AROMA ASYA’IROH DALAM FATHUL BARI

June 18, 2017 at 12:54 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AROMA ASYA’IROH DALAM FATHUL BARI
Kitab Fathul Bari adalah kitab monumental karya Imam besar kaum Muslimin, yaitu al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolany -Rahimahullah-. Kitab ini merupakan syarah (penjelasan) dari kitab Shahih Bukhori, yang waktu penyusunannya memakan waktu kurang lebih selama 25 tahun. 
Namun tidak ada gading yang tak retak, sayang penulisnya dalam masalah-masalah akidah tertentu jatuh kepada kesalahan yang menyelisihi akidah salaful ummah. Diantara Kesalahan yang di highlight oleh ulama kita adalah terkaiat takwilan dalam bab sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Lajnah Daimah pernah berfatwa terkait sikap yang sebaiknya dilakukan oleh kaum muslimin, sehubungan dengan kesalahan yang terjadi pada diri ulama kibarnya. Teks fatwanya sebagai berikut :

ﺭﺍﺑﻌًﺎ : ﻣﻮﻗﻔﻨﺎ ﻣﻦ ﺃﺑﻲ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺒﺎﻗﻼﻧﻲ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﺃﺑﻲ ﺍﻟﻔﺮﺝ ﺑﻦ ﺍﻟﺠﻮﺯﻱ ﻭﺃﺑﻲ ﺯﻛﺮﻳﺎ ﺍﻟﻨﻮﻭﻱ ﻭﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻭﺃﻣﺜﺎﻟﻬﻢ ﻣﻤﻦ ﺗﺄﻭﻝ ﺑﻌﺾ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﻭ ﻓﻮﺿﻮﺍ ﻓﻲ ﺃﺻﻞ ﻣﻌﻨﺎﻫﺎ – ﺃﻧﻬﻢ ﻓﻲ ﻧﻈﺮﻧﺎ ﻣﻦ ﻛﺒﺎﺭ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻧﻔﻊ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻷﻣﺔ ﺑﻌﻠﻤﻬﻢ ﻓﺮﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺣﻤﺔ ﻭﺍﺳﻌﺔ ﻭﺟﺰﺍﻫﻢ ﻋﻨﺎ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﺠﺰﺍﺀ، ﻭﺃﻧﻬﻢ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻓﻴﻤﺎ ﻭﺍﻓﻘﻮﺍ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺮﻭﻥ ﺍﻟﺜﻼﺛﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺷﻬﺪ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺑﺎﻟﺨﻴﺮ، ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﻄﺄﻭﺍ ﻓﻴﻤﺎ ﺗﺄﻭﻟﻮﻩ ﻣﻦ ﻧﺼﻮﺹ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﻭﺧﺎﻟﻔﻮﺍ ﻓﻴﻪ ﺳﻠﻒ ﺍﻷﻣﺔ ﻭﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺭﺣﻤﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﻮﺍﺀ ﺗﺄﻭﻟﻮﺍ ﺍﻟﺼﻔﺎﺕ ﺍﻟﺬﺍﺗﻴﺔ ﻭﺻﻔﺎﺕ ﺍﻷﻓﻌﺎﻝ ﺃﻡ ﺑﻌﺾ ﺫﻟﻚ .

ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ . ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ، ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ  

“Sikap kita kepada Abu Bakar al-Baqilaaniy, Baihaqi,  Ibnul Jauzi,  Nawawi, Ibnu Hajar dan yang semisalnya dari para ulama yang mentakwil sebagian sifat-sifat Allah atau mentafwidhnya (abstain dalam itsbat) adalah kami melihat mereka sebagai ulama besar kaum muslimin, yangmana Allah memberikan manfaat kepada kaum muslimin berkat ilmu mereka -semoga Allah memberikan Rahmat kepada mereka dengan Rahmat yang luas dan balasan yang sebaik-baiknya- dan mereka adalah ahlu sunah dalam perkara yang bersesuaian dengan para sahabat dan Aimah Salaf 3 generasi pertama, yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan testimoni bahwa mereka berada dalam kebaikan. Namun mereka terjatuh pada kekeliruan ketika mentakwil nash-nash sifat, yang menyelisihi salaful umah dan Aimah Sunah, sama saja baik penyelewengannya dalam masalah sifat dzatiyyah, sifat af’aal atau sebagiannya” -selesai-. 

(http://www.alifta.net/Fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=3&View=Page&PageNo=1&PageID=880).
Untuk mengetahui diantara bentuk takwilan yang mirip dengan apa yang dilakukan asya’roh pada kitab fathul bari, tentunya bisa kita langsung baca dan ditelusuri pada beberapa tempat dalam kitab tersebut,  ketika penulisnya,  Al-Hafidz Ibnu Hajar mensyarah nash-nash terkait dengan sifat-sifat Allah. Dan Alhamdulillah, sebagian ulama telah melakukan penitian terhadap Fathul Bari, kemudian memberikan catatan sebagai bentuk koreksi terhadap apa yang disampaikan oleh penulis -Jazakumullah khoiron-. 
Diantara ulama tersebut adalah al-Imam Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz -Rahimahullah-. beberapa cetakan kitab Fathul Bari telah dilengkapi dengan catatan dari beliau. Kemudian Alhamdulillah asy-syaikh Abdullah bin Muhammad ad-Duwaisy telah mengumpulkan catatan-catatan Imam bin Baz terhadap Fathul Bari dalam sebuah buku tersendiri yang berjudul “ﺍﻟﺘﻌﻠﻴﻘﺎﺕ ﻋﻠﻰ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﻟﻠﻌﻼﻣﺔ ﺍﺑﻦ ﺑﺎﺯ”, bagi yang ingin memilikinya bisa diunduh pada link berikut : http://majles.alukah.net/t101012/
Contohnya Al-Hafidz ibnu Hajar mentakwil sifat Mahabbah Allah dengan “iradah bits Tsawaab” (kehendak untuk memberikan pahala). Maka kemudian asy-syaikh bin Baz memberikan catatan, bahwa takwil ini tidak benar dan yang tepat menurut Ahlus sunnah bahwa Allah disifati dengan Mahabbah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tidak boleh disamakan dengan mahabbah makhluk-Nya. 
Ta’liq Asy-Syaikh bin Baz sebenarnya tidak hanya terkait masalah akidah Asma wa Shifat saja, namun juga masalah Fiqih dan selainnya sebagaimana yang bisa pembaca lihat pada kitab yang kami isyaratkan diatas. Akan tetapi catatan yang dibuat oleh asy-Syaikh bin Baz belum mencakup seluruh kitab fathul bari. Upaya ini kemudian dilanjutkan oleh murid beliau yang bernama asy-syaikh DR. Ali bin Abdul Aziz asy-Syibl, namun fokusnya hanya mengkoreksi beberapa penyelewengan akidah dalam Fathul Bari yang beliau tuangkan dalam buku yang berjudul “ﺍﻟﺘﻨﺒﻴﻪ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺨﺎﻟﻔﺎﺕ ﺍﻟﻌﻘﺪﻳﺔ ﻓﻲ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ”. Kitab ini bisa diunduh disini : https://www.almeshkat.net/book/590
Bagi yang ingin lebih luas lagi mengetahui bagaimana manhaj Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam masalah akidah yang dituangkan dalam bukunya “Fathul Bari”, baik yang positif maupun negatifnya ketika dibandingkan dengan akidah salaf, maka dapat mengkaji kitab yang berjudul “ﻣﻨﻬﺞ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻲ ﺍﻟﻌﻘﻴﺪﺓ ﻣﻦ ﺧﻼﻝ ﻛﺘﺎﺑﻪ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ” yang asalnya adalah sebuah tesis S2 Muhammad Ishaq. Didalam tesisnya, penulis menetapkan bahwa manhaj Al-Hafidz ibnu Hajar dalam mensyarah Sifat-sifat Allah menempuh metode ahli takwil (hal. 725). Tesis tersebut dapat anda miliki dengan mengunduhnya disini : http://waqfeya.com/book.php?bid=1521.
Point pentingnya adalah bahwa kesalahan atas nama apapun tetaplah sebuah kesalahan yang tidak bisa dibenarkan sekedar hanya itu berasal dari ulama besar, maka kesalahannya tetap kita tinggalkan dan kebenaran yang lebih banyak darinya bisa kita ambil faedahnya. Semoga Allah mengampuni kesalahan para Aimah kita dan juga dosa-dosa kita semuanya. Aamiin ya Robbal ‘Alamiin.

Advertisements

MENGAMBIL PENDAPAT YANG LEBIH BERHATI-HATI

June 18, 2017 at 12:53 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

MENGAMBIL PENDAPAT YANG LEBIH BERHATI-HATI
Bagi yang mempejari ilmu fiqih, tentu sudah terbiasa dengan terjadinya perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam suatu pembahasan. Kemudian banyak para ulama memberikan konsep didalam menyikapi atau beramal ketika menghadapinya. Salah seorang guru kami menginformasikan bahwa gurunya juga sudah mengembangkan konsep dengan apa yang disebut sebagai fiqih ikhtiyaath. Yaitu mengambil pendapat yang lebih berhati-hati. 
Saya lupa untuk menanyakan di kitab mana sang guru sudah membahas konsep ini secara detail, namun memang kenyataannya ada beberapa ulama kontemporer yang sudah meng-eksplore konsep ini dan menyusunnya secara sistematis agar menjadi bahan kajian bagi pecinta ilmu fiqih. Salah satu yang bisa dijadikan referensi adalah kitab yang berjudul “al-‘Amalu bil Ikhtiyaath fii al-Fiqhi al-Islamiy” karya Muniib bin Mahmuud Syaakir. Kitabnya dapat didownload di link berikut : http://waqfeya.com/book.php?bid=9478
Sedikit gambaran tentang konsep fiqih ikhtiyaath ini, misalnya ketika terjadi perselisihan pendapat apakah sebuah amalan itu wajib atau sunnah, maka dikerjakan saja amalan tersebut, karena tentunya dia sudah aman posisinya, seandainya ternyata yang benar memang diwajibkan, daripada dia berasumsi sunnah dalam artian tidak dikerjakan tidak masalah, namun ternyata itu diwajibkan, sehingga dia berdosa karena meninggalkannya. Adapun jika ternyata hanya sekedar sunah, tentu dia tidak rugi, karena berbuat amal ketaatan Allah tidak akan menyia-nyiakannya. 
Pun sama ketika ada perselisihan pendapat apakah hukumnya haram atau makruh, maka cari amannya dia tinggalkan saja amalan tersebut dengan asumsi kurang lebih sama dengan point diatas. 
Para ulama sebelumnya ada yang menggunaka istilah “khuruj minal khilaf” (keluar dari perselisihan) dan istilah-istilah lainnya yang pointnya hampir semakna dengan yang dibahas disini. Tentunya disana ada beberapa penjelasan yang perlu dirinci, sebagai klarifikasi apakah dalam semua permasalahan yang debatable, konsep ini harus diterapkan atau ada batasan dan aturannya. Penjelasan yang komprehensif bisa langsung dirujuk kepada kutub ulama yang fokus membahas tentang konsepsi fiqih ikhtiyaath,  dan ini bukanlah pembahasan yang baru dalam kutub ushul fiqih ulama sebelumnya, hanya saja ulama kontemporer menyajikan dengan lebih sistematis dan lebih luas, menginventarisir qoul ulama seputar masalah ini. 
Bagi tholabul ilmu fiqih, akan terbiasa ketika mendengarkan kajian fiqih, dimana gurunya menawarkan solusi fiqih ikhtiyaath untuk mengatasi polemik yang terjadi diseputaran masalah fiqhiyyah.

MEMBACA BASMALAH DITENGAH SURAT

June 18, 2017 at 12:51 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

HUKUM MEMBACA BASMALAH DI TENGAH SURAT
Para ulama telah sepakat dianjurkannya membaca “Basmalah” diawal setiap surat, kecuali surat At Taubah. Adapun membaca Basmalah ditengah surat, misalnya seseorang selesai membaca Al Baqoroh sampai ayat 100, kemudian pada kesempatan berikutnya dia akan melanjutkan membaca ayat ke 101 dan seterusnya, apakah dianjurkan baginya membaca basmalah lagi? 
Mayoritas ulama ahli qiroah dan ulama fiqih membolehkannya. Imam Ahmad pernah ditanya tentang hukum membaca Basmalah ditengah surat, beliau menjawab “laa ba’saa” (tidak mengapa), bahkan dinukil dari Imam Syafi’i, beliau me-mustahab-kannya (mensunahkannya). Sebagian ulama mengatakan bahwa yang tepat ketika memulai bacaan dari tengah surat adalah dengan ta’awudz, sebagaimana dikatakan al-‘Alamah bin Baz dalam fatawanya :

ﺃﻣﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺒﺪﺍﺀﺓ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺒﺪﺃ ﺑﺎﻟﺘﻌﻮﺫ ﻳﻘﻮﻝ : ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ ﺍﻟﺮﺟﻴﻢ ﻳﻜﻔﻲ، ﻭﺇﻥ ﺳﻤﻰ ﻓﻼ ﺑﺄﺱ ﻟﻜﻦ ﻳﻜﻔﻲ ﺍﻟﺘﻌﻮﺫ؛ ﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺟﻞ ﻭﻋﻼ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺮَﺃْﺕَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻌِﺬْ ﺑِﺎﻟﻠّﻪِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ ﺍﻟﺮَّﺟِﻴﻢِ ‏( 98 ‏) ﺳﻮﺭﺓ ﺍﻟﻨﺤﻞ، ﻓﺈﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﺒﺪﺍﻳﺔ ﻣﻦ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺴﻮﺭﺓ ﻳﺘﻌﻮﺫ ﻭﻳﻜﻔﻲ، ﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻭﻟﻬﺎ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺘﻌﻮﺫ ﻭﻳﺴﻤﻲ ﺟﻤﻴﻌﺎً

“Adapun jika dia memulai membacanya ditengah surat maka diawali dulu dengan ta’awudz… ini sudah mencukupi, namun jika dia menambahi Basmalah pun tidak mengapa, namun sebenarnya cukup dengan ta’awudz saja, sebagaimana Firman Allah :

فَاِذَا  قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 98).

… adapun ketika mulai dari awal surat, maka membaca ta’awudz dan Basmalah.. ”

(http://www.binbaz.org.sa/noor/2362).
Begitu juga pendapat para ulama qiroah, mereka mengatakan tidak ada larangan untuk membaca Basmalah ketika melanjutkan bacaan ditengah surat dalam kasus ini. Imam asy-Syatibi berkata dalam thoriqnya :

ﻭﻻﺑُﺪ ﻣﻨﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﺑﺘﺪﺍﺋﻚ ﺳﻮﺭﺓً ﺳﻮﺍﻫﺎ، ﻭﻓﻲ ﺍﻷﺟﺰﺍﺀ ﺧﻴَّﺮ ﻣﻦ ﺗﻼ

“Harus membaca Basmalah pada saat engkau mulai bacaan diawal surat, kecuali (surat At Taubah). Adapun ditengah surat, maka ini adalah pilihan (silakan) untuk membacanya”.

(http://fatwa.islamweb.net/fatwa/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=4446).
Namun sebagian ulama qiroah sangat menganjurkan membaca Basmalah ditengah surat, ketika bacaan anda berawal dari ayat yang dhomir (kata petunjuknya) merefer kepada Allah. Misal anda nanti akan mulai membaca ayat ke-47 dari surat Al Fussilat :

اِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ ۗ  

“Kepada-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat itu dikembalikan (QS. Fussilat 41: Ayat 47).

Maka ketika anda mencukupkan diri dengan hanya membaca ta’awudz :

ﺃﻋﻮﺫ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﺸﻴﻄﺎﻥ الرجيم 

Lalu dilanjut : اِلَيْهِ يُرَدُّ عِلْمُ السَّاعَةِ

Maka ketika diterjemahkan artinya kurang lebih : “aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, Kepada-Nyalah ilmu tentang hari Kiamat itu dikembalikan”.
Shuf!, seolah-olah kata ganti “Nya” mengacu kepada setan yang terkutuk, tentu ini akan sangat berbahaya sekali, oleh karenanya membaca Basmalah dalam kondisi seperti ini sangat ditekankan sekali. Para ulama qiroah berkata :

ﻭَﻳَﺘَﺄَﻛَّﺪُ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﺀ ﺑﺎﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺳﻴﻘﺮﺃﻫﺎ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﺿﻤﻴﺮٌ ﻳﻌﻮﺩ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ 

“Sangat dianjurkan sekali mengawalinya dengan Basmalah ketika ayat yang hendak engkau baca setelah Basmalah, dhomirnya kembali kepada Allah Subhanahu wa ta’ala”

(https://islamqa.info/ar/21722).

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: