﺐُ ﺩَﻋْﻮَﺓَ ﺍﻟﺪَّﺍﻉِ ﺇِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻥِۖ ﻓَﻠْﻴَﺴْﺘَﺠِﻴﺒُﻮﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟْﻴُﺆْﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﻲ ﻟَﻌَﻠَّﻬُﻢْ ﻳَﺮْﺷُﺪُﻭﻥَ

“ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran .” (Al-Baqarah: 186)

FIRASAT ALBANI KETIKA MEMILIH MADZHAB AHLI HADITS

June 24, 2017 at 10:07 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

FIRASAT AL ALBANI KETIKA MENDEKLARASIKAN DIRINYA SEBAGAI PENGIKUT MADZHAB MUHADITSIN
Imam Al Albani dalam mukadimah kitabnya yang monumental “Sifat Sholat Nabi” berkata ketika menjelaskan pilihan madzhab fiqihnya :

“…Adalah suatu hal yang pasti bahwa saya tidak mengikatkan diri dengan madzhab tertentu, karena sebab yang telah berlalu penyebutannya. Saya hanya sekedar mendatangkan hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terkait tema ini, sebagaimana ini adalah madzhab ahli hadits baik yang klasik maupun yang kontemporer…. “.
Kemudian di halaman berikutnya, beliau berkata :

“Kemudian ketika saya mengaplikasikan metode ini untuk diriku -yaitu berpegang dengan hadits-hadits yang shahih- dan saya terapkan madzhab tersebut didalam kitabku ini dan karya-karya lainnya -Insya Allah kelak akan tersebar ditengah-tengah manusia-,  maka saya sadar bahwa nanti beberapa kelompok dan para pengikut madzhab tidak akan Ridho dengan hal ini, bahkan nanti sebagian atau kebanyakan mereka akan mencela dan mencaciku. Hal tersebut tidak masalah bagiku, karena saya tahu juga bahwa mencari keridhoan manusia adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat digapai, dan bahwa “orang yang ingin mendapatkan keridhoan manusia dengan sesuatu yang dibenci Allah, maka kelak Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia”, sebagaimana disabdakan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam”..

LEMAHNYA SEMANGAT ILMIYAH

June 24, 2017 at 10:06 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LEMAHNYA SEMANGAT ILMIYAH 
Prof. DR. Ali Muhammad ash-Shalabi dalam bukunya tentang Daulah Utsmaniyyah, sounding kepada kita berdasarkan analisanya, sebab-sebab runtuhnya daulah atau kekhilafahan Utsmaniyyah. Beliau menampilkan 10 sebab yang melatarbelakangi keruntuhannya. Ada 2 sebab yang menarik perhatian saya terkait studi ilmiyah, yaitu pada sebab ke-enam dan ke-tujuh dari analisa beliau. 
Di point sebab keenam, beliau mengatakan bahwa runtuhnya khilafah Utsmaniyah adalah karena kelangkaan pemimpin Rabbani. Bagaimana bisa pemimpin Rabbani langka pada akhir-akhir daulah Utsmaniyyah?  Asy-Syaikh menampilkan 4 root causenya :

1. Para penuntut ilmu hanya fokus pada muktashor (ringkasan-ringkasan) karya tulis atau dalam istilah kita matan yang jamaknya mutun yang biasanya terdapat dalam beberapa cabang ilmu Islam.  Ternyata maksud baik sebagian ulama yang meringkas ilmu dalam bentuk matan disalahpahami oleh para penuntut ilmu dengan hanya berhenti dan fokus disitu, akibatnya semangat mereka melakukan penelitian ilmiah agar menghasilkan kesimpulan langsung dari Sumber primernya yaitu Al-qur’an dan as-sunnah terhenti. 

2. Syarah, ta’liq dan hasyiah yang dibuat kebanyakan kosong dari ilmu Al Qur’an dan Sunnah.  Bahkan banyak syarah yang dibuat “mbulet” dan “muter-muter” tidak karuan. 

3. Pemberian ijasah dan gelar secara obral, sehingga akhirnya menyibukkan kaum muslimin dari menuntut ilmu yang sewajarnya. 

4. Pewarisan posisi keilmuan, zaman itu seorang Syaikh pengajar jika wafat, maka akan digantikan anaknya atau kerabatnya yang sebetulnya mereka belum kompeten.  Posisi ilmiah dianggap sebagai barang warisan yang bisa diwariskan seperti benda-benda mati. 
Kemudian asy-syaikh menyebutkan sebab ketujuh, yaitu penolakan dibukanya pintu ijtihad. Pada akhir masa khilafah Utsmaniyah seruan untuk membuka pintu ijtihad dianggap hal tabu dan dosa besar, bahkan dianggap sebagai kekufuran. Kemudian asy-syaikh mengkritik keras fanatisme madzhab yang jamak terjadi pada detik-detik menjelang bubarnya khilafah Utsmaniyyah. 
saya tidak sanggup lagi menuliskan bagaimana akibat yang ditimbulkan dari fanatisme ini, sebagaimana yang digambarkan oleh Prof. Ali ash-Shalabi. Silakan baca sendiri bukunya. 

Wallahul Musta’aan.

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: