​BERBICARA UNTUK PERBAIKAN SHOLAT

July 14, 2017 at 10:45 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

BERBICARA UNTUK PERBAIKAN SHOLAT
Pertama-tama para ulama telah sepakat bahwa orang yang sedang sholat lalu dia berbicara didalam sholatnya dengan sengaja, tanpa ada keperluan, maka sholatnya batal. Saya akan menukil dua ucapan ulama tentang ijma ini :

1. Imam ibnul Mundzir yang berkata :

ﺃﺟﻤﻊ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺗﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺻﻼﺗﻪ ﻋﺎﻣﺪﺍ ﻭﻫﻮ ﻻ ﻳﺮﻳﺪ ﺇﺻﻼﺡ ﺻﻼﺗﻪ ﺃﻥ ﺻﻼﺗﻪ ﻓﺎﺳﺪﺓ

“Para ulama sepakat bahwa orang yang berbicara dalam sholatnya dengan sengaja dan tidak bertujuan untuk memperbaiki sholatnya, maka sholatnya batal”.

2. Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah berkata :

ﻗَﺪْ ﺛَﺒَﺖَ ﺑِﺎﻟﻨَّﺺِّ ﻭَﺍﻟْﺈِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﺗَﻜَﻠَّﻢَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﺑِﻜَﻠَﺎﻡِ ﺍﻟْﺂﺩَﻣِﻴِّﻴﻦَ ﻋَﺎﻣِﺪًﺍ ﻟِﻐَﻴْﺮِ ﻣَﺼْﻠَﺤَﺘِﻬَﺎ ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ ﺑِﺎﻟﺘَّﺤْﺮِﻳﻢِ ﺑَﻄَﻠَﺖْ ﺻَﻠَﺎﺗُﻪُ

“Telah shahih didalam nash dan ijma bahwa orang yang berbicara dengan pembicaraan sebagaimana manusia pada umumnya didalam sholat dengan sengaja, tanpa ada kemaslahatan dan ia tahu akan keharamannya, maka sholatnya batal”.
Dari nukilan ijma diatas ada pembicaraan yang disengaja didalam sholat, tapi para ulama berbeda pendapat tentang batal sholatnya, diantaranya adalah masalah yang akan kita bahas, yaitu berbicara guna kepentingan memperbaiki sholat. 
Ilustrasinya seorang jamaah ketika Imamnya misal sholat Isya, kemudian pada rokaat keempat sang imam akan bangkit lagi -mungkin sang imam lupa bahwa ia telah sholat 4 rokaat-,  sebagian jamaah sudah mengucapkan tasbih, namum entah mengapa sang imam masih saja mau berdiri, akhir salah seorang makmum tadi berkata kepadanya “pak Imam, bapak sudah sholat 4 rokaat, jangan ditambah lagi”, atau kalimat semisalnya. Pertanyaannya adalah apakah si makmum ini batal sholatnya atau tidak? 

Jawabannya, inilah yang dikecualikan dari ijma diatas. Studi kasus ini dalam pembahasan ulama fiqih dikenal dengan istilah “al-Kalaam fii Mashlahat ash-Sholaat”. Para ulama terbagi menjadi dua madzhab :

1. Sholat makmum tadi batal dan wajib mengulangi sholatnya. Ini adalah pendapatnya Hanafiyyah, malikiyyah dalam salah satu pendapatnya, Syafi’iyyah, dan Hanabilah sebagai pendapat resmi madzhabnya. 

2. Sholatnya tidak batal. Ini adalah pendapat yang masyhur dalam madzhab malikiyyah dan Hanabilah dalam salah satu pendapatnya, serta madzhabnya Imam al-‘Auzaa’i. 
Singkat kata, dengan menggunakan madzhab kedua yang dirajihkan oleh Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah dan Lajnah Daimah Saudi Arabia (https://islamqa.info/ar/144502), yaitu sholatnya tidak batal, dapat menjadi solusi untuk mengingatkan Imam ketika cara normal dengan bertasbih sebagai pengingatnya tidak mempan. Hal ini untuk mencegah tindakan mufarooqoh jamaah sholat, seandainya Imam tetap mengabaikan tasbih makmum untuk mengingatkannya, barangkali sang imam tidak mendengarnya atau sang imam kurang paham atas kesalahan yang dilakukannya. Sehingga dengan adanya jamaah yang memberitahunya secara lisan, maka duduk perkaranya bisa lebih clear. Wallahul A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: