LAFADZ SAYYIDINAA DALAM SHOLAWAT

June 28, 2017 at 1:07 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LAFADZ SAYYIDINA DALAM SHOLAWAT
Asy-Syaikh Al-Albani punya informasi yang langka dalam kitabnya “Sifat Sholat Nabi” (hal. 172-175, cet. Maktabah al-Ma’arif cetakan kedua tahun 1417 H) terkait jawaban al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani yang didokumentasikan oleh salah seorang muridnya yang bernama al-Hafidz Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghoroobiily (790 – 835 H). Informasi ini dibilang langka, karena dokumentasinya masih dalam bentuk tulisan tangan (manuskrip) yang Imam Al-Albani dapat di Perpustakaan adh-Dhohiriyyah. 
Berikut terjemahan (saya ringkas) dari teks yang terdapat di buku sifat sholat nabi :

(Al-Hafidz al-Ghoroibiiliy berkata), “al-Hafidz Ibnu Hajar ditanya tentang sifat sholawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam baik ketika sholat maupun diluar sholat, baik dikatakan wajib atau sunah. Apakah dipersyaratkan padanya untuk mensifatinya dengan syiyaadah, yakni misalnya membaca sholawat : “Allahumma sholli ‘alaa Sayyidinaa Muhammad atau….?  Atau cukup dengan mengucapkan : “Allahumma sholli ‘alaa Muhammad”. Mana diantara keduanya yang lebih afdhol? Apakah menambahkan lafadz-lafadz “sayyidinaa”, karena memang sifat yang tetap bagi Beliau atau tidak menambahkannya karena tidak didapati tambahan tersebut dalam hadits-hadits (yang shahih)?
Al-Hafidz Ibnu Hajar menjawab : 

“Mengikuti lafadz-lafadz yang datang dalam riwayat adalah lebih utama. Tidak tepat dikatakan, barangkali Beliau sengaja meninggalkannya karena tawadhu’, sebagaimana Beliau tidak mengucapkan sholawat, tatkala namanya disebut. Kami katakan, seandainya tambahan tersebut benar, niscaya akan datang dari sahabat dan juga Tabi’in, akan tetapi kami tidak mendapatkan satupun atsar dari salah seorang sahabat maupun tabi’in yang mengatakan demikian. Padahal banyak atsar yang dinukil dari mereka dalam masalah lafadz sholawat. Imam Syafi’i -beliau termasuk orang yang paling mengagungkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam – berkata dalam khutbah (mukadimah) kitabnya, dimana kitab tersebut adalah rujukan dalam madzhabnya : Allahumma sholli ‘alaa Muhammad… ” (tanpa tambahan Sayyidinaa)….”
Kemudian Al-Hafidz menukil apa yang dilakukan al-Qodhi ‘Iyaadh yang telah membuat kitab khusus tentang sholawat Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang berjudul “asy-Syifa'”, dimana beliau menulis didalamnya atsar dari sejumlah sahabat dan tabi’in tentang berbagai macam lafadz sholawat, namun tidak ada sama sekali penyebutan tambahan “Sayyidinaa”. Kemudian Al-Hafidz menyebutkan beberapa contoh atsar tersebut dari beberapa sahabat. 
Kemudian asy-syaikh Al-Albani mengomentari fatwa Al-Hafidz Ibnu Hajar dengan mengatakan :

“Pendapat yang dipegangi Al-Hafidz yakni tidak disyariatkannya menambahkan lafadz “Sayyidinaa” dalam sholawat atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah dalam rangka ittiba kepada Rasulullah. Hal ini adalah pilihan madzhab Hanafiyyah… “.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: