MENGENAL QIROAH IMAM ‘AASHIM

June 9, 2017 at 9:33 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGENAL QIROAH IMAM ‘AASHIM
Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar atau Abu ‘Amr ‘Aashim bin Abi an-Nujuud al-Kuufiy. Dilahirkan pada tahun 82 H, dan wafat pada tahun 127 H dalam usia 45 tahun. 
Beliau adalah penerus ulama qiroah di kufah setelah wafatnya Abu Abdir Rahman as-Sulaamiy. Qiroah beliau terkenal akan kefasihannya, tajwid yang Bagus dan kekokohan bacaannya. Beliau memiliki suara yang sangat Bagus dalam membaca Al Qur’an. Selain sebagai pakar qiroah beliau juga terkenal sebagai ulama sunah, ahli nahwu, sekaligus juga sebagai ahli fiqih. Kekohan beliau dalam membaca Al Qur’an digambarkan oleh muridnya, yang sekaligus juga sebagai salah satu perowi qiroahnya yang masyhur yaitu Imam Syu’bah, dimana beliau pernah mendengar gurunya -Imam ‘Aashim- berkata :

ﻣﺮﺿﺖ ﺳﻨﺘﻴﻦ ﻓﻠﻤﺎ ﻗﻤﺖ ﻗﺮﺃﺕ ﺍﻟﻘﺮﺁﻥ ﺍﻟﻜﺮﻳﻢ ﻓﻤﺎ ﺃﺧﻄﺄﺕ ﺣﺮﻓﺎً

“aku pernah sakit (parah) selama dua tahun,  (tatkala aku sembuh -pent.) dan mulai membaca Al-Qur’an kembali, maka aku tidak melakukan kesalahan walau satu huruf pun”. Imam Ahmad bin Hanbal menilainya sebagai seorang yang tsiqoh. 
Imam ‘Aashim mempunyai dua orang perowi yang masyhur yaitu :

1. Hafsh, nama lengkapnya adalah Abu Umar Hafsh bin Sulaiman bin al-Mughiiroh al-Kuufiy. Dilahirkan pada tahun 90 H, dan diwafatkan pada tahun 180 H. Beliau adalah murid Imam ‘Aashim yang paling tahu qiroahnya, hal ini maklum saja, karena beliau bertalaqi penuh kepada Imam ‘Aashim. Sebagian ulama mengunggulkan Imam Hafsh dibandingkan dengan Imam Syu’bah. Sanad riwayat Hafsh bersambung dari Imam ‘Aashim dari Abu Abdir Rahman as-Sulaamiy dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. 

Qiroah Imam ‘Aashim dari riwayat Imam Hafsh adalah qiroah yang paling banyak dipakai oleh kaum muslimin pada saat ini. Oleh karenanya, maka para ulama telah melakukan berbagai kajian terhadap seluk beluk Imam Hafsh, sampai pada hal yang sifatnya kritikan kepada beliau. Diantaranya qiroah beliau memiliki beberapa Tafarud (bahasa kasarnya “nyeleneh” sendiri dibandingkan yang lainnya), bahkan sebagian qiroahnya diingkari oleh Imam ath-thabari, ulama ahli tafsir yang sangat masyhur. Kemudian ada isu bahwa sebagian ulama jarh wa ta’dil menilainya sebagai perowi yang muttahim bil kadzib (tertuduh berdusta). Namun karena khawatir akan berkepanjangan tulisan ini, maka insya Allah pada kesempatan lain kita akan bahas -biidznillah- hal tersebut, demi mengklarifikasi berbagai isu miring seputar beliau. 

Alaa kulli hal, qiroah ‘Aashim dari riwayat Hafsh menjadi pilihan utama sebagian besar kaum muslimin di dunia, dan pada tulisan lain kita akan bicarakan -Insya Allah- sebab-sebab keberterimaan kaum muslimin terhadap qiroah beliau. 
2. Syu’bah, nama lengkapnya adalah Abu Bakar Syu’bah bin ‘Ayyaasy al-Kuufiy. Sebenarnya para ulama berbeda pendapat tentang nama asli beliau mencapai 13 nama yang berbeda untuknya. Namun yang masyhur adalah nama ini, yakni Syu’bah. Beliau dilahirkan pada tahun 95 H, dan wafat pada tahun 193 H. Suatu hari Imam Hafsh komplain kepada gurunya -Imam ‘Aashim-,  mengapa ada berapa bacaan Syu’bah yang berbeda dengannya, padahal kita sama-sama seguru seilmu, maka Imam ‘Aashim menjawab :

ﺃﻗﺮﺃﺗﻚ ﺑﻤﺎ ﺃﻗﺮﺃﻧﻲ ﺑﻪ ﺃﺑﻮ ﻋﺒﺪﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺴﻠﻤﻲ ﻋﻦ ﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻭﺃﻗﺮﺃﺕ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ﺑﻤﺎ ﺃﻗﺮﺃﻧﻲ ﺑﻪ ﺯﺭ ﺍﺑﻦ ﺣﺒﻴﺶ ﻋﻦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ . 

“aku membacakan kepadamu (ya hafsh) dengan apa yang telah dibacakan kepadaku oleh Abu Abdir Rahman as-Sulaamiy, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Sedangkan aku membacakan kepada Abu Bakar (yakni Syu’bah)  dengan apa yang telah dibacakan kepadaku oleh Zirr bin Hubaisy dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu”.

Pada beberapa waktu yang lalu, saya pernah menuliskan sebuah artikel tentang perbedaan qiroah antara Imam Hafsh dengan Imam Syu’bah, sekalipun sama-sama mengambil qiroahnya dari Imam ‘Aashim. 

Beliau adalah salah seorang Imam ahlus sunnah, akidah beliau sangat jelas dalam membela sunnah. Salah satu contohnya dengan tegas beliau mengatakan : “barangsiapa yang berpendapat bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka dia adalah Kafir lagi Zindiq, tidak boleh bermajelis dan berbicara dengannya”.

Ketika menjelang ajalnya,  saudari perempuannya menangisinya, maka Imam Syu’bah mengatakan kepadanya,  “apa yang membuatmu menangis?, sungguh aku telah mengkhatamkan Al-quran sepanjang hidupku, sebanyak 18 ribu kali”.
Semoga Allah merahmati Imam ‘Aashim, dua muridnya yang masyhur Imam Hafsh dan Imam Syu’bah, serta kepada seluruh kaum musliminin dengan limpahan rakhmatnya yang sangat luas. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin. 
Referensi :

http://www.alukah.net/culture/0/54297/

http://www.dar-alhejrah.com/t14774-topic

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: