IMAMUL HAROMAIN RUJU’ DARI MADZHAB TAKWIL

June 24, 2017 at 10:06 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

IMAMUL HAROMAIN RUJU’ DARI MADZHAB TAKWIL
Sebagian ulama menginformasikan bahwa Imam abul Ma’aaliy al-Juwainiy (w. 478 H)  atau yang lebih dikenal dengan julukan Imamul Haromain, sebelumnya adalah ulama yang berkecimpung mendalami ilmu Kalam. Dalam kitabnya “ﺍﻹﺭﺷﺎﺩ ﺇﻟﻰ ﻗﻮﺍﻃﻊ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻓﻲ ﺃﺻﻮﻝ ﺍﻻﻋﺘﻘﺎﺩ”, beliau menempuh thoriqoh Asya’iroh dalam mentakwil Sifat-Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. 
Namun kemudian Allah memberinya hidayah, pada masa akhir hidupnya dengan meninggalkan madzhab takwil. Beliau mengunggulkan madzhab sahabat dan Tabi’in yang tidak menggunakan takwil, sebagaimana diinformasikan oleh asy-syaikh Abdul Aziz ath-Tharifi dalam kitabnya “al-Khuroosaaniyyah”.
Pernyataan Imamul Haromain yang meninggalkan madzhab takwil dapat kita baca di kitabnya yang dikenal dengan nama “al-‘Aqiidah an-Nidhomiyyah’. Penerbit kitab ini, yakni al-Maktabah al-Azhariyyah lit Turats, dalam kata pengantarnya menginformasikan bahwa kitab ini asalnya adalah tulisan Imamul Haromain yang berjudul “an-Nidhomiyyah fii al-arkaan al-Islaamiyyah” yang berisi masalah aqidah, sholat, puasa, zakat dan haji. Kitab ini ditulis sebagai muqoror untuk bahan ajar di madrasah Nidhomiyyah yang sangat terkenal pada zaman tersebut. Kemudian Imam ibnul Arobiy memisahkan pembahasan beliau terkait akidah dalam buku tersendiri yang diberi judul “al-‘Aqiidah an-Nidhoomiyyah fii al-Arkaan al-Islaamiyyah”.
Pada halaman 32-33 kitab diatas, Imamul Haromain berkata :

 ﺍﺧﺘﻠﻒ ﻣﺴﺎﻟﻚ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻈﻮﺍﻫﺮ ﺍﻟﺘﻲ ﻭﺭﺩﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ، ﻭﺍﻣﺘﻨﻊ ﻋﻠﻰ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﻖ ﻓﺤﻮﺍﻫﺎ ﻭﺇﺟﺮﺍﺅﻫﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺟﺐ ﻣﺎ ﺗﺒﺮﺯﻩ ﺃﻓﻬﺎﻡ ﺃﺭﺑﺎﺏ ﺍﻟﻠﺴﺎﻥ ﻣﻨﻬﺎ .

ﻓﺮﺃﻯ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﺗﺄﻭﻳﻠﻬﺎ، ﻭﺍﻟﺘﺰﺍﻡ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻤﻨﻬﺞ ﻓﻲ ﺁﻱ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ، ﻭﻓﻴﻤﺎ ﺻﺢَّ ﻣﻦ ﺳﻨﻦ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺫﻫﺐ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﺴﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻻﻧﻜﻔﺎﻑ ﻋﻦ ﺍﻟﺘﺄﻭﻳﻞ، ﻭﺇﺟﺮﺍﺀ ﺍﻟﻈﻮﺍﻫﺮ ﻋﻠﻰ ﻣﻮﺍﺭﺩﻫﺎ، ﻭﺗﻔﻮﻳﺾ ﻣﻌﺎﻧﻴﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺏ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ .

ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﺮﺗﻀﻴﻪ ﺭﺃﻳًﺎ، ﻭﻧَﺪﻳﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻪ ﻋﻘﺪًﺍ : ﺍﺗﺒﺎﻉُ ﺳﻠﻒ ﺍﻷﻣﺔ؛ ﻓﺎﻷَﻭْﻟﻰ ﺍﻻﺗﺒﺎﻉ ﻭﺗﺮﻙ ﺍﻻﺑﺘﺪﺍﻉ، ﻭﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﺴﻤﻌﻲ ﺍﻟﻘﺎﻃﻊ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺃﻥ ﺇﺟﻤﺎﻉ ﺍﻷﻣﺔ ﺣﺠﺔ ﻣﺘﺒﻌﺔ، ﻭﻫﻮ ﻣﺴﺘﻨﺪ ﻣﻌﻈﻢ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻭﻗﺪ ﺩﺭﺝ ﺻَﺤْﺐُ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺘﻌﺮﺽ ﻟﻤﻌﺎﻧﻴﻬﺎ، ﻭﺩﺭﻙ ﻣﺎ ﻓﻴﻬﺎ، ﻭﻫﻢ ﺻﻔﻮﺓُ ﺍﻹﺳﻼﻡ، ﻭﺍﻟﻤﺸﺘﻐﻠﻮﻥ ﺑﺄﻋﺒﺎﺀ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ، ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﻻ ﻳﺄﻟُﻮﻥ ﺟُﻬﺪًﺍ ﻓﻲ ﺿﺒﻂ ﻗﻮﺍﻋﺪ ﺍﻟﻤﻠﺔ، ﻭﺍﻟﺘﻮﺍﺻﻲ ﺑﺤﻔﻈﻬﺎ، ﻭﺗﻌﻠﻴﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺎ ﻳﺤﺘﺎﺟﻮﻥ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻨﻬﺎ 

“Para ulama berbeda metode dalam memberlakukan dhohir nash yang berasal dari Kitab dan Sunnah ….sebagian ulama berpendapat untuk mentakwilnya, mereka senantiasa berpegang dengan metode takwil tersebut didalam memberlakukan Kitabullah dan Sunah Rasulullah yang shahihah. Adapun para Aimah Salaf mereka berpendapat untuk meninggalkan takwil, dan memberlakukan dhohirnya sesuai dengan datangnya, kemudian menyerahkan maknanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. 

Yang kami ridhoi pendapatnya dan kami beribadah kepada Allah sebagai sebuah keyakinan adalah dengan mengikuti Salaful Umah, lebih utama mengikuti mereka dan meninggalkan bid’ah… “.
Kita bisa lihat, setelah Imamul Haromain memaparkan dua pendapat terkait memberlakukan dhohir-dhohir nash Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya, dimana ini mencakup juga Asmaa’ dan Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, yaitu satu pendapat mengatakan untuk mentakwilnya, sedangkan pendapat para Imam Salaf dari kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in adalah memberlakukan nash tersebut sesuai dengan dhohirnya, tidak melakukan takwil. Kemudian beliau mendeklarasikan dirinya sebagai pengikut madzhab salaf dan itulah keyakinan yang beliau pegang dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. 
Maka jelas sekali, Imamul Haromain taubat dari pendapat sebelumnya yangmana beliau dalam memberlakukan dhohir nash menempuh jalan bid’ah dengan menakwilinya. Hanya saja ada yang perlu diklarifikasi terkait pernyataan beliau bahwa Aimah salaf men-tafwidh (menyerahkan) makna-nya kepada Allah. Kalau yang dimaksud adalah menyerahkan makna kaifiyyah Sifat-Sifat Allah, maka ini tepat, karena para salaf menetapkan sifat-sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala tanpa menyerupakan dan membagaimanakannya. 
Asy-Syaikh Abdul Aziz ath-Tharifi sebagaimana dalam kitabnya “al-Khuroosaaniyyah” mengatakan :

“Akan tetapi beliau beralih dari takwil menuju tafwidh secara mutlak terhadap Sifat-Sifat Allah, beliau mentafwidh makna dan kaifiyyah semuanya, menyangkanya ini sebagai metodenya ulama salaf, padahal ulama salaf mentafwidh ilmu kaifiyyahnya, bukan ilmu maknanya, mereka menetapkan makna dan mengilmuinya, kesalah pahaman ini juga terjadi pada Imam al-ghazali dalam kitabnya “Iljaam al-‘Awaam an ‘Ilmi al-Kalaam”, dan juga banyak ulama selainnya yang salah paham seperti ini” -selesai-.
Jadi madzhab takwil adalah metode yang keliru didalam memberlakukan nash-nash Sifat Allah Subhanahu wa ta’ala, sedangkan jalan yang lurus adalah jalannya para Aimah Salaf yang menetapkan Asmaa dan Sifat Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, tanpa mentakwilnya, merubah lafadznya, membagaimanakan, dan menyerupakannya dengan Makhluk-Nya. Diatas madzhab Salaf inilah kami beragama sebagai sebuah keyakinan. Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: