TAKSHIISHUL ‘AAM BIL QIYAS

June 2, 2017 at 12:39 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAKHSHIISHUL AAM BIL QIYAAS
Iseng-iseng baca buku ushul fiqih karya asy-Syaikh Khudhori Biek, beliau sounding masalah pengkhususan dalil umum dengan menggunakan qiyas. Gambaranya, misal ada seorang pengusaha yang menyuruh pegawainya untuk menyerahkan uang sedekah, dia berkata: “jangan berikan uang ini kepada siapapun juga, sekalipun mereka memintanya kepadamu…”.

Perkataan pak bos “siapapun” maka ini umum mencakup orang kaya, miskin, pandai, bodoh, dan seterusnya.

Lalu pak bos berkata: “namun berikan kepada penuntut ilmu karena kemiskinannya”
Nah casenya adalah apakah si pegawai boleh mengkhususkan perintah bosnya dengan memberikan sedekahnya kepada fakir miskin, karena mengkiaskan dengan penuntut ilmu yang illat (alasannya) sama yaitu kemiskinan?.
Menurut asy-Syaikh Khudhori, mayoritas ulama mengatakan qiyas bisa mentakhshish keumuman dalil, mereka adalah Aimah 4 madzhab. Sebagian ulama tidak membolehkan qiyas secara mutlak dapat mentakhshish aam, sementara sebagian lainnya lagi merinci qiyas yang bagaimana dan kondisi tertentu dimana qiyas dapat diberlakukan untuk mentakhshish aam.
Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah ketika menjelaskan salah satu faedah hadits yang masyhur yang biasanya dijadikan rujukan ketika membahas ikhtilaf ulama, yaitu perintah Nabi kepada para sahabat setelah perang Ahzab: “janganlah kalian sholat (Ashar), kecuali jika sampai bani quroidhoh”. Sebagian sahabat ada yang sholat di tengah perjalanan, karena prediksinya ketika sampai di bani quroidhoh sholat ashar sudah habis waktunya. Namun sebagian lainnya tetap menunda sholat Ashar dan mereka menunaikannya di bani quroidhoh dalam kondisi sholat ashar sudah habis waktunya.

Kata Syaikhul islam dalam kisah diatas terdapat dalil bahwa qiyas mengkhususkan yang umum, yaitu sholat ashar tetap dikerjakan pada waktunya, berdasarkan perintah2 syariat tentang pelaksanaan sholat dan mereka memahami keumuman perintah Nabi diatas dikhususkan dengan mengqiyaskan pelaksanaan sholat pada umumnya.
Imamul Haromain menyebutkan contoh pengkhususkan qiyas untuk dalil umum terkait dengan masalah sholat. Sebagaimana diketahui melalui dalil yang shahih bahwa sholat menjadi batal ketika seorang bicara diluar bacaan sholat. Namun kondisi ini, kata imamul haromain dikhususkan pada 2 kondisi :

1. Seorang yang keseleo lidahnya sehingga mengucapkan kata-kata yang normalnya menyebabkan batal sholatnya. Namun dalam kondisi ini tidak batal, diqiyaskan dengan orang yang lupa atau tidak tahu hukumnya berbicara dalam sholat.

2. Orang yang dipaksa berbicara pada saat sholat. Maka ini juga tidak batal, diqiyaskan dengan orang yang dipaksa makan dan minum pada saat berpuasa, dimana puasanya dianggap tidak batal.
Wallahul A’lam

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: