KAPAN SEORANG MULAI START I’TIKAFNYA

June 2, 2017 at 12:45 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KAPAN SEORANG MULAI START I’TIKAFNYA
Informasi dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam jika hendak ber’itikaf, Beliau sholat Subuh, lalu masuk ke tempat I’tikafnya. 
Kata Imam Tirmidzi hadits Aisyah diatas diamalkan oleh sebagian ulama, seperti Imam Ahmad, dan Ishaq bin Ibrahim. Sementara ulama lainnya mengatakan dia mulai startnya pada malam harinya. Ini adalah pendapatnya Imam Sufyan ats-Tsauri dan Malik bin Anas.

Advertisements

SALAH BUKA PUASA

June 2, 2017 at 12:45 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SALAH BUKA PUASA
Imam Bukhori dalam kitab shahihnya di kitab ash-Shoum menampilkan satu bab tentang orang yang berbuka puasa yang dia kira Matahari sudah terbenam karena gelap tertutup mendung, namun setelah selesai berbuka ternyata matahari muncul kembali yang berarti waktu terbenam belum tiba.
Imam Bukhori meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Imam Hisyam bin Urwah dari Fathimah dari Asmaa’ binti Abi Bakar radhiyallahu anhumaa, beliau berkata :

 ﺃَﻓْﻄَﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻋَﻬْﺪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻮْﻡَ ﻏَﻴْﻢٍ ﺛُﻢَّ ﻃَﻠَﻌَﺖْ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ

“kami pernah berbuka pada masa Nabi shalallahu alaihi wa sallam masih hidup, pada waktu mendung, kemudian ternyata Matahari muncul kembali”.
Kalau zaman sekarang, potensi terjadinya case semacam ini adalah sang muadzin beradzan dengan melihat jam yang dianggap sudah masuk waktu maghrib, kemudian orang-orang pun berbuka ketika mendengar suara adzan tersebut, namun ternyata jam tersebut error, misalnya kecepetan sampai seperempat jam.
Maka dalam case semacam ini bagaimana hukumnya? Apakah orang yang salah buka dalam case kita ini, wajib mengqodho atau tidak?
Imam Bukhori membawakan dua fatwa dari Imam Hisyaam yang seolah-olah bertentangan :

1. Ditanyakan kepada Imam Hisyaam, apakah mereka diperintahkan mengqodho?, beliau menjawab :

ﻻ ﺑُﺪَّ ﻣِﻦْ ﻗَﻀَﺎﺀٍ

“harus mengqodho”

2. Dari jalur lain yang disambungkan sanadnya oleh Imam Abdu bin Humaid bahwa Imam Ma’mar bin Rosyid pernah berkata bahwa dia mendengar Hisyaam berkata :

ﻻ ﺃَﺩْﺭِﻱ ﺃَﻗَﻀَﻮْﺍ ﺃَﻡْ ﻻ ؟

“aku tidak tahu apakah mereka mengqodho atau tidak”.
Namun dalam kitab shahihnya, imam bukhori tidak memberikan keputusan apakah orang yang salah buka dalam case ini wajib mengqodho atau tidak. Adapun para ulama dalam menyikapi case ini terkait wajib tidaknya qodho maka :

A. Mayoritas ulama mewajibkan orang tersebut mengqodho, karena pada hakikatnya waktu berbuka belum tiba alias masih siang, sekalipun orang tersebut tidak berdosa karena salah dugaan, yang dia sangka sudah tiba waktu berbuka.

B. Sebagian ulama seperti Imam Ishaq bin Rohawaih, Imam Ahmad dalam salah satu riwayatnya, Imam al-Muzaniy, Ibnu Khuzaimah, dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ibnu Utsaimin, bahwa orang tersebut tidak wajib qodho. Salah satu alasannya, seandainya qodho adalah wajib tentu Nabi akan menerangkannya dan kenyataannya tidak ada satupun riwayat yang menunjukkan keputusan Nabi akan hal ini, maka hal ini mengisyaratkan bahwa qodho bagi mereka tidak wajib.

MADZHAB AQIDAH IMAM IBNU KHUZAIMAH

June 2, 2017 at 12:44 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MADZHAB AQIDAH IMAM IBNU KHUZAIMAH
Imam Khuzaimah (223-311 H) telah men-declare sendiri dalam kitabnya “Kitaab at-Tauhiid” bahwa aqidah beliau adalah salafy. Beliau berkata dibawah judul bab “Dzikru Itsbaati Wajhillah” :

“kami dan seluruh para ulama kami, baik dari penduduk Hijaz, Tihaamah, Yaman, Irak, Syam dan Mesir, madzhab (akidah) kami adalah: kami menetapkan untuk Allah apa yang Allah tetapkan sendiri untuk Diri-Nya, kami mengakuinya melalui lisan-lisan kami, dan membenarkannya dalam hati-hati kami, tanpa kami menyerupakan Wajah Pencipta kita dengan wajah dari salah satu makhluknya. Maha Suci Rabb kami dari keserupaannya dengan para makhluk-Nya. Maha Agung Rabb kami dari ucapan mu’athiliin. Maha Suci bahwa Rabb kami tidak ada, sebagaimana dikatakan oleh mubtiluun, karena dzat yang tidak punya sifat, sama saja berarti dia tidak ada. Maha Tinggi Allah dari ucapan Jahmiyyuun yang mengingkari sifat-sifat Sang Pencipta yangmana Dia telah mensifatkan Diri-Nya didalam Hukum yang diturunkannya dan melalui lisan Nabi-Nya Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.

HUKUM TARAWIH 4 RAKAAT SATU SALAM

June 2, 2017 at 12:44 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM SHOLAT TARAWIH 4 RAKAAT SATU SALAM 4 RAKAAT SATU SALAM
Sebelum masuk pembahasan tentang bolehnya sholat tarawih 4 rakaat dengan satu salam, maka akan ditampilkan 3 buah hadits yang mewakili pembahasan kita ini :

1. Hadits Aisyah Radhiyallahu anha, beliau pernah ditanya tentang sifat sholat tarawih Rasulullah pada Bulan Ramadhan,  maka jawabnya :

ﻣَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﻓِﻲ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ ﻭَﻻَ ﻓِﻲ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﻋَﻠَﻰ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﻋَﺸْﺮَﺓَ ﺭَﻛْﻌَﺔً ، ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺃَﺭْﺑَﻊَ ﺭَﻛَﻌَﺎﺕٍ ، ﻓَﻼَ ﺗَﺴْﺄَﻝْ ﻋَﻦْ ﺣُﺴْﻨِﻬِﻦَّ ﻭَﻃُﻮﻟِﻬِﻦَّ ، ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺃَﺭْﺑَﻌًﺎ ، ﻓَﻼَ ﺗَﺴْﺄَﻝْ ﻋَﻦْ ﺣُﺴْﻨِﻬِﻦَّ ﻭَﻃُﻮﻟِﻬِﻦَّ ، ﺛُﻢَّ ﻳُﺼَﻠِّﻲ ﺛَﻼَﺛًﺎ 

“Beliau tidak pernah menambahi sholat lail baik pada Bulan Ramadhan maupun diluar Ramadhan lebih dari sebelas rakaat.  Beliau sholat 4 rakaat,  jangan ditanya bagaimana bagusnya dan panjangnya, lalu Beliau sholat 4 rakaat, jangan ditanya bagusnya dan panjangnya, lalu Beliau sholat 3 rakaat… ” (muttafaqun alaih). 

2. Dari Aisyah radhiyallahu anha juga :

ﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻛﻢ ﻳﺼﻠﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻋﺸﺮ ﺭﻛﻌﺎﺕ ﻳﺴﻠﻢ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺍﺛﻨﺘﻴﻦ ﻭﻳﻮﺗﺮ ﺑﻮﺍﺣﺪﺓ ‏

“Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sholat malam sebanyak 10 rokaat dan salam setiap dua rakaat, kemudian Beliau witir dengan 1 rakaat” (Muttafaqun alaih). 

3. Hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺻَﻼﺓ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺜْﻨَﻰ ﻣَﺜْﻨَﻰ

“Sholat malam 2 rakaat, 2 rakaat” (Muttafaqun alaih).
Pada hadits yang pertama, disana ada dalil bahwa sholat tarawih dikerjakan 4 rakaat, 4 rakaat dengan salam tiap 4 rakaat. Namun para ulama berselisih paham, apakah hadits yang pertama bisa dibawa kepada makna dhohirnya, menjadi 2 madzhab :

A.  Madzhab pertama mengatakan bahwa hadits yang pertama harus ditafsiri dengan semisal hadits nomor 2 dan 3, yakni bahwa sholat malam itu dikerjakan 2 rakaat satu kali salam,  2 rakaat satu kali salam dan seterusnya, dimana setiap dua rakaat salam satu kali. Oleh karena itu mereka tidak memperbolehkan sholat tarawih dengan 4 rokaat sekaligus dengan satu kali salam. 

B. Madzhab yang kedua memahami bahwa semisal hadits no. 2 dan 3 adalah dari sisi afdholiyyah (keutamaan) semata,  bukan sebagai sebuah keharusan, sehingga mereka mengatakan sholat tarawih yang sunnah dikerjakan dua rakaat, dua rakaat dengan tiap dua rokaat satu kali salam. Adapun jika seorang mengerjakannya 4 rakaat dengan satu kali salam, maka ini min bab al-jawaaz (boleh saja). 
Pendapat kedua lebih kompromitis didalam menggabungkan hadits no. 1 dengan semisal hadits no. 2 dan 3.
Kemudian jika dia melakukan sholat tarawih 4 rakaat satu kali salam, apakah cukup dengan satu tasyahud atau dengan dua tasyahud?, sebagian ulama mengatakan silakan dipilih mana yang dia suka, jika dia sholat 4 rakaat dengan dua tasyahud, maka dua rokaat pertama membaca Al Fatihah dan surat, kemudian dua rokaat sisanya cukup membaca Al Fatihah saja. Namun jika dia memilih satu tasyahud maka seluruh rokaat membaca Al Fatihah dan surat. Dalam penentuan ini tidak ada dalil yang shorih. Wallahul a’lam. 
NB : ada pihak yang mengatakan bahwa hadits no. 1 bukan dalam konteks sholat tarawih, tapi sholat witir. Ya tentunya ini pendapat mereka, namun Imam Bukhori dan ulama lainnya memahami bahwa hadits tersebut berbicara tentang sholat tarawih dan sholat lail pada luar Bulan Ramadhan. Dari mana tahunya?  Silakan cek Shahih Bukhori, beliau memasukkan ini dalam judul kitab “Sholat at-Taraawiih”.
Wallahu a’lam.

SUDAH BERBUKA KETIKA HENDAK SAFAR

June 2, 2017 at 12:43 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SUDAH BERBUKA KETIKA HENDAK SAFAR
Imam al-albani pernah menulis sebuah artikel yang sempat menjadi kontroversi dikalangan ulama pada waktu itu yakni “bolehnya seseorang membatalkan puasanya, ketika dia hendak safar, setelah terbit Fajar,  walaupun dirinya masih di rumah, belum melakukan perjalanan safarnya”.
Imam al-albani berdalil dengan sebuah riwayat dari jalan Muhammad bin Ka’ab :

ﻗﺎﻝ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻛﻌﺐ – ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ : ” ﺃﺗﻴﺖ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ، ﻭﻫﻮ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺴﻔﺮ ، ﻭﻗﺪ ﺭﺣﻠﺖ ﺩﺍﺑﺘﻪ ، ﻭﻟﺒﺲ ﺛﻴﺎﺏ ﺍﻟﺴﻔﺮ ، ﻭﻗﺪ ﺗﻘﺎﺭﺏ ﻏﺮﻭﺏ ﺍﻟﺸﻤﺲ ، ﻓﺪﻋﺎ ﺑﻄﻌﺎﻡ ، ﻓﺄﻛﻞ ﻣﻨﻪ ، ﺛﻢ ﺭﻛﺐ ، ﻓﻘﻠﺖ ﻟﻪ : ﺳﻨﺔ ؟ ﻓﻘﺎﻝ : ﻧﻌﻢ .”

ﺃﺧﺮ

“aku mendatangi Anas bin Malik pada Bulan Romadhon, pada waktu itu beliau hendak safar, dia sudah mempersiapkan kendararaanya dan memakai pakaian safar, sedangkan matahari juga hampir terbenam, lalu beliau minta dibawakan makanan dan beliau memakannya, kemudian baru menunggangi kendaraannya (untuk pergi safar). Maka aku berkata kepadanya : “apakah ini sunnah?”, beliau menjawab : “iya”.

Hadits diatas kata al-albani diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Baihaqi dan ini lafadz Baihaqi, dihasankan sanadnya oleh Tirmidzi dan menurut al-albani sanadnya shahih sesuai dengan persyaratan Bukhori-Muslim. 
Maka fiqih haditsnya adalah menunjukkan bolehnya berbuka puasa sebelum keluar rumah ketika sudah melakukan persiapan untuk bersafar. Kebolehannya atas hal tersebut, dinukilkan oleh Imam Al-Albani dari sejumlah ulama salaf,  seperti Imam Asy-Sya’bi,  Hasan al-bashri,  Ahmad bin Hanbal dan selainnya, bahkan masalah ini termaktub dalam buku-buku fiqih hanbali. 
Risalah yang lebih lengkap dari Imam al-albani terkait tema ini sudah dibukukan dengan judul “تصحيح حديث إفطار الصائم في رمضان قبل سفره بعد الفجر “.

RAMADHAN ATAU BULAN RAMADHAN

June 2, 2017 at 12:42 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

RAMADAHAN ATAU BULAN RAMADHAN?
Imam Bukhori dalam kitab Shahih Bukhori menurunkan satu bab dalam kitab ash-Shoum dengan judul “5. Bab hal Yuqoolu Romadhoon au Syahru Romadhoon?” (bab apakah disebut Ramadhan atau bulan Ramadhan).
Imam Bukhori seolah-olah disini ingin menengahi perbedaan pendapat yang terjadi pada sebagian ulama yang melarang atau tidak suka untuk mengatakan Ramadhan, tapi mesti diidhofahkan kepada Syahru, sehingga dikatakan Syahru Ramadhan.
Imam Nawawi dalam kitabnya “Minhaajut Thalibin” (via https://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=122395

Menyebutkan ada 3 pendapat ulama terkait masalah yang kita angkat ini :

1. Tidak boleh mengatakan Ramadhan dalam kondisi apapun, namun harus disebut syahru Ramadhan alias bulan ramadhan, alasannya Ramadhan adalah salah satu nama dari nama Allah. Ini adalah pendapatnya Malikiyyah.

2. Kata Ramadhan dibarengi oleh sesuatu, seperti shumnaa Ramadhan (kita puasa pada Ramadhan) dan yang semisalnya. Kalau kondisinya seperti ini maka tidak makruh, namun jika selain kondisi ini hukumnya makruh. Ini adalah madzhab mayoritas Syafi’iyyah.

3. Tidak makruh secara mutlak baik ada qorinah maupun gak ada. Ini adalah madzhabnya Imam Bukhori dan ulama Muhaqiqiin.
Kemudian Imam Nawawi mengkritik pendapat 1 dan 2, adapun bahwa Ramadhan adalah nama Allah, maka tidak ada dalil yang shahih, sedangkan yang mengatakan makruh tidak ada dalil yang shahih yang membenarkannya. Imam Nawawi pun bersepakat dengan Imam Bukhori yang memilih tidak masalah mengatakan Ramadhan atau bulan Ramadahan.
Pendapat Bukhori dikuatkan dengan 3 buah hadits yang diriwayatkan dengan sanad bersambung pada bab tersebut.

Hadits pertama (no. 1898) dengan sanadnya sampai Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah bersabda: “idzaa Jaa’a Romadhoonu…”

Hadits kedua (no. 1899) dari Abu Huroiroh juga, Nabi bersabda: “Idzaa dakhola Syahru Romadhoon…”.

MENGENAL QIROAH IMAM AL-KISAA’I

June 2, 2017 at 12:42 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGENAL QIROAH IMAM AL-KISAA`I
Nama lengkap beliau adalah Abul Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah al-Kisaa`i.  Julukan al-Kisaa`i diperoleh karena beliau pernah menghadiri majelis Imam Hamzah az-Zayyat dengan berselimutkan Kisaa` (kain), ada juga yang mengatakan bahwa beliau pernah berihram dengan kisaa` (kain) yang tidak biasanya. Beliau dilahirkan pada tahun 119 H dan wafat pada tahun 189 H. 
Beliau adalah ulama pakar dalam ilmu nahwu, beliau sebagai tokoh pelopor madzhab kufiyyin. Imam Syafi’i pernah berkata : “barangsiapa yang ingin ‘nyegoro’ dalam ilmu nahwu, maka ia butuh kepada karya-karyanya Imam al-Kisaa`i”. Beliau belajar ilmu nahwu pada usia tua kepada Imam Kholiil, gurunya Imam Sibawaih yang kemudian membangun nahwu madzhab bashroh. 
Sebagai pakar qiroah, beliau mengambil qiroah juga dari Imam Hamzah, namun sebagian qiroah Hamzah ada yang beliau tinggalkan. Beliau belajar qiroah kepada Imam Sulaiman al-A’masy, Hamzah az-Zayyat, Ashim bin Abi Nujuud dan selainnya. Sanad qiroah al-Kisaa` bersambung sampai kepada sahabat sama dengan sanadnya Imam Hamzah. Dalam thoriq ibnu Miqsam dari riwayat ad-Duuriy dari Imam al-Kisaa`i,  sanad qiroahnya bersambung sampai Amirul Mukminin Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhuma dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. 
Imam Ahmad tidak menyukai qiroah Imam Hamzah dan al-Kisaa`i,  kata beliau :

‏« ﻟﻢ ﻳﻜﺮﻩ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ، ﺇﻻ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺣﻤﺰﺓ ﻭ ﺍﻟﻜﺴﺎﺋﻲ، ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺴﺮ ﻭﺍﻹﺩﻏﺎﻡ ﻭﺍﻟﺘﻜﻠﻒ ﻭﺯﻳﺎﺩﺓ ﺍﻟﻤﺪ ‏» 

“Tidak makruh untuk membaca qiroah asyarah (10 Imam), kecuali qiroahnya Hamzah dan al-Kisaa`i,  karena terdapat didalamnya al-kasr, idghom, berlebih-lebihan dan tambahan mad”.

Namun pendapat Imam Ahmad dapat dijawab sebagaimana jawaban Imam al-Jazariy terhadap qiroah hamzah. Dan juga Iman Abu Ubaid memuji Imam al-Kisaa`i sebagai pakar dalam qiroah. 
Adapun perowi beliau yang masyhur ada dua yaitu ad-Duuriy yang menjadi perowi qiroah Imam Abu ‘Amr juga. 

Dan satunya lagi adalah Abul Harits al-Laits bin Khoolid, wafat pada tahun 240 H. Keduanya meriwayatkan dari Imam al-Kisaa`i tanpa perantara. 
Bagi yang ingin memiliki mushaf qiroah Imam al-Kisaa`i dari dua perowinya dapat mendownloadnya disini :

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=229534

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DARI APLIKASI HP KETIKA SHOLAT

June 2, 2017 at 12:41 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM MEMBACA AL-QUR’AN DARI APLIKASI SMART PHONE KETIKA SHOLAT
SOAL :

Apakah boleh membaca al-qur’an dalam sholat dari HP (aplikasi al-quran di smart phone). Baik untuk sholat nafilah seperti tarawih, dhuha,  tahajud, maupun sholat wajib, demikian juga sebagai Imam atau Makmum? 
JAWAB :

membaca Al Qur’an dalam sholat dari HP,  sama saja dengan membacanya dari Mushaf. Pendapat yang benar, boleh membacanya pada sholat wajib maupun sholat nafilah, sebagaimana penjelasannya pada fatwa no. 1781. 
Sumber : http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=76748
Teks asli fatwa :
ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ

ﻫﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺎﺗﻒ ﺍﻟﻨﻘﺎﻝ، ﺳﻮﺍﺀ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ ﻛﺎﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻭ ﺍﻟﻀﺤﻰ ﺃﻭﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺃﻭ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ، ﻭﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺇﻣﺎﻣﺎ ﺃﻭ ﻣﺄﻣﻮﻣﺎ ؟

ﺍﻹﺟﺎﺑــﺔ

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻰ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ، ﺃﻣﺎ ﺑﻌـﺪ :

ﻓﻘﺮﺍﺀﺓ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺎﺗﻒ ﻛﻘﺮﺍﺀﺗﻬﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺼﺤﻒ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ، ﻭﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﺟﻮﺍﺯ ﺫﻟﻚ ﻓﻲ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻔﺮﻳﻀﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﻓﻠﺔ ﻛﻤﺎ ﺑﻴﻨﺎﻩ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ : 1781 .

ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ

LAGI NANGGUNG SAHURNYA

June 2, 2017 at 12:40 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LAGI NANGGUNG SAHURNYA
Pernahkah anda kesiangan makan sahur sehingga ketika sedang tengah makan sahur tiba-tiba adzan Subuh sudah berkumandang. Apakah harus menghentikan makan dan minumnya? Bagaimana jika ia makan makanan yang padat dan belum sempat minum, sedang tenggorokannya seret?, bagaimana jika dia nekat melanjutkan makan dan minumnya, apakah puasanya batal pada hari itu?
Pertama para ulama telah bersepakat bahwa rukun puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Fajar kata Rasulullah ada dua yaitu fajar kadzib dan fajar shodiq dan yang dimaksud dengan terbitnya fajar sebagai awal waktu seorang yang berpuasa mulai menahan diri adalah fajar shodiq. Dalam Al Qur’an sudah ternashkan dengan jelas :

 وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ 

Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187).
Namun dalam case kita ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersanda  :

ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻊَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍﻟﻨِّﺪَﺍﺀَ ﻭَﺍﻹِﻧَﺎﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪِﻩِ ﻓَﻼ ﻳَﻀَﻌْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘْﻀِﻲَ ﺣَﺎﺟَﺘَﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ‏

“jika kalian mendengar adzan, sedangkan bejananya masih di tangannya, maka jangan diletakkan sampai dia menyelesaikan makan dan minumnya”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan selainnya. Dishahihkan oleh Imam Al Hakim , Suyuthi, Al Albani, Ahmad Syakir, dinilai jayyid oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil. 
Kemudian bagaimana fiqih hadits diatas, apakah diamalkan dhohirnya?  mayoritas ulama mengatakan terlarangnya makan dan minum jika sudah terbit fajar. Yang dijadikan acuan adalah terbitnya fajar bukan sekedar adzan subuh. Mereka membawa hadits Abu Huroiroh diatas ketika adzannya belum masuk waktu subuh.
Kemudian beberapa ulama kontemporer seperti ibnu Utsaimin, Al Albani dan selainnya mengkorelasikan hadits ini dengan kenyataan sekarang dimana adzan subuh yang dilakukan para muadzin berpatokan kepada jadwal waktu sholat berdasarkan jam, terkadang dibeberapa tempat sang muadzin mengumandangkan adzan 5 menit sebelum masuk waktunya, alasannya untuk kehati-hatian. Kemudian mereka juga membahas adanya perbedaan jadwal sholat yang ditetapkan dengan kenyataan di lapangan ketika mengamati langit bahwa jadwal sholat lebih maju sampai sekitar 5-20 menitan dengan kemunculan fajar shodiq di langit. Terkait hal ini, maka mereka membolehkan mengamalkan hadits pada pembahasan kita, karena belum yakinnya kemunculan fajar shodiq, sekalipun sebagian ulama menganjurkan agar tetap meninggalkan makan dan minum pada saat adzan berkumandang untuk kehati-hatian.
Sekarang kita langsung to the point saja, bagaimana hukumnya lagi nanggung sahur dan adzan sudah berkumandang, dimana tukang adzannya beradzan sesuai dengan waktu yang benar-benar bahwa fajar telah terbit?, mayoritas ulama menjawab dia harus menghentikan makan sahurnya. Namun Imam Ibnu Hazm dissenting oponion dengan jumhur ulama, beliau berpendapat hadits diatas tetap diamalkan sebagai rukhsah. Pendapat senada ikut dibela oleh ulama pembawa bendera madzhab fikih ahli hadits zaman ini, yakni Muhammad Nashiruddin al-Albani, kata beliau :

ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻨﺎﻙ ﻓﺴﺤﺔ ﻭﺭﺧﺼﺔ ﺻﺮﻳﺤﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ، ﻓﻠﻮ ﺍﻓﺘﺮﺿﻨﺎ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﺫﺍﻥ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻳﺆﺫﻧﻪ ﺍﻟﻤﺆﺫﻧﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ – ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺍﻟصادق-..

“bersamaan dengan itu, disana ada kesempatan dan keringanan yang jelas dalam hadits yang shahih (diatas), seandainya kita asumsikan bahwa adzan yang kedua memang tukang adzannya beradzan pada waktu yang shahih (telah terbit fajar shodiq).
Namun Imam Al Albani mewanti-wanti bahwa seandainya dia mengambil rukhshoh ini, jangan santai-santai dalam bersahur pada waktu injury time , jangan ia duduk dulu, ngobrol dulu misalnya, namun hendaknya ia serius dan konsentrasi dalam menyelesaikan makan sahurnya, karena ini bentuk rukhshoh dimana diberikan extend waktu menghabiskan makan sahurnya.
Silakan bagi yang mau mengambil fiqih madzhab ahli hadits dalam bab ini.

Wallahul a’lam.
Referensi :

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=39782

https://islamqa.info/ar/66202

KEHUJJAHAN HADITS MURSAL

June 2, 2017 at 12:40 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Kehujjahan Hadits Mursal
Hadist mursal dalam istilah ulama ahli hadits adalah hadits yang disandarkan oleh seorang Tabi’i kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Ulama hanafi meluaskan definisi mursal kepada hadits yang disandarkan oleh Imam yang Tsiqoh kepada Nabi dengan menghilangkan sebagian sanadnya. Sehingga ini mencakup juga perkataan Imam Tabi’in dan Imam Tabi’it Tabi’in yang disandarkan kepada Rasulullah dengan menggugurkan sanadnya.
Adapun kehujahhannya para ulama berbeda pendapat, ada yang menolaknya secara mutlak. Imam Syafi’i menerima hadits dengan syarat-syarat yang dipaparkan dalam kitab al-Umm. Sedangkan ulama hanafi menerima hadits mursal dari Imam-Imam ahli hadits tidak saja dari Tabi’in, akan tetapi juga dari Tabi’ut Tabi’in, bahkan mereka mengangkat hadits mursal diatas hadits musnad. Alasan mereka, jika para Imam ahli hadits yang meriwayatkan mursal menghubungkan matan hadits sampai kepada Nabi shalallahu alaihi wa sallam, maka ini menunjukkan tsiqohnya perowi yang digugurkan, seandainya sang Imam tidak meyakini ketsiqohan perowi yang digugurkannya, maka berarti dia bukan Imam yang adil.
Kemudian juga praktek sebagian ulama hadits, seperti Imam Ibrahim an-Nakho’i ketika meriwayatkan (secara mursal): “Abdullah bin Mas’ud berkata…”, kata beliau bahwa perowinya antara dirinya dengan Ibnu Mas’ud lebih dari satu orang.

Begitu juga Imam Hasan al-Bashri, beliau pernah berkata: ketika aku mengatakan Rasulullah bersabda (berarti ini mursal), maka perowinya tidak kurang dari 70 orang.
Namun yang jadi masalah tidak semua ulama hadits menggunakan metode seperti mereka berdua, dan tidak diketahuinya siapa-siapa saja perowi yang digugurkan akan menyulitkan upaya tracebility ketsiqohan para perowinya, sehingga dengan mantap dapat diputuskan kevalidan haditsnya.
Wallahul A’lam.

Referensi: ushul fiqih Khudhori Biek.

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: