TASYAHUD PADA SUJUD SAHWI YANG DIKERJAKAN SETELAH SALAM

June 24, 2017 at 10:02 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

APAKAH ADA TASYAHUD PADA SUJUD SAHWI SETELAH SALAM
Berdasarkan penelusuran sederhana dari kitab-kitab madzhab fiqih existing, maka ada dua versi dalam madzhab mereka masing-masing terkait disyariatkannya tasyahud pada saat sujud sahwi setelah salam, ada yang menetapkan dan juga ada yang menafikannya. Sumber utama perbedaan pendapat ini adalah terkait penilaian status hadits yang dijadikan sandaran dalam bab ini. Dari penelusuran sebagian ulama terhadap dalil disyariatkannya tasyahud pada sujud sahwi, didapati ada satu buah hadits secara marfu’ riwayat Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu, lalu riwayat dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu, namun masih diperselisihkan apakah marfu’ atau mauquf, dan satu buah lagi atsar mauquf dari Mughiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu ‘anhu.
Oleh karena itu, kajian terhadap status hadits dan atsar diatas sangat urgent untuk menentukan apakah hadits dan atsar tersebut dapat dijadikan hujjah sehingga menguatkan pendapat yang mengatakan disyariatkannya tasyahud, atau bahkan sebaliknya hanyalah hadits dan atsar lemah yang tidak memiliki kekuatan sebagai landasan pensyariatan.
Kita mulai dengan pembahasan status hadits marfu’ dari Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu. Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam “sunannya” (no. 1039), dan Imam Tirmidzi dalam “sunannya” (no. 395), serta selainnya. Semuanya dari jalan :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنِي أَشْعَثُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ خَالِدٍ يَعْنِي الْحَذَّاءَ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ تَشَهَّدَ، ثُمَّ سَلَّمَ»

“telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Faaris (adz-Dzhuliy), telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin al-Mutsannaa, telah menceritakan kepadaku Asy’ats, dari Muhammad bin Siriin, dari Khoolud al-Khidzaa`a, dari Abi Qilaabah, dari Abi al-Muhallab, dari ‘Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu : bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengimami para sahabat, lalu Beliau lupa, kemudian sujud dua kali, lalu bertasyahud, lalu salam”.
Jika melihat dhohir sanadnya, maka seluruh perowinya adalah para perowi tsiqoh, sehingga beberapa ulama hadits menshahihkannya seperti Imam Ibnu Hibban dan Imam al-Hakim. Adapun Imam Tirmidzi menilainya sebagai hadits hasan ghoriib. Namun para ulama yang berkhidmat untuk mengumpulkan jalan-jalan hadits, mereka mendapati cacat yang disebut dalam istilah ulumul hadits dengan “Syadz” pada hadits ini. Yakni dalam jalan-jalan lain yang sangat banyak dari Khoolid al-Khidzaa`a dari Abi Qilaabah dan seterusnya, tidak ada tambahan tasyahud padanya. Kita ambil satu sample saja yakni jalan yang dibawakan oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 574) sebagai berikut :

وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ وَهُوَ الْحَذَّاءُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ الْحُصَيْنِ، قَالَ: «سَلَّمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ، مِنَ الْعَصْرِ، ثُمَّ قَامَ فَدَخَلَ الْحُجْرَةَ»، فَقَامَ رَجُلٌ بَسِيطُ الْيَدَيْنِ، فَقَالَ: أَقُصِرَتِ الصَّلَاةُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ «فَخَرَجَ مُغْضَبًا، فَصَلَّى الرَّكْعَةَ الَّتِي كَانَ تَرَكَ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ، ثُمَّ سَلَّمَ»

“telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibroohim, telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahhaab ats-Tsaqofiyy, telah menceritakan kepada kami Khoolid al-Khidzaa`a, dari Abi Qilaabah, dari Abi al-Muhallab, dari Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “Rasulullah salam pada rokaat ketiga, pada saat mengimami sholat Ashar, lalu beranjak pergi dan masuk kamarnya, lalu ada salah seorang yang tangannya panjang berkata kepada Beliau, “apakah sholat sudah diqoshor, wahai Rasulullah?”, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam keluar dalam keadaan marah, lalu melanjutkan sholat satu rokaat yang terlupakan tadi, kemudian salam, lalu sujud dua kali sujud sahwi, kemudian salam”.
Perhatikan! Dalam riwayat Shahih Muslim tidak ada tambahan “tasyahud” setelah sujud sahwi. Kemudian yang lebih meng-clearkan lagi bahwa tambahan diatas adalah bermasalah, Imam Nasa`i telah meriwayatkan dalam “Sunan Kubro” (no. 609) dengan sanad yang sama persis dengan sanadnya Abu Dawud dan Tirmidzi :

أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَشْعَثُ، هُوَ ابْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَبِي الْمُهَلَّبِ، عَنْ عِمْرَانَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَا، فَسَجَدَ ثُمَّ سَلَّمَ

Lihat! Dalam sanad ini sama sekali tidak disebutkan tasyahud setelah salam. Asy-Syaikh Nabiil bin Manshuur al-Kuwaitiy dalam kitabnya “Aniis as-Saariy” yang merupakan kitab yang khusus mentakhrij hadits-hadits yang ada dalam Fathul Bari, beliau menukil pendhoifan hadits diatas dari Imam Baihaqi dan Imam Ibnu Abdil Baar. Bahkan Imam al-Hakim dalam kitabnya “al-Mustadrok” (no. 1207) telah mengisyaratkan adanya masalah tambahan yang tidak terdapat dalam riwayat lain, beliau berkata ketika menilai hadits dari jalan yang sama persis dengan Abu Dawud dan Tirmidzi :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ، إِنَّمَا اتَّفَقَا عَلَى حَدِيثِ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، وَلَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ التَّشَهُّدِ لِسَجْدَتَيِ السَّهْوِ

“hadits ini Shahih sesuai dengan syarat Bukhori-Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan, hanyalah keduanya sepakat meriwayatkan dari hadits Khoolid al-khidzaa`a dari Abi Qilaabah, namun tidak disebutkan didalamnya tasyahud untuk sujud sahwi” –selesai-.
Perkataan Imam al-Hakim bahwa hadits diatas atas syarat Bukhori-Muslim kurang tepat, karena Ays’ats bin Abdul Malik hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhori sebagai hadits mu’alaq dan Abu al-Muhallab, Imam Bukhori hanya memakainya dalam kitabnya “Adaabul Mufrod”. Kemudian perkataan beliau bahwa keduanya, tentunya yang dimaksud adalah Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits yang bertemu sanadnya sampai kepada Khoolid al-Khidzaa`a dari Abi Qilaabah, juga tidak presisi, karena faktanya jalan tersebut hanya diriwayatkan oleh Imam Musllim dalam Shahihnya, sedangkan Imam Bukhori tidak menyebutkan hadits ini dalam kitab shahihnya. Namun Imam al-Hakim sudah mengisyaratkan bahwa tambahan tasyahud tidak tsabit dalam kitab yang lebih shahih.
Adapun Imam al-Albani dalam kitabnya “Irwaa`u al-Gholiil” (no. 403) tanpa ragu lagi menilainya sebagai hadits dhoif yang Syadz. Kesalahan berasal dari Asy’ats, sekalipun beliau perowi yang tsiqoh, namun beliau menyelisihi perowi lainnya yang lebih tsiqoh dengan menyusupkan tambahan “Tasyahud” pada haditsnya, sehingga tambahan ini tidak diterima. Kesimpulannya hadits ‘Imroon Rodhiyallahu ‘anhu dhoif dengan sebab adanya syadz pada matan haditsnya.
Adapun hadits Abdullah bin Mas’ud baik yang marfu’ maupun yang mauquf dan atsar Mughiiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu ‘anhumaa, maka saya tidak berpanjang lebar menyebutkan takhrijnya, saya mencukupkan diri dengan penelitian asy-Syaikh Nabiil al-Kuwaity dalam kitabnya diatas, yang menukil pendhoifan haditsnya Ibnu Mas’ud dan Mughiiroh Rodhiyallahu ‘anhumaa dari Imam ibnul Mundzir yang menilai kedua riwayat tersebut tidak tsabit alias dhoif.
Jika sandaran dalil yang menunjukkan disyariatkannya tasyahud dalam sujud sahwi tidak kokoh, maka tentunya gugurlah pendapat yang mengatakan adanya tasyahud pada sujud sahwi. Sebagai faedah tambahan, saya tutup dengan penjelasan asy-Syaikh Abu Maalik Kamal bin as-Sayyid Saalim dalam kitabnya “Shahih Fiqshus Sunnah” (1/472), setelah mengatakan bahwa hadits yang kita bahas ini sebagai hadits yang Syadz dan tidak shahih, kemudian beliau menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah seputar tasyahud dalam sujud sahwi, Syaikhul Islam dalam “Majmu Fatawanya” (23/48) berkata : 

 “… sesungguhnya telah tsabit bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sujud sahwi setelah salam lebih dari satu kali, sebagaimana dalam hadits Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu tatkala Beliau sholat 5 rokaat, lalu dalam hadits Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu –yang dikenal dengan hadits Dzul Yadain-, dan juga hadits Imroon bin Khushoin Rodhiyallahu ‘anhu… namun didalam hadits-hadits tersebut tidak ada ucapan perintah dari Beliau untuk bertasyahud setelah sujud sahwi. Tidak terdapat juga dalam hadits-hadits yang shahih yang sudah diterima bahwa Beliau bertasyahud setelah sujud sahwi. Padahal tasyahud setelah sujud sahwi (jika benar Beliau mengerjakannya –pent.) adalah sebuah perbuatan yang panjang minimal seukuran dua sujud, bahkan bisa lebih, namun kenyataan tidak dihapal dan tidak juga dijaga periwayatannya, tidak tersebar dan tidak banyak yang menukilnya, seandainya benar Beliau bertasyahud tentu akan disebutkan bahwa Beliau bertasyahud ketika sujud sahwi. Sebagai perbandingan (misalnya –pent.) penukilan riwayat ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam salam dan takbir ketika sujud dan bangkit dari sujud, ini adalah ucapan yang sebentar, sedangkan tasyahud adalah perbuatan yang lebih lama, maka bagaimana bisa yang itu dinukil, sedangkan yang ini tidak dinukil” –selesai-.
Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: