TA’QIIB DALAM SHOLAT TARAWIH

June 16, 2017 at 9:27 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’QIIB DALAM SHOLAT TARAWIH
Ada sebuah fenomena yang terjadi di sebagian masjid kaum muslimin yang mengadakan sholat tarawih pada 10 hari terakhir menjadi dua shift. Shift pertama misalnya dikerjakan 10 rokaat, kemudian nanti pada sepertiga malam terakhir dikerjakan lagi 10 rokaat. Semuanya dikerjakan secara berjamaah. 
Istilah ini masyhur dalam madzhab Hanbali yang dinamakan dengan at-Ta’qiib. Ada dua pendapat yang masyhur yang dinukil dari Imam Ahmad dan para ulama lainnya terkait masalah ta’qiib ini :

1. Hukumnya makruh, jika mereka mengadakan sholat sunah berjamaah lagi setelah selesai mengerjakan sholat tarawih dan witir pada kesempatan pertama. Misalnya sholat tarawih dan witir secara berjamaah telah dikerjakan setelah sholat isya. Kemudian pada sepertiga malam akhir diadakan lagi sholat malam secara berjamaah. Imam Ahmad memakruhkannya sebagaimana dinukil oleh al-‘Alamah Muhammad ibnul Hakam dan dari kalangan ulama kontemporer oleh al-‘Alamah ibnu Utsaimin. Dalil mereka adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺍﺟﻌﻠﻮﺍ ﺁﺧﺮ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺑﺎﻟﻠَّﻴﻞ ﻭﺗﺮًﺍ

“Jadikan akhir sholat malam kalian itu adalah sholat witir”.

Sisi pendalilan bahwa ta’qiib diatas dihukumi makruh, karena ketika mereka sudah sholat tarawih dan witir, kemudian mereka sholat malam lagi, maka berarti sholat witirnya tidak menjadi sholat terakhir baginya. 

Kemudian telah datang pendapat aimah kita yang memakruhkannya dari Imam Said bin al-Musayyib, Hasan al-bashri, dan Qotadah Rahimahumullahu. 

Solusinya bagi orang yang terlanjur melakukan sholat tarawih dan witir bersama Imam, kemudian dia ingin melaksanakan sholat malam pada sepertiga malam akhir, maka dia melakukannya di rumah atau sendiri, sebagaimana telah datang fatwa dari Anas bin Malik dalam Mushonaf ibnu Abi Syaibah, ketika ditanya tentang ta’qiib pada Bulan Ramadhan :

ﻓﺄﻣﺮﻫﻢ ﺃﻥ ﻳُﺼﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ‏

“Beliau memerintahkan mereka untuk sholat (sendiri-sendiri -pent.) di rumah”.
2. Tidak makruh sama sekali, alias boleh secara mutlak. Ini dinukil juga dari Imam Ahmad dan dianggap sebagai pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Hanbali, adapun qoul yang pertama yang memakruhkannya, maka itu dianggap sebagai qoul qodiim. 

Dalilnya adalah perkataan Anas bin Malik radhiyallahu anhu :

ﻣﺎ ﻳﺮﺟﻌﻮﻥ ﺇﻻ ﻟﺨﻴﺮ ﻳﺮﺟﻮﻧﻪ، ﺃﻭ ﻟﺸﺮ ﻳﺤﺬﺭﻭﻧﻪ ‏

“Tidaklah mereka kembali (untuk sholat lagi secara berjamaah -pent.), kecuali karena mengharapkan kebaikan atau agar menghindari kejelekan” (HR. Ibnu Abi Syaibah). 

Al-‘Alamah ibnu Utsaimin dalam “asy-Syarh al-Mumti'” menyanggah pendapat penulis “Zaadul Mustaqni'” yang mengatakan ta’qiib dalam bentuk diatas tidaklah makruh secara mutlak. Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan seandainya atsar mauquf Anas bin Malik radhiyallahu anhu yang dijadikan dalil oleh beliau shahih (yang benar atsar ini dhoif -pent.), maka dia bercanggah dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang marfu’ yakni untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat malam seseorang. 

Kemudian al-‘Alamah ibnu Utsaimin memberikan bentuk at-Ta’qiib yang tidak makruh, yakni sholat witir pada shift pertama diakhirkan nanti pada shift kedua yang dikerjakan pada akhir malam. Kata beliau :

لكن لو أنَّ هذا التَّعقيبَ جاء بعد التَّراويح وقبل الوِتر، لكان القول بعدم الكراهة صحيحاً، وهو عمل النَّاس اليوم في العشر الأواخر من رمضان، يُصلِّي النَّاس التَّراويح في أول الليل، ثم يرجعون في آخر الليل، ويقومون يتهجَّدون

“Namun jika mereka melakukan ta’qiib ini setelah sholat tarawih dan (menangguhkan) witirnya, maka pendapat yang mengatakan tidak makruhnya ta’qiib tersebut adalah benar. Inilah yang dilakukan orang-orang pada hari ini, pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan. Mereka sholat tarawih pada awal malam, kemudian kembali lagi nanti pada akhir malam, mengerjakan sholat tahajud (lalu ditutup dengan witir -pent.).
So, apa yang dilakukan disebagian masjid tersebut, memiliki sandaran dari para ulama, terutama dibahas lebih rinci dalam madzhab Hanbali. Wallahul A’lam.

SURAT TERBUKA KEPADA IBNUL JAUZI

June 16, 2017 at 9:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SURAT TERBUKA KEPADA IMAM IBNUL JAUZI
Para tholabul ilmi tentu mengenal nama beliau. Salah seorang ulama besar yang mengusai multi disiplin ilmu dalam islam. Beliau dikenal sebagai ahli tafsir, ahli hadits, ahli sejarah, ahli fiqih dan pakar dalam cabang-cabang ilmu lainnya. Imam ibnul Jauzi (w. 597 H) memiliki ucapan yang Indah, sehingga beliau dikenal sebagai juru nasehat. 
Namun sayangnya dalam masalah akidah tentang Asmaa dan shifat Allah, beliau mengikuti pendapat yang menyelisihi Imamnya yang beliau menisbatkan diri kepadanya, yakni beliau sebagai seorang Hanbali. Bahkan beliau melakukan kritikan keras kepada tokoh-tokoh ulama hanbali yang mengusung akidah salaf, seperti kepada qodhi Abu Ya’laa. 
Hal inilah yang membuat resah sebagian ulama Hanabilah. Diantara mereka adalah Ishaq bin Ahmad al-‘Altsiy (W.  634 H), salah seorang Faqih dan Zahid, terkenal sebagai ulama yang getol melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya “Dzail Thobaqoot al-Hanabilah” menyebutkan bahwa al-‘Altsiy pernah menulis surat kepada Imam ibnul Jauzi untuk mengingatkan beliau atas sikap dan pendapatnya terkait masalah akidah. Di awal suratnya beliau berkata :

ﻣﻦ ﻋﺒﻴﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﺳﺤﺎﻕ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻏﺎﻧﻢ ﺍﻟﻌﻠﺜﻲ، ﺇﻟﻰ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ، ﺣﻤﺎﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻳﺎﻩ ﻣﻦ ﺍﻻﺳﺘﻜﺒﺎﺭ ﻋﻦ ﻗﺒﻮﻝ ﺍﻟﻨﺼﺎﺋﺢ، ﻭﻭﻓﻘﻨﺎ ﻭﺇﻳﺎﻩ ﻻﺗﺒﺎﻉ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺍﻟﺼﺎﻟﺢ، ﻭﺑﺼﺮﻧﺎ ﺑﺎﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺴﻨﻴﺔ، ﻭﻻ ﺣﺮﻣﻨﺎ ﺍﻻﻫﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﻠﻔﻈﺎﺕ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ، ﻭﺃﻋﺎﺫﻧﺎ ﻣﻦ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻟﻤﺤﻤﺪﻳﺔ . ﻓﻼ ﺣﺎﺟﺔ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ…

“Dari.. Al-‘Altsiy kepada Ibnul Jauzi, semoga Allah menjaga kami dari dirinya dari menyombongkan diri menerima nasehat, memberikan taufik-Nya kepada kami dan kepadanya untuk mengikuti Salafus Sholih, memperlihatkan sunah yang lurus, tidak mengharamkan kepada kita petunjuk nabawiyyah, melindungi kita dari berbuat bid’ah dalam syariat muhammadiyah, dan tidak membutuhkan bid’ah tersebut… “.
Diakhir suratnya beliau dengan tegas memperingatkan Imam ibnul Jauzi :

ﻭﺇﺫﺍ ﺗﺄﻭﻟﺖَ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻐﺔ، ﻭﺳﻮﻏﺘﻪ ﻟﻨﻔﺴﻚ، ﻭﺃﺑﻴﺖَ ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ، ﻓﻠﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻜﺒﻴﺮ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺣﻨﺒﻞ – ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﻭﺣﻪ – ﻓﻼ ﻳﻤﻜﻨﻚ ﺍﻻﻧﺘﺴﺎﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻬﺬﺍ، ﻓﺎﺧﺘﺮ ﻟﻨﻔﺴﻚ ﻣﺬﻫﺒﺎً، ﺇﻥ ﻣُﻜﻨﺖ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ…

“Jika engkau masih saja mentakwil shifat (Allah) dari lafadznya, dan engkau merasa harus melakukan itu, serta menolak nasehat, maka ini semua bukanlah madzhab Imam besar Ahmad bin Hanbal -semoga Allah mensucikan ruhnya-. Tidak mungkin lagi engkau menisbatkan dirimu kepadanya dengan sebab tersebut, siakan pilih untuk dirimu sebuah madzhab yang engkau merasa nyaman dengannya.. “.
Isi lengkap surat terbuka ini dapat dilihat di :

http://www.mobile.alamralawal.com/showContent.php?p=kawal&i=13
al-‘Altsiy mengkritik Imam ibnu Jauzi dengan menukilkan pendapat-pendapatnya yang dianggap menyimpang dan dikitab mana itu ditemukan dalam deretan karya-karya Imam ibnul Jauzi. 
Ada 6 point utama kritikan al-‘Altsiy (http://majles.alukah.net/t117301/) dalam suratnya ini :

1. Imam ibnul Jauzi tidak beradab ketika mensifati malaikat dengan hamba Allah yang Saadzijah (naif);

2. Tuduhan Imam ibnul Jauzi bahwa Ahlus sunnah tidak paham sifat-sifat Allah. 

3. Pendapatnya terkait qiyas dalam masalah Sifat-sifat Allah. 

4. Taklidnya beliau kepada ulama yang sesat dalam masalah Sifat Rabbunaa. 

5. Jatuhnya beliau dalam mentahrif (merubah) Sifat Allah. 

6. Takwil beliau terhadap sifat Allah.

WANITA SHOLAT TARAWIH DI MASJID ATAU DI RUMAH

June 16, 2017 at 9:25 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MANA YANG LEBIH UTAMA BAGI WANITA PADA 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN, SHOLAT TARAWIH SENDIRI DI RUMAH ATAU BERJAMAAH DI MASJID
Al-‘Alamah Sholih al-Fauzaan berfatwa :

“Sholatnya seorang wanita di rumah itu lebih utama di rumah dalam seluruh kondisi, baik sholat fardhu, maupun sholat nafilah. Namun jika dia sholat di Masjid baik sholat fardhu maupun sholat tarawih, maka ini boleh. 
Terkait dengan lailatul qodar, yakni pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan, maka waktunya tidak ditentukan persisnya, orang-orang bersungguh-sungguh beribadah pada malam itu agar mendapatkannya, yakni ketika lailatul qadar datang, mereka dalam kondisi sedang melakukan amal sholih. 
Adapun sholatnya wanita di rumah, maka ini lebih utama dalam seluruh kondisi,  baik pada 10 hari terakhir Ramadhan, atau sebelumnya dan sesudahnya. Namun jika mereka mau sholat di masjid baik pada 10 hari terakhir atau sepanjang malam bulan Ramadhan, maka ini diperbolehkan. 
=============================

Teks fatwa :

ﻣﺠﻤﻮﻉ ﻓﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻔﻮﺯﺍﻥ ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ‏( 1 /349 ‏)

ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ : ﺃﻳﻬﻤﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻟﻠﻤﺮﺃﺓ : ﺃﻥ ﺗﺼﻠﻲ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﻣﻨﻔﺮﺩﺓ ، ﺃﻭ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﺟﻤﺎﻋﺔ؟

ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ : ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ، ﻓﻲ ﺍﻟﻔﺮﺍﺋﺾ ﻭﺍﻟﻨﻮﺍﻓﻞ ، ﻭﺇﻥ ﺻﻠﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﺃﻭ ﺗﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﺬﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ .

ﻭﻛﺬﻟﻚ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﻘﺪﺭ؛ ﻓﻬﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻟﻜﻦ ﻟﻴﺴﺖ ﻣﻌﻠﻮﻣﺔ ﺍﻟﺘﺤﺪﻳﺪ ، ﻭﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺠﺘﻬﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﺘﺤﺮﻳﺎً ﻟﻬﺎ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺟﺎﺀﺕ ﻓﻬﻮ ﻋﻠﻰ ﻋﻤﻞ ﺻﺎﻟﺢ .

ﻓﺼﻼﺓ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻬﺎ ﺃﻓﻀﻞ ﻓﻲ ﺟﻤﻴﻊ ﺍﻷﺣﻮﺍﻝ ، ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺍﻷﻭﺍﺧﺮ ﺃﻭ ﻗﺒﻠﻬﺎ ﺃﻭ ﺑﻌﺪﻫﺎ ، ﻭﺇﻥ ﺟﺎﺀﺕ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﺸﺮ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺳﺎﺋﺮ ﺍﻟﺸﻬﻮﺭ ﻓﺈﻥ ﺫﻟﻚ ﺟﺎﺋﺰ .
Sumber : http://www.albaidha.net/vb4/showthread.php?t=57952

PERBEDAAN ANTARA SHOLAT MALAM, TAHAJUD DAN TARAWIH

June 16, 2017 at 9:24 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

PERBEDAAN ANTARA SHOLAT MALAM, TAHAJUD DAN TARAWIH 
Imam ibnu Baz ditanya, apa perbedaan antara sholat Tarawih, sholat malam, dan tahajud? 
Beliau menjawab :

“Sholat (nafilah)pada malam hari dinamakan dengan tahajud, dinamakan juga dengan qiyamul lail (sholat malam), sebagaimana Firman-Nya : “pada waktu malam hari,  bertahajudlah engkau, sebagai tambahan bagimu”..dan ayat-ayat sejenisnya. 
Adapun sholat tarawih maka dimutlakkan oleh para ulama untuk sholat malam pada Bulan Ramadhan yang dikerjakan pada awal malam, dengan meringankan dan tidak memperpanjangnya. 

Boleh juga itu dinamakan tahajud atau sholat malam, tidak ada masalah padanya. 
=============================

Teks asli :

ﺳﺌﻞ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺍﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻦ ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻭﺍﻟﻘﻴﺎﻡ ﻭﺍﻟﺘﻬﺠﺪ . ﺃﻓﺘﻮﻧﺎ ﻣﺄﺟﻮﺭﻳﻦ ؟

ﺝ : ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﺗﺴﻤﻰ ﺗﻬﺠﺪﺍ ﻭﺗﺴﻤﻰ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ، ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : } ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻓَﺘَﻬَﺠَّﺪْ ﺑِﻪِ ﻧَﺎﻓِﻠَﺔً ﻟَﻚَ { ﻭﻗﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ : } ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟْﻤُﺰَّﻣِّﻞُ ﻗُﻢِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞَ ﺇِﻻ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ { ﻭﻗﺎﻝ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻓﻲ ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﺬﺍﺭﻳﺎﺕ ﻋﻦ ﻋﺒﺎﺩﻩ ﺍﻟﻤﺘﻘﻴﻦ : } ﺁﺧِﺬِﻳﻦَ ﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻫُﻢْ ﺭَﺑُّﻬُﻢْ ﺇِﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﺒْﻞَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻗَﻠِﻴﻠًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺠَﻌُﻮﻥَ {

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﺘﺮﺍﻭﻳﺢ ﻓﻬﻲ ﺗﻄﻠﻖ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻋﻠﻰ ﻗﻴﺎﻡ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻣﻊ ﻣﺮﺍﻋﺎﺓ ﺍﻟﺘﺨﻔﻴﻒ ﻭﻋﺪﻡ

ﺍﻹﻃﺎﻟﺔ ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﺗﺴﻤﻰ ﺗﻬﺠﺪﺍ ﻭﺃﻥ ﺗﺴﻤﻰ ﻗﻴﺎﻣﺎ ﻟﻠﻴﻞ ﻭﻻ ﻣﺸﺎﺣﺔ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﻤﻮﻓﻖ . ﺍﻫـ
ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ : ﻣﻦ ﺍﻷﺳﺌﻠﺔ ﺍﻟﻤﻮﺟﻬﺔ ﻣﻦ ‏[ ﺍﻟﻤﺠﻠﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ ‏]

SHOLAT TAHAJUD SETELAH WITIR

June 16, 2017 at 9:23 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SHOLAT TAHAJUD SETELAH WITIR
Al-Imam Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz berfatwa :

“Dalam hadits Shahih riwayat Bukhori-Muslim dari jalan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺍﺟﻌﻠﻮﺍ ﺁﺧﺮ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻭﺗﺮﺍً ‏

“Jadikanlah akhir sholat kalian pada malam hari adalah witir”.
Hendaknya engkau sisakan sholat witirmu nanti pada akhir malam. Sepanjang kebiasaanmu bangun pada tengah malam, maka sunah bagimu untuk menjadikan sholat witir setelah tahajud. Ketika engkau sholat tahajud dengan jumlah rokaat yang dikehendaki Allah, lalu engkau (misalnya) sholat 1 rakaat sebagai witirmu, sebelum terbit Fajar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda : 

ﺻﻼﺓ ﺍﻟﻠﻴﻞ ﻣﺜﻨﻰ ﻣﺜﻨﻰ ‏ ﻓﺈﺫﺍ ﺧﺸﻲ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﺍﻟﺼﺒﺢ ﺻﻠﻰ ﺭﻛﻌﺔ ﻭﺍﺣﺪﺓ ﺗﻮﺗﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﻗﺪ ﺻﻠﻰ ‏

“Sholat malam itu dua rokaat-dua rokaat, jika kalian khawatir waktu subuh sudah tiba, maka sholat satu rokaat sebagai witirmu”.
Inilah yang disyariat engkau sholat tahajud dua rokaat dua rokaat, kemudian setelah selesai engkau sholat satu rokaat witir, sebelum sholat subuh. 
Namun seandainya engkau sholat witir pada awal malam, karena khawatir tidak bisa bangun pada tengah malam. Kemudian ternyata Allah mudahkan engkau untuk bangun pada akhir malam, maka engkau sholat tahajud berapapun rokaat yang Allah bagi kepadamu, dan cukuplah sholat witirmu tadi pada awal malam, tidak perlu engkau ulangi, karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﻻ ﻭﺗﺮﺍﻥ ﻓﻲ ﻟﻴﻠﺔ ‏

“Tidak ada dua witir pada satu malam”.
Sehingga jika seorang sudah sholat witir pada awal malam, kemudian Allah mudahkan baginya bangun pada malam hari, maka dia sholat tahajud sesuai yang dimudahkan Allah, baik dua rokaat, empat rokaat, atau lebih dari itu, dua rokaat dua rokaat, cukup baginya witir yang pertama, tidak usah mengulangi sholat witir lagi, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarangnya, Beliau bersabda :

“Tidak ada dua witir pada satu malam”.

… (Selesai). 
Sumber fatwa : http://www.binbaz.org.sa/noor/6677

AQIDAH AL-HAFIDZ AL-KHOTHIIB AL-BAGHDADI

June 16, 2017 at 9:22 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AQIDAH AL-HAFIDZ AL-KHOTHIIB AL-BAGHDADI
Bagi penuntut ilmu hadits maka nama Imam al-Khothiib al-Baghdadiy (w.463 H)  adalah sebuah nama yang tidak asing baginya, bagaimana tidak beliau orang yang layak dijuluki “bapaknya ilmu ushul hadits”. Dikarenakan para ulama yang berkecimpung dalam ilmu mustholah hadits butuh merujuk kepada karya-karya beliau. Seolah-olah memang al-Hafidz al-Khothib al-baghdadi hidupnya didedikasikan untuk mengembangkan ilmu ushul hadits. 
Selain pakar dalam ilmu hadits beliau juga merupakan pakar sejarah, terbukti dengan lahirnya karya beliau dalam bidang sejarah yang berjudul “Tariikh Baghdad”. 
Adapun dari sisi akidahnya, sempat terjadi kontroversi apakah beliau menempuh akidah salaf terutama dalam bidang asma wa shifat atau tidak. Namun dengan dirilisnya sebuah risalah yang dinisbatkan kepada beliau yang tadinya hanya sebagai manuskrip yang tersimpan di perpustakaan Dhohiriyyah, Suriah, sebagaimana diinformasikan oleh Imam al-albani, maka kami tidak ragu lagi untuk mentaqriir bahwa beliau diatas akidah salaful ummah. 
Risalah beliau berjudul “al-Kalaam fii ash-Shifaat”. Sebagaimana yang pernah disampaikan bahwa untuk meng-itsbat sebuah kitab atau karya tulis kepada ulama tertentu, adalah melalui jalur sanad atau disebutkannya bahwa karya tersebut adalah memang sebagai karya ulama tersebut. 
Adapun jalur sanad, maka diantara ulama yang memiliki sanad kepada risalah diatas, yaitu Imam adz-dzahabi. Beliau menyebutkan sanadnya dalam kitab sejarah beliau yang monumental “Siyar a’lamin Nubalaa” (18/283-284) :

” ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﺍﻟﺨﻼﻝ ، ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻔﻀﻞ ﺍﻟﻬﻤﺪﺍﻧﻲ ، ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻫﺮ ﺍﻟﺴﻠﻔﻲ ، ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻣﺮﺯﻭﻕ ﺍﻟﺰﻋﻔﺮﺍﻧﻲ ، ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ﻗﺎﻝ :

ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻜﻼﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ، ﻓﺈﻥ ﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺡ ، ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺇﺛﺒﺎﺗﻬﺎ ﻭﺇﺟﺮﺍﺅﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﻇﻮﺍﻫﺮﻫﺎ 

“Telah mengabarkan kepada kami Abu Ali bin al-Kholaal, telah mengabarkan kepada kami Abul Fadhl al-Hamdaaniy, telah mengabarkan kepada kami Abu Thoohir as-Silafiy, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Marzuuq az-Za’farooniy, telah menceritakan kepada kami al-Hafidz Abu Bakr al-Khothiib (al-baghdadi) beliau berkata : “adapun tentang pembahasan sifat-sifat (Allah Subhana wa ta’ala), maka telah diriwayatkan dari hadits-hadits yang shahih,  (sesuai dengan madzhab Salaf), untuk menetapkannya dan memberlakukan sesuai dengan dhohirnya…. “.
Kemudian kita akan semakin yakin beliau diatas madzhab salaf dalam akidah, ketika beliau mencontohkan dalam risalahnya diatas beberapa sifat Allah, persis sebagaimana yang diajarkan oleh guru-guru kami terkait bab asma wa shifat diatas jalan madzhab salaf. Beliau berkata :

ﻓﺈﺫﺍ ﻗﻠﻨﺎ : ﻟﻠﻪ ﻳﺪ ﻭﺳﻤﻊ ﻭﺑﺼﺮ ، ﻓﺈﻧﻤﺎ ﻫﻲ ﺻﻔﺎﺕ ﺃﺛﺒﺘﻬﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻨﻔﺴﻪ ، ﻭﻻ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﻴﺪ ﺍﻟﻘﺪﺭﺓ ، ﻭﻻ ﺇﻥ ﻣﻌﻨﻰ ﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﺒﺼﺮ ﺍﻟﻌﻠﻢ ، ﻭﻻ ﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻧﻬﺎ ﺟﻮﺍﺭﺡ ، ﻭﻻ ﻧﺸﺒﻬﻬﺎ ﺑﺎﻻﻳﺪﻱ ﻭﺍﻻﺳﻤﺎﻉ ﻭﺍﻻﺑﺼﺎﺭ ﺍﻟﺘﻲ ﻫﻲ ﺟﻮﺍﺭﺡ ﻭﺃﺩﻭﺍﺕ ﻟﻠﻔﻌﻞ ، ﻭﻧﻘﻮﻝ : ﺇﻧﻤﺎ ﻭﺟﺐ ﺇﺛﺒﺎﺗﻬﺎ ﻻﻥ ﺍﻟﺘﻮﻗﻴﻒ ﻭﺭﺩ ﺑﻬﺎ ، ﻭﻭﺟﺐ ﻧﻔﻲ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻋﻨﻬﺎ ﻟﻘﻮﻟﻪ : ‏[ ﻟﻴﺲ ﻛﻤﺜﻠﻪ ﺷﺊ ‏] . ﻭ ﻗﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ‏[ ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻛﻔﻮﺍ ﺃﺣﺪ ‏] 

“Jika kami katakan bahwa Allah memiliki Tangan, Pendengaran dan Penglihatan, maka semua ini adalah sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk dirinya sendiri. Kami tidak mengatakan bahwa makna Tangan adalah kekuatan, tidak pula makna mendengar dan melihat adalah ilmu. Namun kami juga tidak mengatakan bahwa semua itu adalah anggota badan, kami tidak menyerupakan Tangan, Pendengaran dan Penglihatan sebagai anggota tubuh untuk melakukan suatu hal. 

Kami hanya menegaskan wajibnya menetapkannya karena nash menetapkannya, namun wajib juga menolak tasybih (penyerupaan)  kepada Allah, karena Dia : {tidak ada yang serupa dengan-Nya} dan {tidak ada yang sebanding dengan-Nya}.
Silakan bagi yang ingin memiliki risalah beliau dapat mengunduhnya di link berikut, dengan tambahan syarah ringan dari asy-syaikh Sholih bin Abdullah al-‘Ushoimiy :

http://www.al-tawhed.net/Books/Show.aspx?ID=1080

QIROAHNYA ‘AASHIM, TAPI BASMALAHNYA TIDAK JAHR

June 16, 2017 at 9:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

QIROAHNYA ‘AASHIM, TAPI BACA BASMALAH DALAM SHOLAT TIDAK JAHR
Beberapa waktu yang lalu ada sebuah tulisan yang saya baca terkait seputar permasalahan fiqih tapi dibangun berdasarkan madzhab qiroah Al Qur’an. Penulis mengangkat masalah seputar men-jahar-kan (mengeraskan) atau men-sirr-kan (memelankan) Bismillahirrahmaanirrahiim ketika membaca Al Fatihah didalam sholat. Terkait madzhab qiroah yang tujuh atau sepuluh ada dua madzhab terkait posisi Basmalah, apakah bagian dari Al Fatihah atau bukan. Singkat kata penulis menyebutkan bahwa madzhab Imam ‘Aashim dalam qiroat adalah memasukkan Basmalah sebagai bagian dari Al Fatihah, yang konsekuensinya berarti basmalah bagi yang menganut qiroah Imam ‘Aashim harus dibaca secara keras didalam sholat-sholat Jahriyyah (semisal Subuh, Maghrib, dan Isya).
Sebagaimana telah maklum bahwa qiroah Ashim melalui riwayat Hafsh adalah madzhab qiroat yang dianut oleh kebanyakan kaum Muslimin, bahkan ini adalah qiroah yang dipakai oleh pengikut lintas madzhab fiqih, baik 4 madzhab existing maupun yang lainnya. Penulis ingin menyampaikan bagi yang mengaku mengikuti qiroah ‘Aashim, maka seharusnya dia membaca Basmalah ketika membaca Al Fatihah secara jahr, karena Imam ‘Aashim memasukan basmalah sebagai ayat pertama dalam surat Al Fatihah.
Apa yang disampaikan oleh penulis adalah suatu khazanah keilmuan yang baru bagi saya pribadi, yakni bagaimana sebuah madzhab qiroah menjadi dasar bagi kajian fiqih. Namun saya akan memberikan tanggapan atas masukan penulis bagi yang menganut qiroah ‘Aashim yang tidak menjahrkan basmalahnya ketika sholat. Tentunya tanggapan saya dibangun diatas bahwa saya menggunakan qiroah ‘Aashim dalam bacaan Al Qur’an saya (sebagaimana ini adalah hal yang jamak yang diajarkan guru-guru kami –Barakallahu fiikum, kepada umumnya kaum Muslimin), namun saya meng-apply madzhab fiqih (yakni madzhab ahli hadits, ini yang senantiasa akan saya promosikan) dimana saya tidak membaca Basmalah secara jahr dalam sholat-sholat Jahriyyah. Ada 2 tanggapan dari saya :
1. Telah maklum bahwa ilmu Islam ini terdiri dari berbagai macam funuun (cabang-cabang keilmuan). Sebagai contoh : ada yang disebut dengan ilmu qiroat, ilmu fiqih, ilmu tafsir, ilmu nahwu dan seterusnya. Bagi orang-orang yang mendalami fan-fan ilmu tersebut ternyata didalamnya juga ada madzhab-madzhab ulama didalam menjelaskannya. Misal : dalam ilmu qiroah ada madzhab Imam ‘Aashim, Ibnu Katsir, Naafi’ dan seterusnya yang nanti dikenal ada qiroah sab’ah, ‘asyarah, dan sejenisnya. Dalam ilmu fiqih juga sudah masyhur, ada madzhab Syafi’i, Hanbali, Maliki, Hanafi, ahli hadits, dan semisalnya. Dalam ilmu aqidah ada : salafy, asy’airoh, maturidiyyah, dan lain-lain. Dalam ilmu nahwu ada  : madzhab bashroh, kufah dan seterusnya. Singkat kata masing-masing fan ilmu didalamnya ada beberapa madzhab bagi yang mengamatinya secara mendalam. 

Point tanggapan saya adalah ternyata kita dapati ulama bisa mengaplikasikan madzhab yang berbeda-beda dalam masing-masing fan ilmu diatas, tanpa ada keterikatan satu sama lainnya. Misalnya seorang pengikut Imam Syafi’i dalam fiqih yang biasa disebut ashab Syafi’iyyah, bisa saja tidak harus mengikuti madzhab Imamnya dalam masalah aqidah dan qiroahnya. Imam Syafi’i berakidah salaf, sebagaimana disampaikan para ulama yang mengumpulkan manhaj akidah beliau, kemudian dalam masalah qiroah beliau memakai qiroah Imam Ibnu Katsir, sebagaimana disebutkan oleh Imam ibnu Abi Hatim dalam kitab beliau “Adaabu asy-Syafi’i wa Manaaqibihi” (hal. 106,cet. DKI).

Kita bisa saksikan ada ulama Syafi’iyyah ternyata aqidahnya asy’ariy dan bisa jadi qiroahnya memakai Imam ‘Aashim, ternyata mereka tidak terikat dengan Imamnya dalam cabang ilmu lain, kecuali hanya mengambil fiqihnya saja. Dan hal ini lumrah terjadi. Saya ingin mengatakan bahwa madzhab pilihannya bisa bervariasi dalam masing-masing cabang ilmu tersebut, tanpa harus terkait satu sama lainnya.

Sehingga bisa saja, sesorang dalam masalah qiroah memakai Imam ‘Aashim, dalam fiqih menggunakan madzhab ahli hadits atau Hanbali, kemudian akidah pilihannya adalah akidah salaf, dan ini sah-sah saja. Artinya karena membaca basmalah pada sholat jahr atau tidak adalah domainnya lebih ke arah pembahasan fiqih, dan dalam hal ini pilihannya mengikuti madzhab yang tidak mengeraskan basmalah, maka fine-fine saja, dia tidak mengikuti qiroah Imam ‘Aashim yang diklaim mengharuskan bacaan basmalah secara jahr dalam sholat.

 

2. Saya bisa mengusulkan menggunakan skema disenting opinion, karena adanya dalil yang lebih kuat. Maksudnya bagaimana? Mari kita studi kasus terhadap ayat ke-6 surat Al Maidah, dimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

Para ulama qiroah (dalam hal ini saya batasi qiroah sab’ah) terbagi menjadi dua madzhab didalam membaca Firman-Nya : “وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ” (wa arjulakum), yakni :

A. Madzhab pertama membacanya dengan nashob “wa arjulakum”, ini adalah madzhabnya Imam Naafi’, Ibnu ‘Aamir, al-Kasaa`i, dan Imam ‘Aashim dalam riwayat Hafsh. Para ulama menjelaskan kalau dibaca dengan nashob, ini artinya “arjulukum” (kaki kalian) ketika berwudhu itu ‘athof (merefer) kepada “wujuuhakum” (wajah kalian), dimana wajah dalam ayat diatas, Allah perintahkan untuk dibasuh (faghsiluu).

B. Madzhab kedua membacanya dengan khofd / jaar “wa arjulikum”, ini adalah madzhabnya Imam *Ibnu Katsir*, Hamzah, Abu ‘Amr, dan ‘Aashim dalam riwayat Syu’bah. Para ulama menjelaskan kalau dibaca dengan khofd, maka berarti “arjulikum” athof (merefer) kepada biru`uusikum (kepala kalian), dimana dalam ayat diatas, Allah perintahkan kepala cukup disapu saja (wamsakhuu). Informasi adanya perbedaan qiroah ini, bisa didapatkan di bukunya Imam ibnu Mujaahid (w. 347 H) yang berjudul “as-Sab’ah fiil Qiroo`aat” (hal 242-243, cet. Daarul Ma’aarif).
Terkait tarjih atau jamak dalam masalah perbedaan qiroah ini, tentu lebih baik pembahasannya di tempat lain. Namun yang ingin saya highlight adalah Imam Syafi’i yang sudah kita sampaikan diatas qiroahnya menganut madzhab Imam Ibnu Katsir, jadi konsekuensinya seharusnya beliau membacanya dengan khofd. Akan tetapi pada kenyataannya beliau berkata didalam kitab Fiqihnya “al-Umm” (1/42-cet. Daarul Ma’rifah) :

وَنَحْنُ نَقْرَؤُهَا وَأَرْجُلَكُمْ عَلَى مَعْنَى اغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

“kami membacanya *wa arjulakum* yang artinya basuhlah wajah kalian, tangan kalian dan kaki kalian, kemudian sapulah kepala kalian”.
Shuf! Imam Syafi’i ternyata “disenting opinion” dengan madzhab qiroahnya sendiri yang seharunya beliau membacanya dengan khofd “wa arjulikum”, tapi beliau melihat dalil yang lebih kuat adalah membacanya dengan nashob.
Maka skema option kedua ini, dalam rangka meneladani sikap Imam Syafi’i, bisa saja seorang yang madzhab qiroahnya Imam ‘Aashim dalam masalah Basmalah dia bisa disenting opinion dengan Imamnya –jika konsekuensinya harus menjaharkan basmalah- dengan madzhab qiroah lainnya yang tidak menjaharkan basmalah, ketika dia melihat ada dukungan dalil yang shahih dari syariat kita yang menunjukkan bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah atau tidak dibaca jahr dalam sholat-sholat Jahriyyah. Adapun pembahasan dalil-dalil yang menunjukkan tidak disyariatkannya menjaharkan basmalah ada di tempat lain.

Wallahul A’lam.

TIDAK BISA MENGIKUTI IMAM KARENA LISTRIK MATI

June 16, 2017 at 9:20 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

SHOLAT DI LANTAI ATAS MASJID, TIBA-TIBA ALIRAN LISTRIK MATI
Ada sebuah case disebuah masjid yang kebetulan bangunannya terdiri dari dua lantai. Makmum yang dilantai dua tidak dapat melihat dan mendengar gerakan sang Imam yang berada di lantai satu, kecuali melalui layar monitor dan pengeras suara. Namun tiba-tiba pada tengah-tengah sholat aliran listrik mati, sehingga gambar dan suara Imam tidak bisa terdengar. Permasalahannya, apa yang harus dilakukan oleh para makmum di lantai dua tersebut?
Telah ada sebuah fatwa yang bisa menjawab permasalahan diatas, sebagai berikut :

Soal : aku datang ke masjid untuk sholat Isya, namun datang agak terlambat. Didalam masjid tidak ada tempat kosong, sehingga kami terpaksa sholat diluar masjid. Pada rokaat yang terakhir, tiba-tiba aliran listrik mati, sehingga pengeras suara juga matu, dan kami tidak bisa mendengar sang Imam, bagaimana kondisi ini?
Jawab :

Jika sebagian makmum berada diluar masjid, lalu mereka terhalangi mengikuti sang Imam karena aliran listrik terputus, maka disyariatkan dalam kondisi seperti ini agar makmum yang berada didekat pintu masjid mengeraskan bacaan takbirnya, hingga terdengar oleh orang yang diluar masjid agar dapat mengikuti gerakan Imam dalam sholatnya. 
Namun jika si makmum tadi tidak melakukannya, maka jamaah diluar masjid dapat melakukan salah satu dari 2 option berikut : dia menyempurnakan sholatnya sendiri-sendiri, atau salah seorang dari mereka maju mengimami sholat untuk menyempurnakannya secara berjamaah, option (yang kedua) lebih utama, hingga orang-orang yang sholat tidak ragu dan bimbang karena terputusnya suara imam.
Asy-Syaikh bin Baz pernah ditanya : diadakan sholat Jum’at berjamaah di masjid yang berada di basement. Pada tengah-tengah sholat, aliran listrik terputus, sehingga para makmum tidak mendengar suara Imam, lalu salah seorang makmum maju untuk mengimami menyelesaikan rakaat sholat yang tersisa. Maka bagaimana hukum sholat mereka dengan catatan bahwa itu adalah sholat Jum’at? Dan bagaimana hukumnya jika tidak ada salah seorang pun yang maju, apakah masing-masing makmum menyempurnakan sholatnya sendiri-sendiri? Jika itu diperbolehkan apakah mereka menyempurnakan dengan menganggapnya sebagai sholat Dhuhur atau sholat Jum’at, yang mana mereka sebelumnya mendengar khutbah, awal-awal  sholat bersama Imam dan sudah bersamanya satu rokaat?
Jawab :

Jika realitanya sebagaimana yang disebutkan oleh penanya, maka (tata cara) sholat yang disebutkan itu semuanya benar, karena orang yang mendapatkan satu rakaat Jum’at, maka dia telah mendapatkan sholat Jum’at sebagaimana dalam hadits shahih dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Seandainya tidak ada seorang pun yang maju menjadi imam, sehingga masing-masing orang sholat sendiri-sendiri dan menyempurnakan satu rakaat terakhir, maka ini sah sholatnya, seperti masbuq yang ketinggalan satu rokaat bersama Imam. Hal ini berdasarkan keumuman sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : 

( من أدرك ركعة من الصلاة فقد أدرك الصلاة )

“Barangsiapa yang mendapatkan satu rokaat sholat, maka dia telah mendapatkan sholat”.
Sumber : https://islamqa.info/ar/83009

BUKA PUASA KARENA MENOLONG ORANG LAIN

June 16, 2017 at 9:19 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TERPAKSA BERBUKA PUASA KARENA MENOLONG ORANG LAIN
Telah masyhur pembahasan terkait siapa saja yang boleh untuk tidak berpuasa, seperti wanita haidh dan nifas, wanita hamil atau menyusui, musafir, orang yang sakit, orang jompo dan semisalnya. Namun barangkali ada yang tidak mengetahui bagaimana hukumnya orang yang sedang berpuasa ketika dihadapkan pada situasi emergency seperti dia melihat ada orang yang tenggelam, atau ada kebakaran. Kemudian dia telah memiliki basic renang atau fire fighting, sehingga secara naluri dia terpanggil untuk menyelamatkan korban atau segera bertindak memadamkan api. Cuma yang jadi masalah adalah bahwa kegiatan ini membutuhkan ekstra tenaga, sedangkan dia dalam kondisi puasa, ditambah lagi misalnya cuacanya sangat terik panasnya. Otomatis agar dia tidak menjadi korban ketika melakukan pertolongan, dia butuh asupan makan minum untuk memperkuat kondisi fisiknya. Permasalahannya apakah boleh berbuka baginya?  Dan jika boleh bagaimana cara menggantinya, apakah cukup mengqodho atau juga wajib membayar fidyah? 
Para ulama kita sebenarnya sudah membahasnya dalam kitab-kitab fiqih mereka.  Diantara yang telah membahasnya dengan baik adalah al-‘Alamah ibnu Utsaimin dalam kitabnya “Asy-Syarh al-Mumti'”, beliau mengatakan bahwa untuk kasus kita ini, orang tersebut boleh baginya berbuka puasa dan cukup mengqodhonya saja pada hari yang lain. 
pendapat seperti ini, dinukil juga dari Imam Nawawi sebagaimana dikatakan oleh asy-syaikh Muhammad Ali Firkous -Hafizhahullah- dalam website resminya : https://ferkous.com/home/?q=fatwa-1061

MENJADIKAN KUTUB TAFSIR SEBAGAI REFERENSI QIROAH

June 16, 2017 at 9:18 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENJADIKAN KUTUB TAFSIR SEBAGAI REFERENSI RAGAM QIROAH
asy-syaikh Ali Muhammad adh-Dhibaa’ (w. 1380 H), salah satu ulama pakar tajwid dan qiroah dari Mesir, pernah ditanya terkait judul tulisan :

ﻫﻞ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﻨﺴﺐ ﻟﻠﻘﺮﺍﺀ ﺍﻟﺴﺒﻌﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻓﻰ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﻭﺍﻟﻨﺤﻮ ﻭﺍﻟﻠﻐﺔ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮ؟

SOAL : Apakah setiap yang disandarkan kepada Imam Qiroah tujuh atau sepuluh dalam kitab-kitab tafsir,  Nahwu dan Bahasa itu semuanya mutawatir? 

Beliau -rahimahullah- menjawab :

ﻟﻴﺲ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻳﺮﺍﻩ ﺍﻟﻘﺎﺭﺉ ﻓﻰ ﻛﺘﺐ ﺍﻟﺘﻔﺴﻴﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﻨﺤﻮ ﻣﻦ ﻗﺮﺍﺀﺍﺕ ﻣﻨﺴﻮﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻦ ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﻘﺮﺍﺀ ﺍﻟﺴﺒﻌﻪ ﺃﻭ ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻣﺘﻮﺍﺗﺮﺍ ﺇﻻ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻣﺬﻛﻮﺭﺍ ﻓﻰ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﻨﺸﺮ ﺃﻭ ﺍﻟﺸﺎﻃﺒﻴﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺪﺭﺓ ﻓﻘﻂ ، ﻭﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺫﻟﻚ ﻓﻠﻴﺲ ﺑﻤﺘﻮﺍﺗﺮ ﻭﻻ ﻳﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻗﺮﺍﺀﺓ ﺳﺒﻌﻴﺔ ﺃﻭ ﻋﺸﺮﻳﺔ ﻻﻧﻘﻄﺎﻉ ﺳﻨﺪﻫﺎ ﻋﻨﻬﻢ

“Tidak semua yang dilihat oleh pembaca dalam kitab-kitab tafsir, atau bahasa, atau Nahwu,  berupa qiroah yang disandarkan kepada salah satu dari Imam qiroah yang tujuh atah sepuluh itu semuanya mutawatir, kecuali jika disebutkan didalam kitab an-Nasyr (thoriq Thoyyibah -pent.) atau (thoriq) Syatibiyyah atau (thoriq) ad-Durroh. Apa yang disebutkan selain di kitab tersebut, maka tidaklah mutawatir, tidak bisa dikatakan qiroah sab’ah atau ‘Asyarah, karena keterputusan sanadnya kepada mereka”.

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: