LUPA SUJUD SAHWI

June 28, 2017 at 1:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

LUPA SUJUD SAHWI
Tulisan ini kelanjutan dari permasalahan terkait hukum sujud sahwi. Bagi yang mengambil pendapat sujud sahwi hukumnya sunnah, maka tidak ada masalah bagi orang yang lupa untuk sujud sahwi, sekalipun jika ingatnya dalam waktu dekat, para ulama sepakat agar dia segera sujud sahwi. 
Adapun jika baru ingatnya setelah waktu yang lama, maka para ulama berselisih pendapat, ada yang mengatakan batal sholatnya, sehingga harus direstart kembali sholatnya, ada juga yang membagi apakah sujudnya sebelum salam atau setelahnya. Kalau sebelum maka wajib segera sujud sahwi, sekalipun selang waktunya lama. Ada juga yang mengatakan jika selang waktunya lama, maka gugur sujud sahwinya. 
Kemudian para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu dianggap lama, sebagian ulama mengatakan batasannya adalah setelah dia keluar dari masjid, sedangkan ulama lainnya lagi mengatakan dikembalikan kepada urf (kebiasaan).
Namun kalau kita mau mengambil madzhab ikhtiyath (hati-hati), maka segeralah ia sujud sahwi, sekalipun baru ingat setelah sampai di rumah atau dalam waktu lama. Al-‘Alamah bin Baz dalam fatwanya menjawab :

ﻓﺈﻥ ﻧﺴﻲ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ ﻓﺼﻼﺗﻪ ﺻﺤﻴﺤﺔ، ﻷﻧﻪ ﻧﺴﻲ ﺳﺠﻮﺩ ﺍﻟﺴﻬﻮ، ﻓﺼﻼﺗﻪ ﺻﺤﻴﺤﺔ، ﻟﻜﻦ ﻣﺘﻰ ﺫﻛﺮ، ﺳﺠﺪ ﺳﺠﺪﺗﻲ ﺍﻟﺴﻬﻮ،ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ، ﻭﻗﺎﻝ ﺑﻌﺾ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺇﺫﺍ ﻃﺎﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺳﻘﻄﺖ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻷﺣﻮﻁ ﻭﺍﻷﻭﻟﻰ ﺃﻧﻪ ﻣﺘﻰ ﺫﻛﺮﻫﺎ ﻭﻟﻮ ﻃﺎﻝ ﺍﻟﻔﺼﻞ ﺳﺠﺪ ﺳﺠﺪﺗﻴﻦ ﺑﻨﻴﺔ ﺍﻟﺴﻬﻮ ﺳﻮﺍﺀ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺃﻭ ﻓﻲ ﺑﻴﺘﻪ 

“…Jika ia lupa sujud sahwi, maka sholatnya tetap sah, karena yang lupa cuma sujud sahwinya saja, namun kapan saja ia ingat, segera ia sujud sahwi, baik ingatnya masih didalam masjid, maupun di rumah. Sebagian ulama mengatakan kalau selang waktunya sudah lama, maka gugurlah sujud sahwinya. Namun *yang lebih hati-hati, dan lebih utama adalah kapan saja ia ingat, sekalipun waktunya lama, ia segera sujud dua kali dengan niat sahwi, baik masih didalam masjid atau di rumah*. (http://www.binbaz.org.sa/noor/6452).
Pendapat asy-syaikh bin Baz adalah pilihannya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “al-Ikhtiyaaroot” (hal.94). 

Lihat : https://islamqa.info/ar/257

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: