SEPUTAR BERHUBUNGAN BADAN PADA SIANG RAMADHAN

June 2, 2017 at 12:38 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Special Case Terkait Berhubungan Badan pada Siang Bulan Ramadhan
Para ulama sepakat bahwa suami istri yang melakukan hubungan badan pada siang hari bulan Ramadhan dengan sengaja dan sadar tanpa adanya udzur, maka ia telah melakukan perbuatan dosa dan wajib membayar kafarah.
Bagaimana jika sepasang suami istri memiliki udzur sehingga mereka diperbolehkan berbuka puasa. Kemudian keduanya melakukan hubungan suami istri pada siang hari tersebut, apakah wajib membayar kafarah? Para ulama menjawab bahwa tidak ada kewajiban apapun padanya alias boleh, sebagaimana mereka diperbolehkan makan dan minum.

Udzur dalam kasus ini, misalnya suami istri bersafar keluar kota, dimana keduanya mengambil rukhshoh untuk tidak berpuasa.
Namun bagaimana jika mereka berdua bersafar misalnya, kemudian pada siang hari mereka sampai ke kampung halamannya, apakah boleh baginya berhubungan badan setelah tiba di kampung halamannya?

Untuk menjawab masalah ini, perlu kita ketahui bahwa para ulama berbeda pendapat tentang kondisi seseorang yang pada pagi harinya berudzur atau tidak cakap hukum untuk berpuasa, namun pada siang harinya, udzurnya hilang atau dia menjadi cakap hukum untuk berpuasa.
Gambarannya, misalnya pada pagi hari dia sakit / bersafar / haidh / kafir / belum baligh dan semisalnya. Kemudian pada tengah hari dia sudah sembuh / balik ke kampungnya / sudah suci dari haidh / masuk islam / menjadi baligh dan semisalnya. Apakah sisa harinya wajib baginya berpuasa? Ada 2 pendapat ulama dalam masalah ini :

1. Wajib baginya berpuasa pada sisa harinya. Ini adalah pendapatnya abu Hanifah, ats-Tsauri, al-Auzaai dll. Alasanya kondisinya disamakan dengan orang yang mendapati kondisi tanpa udzur atau cakap hukum sebelum terbit fajar.

2. Tidak wajib baginya berpuasa pada sisa hari tersebut. Ini pendapatnya Malik dan Syafi’i.
Maka special case kita ini dibangun atas 2 pendapat diatas. Bagi yang mengapply pendapat pertama, maka tidak boleh bagi pasangan suami istri tersebut berhubungan badan, dan jika tetap nekat, maka berlakulah kafarah padanya.
Namun yang mengadopsi pendapat yang kedua maka tidak ada masalah padanya baik krn udzurnya sama, misal suami-istri tersebut sama-sama baru sampai kampungnya sehabis safar atau sama-sama sehat setelah pagi harinya dalam kondisi sakit yang menyebabkan tidak mampu puasa. Atau sebab udzurnya berbeda, misal sang suami baru balik dari safar dan istrinya kebetulan suci dari haidh pada siang harinya, maka hubungan suami istri gak ada masalah waktu itu.
Pendapat kedua sepertinya pendapat yang rajih dengan alasan bahwa seorang yang pagi harinya dalam kondisi berudzur tidak berpuasa, maka ini tetap berlaku sampai waktu puasa habis hingga matahari terbenam. Dan diperkuat dengan atsar sahabat Jaabir bin Zaid radhiyallahu anhu yang beliau baru tiba dari safar (dalam kondisi tidak berpuasa), kemudian istrinya juga baru suci dari haidh pada siang harinya, kemudian beliau melakukan hubungan dengan istrinya.
Case lain bagaimana hukumnya sepasang suami istri bersafar dengan tujuan semata-mata untuk melakukan hubungan suami istri? Para ulama mengatakan bahwa ini adalah hilah (tipu daya/siasat) dan kaedahnya jika itu tipu daya maka tidak bisa menggugurkan kewajiban dan perbuatan tersebut haram hukumnya. Jika nekat melakukan hubungan suami istri pada safar tipu daya ini, maka kafarah diberlakukan padanya disamping harus bertaubat dari dosa tersebut.
Case lain sepasang suami istri safar dengan tujuan yang benar. Suaminya memang dari awal sudah tidak berpuasa, misalnya karena menyupir kendaraan yang butuh asupan makanan agar tetap bisa fokus, sedangkan istrinya berpuasa. Kemudian pada siang harinya sang suami mengajak hubungan suami istri masih dalam kondisi musafir. Apakah sang istri berdosa dan membayar kafarah jika dia membatalkan puasanya untuk melayani suaminya? Al-‘Alamah ibnu Utsaimin mengatakan tidak mengapa sang istri berbuka puasanya, karena safar adalah udzur yang membolehkan untuk berbuka puasa. Keduanya hanya perlu mengqodhonya pada hari yang lain. 
Namun jika casenya sang istri tidak punya udzur, misalnya dia sedang mukim dan sedang puasa ramadhan, lalu pada siang hari suaminya pulang dari safar dalam kondisi dia tidak berpuasa kemudian mengajak istrinya berhubungan badan, maka sang istri berhak menolaknya dengan baik, namun jika dipaksa dan akhirnya melayani suaminya, maka sang istri tidak perlu membayar kafarah menurut salah satu pendapat ulama
Referensi :

https://islamqa.info/ar/50256

https://islamqa.info/ar/38287

http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=115712

https://ar.islamway.net/fatwa/31631/حكم-جماع-المسافر-في-نهار-رمضان?

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: