TAKBIR KETIKA MEMBACA AL QUR’AN

June 9, 2017 at 9:34 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TAKBIR FIIL QIROAH
Sebagaimana yang telah saya isyaratkan sebelumnya, bahwa qiro`ah Imam ‘Aashim dari jalan riwayat Imam Hafsh ada beberapa point yang dianggap sebagai bentuk ‘Tafarud’ (riwayat tunggal) dari Imam Hafsh dalam madzhab qiroahnya. Diantara point tersebut adalah takbir dalam qiroah. Sebagian ulama qiroah menganggap Imam Hafsh dalam hal ini menyelisihi qiroah lainnya yang mana mereka menganjurkan adanya takbir dalam qiroah.
Bagaimana bentuk takbir dalam qiroah? Asy-Syaikh DR. Aiman Suwaid dalam salah satu video kajiannya menyebutkan bahwa sebagian qiroah mereka menganjurkan membaca takbir setelah membaca surat adh-Dhuhaa dan seterusnya sampai selesai surat an-Naas. Jadi ketika selesai membaca ayat terakhir dari surat adh-Dhuhaa : {وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ} lalu bertakbir : “Allahu Akbar”, disambung Basmalah, lalu membaca awal surat asy-Syarh : {أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ } sampai akhir : {وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ }, lalu bertakbir : “Allahu Akbar”, disambung Basmalah, lalu membaca awal surat at-Tiin, dan nanti selesai membaca surat at-Tiin, disambung takbir dan membaca Basmalah begitu seterusnya sampai surat an-Naas. Jadi takbir dibaca tiap akhir surat dimulai dari akhir surat adh-Dhuhaa, sampai akhir surat an-Naas.
Dalil ulama qiroah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab “al-Mustadrook” (no. 5325) :

حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ، الْمُقْرِئُ الْإِمَامُ بِمَكَّةَ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، ثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ الصَّائِغُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ أَبِي بَزَّةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ سُلَيْمَانَ، يَقُولُ: قَرَأْتُ عَلَى إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُسْطَنْطِينَ، فَلَمَّا بَلَغْتُ وَالضُّحَى، قَالَ لِي: «كَبِّرْ كَبِّرْ عِنْدَ خَاتِمَةِ كُلِّ سُورَةٍ، حَتَّى تَخَتِمَ» وَأَخْبَرَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ كَثِيرٍ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى مُجَاهِدٍ فَأَمَرَهُ بِذَلِكَ، وَأَخْبَرَهُ مُجَاهِدُ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ أَمَرَهُ بِذَلِكَ، وَأَخْبَرَهُ ابْنُ عَبَّاسٍ، أَنَّ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ أَمَرَهُ بِذَلِكَ وَأَخْبَرَهُ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ بِذَلِكَ

  “…telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad bin al-Qoosim bin Abi Bazzah ia berkata, aku mendengar ‘Ikrimah bin Sulaiman berkata, aku membaca dihadapan Ismail bin Abdillah bin Qusthonthiin, tatkala aku sampai wadh-Dhuhaa, ia (Ismail) berkata : “bertakbirlah, bertakbirlah di akhir tiap surat (mulai dari adh-Dhuhaa) sampai akhir Al Qur’an (surat an-Naas).

Telah mengabarinya Abdullah bin Katsiir bahwa dia membaca dihadapan Mujaahid dan memerintahkan (takbir) tersebut, lalu Mujaahid mengabarinya bahwa Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu memerintahkan (takbir) tersebut, lalu Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu mengabarinya bahwa Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu memerintahkan hal tersebut, kemudian Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu ‘anhu mengabarinya bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memerintahkan (takbir) tersebut”.
Imam al-Hakim setelah meriwayatkan hadits ini menilainya : “هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ” (hadits ini shahih sanadnya, namun (Bukhori-Muslim) tidak meriwayatkannya). Namun tashih dari Imam al-Hakim ini, dikritik oleh Imam adz-Dzahabi dengan perkataannya : “al-Bazziy, diperbincangkan status haditsnya”.

Imam Abu Hatim juga menilai hadits ini mungkar, dan kemudian Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “as-Siyaar” dengan jelas mengatakan bahwa al-Bazziy adalah mungkar. Al-Bazziy ini adalah Ahmad bin Muhammad bin al-Qoosim bin Abi Bazzah, sebagaimana perowi dalam sanad yang dibawakan oleh Imam al-Hakim diatas. Imam al-Albani telah melakukan takhrij yang luas terhadap hadits ini dalam kitabnya “Silsilah al-Ahaadits adh-Dhoo’ifah (no. 6133)” dan menilainya sebagai hadits mungkar. Termasuk diantaranya beliau melakukan kritikan terhadap sebagian ulama yang menguatkan hadits ini dengan penguatnya dari perkataan Imam asy-Syafi’i, dimana sanad perkataan Imam asy-Syafi’i, tidak lepas dari kritikan beliau. Al-khulashoh hadits tentang pensyariatan takbir di tiap-tiap akhir surat mulai dari adh-Dhuhaa sampai akhir an-Naas, tidak tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. 
Kembali kepada pembahasan kita, jadi secara ilmu hadits pensyariatan bacaan takbir di tiap akhir surat tidaklah tsabit alias haditsnya adalah lemah. Namun para ulama qiro’ah menetapkan pensyariatan takbir ini. Misalnya Imam al-Jazariy (w. 833 H) dalam matan “ath-Thoyyibah an-Nasyr” yang berisi terkait hal ihwal qiro’ah asyarah (qiroah 10 Imam) beliau berkata (bait 1000 – 1002) :

وَسُنَّةُ التَّكْبِيرِ عِنْدَ الْخَتْمِ … صَحَّتْ عَنِ اْلمَكِّيِنَ أَهْلِ العِلْم

فىِ كُلِّ حَالٍ وَلَدَى الصَّلاَةِ … سُلْسِلَ عَنْ أَئِمَّةٍ ثِقَاتِ

مِنْ أَوَّلِ انْشِرَاحٍ اَوْ منَ الضُّحَى … مِنْ آخِرٍ أَوْ أَوَّلٍ قَدْ صُحِّحَا

Sunah bertakbir ketika selesai (membaca) … hal ini valid dari ulama qiroah Mekkah (maksudnya qiroah Imam Ibnu Katsiir)

Pada setiap kali membaca Al-Qur’an, demikian juga ketika sholat … diriwayatkan secara musalsal (bersambung) dari Aimah yang tsiqoh (terpecaya)

Dari awal surat asy-Syarh atau dari mulai adh-Dhuhaa … baik di akhir surat adh-Dhuhaa maupun di awalnya, maka kedua hal ini benar semuanya.
Kemudian terkait qiroah Imam Hafsh dari ‘Aashim yang tidak menetapkan takbir tersebut, ini adalah melalui thoriq asy-Syaathibiyyah. Adapun thoriq lainnya, seperti melalui thoriq ath-Thoyyibah, dimana dalam baitnya disebutkan :

من أول انشراحها أو من فحدْ … دثْ خلفُ تكبير لحفصٍ قد ورد

Dari awal surat asy-Syarh atau (setelah) fakhadits (ayat terakhir surat adh-Dhuhaa) … kemudian membaca takbir, dan untuk (riwayat) Hafsh telah datang (juga pensyariatan takbir tersebut)

Maka dalam thoriq ini, qiroah ‘Aashim via Imam Hafsh ternyata menetapkan takbir juga. 
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah, secara kaedah-kaedah ilmu hadits penetapan adanya takbir dalam qiroah baik diawal tiap-tiap surat dari mulai Al-Fatihah sampai an-Naas, kecuali surat at-Taubah (menurut salah satu madzhab ulama qiroah), begitu juga diawal tiap-tiap surat mulai dari surat adh-Dhuhaa sampai surat an-Naas, atau disetiap akhir mulai dari akhir surat adh-Dhuhaa sampai surat an-Naas (madzhab ketiga), hal ini tidaklah tsabit dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Namun telah masyhur dalam qiroah Imam ibnu Katsir tentang pensyariatan takbir tersebut sebagaimana ditegaskan oleh beberapa ulama pakar qiroah, diantaranya Imam asy-Syatibhi dalam thoriq Syaatibiyyah, maupun Imam al-Jazaariy dalam thoriq Thoyyibah. Adapun selain qiroah Imam Ibnu Katsir, menurut mereka juga dianjurkan untuk membaca takbir tersebut, akan tetapi dalam thoriq Syatibiyyah, tidak ditegaskan bahwa qiraoh ‘Aashim via Imam Hafsh menetapkan takbir ini, sehingga sebagian ulama menilainya sebagai Tafarud (kesendirian) dari Imam Hafsh. Namun ternyata hal ini telah diklarifikasi oleh Imam al-Jazariy dalam thoriq Thoyyibah, bahwa tertetapkan juga pensyariatan takbir tersebut,dari riwayat Imam Hafsh terhadap qiroah Imam ‘Aashim. Wallahul a’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: