QIROAHNYA ‘AASHIM, TAPI BASMALAHNYA TIDAK JAHR

June 16, 2017 at 9:21 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

QIROAHNYA ‘AASHIM, TAPI BACA BASMALAH DALAM SHOLAT TIDAK JAHR
Beberapa waktu yang lalu ada sebuah tulisan yang saya baca terkait seputar permasalahan fiqih tapi dibangun berdasarkan madzhab qiroah Al Qur’an. Penulis mengangkat masalah seputar men-jahar-kan (mengeraskan) atau men-sirr-kan (memelankan) Bismillahirrahmaanirrahiim ketika membaca Al Fatihah didalam sholat. Terkait madzhab qiroah yang tujuh atau sepuluh ada dua madzhab terkait posisi Basmalah, apakah bagian dari Al Fatihah atau bukan. Singkat kata penulis menyebutkan bahwa madzhab Imam ‘Aashim dalam qiroat adalah memasukkan Basmalah sebagai bagian dari Al Fatihah, yang konsekuensinya berarti basmalah bagi yang menganut qiroah Imam ‘Aashim harus dibaca secara keras didalam sholat-sholat Jahriyyah (semisal Subuh, Maghrib, dan Isya).
Sebagaimana telah maklum bahwa qiroah Ashim melalui riwayat Hafsh adalah madzhab qiroat yang dianut oleh kebanyakan kaum Muslimin, bahkan ini adalah qiroah yang dipakai oleh pengikut lintas madzhab fiqih, baik 4 madzhab existing maupun yang lainnya. Penulis ingin menyampaikan bagi yang mengaku mengikuti qiroah ‘Aashim, maka seharusnya dia membaca Basmalah ketika membaca Al Fatihah secara jahr, karena Imam ‘Aashim memasukan basmalah sebagai ayat pertama dalam surat Al Fatihah.
Apa yang disampaikan oleh penulis adalah suatu khazanah keilmuan yang baru bagi saya pribadi, yakni bagaimana sebuah madzhab qiroah menjadi dasar bagi kajian fiqih. Namun saya akan memberikan tanggapan atas masukan penulis bagi yang menganut qiroah ‘Aashim yang tidak menjahrkan basmalahnya ketika sholat. Tentunya tanggapan saya dibangun diatas bahwa saya menggunakan qiroah ‘Aashim dalam bacaan Al Qur’an saya (sebagaimana ini adalah hal yang jamak yang diajarkan guru-guru kami –Barakallahu fiikum, kepada umumnya kaum Muslimin), namun saya meng-apply madzhab fiqih (yakni madzhab ahli hadits, ini yang senantiasa akan saya promosikan) dimana saya tidak membaca Basmalah secara jahr dalam sholat-sholat Jahriyyah. Ada 2 tanggapan dari saya :
1. Telah maklum bahwa ilmu Islam ini terdiri dari berbagai macam funuun (cabang-cabang keilmuan). Sebagai contoh : ada yang disebut dengan ilmu qiroat, ilmu fiqih, ilmu tafsir, ilmu nahwu dan seterusnya. Bagi orang-orang yang mendalami fan-fan ilmu tersebut ternyata didalamnya juga ada madzhab-madzhab ulama didalam menjelaskannya. Misal : dalam ilmu qiroah ada madzhab Imam ‘Aashim, Ibnu Katsir, Naafi’ dan seterusnya yang nanti dikenal ada qiroah sab’ah, ‘asyarah, dan sejenisnya. Dalam ilmu fiqih juga sudah masyhur, ada madzhab Syafi’i, Hanbali, Maliki, Hanafi, ahli hadits, dan semisalnya. Dalam ilmu aqidah ada : salafy, asy’airoh, maturidiyyah, dan lain-lain. Dalam ilmu nahwu ada  : madzhab bashroh, kufah dan seterusnya. Singkat kata masing-masing fan ilmu didalamnya ada beberapa madzhab bagi yang mengamatinya secara mendalam. 

Point tanggapan saya adalah ternyata kita dapati ulama bisa mengaplikasikan madzhab yang berbeda-beda dalam masing-masing fan ilmu diatas, tanpa ada keterikatan satu sama lainnya. Misalnya seorang pengikut Imam Syafi’i dalam fiqih yang biasa disebut ashab Syafi’iyyah, bisa saja tidak harus mengikuti madzhab Imamnya dalam masalah aqidah dan qiroahnya. Imam Syafi’i berakidah salaf, sebagaimana disampaikan para ulama yang mengumpulkan manhaj akidah beliau, kemudian dalam masalah qiroah beliau memakai qiroah Imam Ibnu Katsir, sebagaimana disebutkan oleh Imam ibnu Abi Hatim dalam kitab beliau “Adaabu asy-Syafi’i wa Manaaqibihi” (hal. 106,cet. DKI).

Kita bisa saksikan ada ulama Syafi’iyyah ternyata aqidahnya asy’ariy dan bisa jadi qiroahnya memakai Imam ‘Aashim, ternyata mereka tidak terikat dengan Imamnya dalam cabang ilmu lain, kecuali hanya mengambil fiqihnya saja. Dan hal ini lumrah terjadi. Saya ingin mengatakan bahwa madzhab pilihannya bisa bervariasi dalam masing-masing cabang ilmu tersebut, tanpa harus terkait satu sama lainnya.

Sehingga bisa saja, sesorang dalam masalah qiroah memakai Imam ‘Aashim, dalam fiqih menggunakan madzhab ahli hadits atau Hanbali, kemudian akidah pilihannya adalah akidah salaf, dan ini sah-sah saja. Artinya karena membaca basmalah pada sholat jahr atau tidak adalah domainnya lebih ke arah pembahasan fiqih, dan dalam hal ini pilihannya mengikuti madzhab yang tidak mengeraskan basmalah, maka fine-fine saja, dia tidak mengikuti qiroah Imam ‘Aashim yang diklaim mengharuskan bacaan basmalah secara jahr dalam sholat.

 

2. Saya bisa mengusulkan menggunakan skema disenting opinion, karena adanya dalil yang lebih kuat. Maksudnya bagaimana? Mari kita studi kasus terhadap ayat ke-6 surat Al Maidah, dimana Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.

Para ulama qiroah (dalam hal ini saya batasi qiroah sab’ah) terbagi menjadi dua madzhab didalam membaca Firman-Nya : “وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ” (wa arjulakum), yakni :

A. Madzhab pertama membacanya dengan nashob “wa arjulakum”, ini adalah madzhabnya Imam Naafi’, Ibnu ‘Aamir, al-Kasaa`i, dan Imam ‘Aashim dalam riwayat Hafsh. Para ulama menjelaskan kalau dibaca dengan nashob, ini artinya “arjulukum” (kaki kalian) ketika berwudhu itu ‘athof (merefer) kepada “wujuuhakum” (wajah kalian), dimana wajah dalam ayat diatas, Allah perintahkan untuk dibasuh (faghsiluu).

B. Madzhab kedua membacanya dengan khofd / jaar “wa arjulikum”, ini adalah madzhabnya Imam *Ibnu Katsir*, Hamzah, Abu ‘Amr, dan ‘Aashim dalam riwayat Syu’bah. Para ulama menjelaskan kalau dibaca dengan khofd, maka berarti “arjulikum” athof (merefer) kepada biru`uusikum (kepala kalian), dimana dalam ayat diatas, Allah perintahkan kepala cukup disapu saja (wamsakhuu). Informasi adanya perbedaan qiroah ini, bisa didapatkan di bukunya Imam ibnu Mujaahid (w. 347 H) yang berjudul “as-Sab’ah fiil Qiroo`aat” (hal 242-243, cet. Daarul Ma’aarif).
Terkait tarjih atau jamak dalam masalah perbedaan qiroah ini, tentu lebih baik pembahasannya di tempat lain. Namun yang ingin saya highlight adalah Imam Syafi’i yang sudah kita sampaikan diatas qiroahnya menganut madzhab Imam Ibnu Katsir, jadi konsekuensinya seharusnya beliau membacanya dengan khofd. Akan tetapi pada kenyataannya beliau berkata didalam kitab Fiqihnya “al-Umm” (1/42-cet. Daarul Ma’rifah) :

وَنَحْنُ نَقْرَؤُهَا وَأَرْجُلَكُمْ عَلَى مَعْنَى اغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

“kami membacanya *wa arjulakum* yang artinya basuhlah wajah kalian, tangan kalian dan kaki kalian, kemudian sapulah kepala kalian”.
Shuf! Imam Syafi’i ternyata “disenting opinion” dengan madzhab qiroahnya sendiri yang seharunya beliau membacanya dengan khofd “wa arjulikum”, tapi beliau melihat dalil yang lebih kuat adalah membacanya dengan nashob.
Maka skema option kedua ini, dalam rangka meneladani sikap Imam Syafi’i, bisa saja seorang yang madzhab qiroahnya Imam ‘Aashim dalam masalah Basmalah dia bisa disenting opinion dengan Imamnya –jika konsekuensinya harus menjaharkan basmalah- dengan madzhab qiroah lainnya yang tidak menjaharkan basmalah, ketika dia melihat ada dukungan dalil yang shahih dari syariat kita yang menunjukkan bahwa basmalah bukan bagian dari Al Fatihah atau tidak dibaca jahr dalam sholat-sholat Jahriyyah. Adapun pembahasan dalil-dalil yang menunjukkan tidak disyariatkannya menjaharkan basmalah ada di tempat lain.

Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: