LAGI NANGGUNG SAHURNYA

June 2, 2017 at 12:40 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LAGI NANGGUNG SAHURNYA
Pernahkah anda kesiangan makan sahur sehingga ketika sedang tengah makan sahur tiba-tiba adzan Subuh sudah berkumandang. Apakah harus menghentikan makan dan minumnya? Bagaimana jika ia makan makanan yang padat dan belum sempat minum, sedang tenggorokannya seret?, bagaimana jika dia nekat melanjutkan makan dan minumnya, apakah puasanya batal pada hari itu?
Pertama para ulama telah bersepakat bahwa rukun puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari. Fajar kata Rasulullah ada dua yaitu fajar kadzib dan fajar shodiq dan yang dimaksud dengan terbitnya fajar sebagai awal waktu seorang yang berpuasa mulai menahan diri adalah fajar shodiq. Dalam Al Qur’an sudah ternashkan dengan jelas :

 وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ 

Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187).
Namun dalam case kita ini ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bersanda  :

ﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻊَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍﻟﻨِّﺪَﺍﺀَ ﻭَﺍﻹِﻧَﺎﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪِﻩِ ﻓَﻼ ﻳَﻀَﻌْﻪُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻘْﻀِﻲَ ﺣَﺎﺟَﺘَﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ‏

“jika kalian mendengar adzan, sedangkan bejananya masih di tangannya, maka jangan diletakkan sampai dia menyelesaikan makan dan minumnya”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan selainnya. Dishahihkan oleh Imam Al Hakim , Suyuthi, Al Albani, Ahmad Syakir, dinilai jayyid oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dan dihasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil. 
Kemudian bagaimana fiqih hadits diatas, apakah diamalkan dhohirnya?  mayoritas ulama mengatakan terlarangnya makan dan minum jika sudah terbit fajar. Yang dijadikan acuan adalah terbitnya fajar bukan sekedar adzan subuh. Mereka membawa hadits Abu Huroiroh diatas ketika adzannya belum masuk waktu subuh.
Kemudian beberapa ulama kontemporer seperti ibnu Utsaimin, Al Albani dan selainnya mengkorelasikan hadits ini dengan kenyataan sekarang dimana adzan subuh yang dilakukan para muadzin berpatokan kepada jadwal waktu sholat berdasarkan jam, terkadang dibeberapa tempat sang muadzin mengumandangkan adzan 5 menit sebelum masuk waktunya, alasannya untuk kehati-hatian. Kemudian mereka juga membahas adanya perbedaan jadwal sholat yang ditetapkan dengan kenyataan di lapangan ketika mengamati langit bahwa jadwal sholat lebih maju sampai sekitar 5-20 menitan dengan kemunculan fajar shodiq di langit. Terkait hal ini, maka mereka membolehkan mengamalkan hadits pada pembahasan kita, karena belum yakinnya kemunculan fajar shodiq, sekalipun sebagian ulama menganjurkan agar tetap meninggalkan makan dan minum pada saat adzan berkumandang untuk kehati-hatian.
Sekarang kita langsung to the point saja, bagaimana hukumnya lagi nanggung sahur dan adzan sudah berkumandang, dimana tukang adzannya beradzan sesuai dengan waktu yang benar-benar bahwa fajar telah terbit?, mayoritas ulama menjawab dia harus menghentikan makan sahurnya. Namun Imam Ibnu Hazm dissenting oponion dengan jumhur ulama, beliau berpendapat hadits diatas tetap diamalkan sebagai rukhsah. Pendapat senada ikut dibela oleh ulama pembawa bendera madzhab fikih ahli hadits zaman ini, yakni Muhammad Nashiruddin al-Albani, kata beliau :

ﻭﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻓﻬﻨﺎﻙ ﻓﺴﺤﺔ ﻭﺭﺧﺼﺔ ﺻﺮﻳﺤﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ، ﻓﻠﻮ ﺍﻓﺘﺮﺿﻨﺎ ﺃﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻷﺫﺍﻥ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﻳﺆﺫﻧﻪ ﺍﻟﻤﺆﺫﻧﻮﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻮﻗﺖ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ – ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺠﺮ ﺍﻟصادق-..

“bersamaan dengan itu, disana ada kesempatan dan keringanan yang jelas dalam hadits yang shahih (diatas), seandainya kita asumsikan bahwa adzan yang kedua memang tukang adzannya beradzan pada waktu yang shahih (telah terbit fajar shodiq).
Namun Imam Al Albani mewanti-wanti bahwa seandainya dia mengambil rukhshoh ini, jangan santai-santai dalam bersahur pada waktu injury time , jangan ia duduk dulu, ngobrol dulu misalnya, namun hendaknya ia serius dan konsentrasi dalam menyelesaikan makan sahurnya, karena ini bentuk rukhshoh dimana diberikan extend waktu menghabiskan makan sahurnya.
Silakan bagi yang mau mengambil fiqih madzhab ahli hadits dalam bab ini.

Wallahul a’lam.
Referensi :

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=39782

https://islamqa.info/ar/66202

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: