TA’QIIB DALAM SHOLAT TARAWIH

June 16, 2017 at 9:27 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

TA’QIIB DALAM SHOLAT TARAWIH
Ada sebuah fenomena yang terjadi di sebagian masjid kaum muslimin yang mengadakan sholat tarawih pada 10 hari terakhir menjadi dua shift. Shift pertama misalnya dikerjakan 10 rokaat, kemudian nanti pada sepertiga malam terakhir dikerjakan lagi 10 rokaat. Semuanya dikerjakan secara berjamaah. 
Istilah ini masyhur dalam madzhab Hanbali yang dinamakan dengan at-Ta’qiib. Ada dua pendapat yang masyhur yang dinukil dari Imam Ahmad dan para ulama lainnya terkait masalah ta’qiib ini :

1. Hukumnya makruh, jika mereka mengadakan sholat sunah berjamaah lagi setelah selesai mengerjakan sholat tarawih dan witir pada kesempatan pertama. Misalnya sholat tarawih dan witir secara berjamaah telah dikerjakan setelah sholat isya. Kemudian pada sepertiga malam akhir diadakan lagi sholat malam secara berjamaah. Imam Ahmad memakruhkannya sebagaimana dinukil oleh al-‘Alamah Muhammad ibnul Hakam dan dari kalangan ulama kontemporer oleh al-‘Alamah ibnu Utsaimin. Dalil mereka adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori-Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

ﺍﺟﻌﻠﻮﺍ ﺁﺧﺮ ﺻﻼﺗﻜﻢ ﺑﺎﻟﻠَّﻴﻞ ﻭﺗﺮًﺍ

“Jadikan akhir sholat malam kalian itu adalah sholat witir”.

Sisi pendalilan bahwa ta’qiib diatas dihukumi makruh, karena ketika mereka sudah sholat tarawih dan witir, kemudian mereka sholat malam lagi, maka berarti sholat witirnya tidak menjadi sholat terakhir baginya. 

Kemudian telah datang pendapat aimah kita yang memakruhkannya dari Imam Said bin al-Musayyib, Hasan al-bashri, dan Qotadah Rahimahumullahu. 

Solusinya bagi orang yang terlanjur melakukan sholat tarawih dan witir bersama Imam, kemudian dia ingin melaksanakan sholat malam pada sepertiga malam akhir, maka dia melakukannya di rumah atau sendiri, sebagaimana telah datang fatwa dari Anas bin Malik dalam Mushonaf ibnu Abi Syaibah, ketika ditanya tentang ta’qiib pada Bulan Ramadhan :

ﻓﺄﻣﺮﻫﻢ ﺃﻥ ﻳُﺼﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺒﻴﻮﺕ ‏

“Beliau memerintahkan mereka untuk sholat (sendiri-sendiri -pent.) di rumah”.
2. Tidak makruh sama sekali, alias boleh secara mutlak. Ini dinukil juga dari Imam Ahmad dan dianggap sebagai pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Hanbali, adapun qoul yang pertama yang memakruhkannya, maka itu dianggap sebagai qoul qodiim. 

Dalilnya adalah perkataan Anas bin Malik radhiyallahu anhu :

ﻣﺎ ﻳﺮﺟﻌﻮﻥ ﺇﻻ ﻟﺨﻴﺮ ﻳﺮﺟﻮﻧﻪ، ﺃﻭ ﻟﺸﺮ ﻳﺤﺬﺭﻭﻧﻪ ‏

“Tidaklah mereka kembali (untuk sholat lagi secara berjamaah -pent.), kecuali karena mengharapkan kebaikan atau agar menghindari kejelekan” (HR. Ibnu Abi Syaibah). 

Al-‘Alamah ibnu Utsaimin dalam “asy-Syarh al-Mumti'” menyanggah pendapat penulis “Zaadul Mustaqni'” yang mengatakan ta’qiib dalam bentuk diatas tidaklah makruh secara mutlak. Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan seandainya atsar mauquf Anas bin Malik radhiyallahu anhu yang dijadikan dalil oleh beliau shahih (yang benar atsar ini dhoif -pent.), maka dia bercanggah dengan hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang marfu’ yakni untuk menjadikan sholat witir sebagai penutup sholat malam seseorang. 

Kemudian al-‘Alamah ibnu Utsaimin memberikan bentuk at-Ta’qiib yang tidak makruh, yakni sholat witir pada shift pertama diakhirkan nanti pada shift kedua yang dikerjakan pada akhir malam. Kata beliau :

لكن لو أنَّ هذا التَّعقيبَ جاء بعد التَّراويح وقبل الوِتر، لكان القول بعدم الكراهة صحيحاً، وهو عمل النَّاس اليوم في العشر الأواخر من رمضان، يُصلِّي النَّاس التَّراويح في أول الليل، ثم يرجعون في آخر الليل، ويقومون يتهجَّدون

“Namun jika mereka melakukan ta’qiib ini setelah sholat tarawih dan (menangguhkan) witirnya, maka pendapat yang mengatakan tidak makruhnya ta’qiib tersebut adalah benar. Inilah yang dilakukan orang-orang pada hari ini, pada 10 hari terakhir Bulan Ramadhan. Mereka sholat tarawih pada awal malam, kemudian kembali lagi nanti pada akhir malam, mengerjakan sholat tahajud (lalu ditutup dengan witir -pent.).
So, apa yang dilakukan disebagian masjid tersebut, memiliki sandaran dari para ulama, terutama dibahas lebih rinci dalam madzhab Hanbali. Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: