AQIDAH IMAM ABDUL QODIR JAILANIY

June 24, 2017 at 10:09 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

AQIDAH IMAM ABDUL QODIR JAILAANIY
Syaikh Abdul Qodir Jailani (w. 561 H) adalah nama yang tidak asing bagi mayoritas masyarakat Indonesia, karena kalau ada yang mengirimkan bacaan Al Fatihah, hampir dipastikan nama beliau akan disebut. 
Namun kemungkinan besar mayoritas masyarakat tidak mengetahui akidah yang diyakini oleh Imamnya. Untuk menjelaskan akidahnya, beliau menulis beberapa kitab, salah satunya adalah kitab yang berjudul “ﺍﻟﻐﻨﻴﺔ ﻟﻄﺎﻟﺒﻲ ﻃﺮﻳﻖ ﺍﻟﺤﻖ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ”, kitab ini menjadi bahan kajian ulama untuk memberikan informasi kepada masyarakat akidah beliau yang lurus. Sebelum kita meng-highlight beberapa pernyataan beliau terkait akidahnya yang bersesuai dengan madzhab salaf, maka perlu dijelaskan dulu bahwa banyak pembesar ulama yang memastikan kitab diatas adalah benar-benar karya Imam Abdul Qodir Jailani. Ada sekitar belasan Aimah kita yang menetapkannya, diantaranya : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Sakhowi, Imam Ibnu Katsir, Haji Kholifah, dll. Untuk melihat cuplikan qoul mereka terkait hal tersebut dapat layari link berikut : http://www.alsoufia.org/vb/archive/index.php/t-8883.html
Mari kita lihat cuplikan pernyataan beliau terkait Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala dari kitabnya diatas yang  dicetak oleh Darul Kutub ‘Ilmiyyah, Beirut (http://waqfeya.com/book.php?bid=10984).
Beliau berkata di juz 1 hal. 124 :

“Dia (Allah Azza wa Jalla) terpisah dari makhluk-Nya, tidak satu tempat pun yang terluput dari Ilmu-Nya,  tidak boleh mensifati Allah ada di semua tempat,  tapi katakan Dia di langit diatas Arsy… Kemudian Al-Imam menyebutkan dalil-dalilnya dari Kitab dan Sunah (sila lihat ss-nya)”.
Kemudian masih di juz 1 hal. 125 :

“Al-Istiwa adalah sifat dzat sesuai dengan yang kami kabarkan dan ternashkan atasnya.  Hal tersebut dikuatkan dalam 7 ayat di Kitabullah dan sunah yang ma’tsuroh. Ini adalah sifat lazimah, sesuai dengan yang layak bagi Allah, sebagaimana juga sifat Tangan,  Wajah, Kedua Mata, mendengar, melihat, hidup, qudroh, dan Dia Maha menciptakan, memberi Rizki, serta menghidupkan dan mematikan, (begitu juga) semua yang disifatkan kepada-Nya. Kami tidak akan menyempal dari Kitab dan Sunah, kami membaca Kitabullah dan Hadits, lalu kami mengimani keduanya, kami menyerahkan kaifiyyah sifat kepada Ilmu-Nya Allah Subhanahu wa ta’ala… “.
Kita lihat penjelasan beliau begitu gamblang dalam masalah sifat yang merupakan madzhab salaf. Point yang penting dari pernyataan beliau bahwa yang di-tafwidh (diserahkan) kepada Allah adalah kaifiyyah Sifat-Sifat itu, bukan maknanya, sehingga tidak meng-istabat Sifat Allah. Karena sebagaimana artikel saya yang dulu terkait pernyataan Imamul Haromain yang menyerahkan maknanya kepada Allah, maka perlu diklarifikasi. Jika tafwidh secara mutlak, maka ini bukannya jalan Salaf, seperti ketika seorang ditanya : apakah Allah beristiwa diatas Arsy?, dia menjawab : wallahul a’lam, saya serahkan kepada Allah. Maka ini yang disebut dengan aliran “Muwafidhoh”.
Beliau juga berapa kali melakukan perbandingan keyakinan ahlus sunah dengan keyakinannya asya’iroh, misalnya dalam masalah Kalamullah adalah suara yang tentunya tidak seperti suara makhluk-Nya, ini adalah pernyataan Imam Ahmad, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para muridnya, berbeda dengan Asya’iroh yang mengatakan Kalam Allah adalah makna qoiumun binafsihi (yang ada pada diri Allah, bukan berupa suara) (juz 1 hal. 131). Begitu juga dalam masalah Iman, dimana keyakinan ahlus sunnah adalah Imam bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sedangkan Asya’iroh mengingkari bertambah dan berkurangnya Iman (juz 1 hal. 135).
Kitab “al-Ghunyan” karya Imam Abdul Qodir Jailani, tidak hanya berisi masalah akidah saja, namun juga tercantum masalah-masalah fiqih. Namun ada beberapa point yang perlu dilakukan validasi lagi, yaitu masalah keutamaan sebagian ibadah. Misalnya di juz 2 hal 241-244, beliau mengangkat tema seputar keutamaan sholat harian, dimulai dari keutamaan sholat malam Ahad sampai malam Sabtu, dalil-dalil yang beliau ajukan kebanyakan dari hadits-hadits palsu. 
Namun yang terpenting akidah beliau adalah akidah Salaf, mengikuti akidah Imamnya dalam fiqih yaitu Imam Ahmad bin Hanbal.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: