KEPENTINGAN ULAMA TAFSIR TERHADAP RAGAM QIROAH AL QUR’AN 

June 9, 2017 at 9:35 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

KEPENTINGAN ULAMA TAFSIR TERHADAP RAGAM QIRO’AH AL-QUR’AN
Sebagai seorang yang akan menyingkap makna-makna yang terkandung didalam Kalam Ilahi, maka ulama tafsir tentu tidak melewatkan berbagai macam variasi qiroah yang beredar dikalangan para ulama uluumul qur’an. Tapi kepentingan mereka bukan sekedar hanya ingin menunjukkan bahwa dalam kata tertentu pada ayat tertentu ada beberapa macam cara membacanya, mereka lebih menitikberatkan bagaimana makna yang terkandung dalam ragam bacaan tersebut. Artinya ketika dibaca misalnya dengan qiroah standar ‘Aashim, maknanya seperti ini, namun ketika ada qiroah lain yang membacanya dengan sedikit berbeda, ternyata mengandung makna yang lain juga. 
Ada sebuah karya tulis yang cukup menarik untuk dikaji yang ditulis oleh asy-syaikh Muhammad bin Umar bin Salim Bazmuul, yang asalnya adalah disertasi doktoral beliau di universitas ummul quraa’,  Mekkah, KSA. Judul disertasinya adalah “ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺍﺕ ﻭﺃﺛﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻷﺣﻜﺎﻡ’. Bagi yang ingin memiliki buku ini bisa diunduh pada link berikut : http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9350
Diantara hal yang beliau temukan terkait tema ini adalah ragam qiroah tersebut secara garis besar menurut beliau ada 3 hal dalam pengaruhnya terhadap penafsiran :

1. Al-Qiroah menjelaskan makna ayat

2. Al-Qiroah memperluas makna ayat

3. Al-Qiroah menghilangkan keraguan terhadap makna ayat. 

Tentunya bagi yang ingin contoh terkait penjelasan diatas dapat merujuknya langsung di buku beliau tersebut. Insyaallah kapan-kapan kita jadikan satu dua contoh sebagai studi kasus terhadap tema pengaruh qiroah terhadap penafsiran. 
Kemudian kalau kita amati metode ulama dalam memberlakukan ragam qiroah tersebut ketika menafsirkan al-qur’an, maka ada beberapa sikap sebagian ulama tafsir. Misalnya Imam Thabari dalam sebagian pembahasan ragam qiroah tersebut beliau terkadang menempuh jalan tarjih. Yakni beliau akan unggulkan satu bacaan saja, yang menurut beliau maknanya lebih sesuai. Adapun ulama tafsir lainnya, semisal Imam ibnu Katsir terkadang beliau menempuh metode jamak atau mengakomodir semua ragam qiroah tersebut, bahkan tidak segan-segan beliau mengkritik Imam Thabari yang hanya mengunggulkan satu macam bacaan saja. 
Kemudian ternyata kita dapati sebagian ulama tafsir tidak hanya berhujjah dengan qiroah yang mutawatir saja, tapi mereka memperluas cakupannya juga kepada qiroah yang masyhur bahkan yang syadz sekalipun. Hal ini sebagai sebuah wacana untuk mendapatkan makna yang dikehendaki dari kalam Ilahi. 
Tentunya kita ucapkan Jazakumullah khoir kepada para ulama yang telah berkhidmat untuk menghadirkan kepada kita karya-karya ilmiah untuk membantu memahami Kalamullah. 
Pada kesempatan lain, kita akan mencoba melihat pandangan orientalis terhadap ragam qiroah. Tentunya mayoritas orientalis tujuan kajiannya adalah untuk menghantam islam, sehingga isu ragam qiroah ini, mereka anggap sebagai celah didalam memunculkan keragu-raguan kepada kaum muslimin terhadap kitab sucinya. 
Semoga kita semua diberikan keberkahan ilmu yang bermanfaat dan amal sholih. Aamiin.

Advertisements

TAKBIR KETIKA MEMBACA AL QUR’AN

June 9, 2017 at 9:34 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAKBIR FIIL QIROAH
Sebagaimana yang telah saya isyaratkan sebelumnya, bahwa qiro`ah Imam ‘Aashim dari jalan riwayat Imam Hafsh ada beberapa point yang dianggap sebagai bentuk ‘Tafarud’ (riwayat tunggal) dari Imam Hafsh dalam madzhab qiroahnya. Diantara point tersebut adalah takbir dalam qiroah. Sebagian ulama qiroah menganggap Imam Hafsh dalam hal ini menyelisihi qiroah lainnya yang mana mereka menganjurkan adanya takbir dalam qiroah.
Bagaimana bentuk takbir dalam qiroah? Asy-Syaikh DR. Aiman Suwaid dalam salah satu video kajiannya menyebutkan bahwa sebagian qiroah mereka menganjurkan membaca takbir setelah membaca surat adh-Dhuhaa dan seterusnya sampai selesai surat an-Naas. Jadi ketika selesai membaca ayat terakhir dari surat adh-Dhuhaa : {وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ} lalu bertakbir : “Allahu Akbar”, disambung Basmalah, lalu membaca awal surat asy-Syarh : {أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ } sampai akhir : {وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ }, lalu bertakbir : “Allahu Akbar”, disambung Basmalah, lalu membaca awal surat at-Tiin, dan nanti selesai membaca surat at-Tiin, disambung takbir dan membaca Basmalah begitu seterusnya sampai surat an-Naas. Jadi takbir dibaca tiap akhir surat dimulai dari akhir surat adh-Dhuhaa, sampai akhir surat an-Naas.
Dalil ulama qiroah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab “al-Mustadrook” (no. 5325) :

حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ، الْمُقْرِئُ الْإِمَامُ بِمَكَّةَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، ثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ الصَّائِغُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ أَبِي بَزَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ سُلَيْمَانَ، يَقُولُ: قَرَأْتُ عَلَى إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُسْطَنْطِينَ، فَلَمَّا بَلَغْتُ وَالضُّحَى، قَالَ لِي: «كَبِّرْ كَبِّرْ عِنْدَ خَاتِمَةِ كُلِّ سُورَةٍ، حَتَّى تَخَتِمَ» وَأَخْبَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَثِيرٍ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى مُجَاهِدٍ فَأَمَرَهُ بِذَلِكَ، وَأَخْبَرَهُ مُجَاهِدُ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَمَرَهُ بِذَلِكَ، وَأَخْبَرَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ، أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَمَرَهُ بِذَلِكَ وَأَخْبَرَهُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ بِذَلِكَ

  “…telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin al-Qoosim bin Abi Bazzah ia berkata, aku mendengar ‘Ikrimah bin Sulaiman berkata, aku membaca dihadapan Ismail bin Abdillah bin Qusthonthiin, tatkala aku sampai wadh-Dhuhaa, ia (Ismail) berkata : “bertakbirlah, bertakbirlah di akhir tiap surat (mulai dari adh-Dhuhaa) sampai akhir Al Qur’an (surat an-Naas).

Telah mengabarinya Abdullah bin Katsiir bahwa dia membaca dihadapan Mujaahid dan memerintahkan (takbir) tersebut, lalu Mujaahid mengabarinya bahwa Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu memerintahkan (takbir) tersebut, lalu Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu mengabarinya bahwa Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu memerintahkan hal tersebut, kemudian Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu mengabarinya bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memerintahkan (takbir) tersebut”.
Imam al-Hakim setelah meriwayatkan hadits ini menilainya : “هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ” (hadits ini shahih sanadnya, namun (Bukhori-Muslim) tidak meriwayatkannya). Namun tashih dari Imam al-Hakim ini, dikritik oleh Imam adz-Dzahabi dengan perkataannya : “al-Bazziy, diperbincangkan status haditsnya”.

Imam Abu Hatim juga menilai hadits ini mungkar, dan kemudian Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “as-Siyaar” dengan jelas mengatakan bahwa al-Bazziy adalah mungkar. Al-Bazziy ini adalah Ahmad bin Muhammad bin al-Qoosim bin Abi Bazzah, sebagaimana perowi dalam sanad yang dibawakan oleh Imam al-Hakim diatas. Imam al-Albani telah melakukan takhrij yang luas terhadap hadits ini dalam kitabnya “Silsilah al-Ahaadits adh-Dhoo’ifah (no. 6133)” dan menilainya sebagai hadits mungkar. Termasuk diantaranya beliau melakukan kritikan terhadap sebagian ulama yang menguatkan hadits ini dengan penguatnya dari perkataan Imam asy-Syafi’i, dimana sanad perkataan Imam asy-Syafi’i, tidak lepas dari kritikan beliau. Al-khulashoh hadits tentang pensyariatan takbir di tiap-tiap akhir surat mulai dari adh-Dhuhaa sampai akhir an-Naas, tidak tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. 
Kembali kepada pembahasan kita, jadi secara ilmu hadits pensyariatan bacaan takbir di tiap akhir surat tidaklah tsabit alias haditsnya adalah lemah. Namun para ulama qiro’ah menetapkan pensyariatan takbir ini. Misalnya Imam al-Jazariy (w. 833 H) dalam matan “ath-Thoyyibah an-Nasyr” yang berisi terkait hal ihwal qiro’ah asyarah (qiroah 10 Imam) beliau berkata (bait 1000 – 1002) :

وَسُنَّةُ التَّكْبِيرِ عِنْدَ الْخَتْمِ … صَحَّتْ عَنِ اْلمَكِّيِنَ أَهْلِ العِلْم

فىِ كُلِّ حَالٍ وَلَدَى الصَّلاَةِ … سُلْسِلَ عَنْ أَئِمَّةٍ ثِقَاتِ

مِنْ أَوَّلِ انْشِرَاحٍ اَوْ منَ الضُّحَى … مِنْ آخِرٍ أَوْ أَوَّلٍ قَدْ صُحِّحَا

Sunah bertakbir ketika selesai (membaca) … hal ini valid dari ulama qiroah Mekkah (maksudnya qiroah Imam Ibnu Katsiir)

Pada setiap kali membaca Al-Qur’an, demikian juga ketika sholat … diriwayatkan secara musalsal (bersambung) dari Aimah yang tsiqoh (terpecaya)

Dari awal surat asy-Syarh atau dari mulai adh-Dhuhaa … baik di akhir surat adh-Dhuhaa maupun di awalnya, maka kedua hal ini benar semuanya.
Kemudian terkait qiroah Imam Hafsh dari ‘Aashim yang tidak menetapkan takbir tersebut, ini adalah melalui thoriq asy-Syaathibiyyah. Adapun thoriq lainnya, seperti melalui thoriq ath-Thoyyibah, dimana dalam baitnya disebutkan :

من أول انشراحها أو من فحدْ … دثْ خلفُ تكبير لحفصٍ قد ورد

Dari awal surat asy-Syarh atau (setelah) fakhadits (ayat terakhir surat adh-Dhuhaa) … kemudian membaca takbir, dan untuk (riwayat) Hafsh telah datang (juga pensyariatan takbir tersebut)

Maka dalam thoriq ini, qiroah ‘Aashim via Imam Hafsh ternyata menetapkan takbir juga. 
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah, secara kaedah-kaedah ilmu hadits penetapan adanya takbir dalam qiroah baik diawal tiap-tiap surat dari mulai Al-Fatihah sampai an-Naas, kecuali surat at-Taubah (menurut salah satu madzhab ulama qiroah), begitu juga diawal tiap-tiap surat mulai dari surat adh-Dhuhaa sampai surat an-Naas, atau disetiap akhir mulai dari akhir surat adh-Dhuhaa sampai surat an-Naas (madzhab ketiga), hal ini tidaklah tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Namun telah masyhur dalam qiroah Imam ibnu Katsir tentang pensyariatan takbir tersebut sebagaimana ditegaskan oleh beberapa ulama pakar qiroah, diantaranya Imam asy-Syatibhi dalam thoriq Syaatibiyyah, maupun Imam al-Jazaariy dalam thoriq Thoyyibah. Adapun selain qiroah Imam Ibnu Katsir, menurut mereka juga dianjurkan untuk membaca takbir tersebut, akan tetapi dalam thoriq Syatibiyyah, tidak ditegaskan bahwa qiraoh ‘Aashim via Imam Hafsh menetapkan takbir ini, sehingga sebagian ulama menilainya sebagai Tafarud (kesendirian) dari Imam Hafsh. Namun ternyata hal ini telah diklarifikasi oleh Imam al-Jazariy dalam thoriq Thoyyibah, bahwa tertetapkan juga pensyariatan takbir tersebut,dari riwayat Imam Hafsh terhadap qiroah Imam ‘Aashim. Wallahul a’lam.

HADITS MEMBERI MAKAN ORANG MISKIN

June 9, 2017 at 9:33 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HADITS MEMBERI MAKAN ORANG PUASA
Al-‘Alamah Muqbil bin Hadi menilai  sebuah hadits yang populer dalam kitabnya “Ahaadits Mu’allal Dhohiruhu Shihah :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka akan ditulis baginya pahala puasa orang yang dikasih makan… ”
Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi serta selainnya. Sanad Hadits ini berporos kepada ‘Athaa` bin Abi Rabaah dari Zaid bin Kholid al-Juhniy radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alahi wa sallam. Secara kasat mata dhohir sanadnya shahih, semua perowinya sampai ke ‘Athaa` adalah para perowi tsiqoh dan Imam ‘Athaa` juga seorang aimah yang tsiqoh. Namun cacat hadits ini terletak pada keterputusan sanad antara Imam ‘Athaa` dengan sahabat yang mulia Zaid bin Khoolid radhiyallahu anhu. Sebagaimana ditetapkan oleh Imam Ali ibnul Madiiniy. Sehingga tentu saja memberikan kedhoifan terhadap status haditsnya. 
Namun memberi makan orang lain, apalagi kepada orang yang berpuasa ditambah lagi orang tersebut fakir dan miskin, tentunya sudah tsabit dalam syariat kita akan keutamaannya yang tinggi. Wallahul A’lam.

MENGENAL QIROAH IMAM ‘AASHIM

June 9, 2017 at 9:33 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGENAL QIROAH IMAM ‘AASHIM
Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar atau Abu ‘Amr ‘Aashim bin Abi an-Nujuud al-Kuufiy. Dilahirkan pada tahun 82 H, dan wafat pada tahun 127 H dalam usia 45 tahun. 
Beliau adalah penerus ulama qiroah di kufah setelah wafatnya Abu Abdir Rahman as-Sulaamiy. Qiroah beliau terkenal akan kefasihannya, tajwid yang Bagus dan kekokohan bacaannya. Beliau memiliki suara yang sangat Bagus dalam membaca Al Qur’an. Selain sebagai pakar qiroah beliau juga terkenal sebagai ulama sunah, ahli nahwu, sekaligus juga sebagai ahli fiqih. Kekohan beliau dalam membaca Al Qur’an digambarkan oleh muridnya, yang sekaligus juga sebagai salah satu perowi qiroahnya yang masyhur yaitu Imam Syu’bah, dimana beliau pernah mendengar gurunya -Imam ‘Aashim- berkata :

ﻣﺮﺿﺖ ﺳﻨﺘﻴﻦ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﻤﺖ ﻗﺮﺃﺕ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﻓﻤﺎ ﺃﺧﻄﺄﺕ ﺣﺮﻓﺎً

“aku pernah sakit (parah) selama dua tahun,  (tatkala aku sembuh -pent.) dan mulai membaca Al-Qur’an kembali, maka aku tidak melakukan kesalahan walau satu huruf pun”. Imam Ahmad bin Hanbal menilainya sebagai seorang yang tsiqoh. 
Imam ‘Aashim mempunyai dua orang perowi yang masyhur yaitu :

1. Hafsh, nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafsh bin Sulaiman bin al-Mughiiroh al-Kuufiy. Dilahirkan pada tahun 90 H, dan diwafatkan pada tahun 180 H. Beliau adalah murid Imam ‘Aashim yang paling tahu qiroahnya, hal ini maklum saja, karena beliau bertalaqi penuh kepada Imam ‘Aashim. Sebagian ulama mengunggulkan Imam Hafsh dibandingkan dengan Imam Syu’bah. Sanad riwayat Hafsh bersambung dari Imam ‘Aashim dari Abu Abdir Rahman as-Sulaamiy dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 

Qiroah Imam ‘Aashim dari riwayat Imam Hafsh adalah qiroah yang paling banyak dipakai oleh kaum muslimin pada saat ini. Oleh karenanya, maka para ulama telah melakukan berbagai kajian terhadap seluk beluk Imam Hafsh, sampai pada hal yang sifatnya kritikan kepada beliau. Diantaranya qiroah beliau memiliki beberapa Tafarud (bahasa kasarnya “nyeleneh” sendiri dibandingkan yang lainnya), bahkan sebagian qiroahnya diingkari oleh Imam ath-thabari, ulama ahli tafsir yang sangat masyhur. Kemudian ada isu bahwa sebagian ulama jarh wa ta’dil menilainya sebagai perowi yang muttahim bil kadzib (tertuduh berdusta). Namun karena khawatir akan berkepanjangan tulisan ini, maka insya Allah pada kesempatan lain kita akan bahas -biidznillah- hal tersebut, demi mengklarifikasi berbagai isu miring seputar beliau. 

Alaa kulli hal, qiroah ‘Aashim dari riwayat Hafsh menjadi pilihan utama sebagian besar kaum muslimin di dunia, dan pada tulisan lain kita akan bicarakan -Insya Allah- sebab-sebab keberterimaan kaum muslimin terhadap qiroah beliau. 
2. Syu’bah, nama lengkapnya adalah Abu Bakar Syu’bah bin ‘Ayyaasy al-Kuufiy. Sebenarnya para ulama berbeda pendapat tentang nama asli beliau mencapai 13 nama yang berbeda untuknya. Namun yang masyhur adalah nama ini, yakni Syu’bah. Beliau dilahirkan pada tahun 95 H, dan wafat pada tahun 193 H. Suatu hari Imam Hafsh komplain kepada gurunya -Imam ‘Aashim-,  mengapa ada berapa bacaan Syu’bah yang berbeda dengannya, padahal kita sama-sama seguru seilmu, maka Imam ‘Aashim menjawab :

ﺃﻗﺮﺃﺗﻚ ﺑﻤﺎ ﺃﻗﺮﺃﻧﻲ ﺑﻪ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺃﻗﺮﺃﺕ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺑﻤﺎ ﺃﻗﺮﺃﻧﻲ ﺑﻪ ﺯﺭ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﻴﺶ ﻋﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ . 

“aku membacakan kepadamu (ya hafsh) dengan apa yang telah dibacakan kepadaku oleh Abu Abdir Rahman as-Sulaamiy, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sedangkan aku membacakan kepada Abu Bakar (yakni Syu’bah)  dengan apa yang telah dibacakan kepadaku oleh Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu”.

Pada beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuliskan sebuah artikel tentang perbedaan qiroah antara Imam Hafsh dengan Imam Syu’bah, sekalipun sama-sama mengambil qiroahnya dari Imam ‘Aashim. 

Beliau adalah salah seorang Imam ahlus sunnah, akidah beliau sangat jelas dalam membela sunnah. Salah satu contohnya dengan tegas beliau mengatakan : “barangsiapa yang berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka dia adalah Kafir lagi Zindiq, tidak boleh bermajelis dan berbicara dengannya”.

Ketika menjelang ajalnya,  saudari perempuannya menangisinya, maka Imam Syu’bah mengatakan kepadanya,  “apa yang membuatmu menangis?, sungguh aku telah mengkhatamkan Al-quran sepanjang hidupku, sebanyak 18 ribu kali”.
Semoga Allah merahmati Imam ‘Aashim, dua muridnya yang masyhur Imam Hafsh dan Imam Syu’bah, serta kepada seluruh kaum musliminin dengan limpahan rakhmatnya yang sangat luas. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin. 
Referensi :

http://www.alukah.net/culture/0/54297/

http://www.dar-alhejrah.com/t14774-topic

CARA MENETAPKAN SEBUAH KITAB KEPADA PENULISNYA

June 9, 2017 at 9:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

CARA MENETAPKAN SEBUAH KITAB SEBAGAI KARYA ULAMA SALAF
kalau tulisan ulama-ulama abad pertengahan, apalagi ulama kontemporer, tentu tidak mengalami kesulitan yang berarti dibandingkan dengan karya-karya ulama salaf, apalagi para ulama mutaqodimin yang hidup pada 3 abad terbaik. 
Untuk menetapkan sebuah kitab atau risalah sebagai sebuah karya ulama salaf, biasanya para ulama kita menempuh 2 metode :

1. Meng-itsbatnya dengan sanad baik yang sampai kepada mereka atau yang sampai kepada sebagian aimah. 

2. Apakah kitab tersebut memang dinisbatkan oleh para ulama yang menulis tentang biografi mereka, ketika menyebutkan deretan karya tulis yang dihasilkan oleh sang Imam salaf tersebut. 
Oleh karena itu, para ulama bisa saja mengkritik keabsahan kitab tersebut kepada sang Imam jika didapati keraguan pada salah satunya. Sebagai contoh dan pernah saya tuliskan beberapa tahun yang lalu, kritikan para ulama terhadap klaim Imam Fairuz abadi -penulis kitab kamus arab terkenal- ketika beliau menyusun sebuah tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhu,  yang berjudul “Tanwiirul Miqbaas..”, alasannya karena beliau berpegang kepada sanad yang dilemahkan oleh para ulama ketika menukil penafsiran Imam Ibnu Abbas. 
Dan yang menarik yang mungkin jarang dikaji ada sebuah kitab yang katanya dinisbatkan kepada Imam Nawawi yang menunjukkan beliau rujuk kepada manhaj salaf. Wallahul A’lam.

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: