​BENARKAH SURAT YASIN AYAT 52 MENIADAKAN AZAB KUBUR

July 14, 2017 at 10:44 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BENARKAH SURAT YASIN AYAT 52 MENIADAKAN AZAB KUBUR
Ada sebuah kaum yang tidak meyakini adanya azab kubur, alasannya didalam Al Qur’an terdapat dalil yang menunjukkan tidak adanya azab kubur. Diantara dalil yang mereka gunakan adalah surat Yasin ayat 52 yang bunyinya :
ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﻨَﺎ ﻣَﻦْ ﺑَﻌَﺜَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﺮْﻗَﺪِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦُ ﻭَﺻَﺪَﻕَ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠُﻮﻥَ

“Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?”. Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya)”.
Sisi pendalilan mereka adalah perkataan mim marqodinaa (dari tidur kami). Dalam ayat ini mereka dibangkitkan dari kubur setelah sebelumnya mereka tidur yang berarti mereka tidak disiksa didalam kubur, seandainya disiksa didalam kubur, tentu dalam ayat ini tidak diungkapkan dalam bentuk tidur. 
Sebagai sanggahannya, saya tidak ingin menuliskan tentang dalil-dalil adanya siksa kubur baik dari ayat Al Qur’an maupun sunah Nabi, karena semua itu sudah tersebar di ribuan kitab ulama kita, sehingga tinggal merujuknya kesana. Saya hanya ingin mendalami penafsiran Firman-Nya, “mim marqodinaa” dari para Aimah tafsir kita yang kredibel.
Pendapat tentang tidak adanya azab kubur dan beristidlal dengan ayat 52 Yasin diatas, sudah disinyalir oleh Abu Manshuur Al-Maaturiidiy, dimana aliran Maturidiyyah dinisbatkan kepadanya. Beliau hidup pada abad ke-4 hijriyyah, karena wafatnya pada tahun 333 H. Dalam kitab tafsirnya yang bernama “Ta’wilaat Ahlus Sunnah”, beliau berkata tentang sekelompok orang yang menolak adanya azab kubur berdalilkan surat Yasin ayat 52 diatas :

ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻳﻨﻜﺮ ﻋﺬﺍﺏ ﺍﻟﻘﺒﺮ ﺑﻬﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﻤﺮﻗﺪ : ﻣﻮﺿﻊ ﺍﻟﺮﺍﺣﺔ، ﻭﺍﻟﺮﺍﻗﺪ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺭﺍﺣﺔ، ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻥ ﻟﻬﻢ ﻋﺬﺍﺏ، ﺃﻭ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻓﻲ ﻋﺬﺍﺏ، ﻟﻢ ﻳﻜﻮﻧﻮﺍ ﻓﻲ ﺭﻗﺪﺓ ﻭﻻ ﺭﺍﺣﺔ، ﺩﻝ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ .

“sebagian orang ada yang mengingkari azab kubur berdalilkan ayat ini, mereka mengatakan al-marqod adalah tempat untuk beristirahat, maka Ar-Rooqid adalah orang yang istirahat. Seandainya mereka mendapatkan azab atau sedang diazab, maka tentu mereka tidak dalam kondisi istirahat. Maka hal ini menunjukkan tidak adanya azab kubur”.
Untuk memperdalam makna marqodinaa, berikut kami nukilkan pendapat para Aimah tafsir terkait hal tersebut. Sependek pencarian kami dari belasan kitab tafsir, maka yang bisa kami temukan untuk makna kalimat tersebut ada sekitar 4 pendapat sebagai berikut :

1. Marqodinaa maknanya adalah kubur kami, ini disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzhim”, kemudian ulama Saudi Arabia yang tergabung dalam Lajnah Daimah pun menafsirkan kalimat marqodinaa seperti itu (No. Fatwa 1979) :

ﻓﺎﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻤﺮﺍﻗﺪﻫﻢ ﻣﻘﺎﺑﺮﻫﻢ ﺍﻟﺘﻲ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻓﻴﻬﺎ

“yang dimaksud dengan marooqidihim adalah kubur-kubur mereka yang mana mereka tinggal didalamnya” –selesai-.

Jadi dengan penafsiran seperti ini, seolah-olah orang yang celaka tadi berkata, “siapakah yang membangkitkan kami dari kubur-kubur kami?”. Artinya tidak ternafikan padanya dia mendapatkan azab kubur sebelum dibangkitkan.
2. Yang dimaksud adalah mereka tidur pada waktu antara tiupan Sangkakala oleh malaikat Isrofil yang menandakan bahwa kiamat besar telah terjadi dengan tiupan kedua yang membuat seluruh penghuni kubur dibangkitkan dari kuburnya. Imam Ath-Thabari (w. 310 H) dalam kitab tafsirnya yang berjudul Jaami’ul Bayaan fii Ta’wiil Al-Qur’an, berpendapat tentang kalimat diatas :

ﺇﻥ ﺫﻟﻚ ﻧﻮﻣﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﻔﺨﺘﻴﻦ

“itu adalah tidur pada waktu antara 2 tiupan”.

Penjelasan maksud ucapan Ath-Thabari telah disampaikan Imam As-Samarqindy (w. 373 H) dalam kitab tasfirnya yang berjudul “Bahrul Uluum”, dimana beliau berkata :

ﻭﻛﺎﻥ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﻔﺨﺘﻴﻦ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻋﺎﻣﺎً ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ . ﻭﻗﻴﻞ : ﺃﻛﺜﺮ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ . ﻭﺭﻓﻊ ﺍﻟﻌﺬﺍﺏ ﻋﻦ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻨﻔﺨﺘﻴﻦ . ﻓﻜﺄﻧﻬﻢ ﺭﻗﺪﻭﺍ

“waktu antara 2 tiupan (tiupan hari kiamat dan tiupan hari berbangkit –pent.) sekitar 40 tahun sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu. Ada juga yang mengatakan lebih dari 40 tahun. Pada waktu tersebut dihilangkanlah azab (kubur) terhadap orang kafir, maka (ketika dibangkitkan –pent.) seolah-olah mereka baru bangun dari tidur” –selesai-.

Perkataan senada juga berasal dari Imam Ibnu Abi Zaminiin (w. 399 H) dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Aziiz” dan juga Imam Ibnu Katsir serta selainnya.
3. Imam Ats-Tsa’labiy (w. 427 H) dalam kitab tafsirnya yang berjudul “Al-Kasyaf wa Al-Bayan ‘an Tafsiir Al-Qur’an” menyebutkan pendapat yang ketiga yaitu :

ﺇﻥّ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﺇﺫﺍ ﻋﺎﻳﻨﻮﺍ ﺟﻬﻨﻢ ﻭﺃﻧﻮﺍﻉ ﻋﺬﺍﺑﻬﺎ ﺻﺎﺭ ﻣﺎ ﻋﺬﺑﻮﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻮﺭ ﻓﻲ ﺟﻨﺒﻬﺎ ﻛﺎﻟﻨﻮﻡ ،

“sesungguhnya orang-orang kafir ketika mereka mengetahui tempatnya di neraka jahanam dan type azab yang nanti mereka akan dapatkan, maka mereka menganggap azab yang diterima selama ini di kubur mereka dibandingkan apa yang akan mereka dapatkan di neraka jahanam, seperti orang tidur (karena jauh lebih ringan dibandingkan azab di neraka Jahanam –pent.).
4. Abu Manshuur Al-Matuuridy (w. 333 H), mempunyai atau menukil pendapat lainnya, dimana beliau berkata dalam kitab tafsirnya :

ﻭﺟﺎﺋﺰ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺨﺮﺝ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺗﻠﻚ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻓﻲ ﺣﺎﻝ ﺍﻟﻤﻮﺕ، ﻓﺘﺠﺪ ﺗﻠﻚ ﺃﻟﻢ ﺫﻟﻚ ﻛﻤﺎ ﺗﺠﺪ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﺨﺮﺝ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﺎﺋﻢ ﺃﻟﻢ ﻋﺬﺍﺏ ﻳﺼﻴﺒﻪ، ﻭﺗﺠﺪ ﻟﺬﺓ ﺃﻳﻀًﺎ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﻟﺬﺓ، ﻭﺗﺮﻯ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﻮﻡ ﺃﻫﻮﺍﻻ ﻭﺃﻓﺰﺍﻋًﺎ ﻭﺫﻟﻚ ﻣﻌﺮﻭﻑ؛ ﻓﻌﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺍﻟﻜﻔﺮﺓ ﻳﻌﺬﺑﻮﻥ ﺑﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎ، ﻓﺈﺫﺍ ﺑﻌﺜﻮﺍ ﻗﺎﻟﻮﺍ ﻋﻨﺪ ﺫﻟﻚ : ‏( ﻳَﺎ ﻭَﻳْﻠَﻨَﺎ ﻣَﻦْ ﺑَﻌَﺜَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻣَﺮْﻗَﺪِﻧَﺎ ‏) ، ﻭﺍﻟﻤﺮﻗﺪ : ﻫﻮ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺎﻡ ﻓﻴﻪ .

“bisa juga maknanya seperti jiwa yang tidur (terlepas dari badan) sebagaimana kondisi ketika meninggal dunia. Maka jiwa tersebut bisa merasakan kesakitan, sebagaimana yang dirasakan oleh jiwa ketika tidur berupa kesakitan karena siksaan yang menimpanya dan juga kenikmatan ketika mendapatkan kelezatan. Engkau dapat melihat kondisi orang yang tidur pada saat terjadi mimpi atau setelahnya. Berdasarkan hal ini mereka orang-orang kafir akan diazab sebagaimana yang kami sebutkan, maka ketika mereka dibangkitkan akan berkata, “duhai celakalah kami, siapakah yang membangkitkan kami dari (mimpi) tidur kami”. Al-Marqod adalah tempat ia tidur padanya”.
Dari keterangan para ahli tafsir yang dapat kami kumpulkan berupa 4 penafsiran diatas, sangat jelas bahwa ayat 52 surat Yasin tidak ada dalil padanya untuk menafikan azab kubur, dan dikhawatirkan orang-orang yang masih bersikeras menggunakan ayat tersebut sebagai dalil untuk menolak adanya azab kubur, bisa jatuh dalam kesesatan yang dia tidak punya sandaran dari Aimah kaum Muslimin yang telah diridhoi petunjuknya. Wallahul Musta’aan.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: